Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

Diplomasi dan Globalisasi: Konflik dan Isu Baru yang Muncul pada Era Globalisasi

26 January 2014 - dalam Sejarah Diplomasi Oleh fyustiazari-fisip12

Memahami Lagi Konsep Power

            Kekuatan suatu negara merupakan suatu modal yang digunakan untuk melakukan interaksi dengan negara lain. Juga merupakan suatu modal untuk mendapatkan eksistensi di mata dunia. Dengan modal berupa kekuatan, suatu negara akan memenuhi kepentingan nasionalnya juga mendapatkan modal itu kembali sebagai suatu bentuk kekuasaan. Apa saja sebenarnya yang ada pada kekuatan suatu negara itu? Jawaban atas pertanyaan ini mungkin bisa berbeda-beda sesuai dengan pendekatan masing-masing. Kaum realis mengatakan bahwa sumber kekuatan terbesar adalah kekuatan militer, sedangkan kaum lain seperti konstruktivis beranggapan bahwa kekuatan suatu negara adalah suatu kemampuan untuk mencapai kepentingan negara itu sendiri. Tidak ada yang salah dengan semua anggapan itu, namun nampaknya kekuatan bisa bermacam-macam tergantung konteksnya.

            Misalnya jika dilihat dari konteks banyaknya penduduk, negara-negara seperti Cina, India, Amerika Serikat, Indonesia, Pakistan, Nigeria, dan Brazil, adalah negara-negara yang kekuatannya lebih besar dibandingkan dengan negara lain (Kegley 2011, 278). Bahkan negara yang dianggap sebagai negara adikuasa pun dapat kalah dari Cina yang memiliki penduduk terbanyak di dunia. Artinya, secara jumlah populasi Cina merupakan negara yang terkuat di dunia hingga saat ini. Indonesia mungkin juga bisa menjadi negara yang lebih kuat dibandingkan negara lain jika dilihat dari wilayahnya yang strategis. Kemampuan untuk mengelola kekuatan masing-masing hingga menjadi nilai plus adalah satu persoalan. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan adalah sesuatu yang relatif karena kekuatan muncul dari bermacam-macam bentuk (Kegley 2011, 279).

            Kekuatan militer ternyata bukanlah segala-galanya yang menentukan suatu negara pasti berkekuatan besar. Negara-negara dengan kekuatan besar belum tentu bisa memenangkan konflik dengan negara-negara yang lebih lemah. Faktanya, sejak 1950, negara-negara yang lebih menang bisa memenangkan separuh lebih dari seluruh perang asimetris dengan pihak lain yang kekuatan militernya tidak seimbang (Kegley 2011, 279). Banyak contoh yang terjadi di dunia ini yang menunjukkan bahwa kekuatan militer memang bukanlah segalanya yang mendukung besarnya kekuatan suatu negara. Misalnya ketika Vietnam,  negara yang lemah dalam hal militer, dapat memenangkan perang dengan Prancis yang jelas-jelas jauh lebih kuat (Kegley 2011, 281). Amerika Serikat sampai saat ini merupakan negara yang dianggap sebagai negara adikuasa yang memiliki kekuatan terbesar di dunia ini setelah menang dari Uni Soviet pada perang dingin. Namun kekuatan besar Amerika Serikat tidak membuat negara-negara lain akan dengan mudah tunduk kepada Amerika Serikat. Kemenangan Amerika Serikat pada Amerika Serikat kemudian menimbulkan konflik baru pada tatanan dunia era sekarang ini.

            Negara-negara lain di dunia meski kekuatannya tidak sebanding dengan Amerika Serikat, mencoba untuk melawan negara adikuasa tersebut sehingga mereka berlomba-lomba meningkatkan kekuatan negaranya yang menyebabkan kini dunia nampaknya menjadi lebih multipolar. Lahir beberapa kekuatan besar baru selain Amerika Serikat yang tidak dapat dipandang sebelah mata, misalnya Cina dengan kekuatan ekonominya yang semakin besar, mampu menguasai sebagian besar pasar Asia. Korea Utara pun terus mengembangkan persenjataan nuklirnya untuk mendapatkan perhatian dunia. Ini merupakan suatu persoalan yang kemudian menjadi isu yang bukan hanya diperhatikan oleh Amerika Serikat saja, tetapi juga dunia.

 

Tipe Konflik Baru yang Muncul Pada dan Pasca Perang Dingin yang Berakibat Pada Munculnya Isu Baru

            Berakhirnya Perang Dunia II menjadikan kekuatan dunia mengerucut menjadi dua kekuatan besar sebagai balance of power di dunia, yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Kedua polar kekuatan ini kemudian menjadi lawan satu sama lain dalam Perang Dingin. Konflik apa yang terlihat di antara Amerika Serikat dan Uni Soviet pada masa Perang Dingin? Bukan lagi perang dengan segala bentuk fisiknya yang terlihat pada konflik antara Amerika Serikat dan Uni Soviet pada saat ini. Perang Dingin nampaknya tidak mencerminkan arti perang secara harfiah. Penggunaan nuklir sebagai persenjataan nampaknya merupakan sebuah trend baru penggunaan teknologi persenjataan pada masa itu yang bahkan trend tersebut masih digunakan sampai saat ini pada kasus Korea Utara.

Pada masa Perang Dingin, kedua pihak yang berkonflik sama-sama bersaing dalam mengembangkan senjata nuklir tanpa saling menyerang satu sama lain. Mengapa demikian? Konflik yang terjadi pada masa Perang Dingin sebenarnya merupakan konflik ideologi. Karena Amerika Serikat dan Uni Soviet menganut ideologi yang berbeda, maka terjadilah Perang Dingin. Amerika Serikat memiliki pendekatan yang unik atas politik luar negerinya ketika Perang Dingin berlangsung yaitu dengan mengerahkan segala kekuatan untuk mempertahankan ideologi non-komunis (Kissinger 1994, 23).

Pada masa Perang Dingin kedua belah pihak sama-sama tidak saling menyerang satu sama lain karena mereka tahu bahwa saling menyerang justru akan menghancurkan keduanya. Karena itu, isu baru muncul ketika Perang Dingin berlangsung. Isu baru yang muncul tersebut adalah isu keamanan yang bahkan berkembang menjadi isu-isu lain pada masa setelah perang dingin. Kepentingan untuk memperoleh kemenangan sama-sama diturunkan demi menjaga keamanan dunia. Dapat dilihat di sini terdapat deterrence atau penurunan kepentingan antar kedua belah pihak yang berkonflik. Kemenangan Amerika Serikat pada Perang Dingin membuat ideologi Amerika Serikat dapat diadopsi oleh negara-negara di dunia. Sementara Uni Soviet yang sekarang ini menjadi Russia, dengan ideologi komunisnya, harus berusaha untuk mengidentifikasi kembali identitasnya (Kissinger 1994, 21)

            Konflik yang berkembang pada situasi dunia sekarang ini nampaknya mulai berubah dari yang terjadi pada masa-masa sebelumnya. Perang Dunia I dan II merupakan bentuk-bentuk konflik yang terjadi pada masa lampau. Berakhirnya Perang Dingin dengan Amerika Serikat sebagai pemenangnya bukan menjadikan dunia lebih baik namun justru menjadi semakin banyak konflik yang tak kunjung mereda. Perbedaan kepentingan tiap individu atau kelompok di dunia menyebabkan terjadinya konflik politis yang menyebabkan dunia semakin tidak aman. Persoalan penting yang muncul pada masa sekarang ini pasca Perang Dingin bukan persoalan mengenai defense lagi, melainkan jauh lebih daripada itu (Kissinger 1994, 23). Pada masa modern saat ini isu-isu mengenai perang atau kepentingan memenangkan perang bukanlah hal yang utama. Sebab, yang lebih utama adalah isu mengenai keamanan. Isu keamanan bukan hanya menjadi perhatian satu negara saja, tetapi juga sudah menjadi perhatian seluruh dunia.

            Berakhirnya Perang Dingin yang dimenangkan oleh Amerika Serikat justru menimbulkan banyak konflik yang terjadi baik eksternal maupun konflik internal. Satu peristiwa yang sangat monumental yang dapat dijadikan sebagai contoh adalah peristiwa 9/11 yang mengusik keamanan Amerika Serikat. Peristiwa tersebut tentu mengganggu keamanan Amerika Serikat serta mengganggu stabilitas dunia juga. Bagaimana tidak? Jika negara sebesar Amerika Serikat, yang pada dasarnya juga memiliki tugas untuk memimpin dan menjaga stabilitas dunia, mengalami guncangan maka dunia juga akan terkena imbasnya. Buktinya, sejak itu terorisme tidak hanya terjadi di Amerika Serikat saja. Indonesia merupakan salah satu negara yang terkena imbas terorisme.

            Kemenangan Amerika Serikat pada Perang Dingin ternyata tidak disambut baik oleh semua pihak. Ada pihak-pihak yang tidak suka dengan berkuasanya Amerika Serikat di dunia karena kemenangan dalam Perang Dingin. Adanya ketidaksenangan itu menyebabkan konflik monumental 9/11 terjadi dan sejak saat itu praktik terorisme di seluruh dunia semakin menyebar. Hal ini juga dimungkinkan karena suatu kaum yaitu Al-Qaeda menolak berkembangnya globalisasi yang identik dengan amerikanisme sehingga atas nama jihad Al-Qaeda melancarkan praktik terorisme yang semakin mengancam stabilitas dan keamanan dunia.

            Konflik-konflik lain selain konflik monumental yang telah dijelaskan di atas adalah konflik internal yang terjadi di Suriah yang masih belum kunjung reda. Dalam konflik Suriah, dapat dilihat ada perbedaan kepentingan yang terjadi antara warga Suriah dan pemerintah Suriah. Kemenangan Amerika Serikat pada Perang Dingin juga telah membawa asas demokrasi kepada seluruh dunia. Hampir seluruh dunia menganut demokrasi, begitu juga yang diinginkan oleh warga Suriah. Warga Suriah menginginkan adanya praktik demokrasi yang sesungguhnya. Namun, pemerintah yang memang dikuasai oleh partai non-demokrasi, tidak mendukung aspirasi warga Suriah tersebut sehingga terjadilah konflik yang berkepanjangan.

            Konflik-konflik yang terjadi saat ini, yang terjadi pasca Perang Dingin telah sedikit banyak membuktikan bahwa pada era pasca Perang Dingin ini dunia malah diliputi masalah yang besar terutama persoalan mengenai keamanan. Dari isu keamanan itu kemudian muncul isu-isu lain yang menjadi perhatian dunia seperti isu-isu mengenai Hak Asasi Manusia, terorisme, dan sebagainya. Sistem internasional pada abad ke-21 menjadi lebih kontradiktif. Di satu sisi menjadi fragmentatif dan di sisi lain menumbuhkan globalisasi. Tatanan dunia yang baru kemudian menyebabkan kekuatan negara menjadi multipolar seperti tatanan Eropa pada abad ke-18 dan ke-19. Ada lima sampai enam negara yang memiliki kekuatan besar di dunia (Kissinger 1994, 23).  

 

Respon Amerika Serikat?

            Amerika Serikat yang pada hakikatnya adalah sebagai pemimpin dunia pasca kemenangannya pada Perang Dingin atas Uni Soviet tentu selalu memberikan respon kepada konflik-konflik yang terjadi di dunia demi menjaga stabilitas internasional sehingga negara-negara di dunia bisa tetap hidup saling berdampingan dengan damai. Sebagai negara yang mengemban tugas berat itu, tentunya sikap dan respon Amerika Serikat terhadap pergolakan yang terjadi sangatlah diperhatikan. Pertama yang paling mendasar, mari meneliti bagaimana respon Amerika Serikat terhadap serangan teroris pada peristiwa 9/11.

            Setelah peristiwa 9/11 terjadi, Amerika Serikat mengalami guncangan yang mendalam dan sangat tidak terduga. Presiden yang menjabat pada saat itu, yaitu George W. Bush kemudian berpidato sebelas hari kemudian yaitu pada tanggal 20 September. Beliau menyatakan perang kepada terorisme yang didukung dengan pernyatannya yaitu “a dangerous and uncertain world requires America to have sharpened sword.” (281). Tindakan ini merupakan suatu bentuk diplomasi yang dilakukan oleh Presiden Bush pada saat itu untuk menjaga keutuhan Amerika Serikat juga menjaga kestabilan dan keamanan dunia. Presiden Bush dengan pemikiran neo-konservatifnya, mengajak semua negara di dunia untuk ikut memerangi terorisme dan menjadikan Iran dan Irak sebagai negara-negara sarang teroris sebagai axis of evil. Sejak itu, Amerika Serikat benar-benar waspada terhadap aksi terorisme yang mungkin saja bisa terjadi sewaktu-waktu. Untuk memperoleh dukungan dari negara-negara untuk memerangi terorisme, Amerika Serikat melakukan berbagai macam bentuk diplomasi untuk menarik negara-negara lain. Misalnya dalam pendistribusian senjata perang, Amerika Serikat mengalokasikan lebih banyak untuk negara-negara yang mendukungnya (289). Itu merupakan bentuk diplomasi yang dilakukan Amerika Serikat kepada negara-negara di dunia untuk memperoleh dukungan.

Bukan hanya itu, respon Amerika Serikat tidak hanya ditujukan ketika negaranya sendiri terancam, namun juga ketika konflik muncul di negara lain. Seperti konflik Suriah mengenai masalah demokrasi. Amerika Serikat melakukan intervensi militer ke Suriah dengan tujuan untuk meredam konflik tersebut. Meski sebenarnya hal tersebut tidak perlu dilakukan karena akan semakin menbahayakan situasi yang ada di sana.

            Kedua respon Amerika Serikat terhadap konflik tersebut menunjukkan adanya praktik diplomasi koersif. Karena koersif, maka diplomasi ini cenderung bersifat memaksa dan dengan kekerasan. Sebenarnya diplomasi koersif tidak perlu dilakukan. Karena diplomasi koersif terlebih lagi melakukan intervensi ke negara lain sama saja dengan merusak prinsip kedaulatan negara dan melanggar adanya nonintervention norm dalam hukum internasional (310). Lagipula, melakukan intervensi juga semakin membuat keadaan semakin kacau karena intervensi dapat membahayakan keselamatan warga sipil yang tidak berdosa.

 

Peran Globalisasi dalam Praktik Diplomasi pada Situasi Dunia Saat Ini

            Tidak dapat dipungkiri bahwa globalisasi memang telah hadir di tengah-tengah tatanan dunia yang juga semakin kompleks ini. Globalisasi membawa keuntungan pada beberapa sisi juga membawa kerugian di sisi yang lainnya. Namun apakah berkembangnya globalisasi saat ini membawa berkah atau keuntungan bagi praktik diplomasi? Kenyataan bahwa komunikasi menjadi semakin mudah memang menjadikan globalisasi menjadi suatu berkah bagi timbulnya praktik diplomasi.

            Era globalisasi seperti saat ini sebenarnya banyak mendatangkan masalah yang kompleks di dunia. Karena semakin pudarnya batas-batas negara, maka identitas masing-masing negara pun menjadi semakin melemah. Terjadi krisis identitas dimana-mana yang menyebabkan masalah-masalah lainnya muncul. Suatu negara akan sangat mudah dikuasai negara lainnya pada era globalisasi saat ini terutama ketika negara tersebut mengalami krisis identitas akan sangat mudah dicekoki dengan identitas baru dari negara-negara lain. Globalisasi juga menyebabkan isu kemanan menjadi semakin besar. Mudahnya menjangkau negara lain dengan hadirnya teknologi pada era globalisasi, menyebabkan keamanan menjadi terganggu, seperti pada kasus 9/11 juga kasus nuklir Korea Utara. Namun di sisi lain, globalisasi nampaknya merupakan sebuah berkah bagi negara-negara yang melakukan diplomasi. Mengapa demikian?

            Pada era globalisasi saat ini, sangat banyak media dan cara untuk melakukan diplomasi. Contoh sederhana adalah diplomasi budaya dengan memperkenalkan budaya suatu negara kepada negara-negara lain di seluruh dunia melalui media televisi. Lebih menguntungkannya lagi, globalisasi telah memperkenalkan kita kepada internet, fenomena canggih yang mampu memampatkan dunia. Internet yang telah dikenal sebagian besar manusia di dunia ini merupakan media yang sangat menguntungkan untuk diplomasi.

            Presiden Bush pasca terjadinya peristiwa 9/11 memberikan pidato yang menyatakan perang terhadap terorisme dan mengajak negara-negara lain di dunia untuk turut memerangi terorisme. Melalui adanya globalisasi, pidato Presiden Bush ini tidak hanya diketahui oleh warga Amerika Serikat saja, tetapi juga hampir seluruh dunia secara tidak langsung dapat melihat diplomasi Presiden Bush tersebut. Jika dikaitkan dengan penyaluran ideologi, maka globalisasi juga merupakan sebuah berkah untuk praktik diplomasi sekarang ini. Akan lebih mudah untuk menyerang mindset seseorang atau bahkan sebuah negara dengan menggunakan segala kemudahan yang ditimbulkan dari adanya globalisasi. Semua ini menunjukkan bahwa globalisasi merupakan berkah bagi praktik diplomasi di masa kini. 

Simpulan

Kemenangan Amerika Serikat atas Uni Soviet pada Perang Dingin yang menjadikan Amerika Serikat sebagai negara adikuasa saat ini ternyata tidak lantas membuat dunia menjadi semakin aman. Masalah satu mungkin terselesaikan, yaitu dengan ditemukannya satu negara dengan kekuatan besar yang dapat memimpin dunia. Namun masalah lainnya ternyata muncul. Konflik ideologi yang dibawa sejak masa Perang Dingin menyebabkan isu lain berkembang yang mengakibatkan isu lainnya lagi muncul. Isu keamanan sekarang ini menjadi isu yang sangat krusial dan menjadi perhatian tidak hanya oleh Amerika Serikat, tetapi juga oleh seluruh dunia karena isu keamanan berkembang menjadi isu-isu lainnya.

            Politik luar negeri Amerika Serikat merupakan cerminan dari respon Amerika Serikat terhadap isu keamanan yang muncul pada tatanan dunia yang bergeser pada masa pasca Perang Dingin. Seperti respon Presiden Bush dengan pernyataan perang kepada terorisme dalam menaggapi peristiwa 9/11 yang menggemparkan Amerika Serikat. Hal tersebut nampaknya dilakukan demi untuk menjaga keutuhan Amerika Serikat dan menjaga keamanan dunia karena terorisme juga telah merambah ke negara lain seperti Indonesia.

            Globalisasi, memiliki peran besar dalam keberhasilan praktik diplomasi. Bisa dikatakan bahwa globalisasi merupakan suatu keuntungan bagi praktik diplomasi. Mengapa demikian? Globalisasi yang membawa kemudahan di segala aspek kehidupan menyebabkan praktik diplomasi menjadi lebih mudah terlebih dengan adanya media yang sudah bisa diakses oleh setiap individu.

 

Referensi:

 

Kegley, et al. 2011. World Politics Trends and Transformation. New York: St. Martin Press.

Kissinger, Henry. 1994. Diplomacy. New York: Simon and Schuster inc.




Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.751.212