Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

RASIONALISME: SISTEM TERTIB INTERNASIONAL TANPA PENGATURAN NYATA?

05 July 2013 - dalam Teoriteori Hubungan Internasional Oleh fyustiazari-fisip12

Sejak teori asli Hubungan Internasional – realis dan liberalis – lahir, teori-teori lain bemunculan berusaha menyempurnakan pendekatan yang sudah ada. Salah satunya adalah pendekatan rasionalisme yang lahir di Inggis, karenanya disebut sebagai English School of Thought atau aliran Inggris. Karena lahir di Inggris juga pendekatan ini hanya terkenal dan hanya dipakai di Inggris saja karena memang juga kurang terkenal dan tidak sebesar pendekatan-pendekatan asli Hubungan Internasional lainnya seperti liberalis dan realis. Selain ini pendekatan rasionalisme juga kurang terlalu jelas sehingga sulit untuk dipahami.

            Pendekatan rasionalisme hadir sebagai pendekatan yang berusaha menjembatani dua pendekatan besar yang sudah lahir sebelumnya yaitu pendekatan realis dan liberalis. Namun pendekatan ini seringkali dianggap kurang terlalu jelas karena terkadang lebih condong ke arah salah satu dari dua pendekatan yang coba ia jembatani, terkadang juga pendekatan ini lebih mirip konstruktivis. Rasionalis mengambil bagian-bagian baik dari realis dan liberalis kemudian pendekatan ini berusaha untuk hadir di tengah-tengahnya. Namun meski demikian, pendekatan ini bukanlah pendekatan yang merupakan gabungan dari keduanya, melainkan hanya sebagai via media. Pendekatan ini mempercayai adanya anarki dalam suatu sistem internasional. Anarki yang dimaksud di sini adalah ketika masih ada ketertiban yang tinggi dan kejahatan (violence) dengan tingkat yang rendah (Linklater dan Hidemi 2006). Namun ia tidak mempercayai bahwa ada satu negara dengan kekuatan yang paling besar. Rasionalis percaya bahwa semua negara memiliki kekuatan yang sama rata di mata dunia.

            Pemikiran rasionalis menghasilkan apa yang disebut sebagai tatanan masyarakat internasional (International Society). Rasionalis pada intinya mengimpikan tatanan internasional yang menciptakan ketertiban dan keadilan (order and justice) bagi seluruh masyarakat Internasional. Ketertiban seperti apa yang sebenarnya diinginkan oleh para pemikir rasionalis? Bull (dalam Jackson dan Sorensen 2009, 198-199) membedakan tiga ketertiban dalam politik internasional, yaitu: ketertiban dalam kehidupan sosial; ketertiban internasional; dan ketertiban dunia. Dengan pemikiran untuk mencapai ketertiban-ketertiban dalam sistem internasional, maka pemikir rasionalis berasumsi bahwa dalam sistem internasional perlu ada hukum internasional demi terciptanya masyarakat internasional yang tertib dan adil, namun tanpa adanya pemerintahan dunia.

            Rasionalis kemudian mendambakan adanya solidaritas yang memungkinkan negara-negara bisa “saling pengertian” antara satu negara dengan negara yang lainnya. Namun bagaimana bisa timbul “saling pengertian” tanpa adanya bentuk pengaturan nyata jika tiap-tiap negara memiliki kepentingannya sendiri-sendiri dan cenderung ingin mendapatkan keuntungan maksimal? Ini merupakan satu kritik bagi pendekatan rasionalisme. Rasionalis berusaha melihat suatu fenomena internasional melalui sisi baiknya (kerjasama) bukan dari sisi konfliknya. Konlik merupakan hal yang biasa terjadi karena benturan kepentingan. Konflik bisa diatasi dengan adanya hukum internasional dan moralitas sebagai alat yang akan pencegah dan perendam (Linklater dan Hidemi 2006). Rasionalis menganggap bahwa masyarakat internasional yang sadar akan adanya kepentingan bersama akan cenderung melakukan kerjasama sehingga akan timbul solidaritas antarnegara. Karena itu pedekatan rasionalisme tidak menganjurkan meletusnya perang. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana negara-negara yang pada hakikatnya adalah anarki bisa dikontrol sehingga memiliki kepentingan bersama (common interest)?

Kemudian rasionalis juga menganggap bahwa sebenarnya negara-negara dengan kekuatan besar sebenarnya bisa menjadi suatu pencipta ketertiban jika kekuatan besar tersebut digunakan dengan baik bukannya malah digunakan sebagai alat untuk mengacau. Sebenarnya pendekatan ini memiliki arah pemikiran yang baik karena mendambakan sesuatu yang baik, namun sayang kenyataannya tidak begitu. Menurut rasionalis juga, Amerika Serikat bukanlah negara besar yang memiliki responsibilitas yang besar juga (Wardhani 2013).

            Kenyataan yang banyak terjadi di lapangan tidak banyak menunjukkan titik terang terhadap harapan-harapan kaum rasionalis. Salah satu yang didambakan kaum rasionalis yang mungkin juga akan sulit tercapai adalah bahwa seharusnya dibentuk pemerintahan nasional seperti yang ada di tingkat nasional. Namun ini adalah satu hal yang mustahil sepertinya, karena pada kenyataannya negara memiliki kedaulatan mereka masing-masing yang tidak dapat dicampuri oleh negara lain meski dengan pemerintahan dunia sekalipun. PBB pun seringkali tidak bisa mencampuri urusan negara-negara yang memang sudah memiliki kedaulatannya masing-masing tesebut.

            Banyak kelemahan-kelemahan yang ada dalam pendekatan rasionalisme yang menjadikannya belum cukup kuat untuk dijadikan sebuah teori. Salah satunya adalah “kelabilannya” yang membuat pendekatan ini menjadi semakin sulit untuk dipahami. Namun jangan meremehkan pendekatan rasionalisme dulu karena sebenarnya rasionalisme merupakan pendekatan yang kaya dan menawarkan sesuatu yang berbeda. Rasionalis ini menjadi pendekatan yang tidak banyak digali padahal sebenarnya kebutuhan negara untuk mencapai ketertiban memang ada, dan mungkin saja pendekatan ini bisa menjadi jawaban jika digali. Historinya juga perlu dikembangkan untuk menjadi pendekatan yang lebih jelas lagi. Karenanya, meski dengan bebagai ketidak jelasan asumsinya, pendekatan rasionalis tidak bisa dikatakan sudah mati. Pendekatan ini masih hidup namun ia sedang mencari “jati diri”nya agar tidak terlihat lebih condong atau mirip ke pendekatan-pendekatan yang sudah ada sebelumnya. Ini sekaligus menjadi kritik bagi pendekatan rasionalis bahwa memang perlu untuk menemukan apa yang sebenarnya menjadi suatu ciri khas bagi pendekatan ini, karena suatu ciri khas itulah yang bisa membuat pendekatan ini menjadi lebih jelas dan tidak membingungkan.

 

Referensi:

Linklater, Andrew dan Hidemi Suganami. 2006. The English School of International

        Relations: A Contemporary Reassessment. Cambridge University Press, hal. 1-166

Jackson, Robert dan Georg Sorensen. 2009. “Masyarakat Internasional”, dalam

        Pengantar Studi Hubungan Internasional. (diterjemahkan oleh:

        Dadan Suryadipura). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Wardhani, Baiq Lekar Sinayang. 2013. Rationalism and English School of Thought,

        dalam Kuliah Teori-teori Hubungan Internasional, Fisip Universitas Airlangga.

        Kamis, 5 April 2013.

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.761.791