Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

GLOBALISASI DAN KEMANAN: ANCAMAN PERDAMAIAN HINGGA ASPEK HIDUP SEDERHANA

24 March 2014 - dalam Globalisasi Strategi Oleh fyustiazari-fisip12

Hal yang identik dengan munculnya suatu fenomena besar yang disebut sebagai globalisasi, salah satunya adalah perkembangan teknologi yang pesat. Hal ini tentu lagi-lagi menuai berbagai pendapat dan perdebatan yang membahas mengenai keterkaitan globalisasi dengan isu-isu keamanan. Apakah lantas globalisasi yang identik dengan kemajuan dan keterbukaan mampu menciptakan keamanan atau justru memberikan bahaya yang lebih besar terhadap keamanan itu sendiri? Pertanyaan tersebut jawabannya selalu menjadi perdebatan yang mungkin sampai sekarang pun sulit untuk dihentikan. Namun jika dilihat memang globalisasi tidak dapat serta merta dikatakan sebagai penjamin keamanan, karena banyak sekali sesungguhnya yang justru merasa tidak aman dengan datangnya fenomena globalisasi ini. Karena itu pada paper kali ini, akan dipaparkan mengenai bagaimana globalisasi justru menjadi sesuatu yang mengancam keamanan di dunia ini menurut pendapat Jan Aart Scholte. Melalui tulisan ini juga, penulis bermaksud mendukung pernyataan Jan Aart Scholte mengenai bahaya globalisasi terhadap kemanan dunia bahkan hingga ke aspek kehidupan yang lebih sederhana.

Sebelum memasuki pembahasannya mengenai globalisasi yang mengancam keamanan dunia, Scholte terlebih dulu menekankan bahwa urusan keamanan tidak sesempit apa yang selalu dipikirkan kebanyakan orang. Selama ini, konsep keamanan yang dipahami oleh orang-orang adalah mengenai pemeliharaan integritas wilayah. Kalau dilihat pada masa perang, memang hal ini mungkin masih sangat relevan. Namun, seiring dengan mulai diterimanya nilai-nilai globalisasi, kalau hanya membicarakan integrasi wilayah saja mungkin akan kurang mencakup semua hal yang menjadi indikator keamanan menurut Shcolte. Menurut Scholte, konsep keamanan perlu dipahami secara lebih luas. Globalisasi yang didukung dengan perkembangan modern dari komunikasi global, produksi dan pasar global, sistem keuangan global, kondisi sosial-ekologi global, dan adanya kesadaran secara global, telah mendorong konsep kemanan tersebut menjadi lebih luas dan menjadikannya sebagai agenda tersendiri yang berada di luar aspek militer (Scholte, 2000: 208).

Scholte mengungkapkan dampak globalisasi terhadap beberapa aspek kemanan yang lebih luas daripada sekedar aspek militer yang masing-masing dijabarkan dalam tulisannya yang berjudul Globalization and (In)Security. Pertama, Scholte menjelaskan terlebih dahulu mengenai jaminan perlindungan dalam perdamaian. Scholte, pada aspek ini menyatakan bahwa perkembangan teknologi tidak lantas membuat negara menjadi aman karena perkembangan teknologi, terutama persenjataan justru menimbulkan efek yang destruktif karena dengan perkembangan teknologi menyebabkan potensi perang yang tentu saja sangat meresahkan dan mengganggu keamanan. Penjelasan Scholte ini sangatlah relevan jika dilihat dari kondisi dunia sekarang ini. Perkembangan teknologi senjata belum tentu dapat menjaga keamanan dunia. Buktinya, Perang Dingin yang identik dengan perlombaan teknologi senjata justru menciptakan situasi yang genting. Juga terorisme, yang muncul akibat semakin berkembangnya teknologi, justru menjadi hal yang sangat menakutkan bagi seluruh dunia. Seperti yang diungkapkan oleh Lynn E. Davis (2003: 1) dalam tulisannya yang berjudul Globalization’s Security Implications, yaitu “the dangers were clearly manifested in the September 11th terrorist attacks, which showed how the Al Qaeda organization was able effectively to exploit new communications technologies, global financial networks, and the ease of movements of people”. Dapat dilihat di kehidupan nyata, sekarang ini, memang terorisme menjadi isu internasional yang sangat diperhatikan karena ini menyangkut keamanan dan stabilitas internasional. Dari sini jelas membuktikan bahwa memang perkembangan teknologi justru mengancam keamanan.

Selanjutnya, Scholte menjelaskan mengenai integritas ekologi dalam kaitannya dengan globalisasi. Dalam pembahasannya, Scholte mengungkapkan bahwa memang globalisasi mendorong peningkatan kewaspadaan terhadap ekologi. Namun rupanya ini hanya merupakan tanggapan atas apa yang sebenarnya ditimbulkan globalisasi itu sendiri terhadap ekologi. Segala aktivitas global menyebabkan permasalahan ekologi dimana-mana. Peningkatan jumlah polusi menjadi akibat dari aktivitas global yang semakin marak sekarang ini. Pernyataan Scholte tersebut juga didukung oleh sebuah pernyataan oleh Human Development Report 1994 yang mengatakan bahwa aktivitas global yang mengancam keamanan manusia antara lain adalah aktivitas yang berkaitan dengan lingkungan yang dapat menimbulkan polusi, efek rumah kaca, perubahan musim, dan berbagai permasalahan teknologi lainnya (Dalby, 2002: 98).

Kemudian, mengenai penghasilan, Scholte mengakui bahwa memang kapitalisme global dan semakin bebasnya pasar menyebabkan banyak negara semakin meningkatkan pendapatan nasionalnya. Namun apakah hal ini bisa merata? Menurut Scholte tidak, karena kemajuan yang diperoleh oleh sebagian negara sangat kontras dengan semakin banyaknya kemiskinan yang nyatanya memang masih ada di dunia ini. Restrukturisasi ekonomi yang begitu marak pada era globalisasi sekarang ini, menurut Scholte justru menurunkan tingkat keamanan karena berpotensi menimbulkan krisis seperti yang dialami oleh Inggris, Amerika Serikat, dan Yunani. Krisis tersebutlah yang mengindikasikan sesuatu yang dianggap Scholte sebagai sesuatu yang berbahaya dan retan. Para globalis memang mengatakan bahwa keterbukaan terhadap globalisasi dengan meramaikan industrialisasi akan meningkatkan pertumbuhan suatu negara. Namun, nyatanya industrialisasi yang “menggusur” lahan-lahan pertanian di negara-negara berkembang justru menimbulkan adanya pengangguran.

Semakin mudahnya mobilitas manusia, menyebabkan migrasi menjadi semakin marak pada era globalisasi. Hal ini menyebabkan manusia akan semakin mudah berpindah dari satu negara ke negara lainnya. Ini mungkin berkaitan dengan apa yang diungkapkan Scholte mengenai ancaman globalisasi terhadap ketenagakerjaan. Scholte tidak menyangkal bahwa globalisasi membawa beragam pekerjaan dan membuka banyak lapangan kerja baru, namun globalisasi juga berpotensi menyebabkan banyak orang terancam kehilangan pekerjaannya. Misalnya saja ketika Komunitas ASEAN telah diresmikan, negara-negara di Asia Tenggara dapat saling mencari pekerjaan di negara tetangganya dengan bebas. Hal tersebut merupakan ancaman karena sebagian orang pasti merasa tidak aman dan terancam kehilangan pekerjaannya apabila ada orang asing datang dengan kualitas yang lebih baik dan kemauan untuk dibayar lebih rendah. Dari sini dapat dilihat bahwa globabisasi memiliki ancaman terhadap ketenagakerjaan.

Pada akhirnya, globalisasi memang belum tentu menjamin keamanan yang sesungguhnya. Karena perkembangan teknologi justru menimbulkan perasaan tidak aman. Scholte menyisipkan sebuah kalimat yang menarik pada tulisannya yang dapat menimbulkan kesadaran bahwa ketidakamanan yang disebabkan oleh globalisasi bahkan menyerang kehidupan sehari-hari manusia. “People who are glued to television and computer screens may have virtual bonds across the planet but little or no acquaintance with the persons living next door.” (Scholte, 2000: 228). Kalimat tersebut sesungguhnya sangat mewakili keadaan kita sekarang ini. Sadar atau tidak, globalisasi memang telah memisahkan diri manusia dari kehidupan sosial yang sesungguhnya. Melalui kalimat tersebut Scholte menyatakan bahwa betapa globalisasi menyebabkan manusia merasa tidak aman untuk bersosialisasi karena dibatasi oleh perkembangan teknologi yang sedemikian pesatnya.

Dengan demikian, secara garis besar Scholte beranggapan bahwa globalisasi belum tentu dapat menjamin keamanan manusia. Globalisasi justru menjadikan manusia menjadi semakin tidak aman dan terancam hidupnya. Tanpa menyangkal sisi positif yang dibawa oleh globalisasi, Scholte mengungkapkan pendapatnya mengenai betapa globalisasi juga memiliki berbagai sisi negatif khususnya yang menyangkut mengenai keamanan. Penulis pada dasarnya setuju dengan apa yang telah dijelaskan oleh Scholte karena memang yang terjadi di dunia ini memang demikian. Dimulai dari perasaan tidak aman karena terbatas oleh teknologi, menyebabkan kesadaran terhadap bahaya globalisasi semakin terbuka. Yang paling terlihat memang terkait dengan masalah terorisme yang sekarang ini sedang gencar-gencarnya dibasmi. Perkembangan teknologi ternyata menyebabkan manusia salah menggunakannya sehingga dapat mengancam kemanan bukan hanya satu atau dua negara, melainkan seluruh negara di dunia ini.

 

Referensi:

Dalby, Simon. 2002. Security and Ecology in The Age of Globalization [online], dalam http://www.wilsoncenter.org/sites/default/files/Report_8_Dalby.pdf [diakses 21 Maret 2014].

Davis, Lynn E. 2003. “Globalization’s Security Implications”, dalam Issues Paper [online], dalam http://www.rand.org/content/dam/rand/pubs/issue_papers/2005/IP245.pdf [diakses 21 Maret 2014].

Scholte, Jan Aart. 2000. “Globalization and (In) Security” dalam Globalization: A Critical Introduction. New York: Palgrave, hal. 207-233.



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.738.024