Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

KONFUSIANISME DALAM PEREKONOMIAN ASIA TIMUR: INTERPRETASI BARU KAPITALISME NEGARA

30 March 2014 - dalam MBP Asia Timur Oleh fyustiazari-fisip12

Dalam urusan perekonomian, Asia Timur tidak diragukan lagi keberhasilannya. Tidak dapat dipungkiri, Asia Timur memang terbilang berhasil dalam bidang ekonomi dan sekarang ini banyak menjadi perhatian negara-negara di dunia. GDPnya tinggi diikuti dengan pemerataan pembangunan dan kesejahteraannya. Terbukti dengan Jepang dan Korea Selatan yang sempat disebut-sebut sebagai negara-negara Macan Asia. Tidak hanya itu, Cina juga berjaya dengan GDPnya yang terus meningkat, bahkan diramalkan akan dapat mengalahkan Amerika Serikat di kancah perekonomian dunia. Bagaimana negara-negara Asia Timur tersebut mampu menjadikan diri mereka sebagai negara-negara yang termasuk berhasil dalam ekonomi? Adakah hubungan keberhasilan negara-negara Asia Timur ini dengan paham konfusianisme yang mereka anut? Apa hubungannya dan masih relevankah jika dikatakan demikian pada masa sekarang ini? Pada paper kali ini akan dibahas mengenai keberhasilan perekonomian negara-negara Asia Timur dan pengaruh Konfusianisme dalam keberhasilan tersebut.

Lima puluh tahun yang lalu, Korea Selatan termasuk ke dalam negara termiskin di dunia. Namun, dapat dilihat saat ini, Korea Selatan termasuk negara yang kuat dalam bidang ekonomi. Hal ini rasanya seperti keajaiban, apalagi bagi orang-orang yang tidak mengetahui apa saja yang dilakukan oleh Korea Selatan dalam membangun perekonomiannya. Korea Selatan ternyata juga melalui berbagai macam rintangan dan masa-masa sulit. Perekonomian mulai terurus dengan baik kira-kira pada tahun 1960an semenjak pemerintahan Syngman Rhee digantikan oleh Presiden Park Chung Hee (Park, n.d.). Presiden pengganti Presiden Rhee ini memiliki karakter yang sangat berkebalikan dengannya. Presiden Park Chung Hee sangat peduli dengan permasalahan ekonomi di Korea Selatan karena itu Presiden Park membuat kebijakan ekspor yang kemudian mendorong kemajuan industrialisasi Korea Selatan.

Cina juga mengalami hal yang sama. Perokonomian Cina mulai tumbuh bahkan sampai hampir menyaingi Amerika Serikat. Hal ini juga bukan cuma sekedar keajaiban saja. Semenjak tidak lagi dipimpin oleh Mao Zedong, Cina mulai melakukan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik. Cina mulai melakukan ekspor barang-barangnya ke luar negeri yang kemudian, sama kasusnya dengan Korea Selatan, mendorong peningkatan industri manufaktur Cina. Hal tersebut menyebabkan Cina bahkan termasuk dalam negara eksportir terbesar di dunia dan mampu meningkatkan keadaan perekonomiannya sehingga menjadi raksasa ekonomi Asia saat ini. Sementara itu Jepang sendiri telah mengenal konsep industrialisasi sejak pasca-perang sekitar tahun 1940an (Akkemik, 1976: 9) yang membuat Jepang lebih dahulu menjadi negara maju dibandingkan dengan negara-negara Asia Timur lainnya.

Sedikit penjelasan di atas, telah secara jelas menunjukkan bahwa yang membuat negara-negara di Asia Timur terbilang kuat di bidang ekonomi adalah perkembangan industrialisasi. Perkembangan industrialisasi di Asia Timur didorong oleh perkembangan ekspor terutama dalam industri manufaktur sehingga menyebabkan negara-negara di Asia Timur mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi dan prestasinya dalam bidang ini, melampaui negara-negara berkembang lainnya sejak tahun 1987 (Burkett dan Harts-Landberg, 1998: 89). Namun Amsden dan Wade (dalam Burkett dan Harts-Landberg, 1998: 89) menjelaskan juga sebab lain yang menyebabkan keberhasilan Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan dalam perekonomian. Keduanya beranggapan bahwa yang mendorong keberhasilan tersebut adalah kebijakan intervensionis negara, bukan liberalisasi pasar. Hal ini, nampaknya berkaitan dengan paham konfusianisme yang dianut oleh negara-negara di Asia Timur.

Konfusianisme dapat dikatakan ikut berperan dalam keberhasilan perekonomian negara-negara Asia Timur. Mengapa dikatakan demikian? Keedon Kwon (2007: 55) mengungkapkan dua alasan mengapa konfusianisme dianggap berperan dalam perkembangan ekonomi Asia Timur. Pertama, kofusianisme menghasilkan suatu tipe baru kapitalisme oleh negara-negara di Asia Timur yang berbeda dengan kapitalisme barat. Kedua, konfusianisme merupakan akar dari etika-etika seperti kerja keras yang berdampak baik dalam perkembangan ekonomi Asia Timur. Alasan kedua ini juga yang diungkapkan oleh Josh Park (n.d.), bahwa konfusianism membawa sifat-sifat loyal, kekeluargaan, dan ambisius terhadap perkembangan ekonomi.

Korea Selatan, merupakan negara yang paling kental penerapan konfusianismenya dibandingkan dengan negara-negara lain. Dalam tulisan Josh Park yang berjudul “Confusianism in Korea’s Economics Revolutions” diceritakan bagaimana awalnya Presiden Park Chung Hee ingin melibatkan perusahaan-perusahaan besar di Korea Selatan untuk meningkatkan ekspor. Target Presiden Park untuk membangun kembali ekonomi Korea Selatan adalah meningkatkan ekspor dan mengurangi impor bahkan kalau bisa tidak mengimpor sama sekali. Presiden Park bernegosiasi dengan perusahaan-perusahaan besar di Korea Selatan untuk bekerja sama dalam meningkatkan ekspor dan sejak saat itu Presiden Park berhasil mengambil kontrol para konglomerat besar Korea Selatan yang biasa disebut dengan istilah chaebol. Di bawah payung satu pemimpin, para chaebol ini ternyata mampu meningkatkan ekspor Korea Selatan sesuai dengan instruksi Presiden Park (Park, n.d.). Dapat dikatakan bahwa yang dilakukan oleh pemimpin Korea Selatan dalam memimpin perusahaan-perusahaan Korea Selatan untuk dapat meningkatkan ekspor tersebutlah yang kemudian disebut sebagai tipe baru kapitalisme yang diterapkan di Asia Timur.

Konfusianisme telah menjadi pahlawan dalam perkembangan perekonomian di Asia Timur sejauh ini. Namun krisis ekonomi Asia yang terjadi pada tahun 1997 pun menjadikan konfusianisme sebagai salah satu kambing hitam. Konfusianisme yang tadinya dianggap sebagai nilai Asia Timur yang sangat membantu perekonomian Asia Timur, sejak krisis Asia 1997 mungkin dianggap sebagai suatu kesalahan. Federal Reserve Bank of San Fransisco mengungkapkan bahwa konfusianisme dianggap sebagai satu kesalahan dalam krisis Asia 1997 adalah karena kurangnya pemikiran atas insentif. Paham konfusianisme mungkin baik ketika banyak perusahaan-perusahaan besar ikut berpartisipasi bekerja sama dengan pemerintah dalam melancarkan dan meningkatkan ekspor. Namun, dalam krisis 1997, penerapannya dinilai salah dan diterapkan dalam waktu yang tidak dalam waktu yang tepat. FRBSF mencontohkan kasus Korea Selatan yang pemerintahnya memerintahkan bank untuk tetap memberikan kredit untuk para konglomerat yang bermasalah dalam membayar hutang-hutangnya di bank. Pemerintah mungkin sangat melindungi konglomerat agar tetap dapat melakukan ekspor dalam jumlah yang besar, namun sikap ini dapat dikatakan tidak benar. Memang perusahaan-perusahaan terselamatkan, namun bank akan menjadi lemah sehingga menyebabkan semakin melemahnya finansial Korea Selatan dan memicu ketidakpastian ekonomi hingga menimbulkan krisis.

Dengan demikian, konfusianisme yang berkembang menjadi nilai khas di Asia Timur, turut mengambil peran dalam perkembangan perekonomian di Asia Timur. Interpretasi baru kapitalisme oleh para pemimpin negara-negara Asia Timur telah membawa negara-negara Asia Timur sebagai negara yang perkembangan ekonominya senantiasa banyak sekali diperhatikan dan diperhitungkan di dunia ini. Namun konfusianisme ternyata tidak hanya memiliki sisi baik saja. Buktinya, konfusianisme ternyata dinilai sebagai salah satu penyebab krisis Asia 1997. Dalam hal ini, menurut penulis, konfusianisme merupakan nilai yang baik karena di dalamnya mengandung ajaran-ajaran untuk bekerja keras dan loyalitas. Serta, penerapannya atas tipe kapitalisme baru dinilai unik karena perusahaan-perusahaan dapat berjalan beriringan sesuai dengan arahan pimpinan. Namun, pembuatan kebijakan dalam nilai konfusianisme tetap harus dilakukan dengan hati-hati dan melihat keadaan dan waktu. Jika tidak, konfusianisme malah akan menjadi sebuah “kesalahan”.

 

 

Referensi:

Kwon, Keedon. 2007. “Economic Development in East Asia and a Critique of the Post-Confucian Thesis”, dalam Theory and Society. Vol. 36, no. 1, pp. 55-83.

Akkemik, K. Ali. 2009. Development in East Asia: a comparative look at Japan, Korea, Taiwan, and Singapore. Ch. 2. Singapore: World Scientific Publishing Co. Pte. Ltd.

Hart-Landsberg, Martin dan Paul Burkett. 1998. “Contradictions of Capitalist Industrialization in East Asia: A Critique of “Flying Geese” Theories of Development”, dalam Economic Geography. Vol. 74, no. 2, pp. 87-110.

Park, Josh. n.d. “Confusianism in Korea’s Economic Revolution”.

Moreno, Ramon. 1998. “What Caused Asia Crisi?”, dalam FRBSF Economic Letter, dalam http://www.frbsf.org/economic-research/publications/economic-letter/1998/august/what- caused-east-asia-financial-crisis/ [online]. Diakses pada Jumat, 14 Maret 2014.

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.761.776