Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

Prospek Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan dalam Era Globalisasi Ekonomi

12 April 2014 - dalam Globalisasi Strategi Oleh fyustiazari-fisip12

Pada perkembangan dunia yang dapat dikatakan telah sangat terbuka sekarang ini, isu-isu mengenai pembangunan dunia berkelanjutan dan juga lingkungan sangatlah diperhatikan. Karena lingkungan mengelilingi manusia dan lingkungan tersebut perlu untuk terus dilestarikan dan dijaga demi kehidupan generasi selanjutnya. Karena itulah juga kemudian pembahasan mengenai pembangunan bekelanjutan juga cukup populer. Namun, di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa dunia ini sedang menghadapi apa yang dinamakan sebagai globalisasi yang identik dengan terjadinya liberalisasi pasar sehingga persoalan mengenai berlomba-lomba memperoleh keuntungan dari liberalisasi pasar tersebut juga sangat kentara pada era globalisasi sekarang ini. Herman E. Daly (1993) dalam tulisannya yang berjudul From Adjustment to Sustainable Development, mencoba mengungkapkan mengenai prospek pembangunan dunia berkelanjutan yang dikaitkan dalam kondisi ekonomi global yang semakin terbuka ini. Daly tidak menyangkal bahwa globalisasi yang menyebabkan semakin terbukanya pasar ini, dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Namun sayangnya, pertumbuhan tersebut kemudian tidak diikuti dengan dukungan akan kelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Sebelum masuk pada hubungan globalisasi ekonomi dan lingkungan serta pembangunan berkelanjutan, perlu diketahui terlebih dahulu pemikiran Daly mengenai globalisasi ekonomi yang sangat identik dengan perkembangan ekonomi neoklasik saat ini. Pembangunan, terutama dalam konteks ekonomi di era global saat ini sangat identik dengan berbagai kebijakan adjustment atau penyesuaian. Tiga penyesuaian yang disebutkan oleh Daly (1993, 10-1) antara lain adalah: (1) penyesuaian harga untuk memperbaiki pengukuran margin opportunity cost, biasanya dilakukan dengan memotong subsidi dan menambah pajak; (2) penyesuaian kondisi makroekonomi untuk mengusahakan sebuah keadaan ekonomi yang stabil, dapat juga dikatakan sebagai kontrol terhadap inflasi dengan cara mengeliminasi defisit fiskal dan menahan peredaran uang; (3) penyesuaian pasar nasional beserta harganya ke pasar dunia yang bertujuan untuk mengintegrasikan pasar nasional ke dalam pasar perdagangan bebas sehingga dapat meningkatkan produktivitas yang sesuai dengan keuntungan komparatif. Penyesuaian-penyesuaian yang disebutkan oleh Daly tersebut dapat dikatakan merupakan usaha-usaha negara untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya.

Pada keadaan dunia yang semakin bebas ini, negara-negara saling bersaing satu sama lain untuk memperoleh pasar sehingga berbagai usaha dilakukan, termasuk melakukan penyesuaian-penyesuaian tersebut. Kebijakan penyesuian tersebut dalam perdagangan bebas memang seringkali dianggap sebagai usaha untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun Daly ternyata tidak mengatakan demikian. Daly menolak anggapan bahwa kebijakan-kebijakan penyesuaian tersebut merupakan kebijakan yang sesungguhnya dilakukan untuk pembangunan berkelanjutan. Pada tulisan kali ini, saya bermaksud menjabarkan pendapat Daly mengenai perdagangan internasional yang ternyata menghalangi pembangunan dunia berkelanjutan. Serta, saya akan memberikan dukungan untuk pernyataan-pernyataan Daly tersebut dengan literatur lain serta beberapa bukti yang mendukung pernyataan-pernyataan Daly yang akan dijelaskan selanjutnya.

Persaingan di antara masing-masing negara di dunia ini, terutama pada era globalisasi saat ini memang dirasa sangatlah kental. Masing-masing negara berebut pasar dan berlomba-lomba untuk mengintegrasikan pasar nasional mereka kepada pasar global. Padahal tanpa disadari, hal tersebut kemudian menyebabkan kemiskinan di dalam negeri menjadi semakin parah, terutama untuk negara yang masih berkembang, karena berbagai penyesuaian yang telah disebutkan sebelumnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Daly (1993, 124) mengenai kebijakan dalam negeri getting price right yang intinya adalah bahwa negara harus menyesuaikan harga barang dengan negara lain, padahal belum tentu biaya produksinya sama. Hal ini kemudian menyebabkan negara yang menghabiskan biaya produksi lebih besar daripada harga barang akan menjadi rugi yang secara lebih lanjut akan menimbulkan ketidakmerataan penyebaran modal. Terutama di negara berkembang, penyesuaian harga ini akan sangat merugikan karena hanya akan menyebabkan kemiskinan yang berakar dari ketidaksanggupan masyarakat untuk meraih penyesuaian harga yang bisa menjadi sangat tinggi tersebut.

Sebuah tulisan dari M. Shamsul Haque yang berjudul The Fate of Sustainable Development under Neoliberal Regimes in Development Countries, menyajikan bukti yang mendukung pernyataan Daly tersebut. Haque (1999, 207) menyatakan bahwa: “the overall standards of living have dropped in most African and Latin American countries due to adjustment-related reductions in social services, increases in food prices, decline in real wages, and reduced access to health and education facilities”. Hal ini kemudian jelas menunjukkan bahwa perdagangan bebas memang menghalangi usaha-usaha untuk menciptakan pembangunan berkelanjutan. Hakikat yang ingin dicapai pada pembangunan berkelanjutan menjadi tidak akan semudah itu dicapai karena perdagangan bebas yang justru merugikan terutama untuk negara-negara berkembang. Padahal, pembangunan bekelanjutan identik dengan pemerataan dan kesejahteraan yang nantinya dapat dinikmati oleh generasi-generasi yang selanjutnya.

Tidak hanya persoalan mengenai penyesuaian harga yang dapat menyebabkan kemiskinan, perdagangan internasional yang menciptakan persaingan ketat tersebut juga berpotensi merusak lingkungan. Pada pembahasan mengenai pembangunan berkelanjutan, kata “lingkungan” merupakan kata yang seringkali muncul. Persaingan yang terjadi dalam perdagangan bebas seringkali tidak mempedulikan mengenai isu-isu pelestarian lingkungan. Daly pun mengungkapkan pendapatnya mengenai ketidakpedulian persaingan dalam perdagangan bebas terhadap lingkungan. Menurut Daly, perdagangan bebas yang terjadi saat ini telah sampai pada perdagangan environment service. Hal tersebut dianggap ekstrim oleh Daly sehingga tentu saja berdampak destruktif pada lingkungan dan kelestariannya. Ini menunjukkan bahwa demi dapat bersaing dalam perdagangan internasional, lingkungan telah dieksploitasi sedemikian rupa sehingga sama sekali tidak mendukung pembangunan berkelanjutan.

Pengeksploitasian lingkungan untuk kepentingan perdagangan bebas memang bisa sangat berbahaya bagi kelestarian. Sebagaimana yang diungkapkan juga oleh Haque (1999, 208) bahwa perdagangan baik ekspor maupun impor yang melibatkan produk lingkungan, jika dilakukan secara terus menerus apalagi secara besar-besaran, akan dapat membahayakan bagi ekologi. Sudah sangat jelas bahwa eksploitasi sumber daya alam untuk kepentingan perdagangan bebas akan sangat membahayakan. Di Indonesia sendiri, untuk kepentingan industri, hutan-hutan ditebang dan sungai-sungai dicemari yang kemudian menyebabkan berbagai bencana yang tentu merugikan bagi Indonesia sendiri. Jika lingkungan terus menerus dieksploitasi secara berlebihan maka akibat yang lebih fatal akan terjadi terutama bagi generasi masa depan. Bisa saja generasi masa depan hanya akan mewarisi berbagai kerusakan alam yang diakibatkan karena ulah tangan manusia yang hidup di masa sekarang ini.

Herman E. Daly dalam kesimpulan tulisannya menawarkan suatu konsep yang disebut sebagai sustainable growth. Pada kenyataannya memang sulit menggabungkan antara kepentingan ekonomi dengan pelestarian lingkungan. Ekonomi merupakan suatu hal yang penting, namun jika orientasi negara hanya ada pada ekonomi saja, maka yang akan timbul adalah semua yang telah dijelaskan sebelumnya. Berbagai “penyesuaian” hanya akan membuat masyarakat kesulitan dan berbagai persaingan perdagangan bebas hanya akan membuat praktik eksploitasi lingkungan menjadi semakin intens. Sustainable development saja juga tidak cukup karena menurut Daly, konsep tersebut tidak mencakup pertumbuhan yang pada hakikatnya selalu ingin dicapai oleh seluruh negara di dunia ini. Karena itu Daly, melalui sustainable growth nya menginginkan adanya pertumbuhan yang ramah lingkungan sehingga pembangunan berkelanjutan dapat terus dilaksanakan. Menyesuaikan usaha-usaha untuk mencapai pertumbuhan dengan keadaan masyarakat dan juga lingkungan merupakan hal yang seharusnya dilakukan karena yang seharusnya dicapai adalah ekonomi yang lebih baik bukan yang lebih besar (Daly 1993, 132).

Saya pun setuju dengan ide Daly mengenai sustainable growth tersebut. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa ekonomi adalah hal yang penting untuk kelangsungan hidup suatu negara, namun di lain sisi pembangunan berkelanjutan juga perlu digerakkan untuk masa depan generasi berikutnya. Kedatangan globalisasi pun tak dapat dihindari sehingga mau tidak mau negara juga harus menghadapi sebuah liberalisasi ekonomi yang menuntut negara untuk turut berpartisipasi jika eksistensinya tetap diakui di dunia ini. Kenyataan yang rumit demikian memang relevan jika dihadapi dengan ide Daly mengenai sustainable growth yang telah dijelaskan sebelumnya. Di satu sisi, usaha untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi harus terus dilakukan, namun perlu diingat juga keadaan masyarakat dan juga lingkungan sehingga tidak berdampak destruktif dan malah akan merugikan diri sendiri. Dengan begitu pembangunan berkelanjutan tanpa mengabaikan pertumbuhan ekonomi akan terlaksana untuk kehidupan bernegara yang lebih baik.

 

REFERENSI:

Daly, Herman E. 1993. “From Adjustment to Sustainable Development” dalam The Case Against Free Trade. Berkeley: North Atlantic Books.

Haque, M. Shamsul. 1999. “The Fate of Sustainable Development under Neoliberal Regimes in Development Countries”, dalam International Political Science Review. London: Thousand Oaks. 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.761.830