Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

KONSTRUKTIVISME: MUNCULNYA SISTEM INTERNASIONAL DAN KONSTRUKSI MANUSIA DI DALAMNYA

05 July 2013 - dalam Teoriteori Hubungan Internasional Oleh fyustiazari-fisip12

Bagi kaum-kaum yang kritis, selalu ada celah yang membuat mereka berpendapat mengenai sistem internasional. Teori-teori klasik saja ternyata tidak cukup untuk menjelaskan bagaimana sebenarnya munculnya sistem internasional dengan segala interaksi di dalamnya. Hadir dengan mengkritisi teori-teori tradisional sebelumnya, teori-teori modern muncul sebagai bentuk pemikiran baru mengenai sistem internasional dan segala interaksi yang timbul di dalamnya. Salah satu teori modern tersebut adalah konstruktivisme yang melihat sistem internasional dengan cara yang berbeda dari teori-teori atau pendekatan-pendekatan sebelumnya. Bagaimanakah konstruktivisme memandang sistem internasional di dunia ini?

            Sebelumnya, ada baiknya untuk mengetahui siapa-siapa saja tokoh-tokoh pemikir dalam konstrutivisme ini. Dalam HI teoritisi terkemuka konstruktivisme antara lain adalah Friedrich Kratochwill (1989), Nicholas Onuf (1989), Alexander Wendt (1992), dan John Ruggie (1998) (Jackson dan Sorensen 2009, 307). Tokoh-tokoh tersebut merupakan tokoh-tokoh yang tidak percaya bahwa dunia sosial adalah merupakan sesuatu yang terjadi dengan sendirinya dan given. Robert Jackson dan Georg Sorensen (2009), dalam bukunya banyak membahas mengenai pendapat Alexander Wendt terkait dengan pemikiran konstruktivisnya.

            Konstruktivisme ini muncul ketika tidak ada teori tertentu yang sanggup menjelaskan suatu fenomena tertentu. Seperti mengenai masalah perang dingin. Tidak ada satupun teori yang mampu menjelaskan bagaimana dan mengapa perang dingin itu akhirnya dapat berakhir. Realisme, dengan anggapan utamanya mengenai power tidak dapat menjelaskan bagaimana perang dingin dapat berakhir. Begitupun dengan liberalisme juga tidak dapat menjelaskan mengenai fenomena ini. Hal tersebut kemudian memunculkan konstruktivisme sebagai pendekatan yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai berakhirnya perang dingin tersebut. 

            Konstruktivis menganggap bahwa dunia ini merupakan dunia yang intersubjektif yaitu bahwasanya dunia ini menjadi bagi masyarakat yang tinggal di dalamnya, menciptakannya, dan memahaminya sebagai dunia mereka (Jackson dan Sorensen 2009, 307). Hal tersebut menunjukkan bahwa kaum konstruktivis menolak anggapan bahwa dunia ada memang karena struktur yang memunculkannya. Kaum konstruktivis pecaya bahwa ada keterlibatan peran dari pemikiran dan pengetahuan bersama atas dunia sosial yang memunculkan adanya dunia sosial itu sendiri.

            Dalam konstruktivisme ada pandangan bahwa munculnya sistem internasional merupakan suatu hasil konstruksi manusia, begitu juga dengan hubungan internasional yang timbul bukan semata-mata hanya karena struktur sosial yang menciptakannya, melainkan karena konstruksi manusia. Seperti yang dikatakan oleh Alexander Wendt (1992) (Jackson dan Sorensen 2009, 308), bahwa “anarki adalah apa yang dibuat negara darinya.”. Hal ini menunjukkan bahwa betapa kaum konstruktivisme menganggap bahwa sistem internasional dan segala interaksi di dalamnya merupakan hasil dari interaksi masyarakat di dalamnya yang berarti merupakan konstruksi manusia. Negara-negara dalam hubungannya dengan negara lain membangun anarki internasional yang kemudian dapat menegaskan hubungan mereka (Jackson dan Sorensen 2009, 309). Dengan begitu identitas dan pengetahuan negara satu terhadap negara yang lainnya menjadi penting.

            Negara satu memiliki identitas tersendiri yang dapat menjelaskan tentang diri mereka di mata negara yang lainnya. Seperti yang dicontohkan Jackson dan Sorensen (2009, 308) dalam tulisannya mengenai kasus nuklir. Amerika akan lebih terancam oleh lima nuklir dari Korea Utara daripada lima ratus nuklir Inggris. Mengapa demikian? Inggris di mata Amerika Serikat adalah kawan sedangkan Korea Utara bukan, karena itu Amereka Serikat akan lebih terancam oleh Korea Utara. Hal ini menunjukkan bahwa masalah keamanan suatu negara juga dibangun melalui konstruksi aktor-aktornya sendiri bukan karena suatu keadaan yang memang sudah muncul. Masalah yang timbul akhirnya bukan berasal dari nuklirnya, melainkan dari hubungan yang dibangun antara aktor-aktornya. Singkatnya, ditegaskan kembali bahwa konstruktivisme melihat bahwa sistem internasional di dunia ini merupakan hasil dari interaksi dan konstruksi manusia dan bukan merupakan sesuatu yang semata-mata given.

            Terakhir, tidak ada gading yang tak retak, selalu ada kritik untuk setiap teori bau yang muncul. Konstruktivisme dikritisi dari sudut pandang positivis dan postpositivis. Mewakili kaum positivis John Mearsheimer (Jackson dan Sorensen 2009, 310), memberikan penolakan atas pernyataan kaum konstruktivis mengenai anarki merupakan hasil konstruksi manusia. Menurut Mearsheimer struktur anarkis sudah ada sejak dulu tepatnya dari sekitar 1300 hingga 1989. Sementara itu, dari sisi postpositivis, Steve Smith (Jackson dan Sorensen 2009, 310), berpendapat bahwa konstruktivisme masih agak tradisional dan hanya memandang segala sesuatu dalam pembahasannya dari sudut pandang interaksi manusia, tidak ada tempat bagi struktur seperti kapitalisme dan patriarki. Singkatnya, menurut Smith, konstruktivisme masih dijelaskan dengan cara yang sempit sehingga terlihat masih agak tradisional. Namun konstruktivis menjawab kritikan tersebut dengan menegaskan bahwa dalam konstruksi manusia yang membentuk sistem internasional, struktur material juga masih dianggap memegang peran penting dalam sistem internasional.

Referensi:

Jackson, Robert dan Georg Sorensen. 2009. “Masyarakat Internasional”, dala Pengantar Studi Hubungan Internasional. (diterjemahkan oleh: Dadan Suryadipura). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.767.955