Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

HUBUNGAN INDONESIA DAN AMERIKA SERIKAT: DINAMIKA SEJAK MASA TERORISME

26 January 2014 - dalam Studi Strategis Indonesia Oleh fyustiazari-fisip12

            Indonesia, sebagai suatu negara yang juga berpartisipasi dalam kegiatan internasional, tentu juga memiliki hubungan dengan Amerika Serikat yang notabene adalah negara adidaya. Berakhirnya Perang Dingin yang ditandai dengan keruntuhan Uni Soviet sebagai penganut komunisme, membawa Amerika Serikat sebagai pemenang dan sebagai negara yang mengemban tanggung jawab sebagai negara yang semestinya menjaga stabilitas dan keamanan internasional. Amerika Serikat, meski merupakan negara adidaya dengan kekuatan yang besar, tentunya juga harus berhubungan dengan negara-negara lain di dunia, termasuk Indonesia. Dalam hubungan Indonesia dan Amerika Serikat tentu terdapat dinamika dan tentunya tidak selalu berjalan secara mulus karena keduanya pun memiliki kepentingan dan kedaulatan masing-masing. Pada paper kali ini, akan dibahas mengenai hubungan Indonesia dan Amerika Serikat yang dapat dikatakan memiliki dinamika yang cukup dinamis, khususnya pada masa teror.

            Hubungan Indonesia dan Amerika Serikat pada masa pemerintahan Presiden Soekarno bisa dikatakan tidak berlangsung akrab. Hal ini disebabkan karena kepribadian Presiden Soekarno yang high profil dan menentang segala bentuk kolonialisme dan imperialisme. Presiden Soekarno sengaja memilih untuk mengisolasi diri dari Amerika Serikat (Smith, 2003). Presiden Soekarno malah justru meminta bantuan kepada ke negara-negara komunis pada saat itu karena kekecewaannya terhadap kolonialisme dan imperialisme yang dilakukan oleh negara-negara barat termasuk Amerika Serikat.

Pemerintahan Presiden Soekarno ini sangat berbeda dengan karakteristik pemerintahan Presiden Soeharto yang sangat terbuka terhadap asing. Presiden Soeharto melihat Amerika Serikat sebagai kunci untuk memperbaiki perekonomian di Indonesia pada saat itu. Amerika Serikat kemudian melihat Indonesia dalam masa pemerintahan Presiden Soeharto sebagai pendukungnya untuk melawan komunisme (Smith, 2003). Hal tersebut menyebabkan hubungan Indonesia dan Amerika Serikat menjadi membaik. Lagipula, Presiden Soeharto pada masa pemerintahannya juga memiliki misi untuk memberantas PKI (Partai Komunis Indonesia) juga mengembalikan keadaan ekonomi yang stabis di Indonesia sejak runtuhnya Presiden Soekarno. Indonesia dalam pemerintahan Presiden Soeharto yang cenderung pro-barat ini nampaknya sedikit melunturkan image Indonesia yang sebenarnya yaitu non-blok (Smith, 2003).

Indonesia dan Amerika Serikat kembali mengalami hubungan yang memburuk semasa terjadinya isu Timor Timur. Amerika Serikat mengatakan bahwa Indonesia telah melakukan pelanggaran HAM di Timor Timur dan sejak saat itu Amerika Serikat memotong link militer untuk beberapa tahun (Smith, 2003). Adanya tuntutan Timor Timur untuk merdeka dan memisahkan diri dari Indonesia setelah sebelumnya terintegrasi dengan Indonesia atas dukungan Australia menyebabkan B. J. Habibie yang pada saat itu menjabat sebagai Presiden melakukan kebijakan untuk mengadakan referendum di Timor Timur. Apa peran Amerika Serikat pada isu Timor Timur ini? Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Bill Clinton mendesak Indonesia untuk menerima International Force in East Timor (INTERFET) di bawah kepemimpinan Australia (Smith, 2003). Timor Timur akhirnya harus lepas dari wilayah Indonesia.

Kemudian, hubungan antara Indonesia dan Amerika Serikat juga tejadi secara dinamis setelah terjadinya peristiwa 9/11 yang terjadi di Amerika Serikat sebagai bentuk dari terorisme. Amerika Serikat mengalami trauma mendalam atas tragedi yang memakan banyak korban tersebut sehingga Presiden Bush yang pada waktu itu menjabat, menyatakan bahwa Amerika Serikat memerangi terorisme. Presiden Bush juga mengajak negara-negara lainnya untuk ikut mendukung Amerika Serikat untuk memerangi terorisme. Pada saat terjadinya tragedi tersebut, Presiden yang menjabat di Indonesia adalah Presiden Megawati.

Pada saat itu, Presiden Megawati melakukan kunjungan ke Amerika Serikat untuk mengatakan bahwa Indonesia mendukung Amerika Serikat untuk memerangi terorisme, terutama setelah peristiwa peledakan bom di Bali pada tahun 2002. Lagipula pemerintahan Presiden Megawati pada saat itu melihat suatu kesempatan bagi Indonesia untuk memperoleh keuntungan dari Amerika dengan bersimpati kepada Amerika Serikat dan menyatakan bahwa Indonesia mendukung gerakan Amerika Serikat untuk memerangi terorisme. Singkatnya, Indonesia mengharapkan timbal balik dari Amerika Serikat berupa bantuan-bantuan (Emmerson, 2002: 123). Hal tersebut terbukti memang berhasil. Kunjungan Presiden Megawati ke Amerika Serikat pada saat itu membuahkan hasil, yaitu didapatkannya bantuan dan kerjasama sebesar 400 dolar Amerika dari Amerika Serikat dan kedua negara akhirnya memulai dialog mengenai keamanan (Smith, 2003). Hal ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat tentu merasa senang dengan dukungan Indonesia kepada Amerika Serikat untuk memerangi terorisme yang telah menjadi musuh besar tersebut.

Selama memerangi terorisme, Amerika Serikat aktif melakukan gerakan-gerakan agar terorisme tidak terulang lagi. Misalnya saja dengan menginvasi Afghanistan dan melakukan invasi ke Iraq sehingga terjadi perang yang besar. Dengan perlakuan Amerika Serikat yang dianggap melanggar nilai-nilai kemanusiaan tersebut, apa kemudian respon Indonesia? Indonesia memang mendukung keputusan Amerika Serikat untuk memerangi terorisme, namun Indonesia menyatakan keberatannya apabila Amerika Serikat melakukan penyerangan kepada Afghanistan. Survey juga telah menyatakan bahwa orang-orang Indonesia tidak menyetujui incasi Amerika Serikat terhadap Afghanistan. Indonesia juga menyatakan tidak setuju apabila Amerika Serikat melakukan invasi terhadap Iraq, terlebih lagi invasi tersebut dilakukan tanpa persetujuan dari PBB (Smith, 2003).

Presiden Bush tetap menyadari bahwa posisi Indonesia dalam regional Asia Pasifik sangat penting terlebih lagi pasca tragedi 9/11. Karenanya, Bush menyatakan kemungkinan untuk membangun kerjasama militer dengan Indonesia untuk tetap mempertahankan dukungan Indonesia terhadap Amerika Serikat untuk memerangi terorisme. Mantan duta Amerika Serikat untuk Indonesia Paul Wolfowitz juga menyatakan bahwa cara terbaik untuk meyakinkan stabilitas Indonesia adalah dengan cara mempengaruhi militernya (Smith, 2003).

Pemerintahan Presiden Bush meminta Congress untuk menyetujui anggaran dana sebesar delapan juta Dolar Amerika sebagai anggaran untuk melakukan kerjasama militer. Pada Agustus 2002 Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Colin Powel mengunjungi Indonesia dan mengatakan bahwa Amerika Serikat memberikan bantuan sebesar lima puluh juta Dolar Amerika untuk militer, separuhnya untuk kepolisian (Smith, 2003). Dengan begitu tentunya kerjasama militer antara Indonesia mengalami peningkatan sejak terjadinya tragedy 9/11. Meski bantuan sebesar itu telah dinyatakan Amerika Serikat sendiri untuk Indonesia, ternyata hal tersebut tidak disambut baik oleh TNI (Tentara Nasional Indonesia). Komandan TNI pada waktu itu yang bernama Letnan Jendral Endriartono Susanto menyatakan bahwa bantuan militer seharusnya tidak dapat mempengaruhi dan mengintervensi kebijakan dan hubungan internasional Indonesia (Smith, 2003). Lagipula, kebijakan Amerika Serikat tersebut juga ditentagn oleh Congress dan Susilo Bambang Yudhoyono selaku Menteri Politik dan Keamanan pada saat itu mengingatkan bahwa hubungan militer yang berjalan tanpa persetujuan Congress hanya akan merusak hbungan antara Indonesia dan Amerika Serikat (Smith, 2003).

Kesimpulan

Dengan demikian, hubungan Indonesia dan Amerika Serikat seperti dengan hubungan Indonesia dan negara-negara lain seperti Australia, juga mengalami dinamika yang naik dan turun karena masing-masing memiliki kepentingan dan kedaulatannya sendiri-sendiri. Di Indonesia juga sempat terjadi gerakan anti-Amerika yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia dalam merespon isu mengenai Palestina pada tahun 2000. Akibatnya Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia, tepatnya di Jakarta terpaksa ditutup sementara untuk mengatasi tekanan tersebut (Smith, 2003). Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia memang tidak mendukung adanya kekerasan. Sebagai negara yang juga turut berpartisipasi di kancah internasional, Indonesia juga masih menginginkan tujuan perdamaian dari setiap gerakan-gerakan skala internasional. Karena itu, dalam hal terorisme, Indonesia mendukung Amerika Serikat untuk memberantas terorisme karena terorisme memang mengancam keamanan internasional. Namun Indonesia juga tidak menyetujui tindakan Amerika Serikat yang melakukan intervensi ke negara timur tengah karena dianggap menyalahi nilai-nilai kemanusiaan.

 

Referensi:

Emmerson, Donald K., 2002. “Whose Eleventh? Indonesia and the United States Since 11 September”, dalam Brown Journal of World Affairs. hal. 115-26.

Smith, Anthony L, 2003. A Glass Half Full: Indonesia-US Relations in the Age of Terror”, dalam Contemporary Southeast Asia, 25.  hal. 449-72. 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.751.199