Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

GEOPOLITIK DAN DINAMIKANYA DARI POLIS HINGGA TATANAN DUNIA BARU

30 March 2014 - dalam Geopolitik dan Geostrategi Oleh fyustiazari-fisip12

Banyak hal yang dapat menjadi pertimbangan dalam mengambil suatu kebijakan dalam negeri oleh pimpinan negara. Kondisi dalam dan luar negeri pun tentu menjadi pertimbangan agar kebikajakan tersebut tepat bagi kelangsungan hidup suatu negara. Bagitupun dengan geografi, yang juga banyak mempengaruhi kebijakan politik suatu negara. Geografi, merupakan hal yang penting untuk masuk dijadikan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan. Hal ini kemudian yang dapat dikatakan melahirkan pembelajarang mengenai geopolitik. Apa itu geopolitik? Apakah geopolitik berubah dan mengalami dinamika? Dan bagaimana dinamikanya dari masa ke masa? Pada paper kali ini, akan dibahas mengenai definisi geopolitik serta dinamika perubahannya dari masa ke masa.

Geografi dan politik bukan merupakan dua kata yang serta merta dapat digabungkan tanpa menimbulkan makna khusus. Kata geografi dan politik menghasilkan sebuah konsep geopolitik yang seringkali dijadikan dasar pembuatan kebijakan suatu negara. Istilah geopolitik diungkapkan oleh Rudolf Kjellen pada tahun 1899 (Gokmen 2010, 9). Pada saat itu, Kjellen menyumbangkan pemikirannya mengenai geopolitik. Kjellen berkata bahwa geopolitik identik dengan imperialism barat yang menghubungkan antara kondisi fisik bumi dengan kebijakan politik. Namun, sesungguhnya geopolitik tidak hanya mengenai itu, sebab geopolitik mengalami perkembangan jauh melebihi pengertian dari Kjellen tersebut (Tuathail 1998, 2). Geopolitik merupakan suatu hal yang dinamis yang dapat berubah seiring berkembangnya zaman. Untuk memahami perubahan tersebut, perlu diingat bahwa ada empat dimensi geopolitik yang akan selalu berubah seiring dengan perkembangan zaman. Empat dimensi tersebut adalah time, space, people, dan struggle.

Geopolitik yang dipahami pada masa polis dan imperialisme tentu berbeda, begitu juga yang dipahami pada saat kondisi dunia saat ini, tentu berbeda. Karena itu, akan dijelaskan mengenai dinamika geopolitik dari masa polis hingga tatanan dunia baru pada saat ini. Dimulai pada masa polis, dimana hubungan antar peradaban pada waktu itu bisa dikatakan tidak terlalu kompleks sekarang ini. Negara kota yang ada pada saat itu saling bersaing habis-habisan untuk memperoleh dan mempertahankan kekuasaan, seperti yang dilakukan oleh Sparta dan Athena. Sparta dan Athena dikenal sebagai dua negara-kota terbesar pada masa polis pada waktu itu (Prmob 2012). Sementara itu, Venesia juga menerapkan geostrateginya dengan cara menduduki wilayah-wilayah kecil yang pada saat itu berpengaruh besar bagi kelangsungannya (Grygiel 2006, 52). Dalam teori Immanuel Wallerstain, dikatakan bahwa sistem kerajaan pada masa Polis adalah: masing-masing negara kota disatukan secara paksa dalam satu kerajaan. Dengan kata lain, untuk dapat menyatukan negara-kota tersebut, maka dilakukan perang untuk menaklukkan wilayah. Polis merupakan awal dari terbentuknya kedaulatan yang kini dimiliki oleh masing-masing negara. Hal inilah yang kemudian membawa pengaplikasian geopolitik berkembang sesuai dengan masa-masa selanjutnya.

Masa kolonialisme dan imperialisme merupakan masa-masa dimana Eropa berkuasa. Bangsa-bangsa Eropa berlomba-lomba untuk menduduki wilayah-wilayah mereka anggap strategis. Karena itu, dari sini dikenal konsep geopolitik sebagai geopolitik kolonialisme dan imperialisme. Dalam konsep kolonialisme ini dikenal dua tokoh dengan masing-masing pendapatnya mengenai geopolitik pada masa itu, yaitu Halford J. Mackinder dan Karl Haushofer. Selain itu, banyak juga ahli-ahli geopolitik lain yang mengungkapkan pemikirannya mengenai geopolitik, khususnya pada masa kolonialisme dan imperialisme, seperti misalnya Admiral Alfred T. Mahan, yang mengatakan pentingnya menguasai wilayah laut.

Mackinder mengungkapkan pemikirannya mengenai pentingnya menguasai heartland untuk dapat menguasai dunia. Dalam tulisannya yang berjudul The Geographical History of the Pivot Area, Mackinder menyatakan bahwa Eropa Timur merupakan wilayah heartland yang penting dikuasai untuk dapat menguasai dunia. Ketika Eropa Timur dapat dikuasai, maka ­world-island dapat dikuasai. World-island merupakan wilayah yang menurut Mackinder merupakan wilayah Eurasia. Ketika Eurasia telah dikuasai maka dunia juga akan dikuasai. Pemikiran Mackinder ini kemudian dijadikan landasan bagi Amerika Serikat dalam hal pembuatan containment policy (Cohen 2003, 19). Kemudian, teori lain berasal dari pemikiran Karl Haushofer yang terkenal dengan teori Lebensraum nya atau teori ruang hidup. Bagi Haushofer, negara sama dengan organisme atau makhluk hidup yang membutuhkan ruang hidupnya untuk dapat tetap bertahan hidup. Perhatian mengenai ruang hidup dan migrasi untuk memperluas ruang hidup merupakan hal yang penting untuk dapat bertahan hidup (Haushofer 1942, 34). Dari sini dapat dipahami bahwa geopolitik dijadikan sebagai ajang ekspansi ke wilayah lain dengan tujuan untuk memperoleh ruang hidup yang lebih luas sehingga negara, seperti juga organisme, dapat mempertahankan hidupnya dalam dunia internasional. Teori Ruang Hidup ini kemudian dijadikan landasan atas paham Nazi oleh Adolf Hitler.

Pada masa kolonialisme dan imperialisme, pemikiran mengenai geopolitik memang sangat identik dengan apa yang disebut sebagai ekspansi wilayah untuk memperluas kekuasaannya. Dapat dilihat bahwa pada masa kolonialisme dan imperialisme, bangsa Eropa saling besaing dalam melakukan pendudukan-pendudukan wilayah secara fisik. Misalnya pendudukan Portugis di Indonesia, yang merupakan wilayah strategis yang kaya sumber daya alam. Hal tersebut telah mencerminkan bagaimana geopolitik diinterpretasi pada masa kolonialisme dan imperialisme pada saat itu. Pendudukan wilayah, perlu digaris bawahi, merupakan hal yang identik dengan geopolitik pada masa ini.

Selanjutnya, pasca berakhirnya Perang Dunia II, Amerika Serikat dan Uni Soviet muncul sebagai dua kekuatan besar di dunia, karena Eropa telah mengalami kelumpuhan akibat perang yang menguras berbagai sumber di Eropa. Pada masa ini, pemikiran mengenai geopolitik kembali berubah, tidak lagi mengenai penguasaan wilayah-wilayah secara fisik seperti pada masa kolonialisme dan imperialisme. Masa-masa Perang Dingin identik dengan konsep-konsep seperti containment policy, proxy war, domino efek, balance of power, dan lain-lain (Cohen 2003, 24). Pada masa Perang Dingin, Amerika Serikat dan Uni Soviet selalu mengimbangi satu sama lain, yang seringkali disebut sebagai konsep balance of power. Ini kemudian membuat konsep geopolitik pada masa ini identik terpusat pada dua kekuatan yang berkuasa pada saat itu. Seperti juga yang diungkapkan oleh Tuathail dan Agnew (1992, 80) bahwa: “In our understanding, the study of geopolitics is the study of the spatialization of international politics by core powers and hegemonic states”.

Amerika Serikat menerapkan salah satu dari konsep-konsep yang telah disebutkan di atas, yaitu containment policy melalui Doktrin Truman. Pada tulisannya yang berjudul The Truman Doctrine, Presiden Harry S. Truman mengungkapkan maksudnya untuk memberikan bantuan pada Yunani dan Turki. Hal ini merupakan salah satu usaha Amerika Serikat untuk dapat membendung pengaruh komunisme dan menyebarkan paham liberalisme. Dari sini dapat dipahami bahwa fokus geopolitik pada masa Perang Dingin adalah perluasan dan penyebaran pengaruh. Tidak hanya Amerika Serikat saja yang menyebarkan pengaruh melainkan juga Uni Soviet di bawah kepemimpinan Stalin berusaha untuk menyebarkan paham komunismenya. Namun, pasca kepemimpinan Uni Soviet digantikan oleh Mikhail Gorbachev, yang memiliki pemikiran mengenai geopolitik dengan cara yang berbeda, ternyata membuat Uni Soviet runtuh. Gorbachev, dalam tulisannya yang berjudul New Political Thinking yang kemudian menjadi bibit lahirnya glasnost dan perestroika. Gorbachev menilai bahwa perang nuklir yang terjadi di antara Amerika Serikat merupakan hal yang tidak masuk akal karena itu tidak patut untuk diteruskan lagi. Gorbachev ini adalah orang yang sangat mendukung adanya pelucutan senjata dan pengeliminasian senjata pemusnah masal. Menurut Gorbachev, Amerika Serikat dan Uni Soviet seharusnya menggunakan kemajuan teknologinya sebagai sesuatu yang lebih bermanfaat bagi kehidupan manusia. Dari sini dapat dilihat bahwa Gorbachev mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan. Perkataannya mengenai keamanan universal, yang artinya membebaskan setiap bangsa memilih ideologinya masing-masing, sangat berlawanan dengan pemikiran Stalin selama ini yang ingin menguasai dunia dengan paham komunisme. Hal ini kemudian yang menyebabkan keruntuhan Uni Soviet dan kemenangan Amerika Serikat pada Perang Dingin.

Berakhirnya Perang Dingin menyebabkan tatanan dunia baru. Kalau pada saat Perang Dingin kekuatan dunia adalah bipolar, dimana kekuatan berada di tangan Uni Soviet dan Amerika Serikat, setelah masa Perang Dingin Amerika Serikat keluar sebagai pemenang kemudian memegang tanggung jawab untuk menjaga stabilitas internasional. Namun, jika diperhatikan, tatanan dunia saat ini setelah Perang Dingin menjadi lebih multipolar, di mana negara-negara di dunia ini masing-masing membangun kekuatan dirinya. Francis Fukuyama (1989) melihat keadaan dunia setelah Perang Dingin adalah sebagai akhir dari sejarah. Artinya, menguatnya libealisme menyebabkan negara-negara di dunia ini menjadi lebih mengarah kepada realisasi kebebasan diri. Fukuyama mengungkapkan juga bahwa akhir dari Perang Dingin bukan hanya sekedar akhir biasa, tetapi universalisasi yang muncul pada akhir Perang Dingin merupakan akhir dari pemerintahan manusia. Selain itu, dalam tatanan dunia baru saat ini, yang menjadi aktor bukan hanya negara saja, tetapi muncul aktor-aktor baru non-negara, seperti MNC.

Bukan hanya itu, konsep mengenai geopolitik pada tatanan dunia baru saat ini bergeser menjadi geoekonomi. Sekarang ini, lebih banyak dilihat hubungan-hubungan antarnegara dalam bidang ekonomi daripada politik. Praktik-praktik bisnis dan perdagangan internasional semakin banyak diperhatikan dan dilakukan pada tatanan dunia pada saat ini (Luttwak 1990, 125), yang menyebabkan konflik yang banyak terjadi saat ini adalah karena permasalahan pencarian keuntungan ekonomi satu sama lain. Misalnya, konflik Amerika Serikat dan Jepang yang ditengarai terjadi karena adanya ketidakseimbangan perdagangan di antara keduanya. Jepang berhasil menguasai pasar Amerika Serikat, namun Amerika Serikat tidak berhasil menguasai pasar Jepang. Produk Amerika Serikat pun menjadi kurang bernilai di dalam negeri. Dari sini dapat dilihat bahwa tatanan dunia baru sekarang ini menyebabkan konsep geopolitik telah banyak berubah bila dibandingkan dengan konsep geopolitik pada masa sebelumnya.

Dengan demikian, geopolitik, dalam perkembangannya dari masa ke masa, telah banyak mengalami dinamika yang membuat pemahaman terhadapnya pun menjadi berbeda-beda. Empat dimensi geopolitik yang telah disebutkan sebelumnya saling berkaitan sehingga jika satu dimensi berubah, yang lainnya pun juga ikut berubah. Perkembangan dunia telah menyebabkan perubahan pula pada pemahaman geopolitik, namun tidak lantas membuat geopolitik tidak relevan untuk digunakan lagi. Geopolitik akan selalu relevan digunakan, hanya saja bentuk dan pemahamannya akan senantiasa mengalami dinamika dari masa ke masa. Dinamika tesebutlah yang kemudian membuat konsep geopolitik tetap relevan digunakan. 

 

REFERENSI:

Cohen, Saul Bernard. 2003. Geopolitics of The World System. London: Bowman and Uttz Publisher.

Fukuyama, Francis. 1989. “The End of History”, dalam Geopolitics Reader. New York: Routledge.

Gokmen, Semra Rana. 2012. “Geopolitics and The Study of International Relations” [online], diunduh dari http://etd.lib.metu.edu.tr/upload/12612289/index.pdf , pada 29 Maret 2014.

Gorbachev, Mikhail. 1988. “New Political Thinking”, dalam Geopolitics Reader. New York: Routledge.

Grygiel, Jakub J. 2006. Great Powers and Geopolitical Change. Baltimore: The Johns Hopkins University Press.

Haushofer, Karl. 1942. “Why Geopolitik?”, dalam Geopolitics Reader. New York: Routledge.

Luttwak, Edward N. 1990. “From Geopolitics to Geo-Economics: Logic of Conflict, Grammar of Commerce”, dalam Geopolitics Reader. New York: Routledge.

Mackinder, Halford J. 1904. “The Geographical Pivot of History”, dalam Geopolitics Reader. New York: Routledge.

Truman, Harry S. 1947. “The Truman Doctrine”, dalam Geopolitics Reader. New York: Routledge.

Thuatail, Gearoid O. 1998. “Introduction”, dalam Geopolitics Reader. New York: Routledge.

Thuatail, Gearoid O dan John Agnew. 1992. “Geopolitics and Discourse: Practical Geopolitical Reasoning in American Foreign Policy”, dalam Geopolitics Reader. New York: Routledge.



Read More | Respon : 1 komentar

1 Komentar

detty

pada : 27 October 2014


"saya detty, ini sangat enlightening!!..
saya lagi proses skripsi membahas sedikit mengenai geopolitik, interest sama buku Lutwak,share dong e book atau link yang bisa dirujuk.. thanks yaa "


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.764.840