Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

POS-KOLONIALSIME DAN POS-STRUKTURALISME

05 July 2013 - dalam Teoriteori Hubungan Internasional Oleh fyustiazari-fisip12

Dengan membawa kata ‘post’ pada awal katanya, pos-kolonialisme dan pos-strukturalisme lahir sebagai pendekatan alternatif yang mencoba membongkar dan mengkonstruksi pendekatan mainstream HI yang telah lahir sebelumnya. Sebagai pendekatan alternatif, kedua pendekatan ini memiliki pandangan yang berbeda mengenai fenomena internasional. Keduanya tidak percaya pada pendekatan sebelumnya yang dianggap telah ‘mapan’ dan dianggap benar. Pos-kolonialisme lahir sebagai bentuk dari pembongkaran pendekatan sebelumnya yaitu kolonialisme dan pos-strukturalisme lahir sebagai bentuk baru yang membongkar kemapanan pendekatan strukturalisme.

            Pos-kolonialisme lahir pada tahun 1960an. Pendekatan ini memberikan kritikan terhadap konstruksi kolinialisme tentang peran dan kekuatan negara-negara dunia pertama yang mendominasi di dunia sehingga negara dunia ketiga tidak dapat berkembang. Dari pos-kolonialisme, muncul third-worldism yang merupakan protes terhadap kekuatan negara-negara dunia pertama yang mendominasi dunia (Wardhani, 2013). Dalam sistem internasional terdapat pembagian dunia yang terdiri atas negara-negara dunia pertama, dunia kedua, dan dunia ke tiga. Negara dunia pertama merupakan negara dengan kekuatan yang mendominasi dalam sistem internasional yang seringkali mengeksploitasi negara dunia ketiga yang menyebabkan negara dunia ketiga tidak dapat berkembang sebesar negara-negara dunia pertama. Pendekatan ini terkesan mencela negara-negara dunia pertama yang rata-rata merupakan negara-negara barat. Namun pendekatan ini bukan berasal dari negara dunia ketiga. Pendekatan ini justru datang dari negara barat. Hal ini kemudian menjadi kritik atas pendekatan third-worldism ini.

            Pos-kolonialisme bersifat emansipatoris. Dalam kajiannya, pos-kolonialisme menghendaki adanya penghentian kolonialisme dari negara-negara barat yang memiliki peran dan kekuatan yang mendominasi. Negara barat seringkali memandang rendah negara-negara berkembang yang rata-rata ada pada kelompok negara dunia ketiga. Negara dunia ketiga dianggap tidak mampu untuk memimpin dalam sistem internasional karenanya negara-negara dunia pertamalah yang tetap mengukuhkan posisinya sebagai negara pemimpin dalam sistem internasional. Hal tersebutlah yang kemudian dianggap oleh pos-kolonialisme sebagai bentuk kolonialisme yang patut untuk dihentikan. Karena sesungguhnya yang menyebabkan tidak berkembangnya negara-negara dunia ketiga adalah negara-negara dunia pertama sendiri (Wardhani 2013). Padahal menurut pos-kolonialisme, negara-negara dunia ketiga mampu untuk berkembang tanpa dominasi negara-negara dunia pertama.

            Sementara itu, terdapat juga pendekatan alternatif lainnya sebagai bentuk pembongkaran dari pembongkaran strukturalisme, yaitu pendekatan pos-strukturalisme. Pos-strukturalisme muncul baru pada era 1980an yang dibawa oleh beberapa pemikirnya diantaranya Richard Ashley, Der Derian, Saphiro, dan Walker. Pendekatan ini muncul sebagai pendekatan alternatif yang tidak hanya menolak pemikiran structuralism sebagai pendekatan modern, tetapi juga menolak pemikiran-pemikiran tradisional yang telah lahir sebelumnya. Seperti yang dikatakan oleh Campbell (2007), bahwa pos-strukturalisme merupakan pendekatan yang mengkaji ulang tentang fokus kajian historikal, teoritikal, dan perspektif politik tradisional Hubungan Internasional. Pos-strukturalisme mengajukan kritik terhadap pendekatan tradisional mainstream HI sebelumnya, yaitu realis dan neorealis yang merupakan pemikiran dengan metateori.

            Pos-strukturalisme dalam kajiannya tidak percaya terhadap adanya objektivitas, melainkan lebih kepada subjektivitas. Campbell (2007) menyatakan bahwa pos-strukturalisme percaya bahwa pemahaman mengenai Hubungan Internasional pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh tiga aspek utama, yakni abstraksi, representasi, dan interpretasi. Hal ini berarti setiap fenomena tidak dapat dipahami berdasarkan fenomena tersebut saja melainkan pemahaman fenomena akan menjadi berbeda-beda, tergantung pada pemikiran setiap subjek yang memandang fenomena tersebut. Pendekatan ini lebih menekankan kepada ide-ide dan pemikiran yang subjektif mengenai sesuatu daripada menekankan kepada fenomena apa yang dilihat. Karena pengetahuan dan pemikiran setiap subjek terhadap sebuah objek tentunya berbeda-beda. Oleh sebab itu kajian pos-strukturalisme lebih kepada subjektivitas daripada objektivitas. Pos-strukturalisme selain itu juga dalam kajiannya menjelaskan mengenai hubungan antara power dan pengetahuan. Mengenai hal ini, pos-strukturalisme menyatakan bahwa power memiliki hubungan dengan pengetahuan yang nantinya akan membentuk identitas sosial suatu aktor. Pengetahuan merupakan power dari suatu aktor yang kemudian membentuk identitasnya dalam lingkungan sosial.

            Dengan demikian, semakin banyak pendekatan alternatif HI baru yang lahir dalam membawa kritik terhadap pendekatan-pendekatan yang telah lahir sebelumnya. Kedua pendekatan yang sudah dijelaskan di atas, memberikan kritik atas kekurangan-kekurangan yang terdapat pada pendekatan sebelumnya seperti kolonialisme dan strukturalisme. Sebagai pendekatan ‘post’, kedua pendekatan ini mencoba membongkar yang sudah mapan dengan tujuan untuk memberikan alternatif bagi segala sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh pendekatan-pendekatan yang telah lahir sebelumnya.

 

Referensi:

Campbell, David, 2007. Poststructuralism, in; Tim Dunne, Milja Kurki & Steve Smith (eds.) International Relations Theories, Oxford University Press, pp. 203-228.

Wardhani, Baiq LS. 2013. “Post-colonialism and Post-structuralism”, disampaikan pada kuliah Teori Hubungan Internasional, Departemen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga. 13 Juni 2013. 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.761.790