Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

Globalisasi dan Ketidaksetaraan

10 March 2014 - dalam Globalisasi Strategi Oleh fyustiazari-fisip12

Berbagai pemikiran lahir sebagai akibat dari timbulnya globalisasi. Munculnya globalisasi yang seringkali dianggap sebagai peristiwa besar yang membuat dunia mengalami perubahan tersebut menimbulkan berbagai perdebatan. Kali ini perdebatan mengenai inekualiti atau ketidaksetaraan yang disebut-sebut sebagai salah satu dampak buruk dari globalisasi. Seperti yang diungkapkan oleh Jay Mazur (dalam Wolf, 2005: 138), yaitu “Globalization has dramatically increased inequality between and within nations, even as it connects people as never before”. Sebagai bukti dari ucapannya tersebut, Mazur juga menerangkan bahwa aset 200 orang terkaya di dunia lebih besar daripada jumlah pendapatan 2 milyar orang yang tidak beruntung dalam ekonomi. Ironis, di zaman yang serba modern ini, terdapat gap yang jauh di antara orang satu dan yang lainnya mengarah pada persoalan kekayaan. Di satu sisi, orang dapat memperkaya dirinya dengan mudah, apalagi dengan adanya globalisasi. Di sisi lain, orang semakin tersudut dengan munculnya globalisasi karena sulit sekali mencari satu sen uang. Namun yang menjadi perdebatan adalah: benarkah ketidaksetaraan tersebut sebenarnya disebabkan oleh globalisasi? Apakah memang ketidaksetaraan tersebut selalu meningkat setiap tahunnya akibat dari globalisasi? Pada paper kali ini, akan dibahas mengenai pemikiran Martin Wolf yang boleh dikatakan agak berbeda mengenai ketidaksetaraan yang terjadi di dunia ini dan hubungannya dengan globalisasi.

Martin Wolf, dalam tulisannya yang berjudul “Incensed about Inequality”, tidak memungkiri bahwa memang rasio pendapatan rata-rata negara-negara terkaya di dunia dibandingkan dengan negara-negara miskin di dunia, mengalami kenaikan pada masa globalisasi. Wolf juga tidak memungkiri bahwa ketidaksetaraan secara individu dan kemiskinan yang ekstrim terjadi dalam dua dekade terakhir. Namun, Wolf dalam tulisannya ini juga mengajak kita untuk berpikir kembali dan mencoba meyakinkan bahwa ketidaksetaraan yang terjadi tersebut mungkin dapat disebabkan oleh hal lain, selain globalisasi.

Wolf memberikan penjelasan mengenai pertumbuhan ekonomi dan kaitannya dengan globalisasi. Di sini, Wolf menjelaskan juga bagaimana globalisasi ternyata sangat memberikan manfaat bagi negara-negara di dunia, dilihat berdasarkan pertumbuhan ekonomi masing-masing negara. Cina dan India merupakan dua negara yang mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat antara tahun 1980 sampai 2000an. India mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat setelah menerapkan kebebasan, khususnya dalam perusahaan indivudal dan juga pasar. Kedua negara tersebut masih sebagian kecil contoh. Hal yang ingin ditekankan adalah bahwa: globalisasi tidak meningkatkan ketidaksetaraan melainkan justru mengurangi ketidaksetaraan (Wolf, 2005: 142).

Memang, integrasi ekonomi internasional yang merupakan akibat dari terjadinya globalisasi dapat menyebabkan ketidaksetaraan, namun itu bukan semata-mata karena globalisasi. Yang menyebabkan ketidaksetaraan bukanlah globalisasi, tetapi penolakan terhadap globalisasi (Wolf, 2005: 144). Menurut Wolf, negara-negara yang dapat dengan aktif mengikuti globalisasi dengan memanfaatkan terbukaan yang ada adalah negara-negara yang akan berhasil dalam globalisasi dan tentu saja memperoleh pendapatan yang meningkat. Sebaliknya, bagi negara-negara yang menutup diri dari globalisasi, keuntungan akan sangat sulit diperoleh.

Misalnya saja Cina, yang pada era globalisasi, kemudian melakukan ekspor dalam jumlah yang besar. Cina terus meningkatkan ekspornya, misalnya antara rentang tahun 1980 ke 1990, Cina meningkatkan ekspornya hingga 13% (Wolf, 2005: 144). Dengan peningkatan yang dilakukan oleh Cina secara terus menerus seperti demikian, Cina, yang merupakan negara berkembang pada saat itu, menjadi negara pengekspor terbesar keenam di dunia. Ini sekaligus melampaui ranking Kanada dan Italia (Wolf, 2005: 144). Ada contoh lain yang lebih menarik mengenai keterbukaan terhadap globalisasi yang mengarah pada peningkatan GDP. Kali ini adalah Bangladesh, yang merupakan negara termiskin pada saat itu, tahun 1970an (Wolf, 2005: 145).

Data yang dijabarkan oleh Martin Wolf tentang Bangladesh, memang terbilang sangat menarik. Dari negara yang masuk dalam negara termiskin dunia hingga menjadi negara yang dapat menjadi magnet bagi investor asing. GDP Bangladesh meningkat menjadi hampir mendekati rata-rata GDP sub-Sahara Afrika pada tahun 2000, padahal sebelumnya, pada tahun 1975, GDP Bangladesh hanya separuh dari rata-rata GDP negara sub-Sahara Afrika (Wolf, 2005: 145). Bangladesh senantiasa meningkatkan ekspornya, sehingga pada tahun 1990-2000 rasio ekspor dalam GDP Bangladesh meningkat dalam jumlah besar dari 18% ke 32% yang kemudian menyebabkan investor asing tertarik untuk melakukan investasi di Bangladesh (Wolf, 2005: 145-6).

Martin Wolf juga menjelaskan mengenai pertumbuhan dan ketidaksetaraan, masih pada masa globalisasi. Wolf menolak anggapan bahwa ketidaksetaraan meningkat pada masa globalisasi. Andrea Boltho dari Universitas Oxford dan Gianni Toniolo dari Universitas Roma melakukan penelitian terhadap ketidaksetaraan di berbagai negara di antara 49 negara dengan 80% populasi dunia pada tahun 1900. Penelitian ini didasarkan pada perhitungan ketidaksetaraan di negara-negara tersebut, rata-rata pendapatan, dan kestabilan kekuatan dalam ekonomi. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa, ketidaksetaraan mencapai puncaknya pada tahun 1980an, tetapi setelah itu turun 9% hingga tidak ditemukan lagi enam dekade yang lalu (Wolf, 2005: 150). Penelitian ini mendukung pernyataan Wolf bahwa ketidaksetaraan ternyata bukan malah meningkat tetapi justru mengalami penurunan.

Dalam hal ini, Wolf (2005: 150) mengungkapkan beberapa poin. Dan tiga poin yang semakin memperkuat pendapatnya mengenai ketidaksetaraan adalah: (1) ketidaksetaraan global meningkat dari tahun 1820 sampai dengan 1980, yang artinya terjadi sebelum globalisasi marak; (2) yang terjadi bukanlah ketidaksetaraan di dalam negara, melainkan antar negara; (3) determinan yang paling penting untuk mengukur ketidaksetaraan adalah tempat dimana ia tinggal. Dengan kata lain ketidaksetaraan pada tahun sembilan puluhan, diukur dari kekayaan relatif suatu negara (Wolf, 2005: 151).

Pada intinya, Martin Wolf mengungkapkan posisinya sebagai globalis, yang tidak menyetujui bahwa ketidaksetaraan disebabkan oleh globalisasi. Baginya, globalisasi justru merupakan pintu yang menyediakan kesempatan bagi seluruh pihak untuk dapat mengembangkan dirinya. Wolf memberikan data yang lengkap untuk membuktikan segala pendapatnya tersebut. Namun, saya sendiri masih belum sepenuhnya yakin bahwa ketidaksetaraan tidak berhubungan langsung dengan globalisasi. Bagi saya, negara-negara majulah yang semakin menikmati hasil dari globalisasi. Semakin kuatnya organisasi internasional seperti World Bank dan IMF menjadikan negara-negara maju semakin kuat pula. Sedangkan negara berkembang, seperti Indonesia hanya menjadi masyarakat yang konsumtif, lagi-lagi akibat dari globalisasi.

Indonesia merupakan salah satu negara yang termasuk aktif dalam memanfaatkan globalisasi, buktinya GDP Indonesia semakin tinggi. Namun sayangnya, GDP Indonesia ternyata tinggi adalah karena angka konsumsinya besar. Lagipula, nyatanya ketidaksetaraan di dalam negara Indonesia menjadi semakin kentara. Pusat perbelanjaan modern semakin banyak dibangun, menggantikan pasar tradisional yang secara tidak langsung membuat pedagang-pedagang kecil kehilangan lahan berdagang sehingga kehilangan pekerjaan. Kemiskinan dan pengangguran bertambah, lagi-lagi, akibat globalisasi, era dimana terdapat modernisasi dan kemudahan di berbagai aspek. Jadi, meski Wolf banyak menjelaskan dan memberikan data-data menarik yang mendukung pendapatnya bahwa globalisasi bukan penyebab ketidaksetaraan, jika dilihal lagi dari aspek lainnya, tidak dapat dipungkiri, globalisasi, meski dengan segala kemudahannya, juga menyumbang terjadinya ketidaksetaraan dan kemiskinan dimana-mana.

 

Referensi:

Wolf, Martin. 2005. “Incensed about Inequality”, dalam Why Globalization Works, New Haven: Yale Notabene, pp. 138-172.

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.751.202