Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

GLOBALISASI, PERKEMBANGAN STUDI HI, DAN KEBUTUHAN AKAN PENDEKATAN STRATEGIS

05 July 2013 - dalam Pengantar Globalisasi Oleh fyustiazari-fisip12

Dunia dan sistem internasional merupakan hal yang tidak stagnan dan akan terus berkembang seiring dengan berjalanannya waktu. Hal ini ditandai dengan berkembangnya kepentingan negara-negara dalam berinteraksi di dalam sistem internasional yang semakin mengglobal saat ini. Lahirnya pendekatan-pendekatan alternatif, seperti pos-kolonialisme dan pos-strukturalisme, yang memberikan pemikiran alternatif diluar pemikiran-pemikiran pendekatan tradisional terdahulu untuk menjawab permasalahan yang terjadi di dunia saat ini juga menandakan adanya perubahan dunia dan sistem internasional yang semakin kompleks.

Tatanan internasional mengalami perubahan dan perkembangan yang disebabkan oleh globalisasi yang membawa kondisi dunia menjadi seperti sekarang ini. Pada awalnya hanya terdapat politik internasional lalu berkembang mengarah pada politik dunia yang mengarah pada produksi global hingga mencapai tahapan komunitas global (Dugis 2013). Tahapan-tahapan ini penting untuk dipahami dalam memahami perubahan dunia yang sedemikian rupa. Tahapan pertama merupakan tahapan yang paling klasik dalam tatanan intenasional. Pada tahapan ini tatanan dunia hanya menekankan pada kondisi negara yang anarki dimana negara memiliki peranan dominan yang paling utama dalam interaksi dengan negara lain dalam sistem internasional. Bisa dikatakan bahwa negara merupakan aktor utama dalam hubungan internasional. Negara merupakan pihak yang paling berwenang dalam menentukan langkah dalam interaksi antarnegara. Dalam tahapan ini, interaksi antarnegara bisa dikatakan lebih bersifat konfliktual karena dengan kondisi anarki yang demikian, negara selalu akan menggunakan kekuatan masing-masing untuk meperjuangkan kepentingan yang sudah ditargetkannya.

Berakhirnya perang dingin menandai perkembangan tatanan menuju ke tahapan selanjutnya, yaitu tahapan politik dunia. Pada tahapan ini kemudian tidak hanya negara yang menjadi aktor satu-satunya yang paling berkuasa dan berwenang dalam menentukan langkah dalam interaksi antarnegara dalam tatanan internasional. Munculnya aktor non-negara menjadi dipertimbangkan. Seringkali sikap dan perilaku ditentukan oleh organisasi-organisasi internasional sebagai aktor non-negara yang menjadi wadah bagi negara-negara untuk melakukan interaksi dengan negara lain. Singkatnya, pada tahapan ini peran aktor non-negara juga dipertimbangkan serta tatanan dan interaksi antarnegara menjadi lebih kooperatif.

Tahapan kedua tersebut kemudian berkembang menjadi tahapan keempat yang disebut dengan tahapan politik global. Semakin banyaknya produk-produk global dan semakin berkembangnya teknologi merupakan hal-hal yang menandai kemunculan tahapan ini. Pada tahapan ini permasalahan tentang aktor sudah tidak begitu kentara lagi karena pada tahapan ini siapa saja bisa menjadi aktor, bahkan individu pun dapat menjadi aktor dalam tatanan internasional. Dalam politik global yang terpenting adalah interaksi yang dilakukan untuk mencapai kepentingan masing-masing. Selanjutnya politik global melahirkan apa yang dinamakan sebagai komunitas global. Globalisasi telah menghapuskan batasan antara lokal dan global tersebut. Permasalahan-permasalahan lokal dalam tahapan ini juga bisa menjadi masalah global. Misalnya permasalahan tentang lingkungan yang sekarang ini tidak hanya menjadi masalah regional suatu negara saja tetapi juga diperhatikan oleh seluruh pihak di dunia ini.

Karena dunia terus berkembang seperti demikian, pendekatan-pendekatan tradisional seperti realisme dan neoliberalisme menjadi kurang relevan untuk diaplikasikan pada era globalisasi saat ini. Hal tersebut disebabkan karena ada permasalahan-permasalahan kompleks yang timbul dalam tatanan internasional yang tidak mampu dijawab hanya dengan menggunakan pendekatan tradisional seperti realisme dan neoliberalisme. Oleh sebab itu Linklater (2001) menawarkan tiga pendekatan yang dapat diaplikasikan pada era globalisasi saat ini, diantaranya yakni kosmopolitanisme, posmodernisme, dan komunitarianisme. Namun ternyata ketiga pendekatan tersebut pun dianggap belum cukup mampu menangani permasalahan kompleks yang timbul di era globalisasi saat ini karena fokusnya masih terpisah-pisah dan berbeda-beda. Hubungan Internasional membutuhkan pendekatan yang lebih strategis dalam memandang permasalahan-permasalahan global yang timbul di era globalisasi saat ini. Lake dan Powel (1999) menawarkan pendekatan strategis untuk memahami fenomena-fenomena global saat ini. Analisis yang matang mengenai sebuah fenomena, riset untuk melakukan interaksi yang tepat, serta pemilihan metodologi yang tepat merupakan langkah yang strategis dalam menghadapi arus globalisasi yang semakin deras ini.

Hubungan Internasional pada era globalisasi saat ini membutuhkan pemikiran-pemikiran dan langkah-langkah yang strategis untuk menghadapi permasalahan global yang semakin kontemporer saat ini. Airlangga School of Thought dalam 2015-2020 Roadmap (2008) juga menyadari bahwa kebutuhan dalam hubungan internasional internasional tidak hanya terbatas pada lahirnya international annalist tetapi jauh daripada itu, pada globalisasi saat ini yang melahirkan semakin beragamnya masalah kontemporer, dibutuhkan para global strategist yang dengan empat kompetensi dasarnya, yaitu kemampuan dasar analisis, komunikasi, negosiasi, dan manajerial, mampu untuk menjawab tantangan arus globalisasi. Sebagai seorang penstudi HI yang diharapkan menjadi global strategist, kemampuan yang dimiliki bukan hanya persoalan mengenai diplomasi saja tetapi lebih daripada itu bahwa kemampuan-kemampuan komunikasi, negosiasi, analisis, serta manajerial global juga penting dimiliki sebagai upaya untuk menyesuaikan diri dalam berbagai sektor dalam kancah internasional.

Dengan demikian, dalam menghadapi arus globalisasi yang semakin deras saat ini pendekatan-pendekatan terdahulu nampaknya sudah tidak mampu untuk menjawab masalah kontemporer yang muncul akibat globalisasi. diperlukan Pemikiran-pemikiran yang strategis dalam menghadapi masalah-masalah tersebut. Bagaimana untuk dapat menyesuaikan diri dalam kondisi dunia yang semakin lama semakin berkembang ini merupakan hal yang penting. Karenanya Airlangga School of Thought mempelopori lahirnya generasi global strategist yang memiliki kemampuan negosiasi, analisis, manajerial, dan komunikasi untuk menjawab tantangan arus globalisasi yang semakin berkembang saat ini.

 

REFERENSI:

Departemen Hubungan Internasional Airlangga. 2005. 2005-2020 RoadMap Studi Hubungan Internasional Universitas Airlangga.

Dugis, Vinsensio. 2013. “Strategic Choice Partnership in Asymmetric Globalized Relationship”,  dalam Kuliah Teori Hubungan Internasional Departemen Hubungan Internasional Universitas Airlanga. Kamis, 13 Juni 2013.

Lake, David A. & Powell, Robert, 1999. International Relations: A Strategic-Choice Approach, in; David A. Lake & Robert Powell (eds.), Strategic Choice and International Relations, Princeton University Press, pp. 3-38.

Linklater, Andrew, 2001. Globalization and the transformation of political community, in; John Baylis & Steve Smith (eds.) The Globalization of World Politics, 2nd edition, Oxford, pp. 617-633. 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.738.014