Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

POLITIK HIJAU: KRISIS EKOLOGI BERUJUNG PEMISAHAN TERHADAP ANTROPOSENTRIS DAN EKOSENTRIS

28 May 2013 - dalam Teoriteori Hubungan Internasional Oleh fyustiazari-fisip12

Siapa yang tidak mewajarkan jika hubungan internasional selalu dikaitkan dengan kegiatan manusia dan negara? Selama ini yang menjadi fokus dari kajian Hubungan Internasional adalah selalu berfokus pada kegiatan manusia sebagai perwakilan dari negara. Namun para environmentalis melihat fokus lain dalam kajian Hubungan Internasional setelah melihat akibat dari kegiatan manusia tersebut yang ternyata berakar pada terganggunya kelestarian alam dan lingkungan. Hal ini kemudian dalam HI, ada yang disebut sebagai politik hijau.

            Dari namanya saja sudah dapat dilihat apa makna dari politik hijau tersebut secara umum, yaitu mengaitkan tentang pemeliharaan lingkungan dengan kajian HI. Teori politik hijau memberikan kritik mereka terhadap kerusakan lingkungan yang ditimbulkan manusia. Bahkan sempat terjadi perdebatan antara kaum eco-radikal dengan kaum modernis. Kaum modernis percaya bahwa di masa modern ini, lingkungan bukanlah hal yang penting untuk dibahas namun tentu saja kaum eco-radikal menolak pernyataan tersebut. Kaum eco-radikal serius dengan pemikiran mengenai perlindungan dan penyelamatan lingkungan (Jackson dan Sorensen 1999).

Tujuan para environmentalis mengembangkan politik hijau dalam kajian HI adalah untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Karena yang menduduki bumi ini bukan hanya manusia-manusia yang hidup pada masa sekarang saja. Generasi-generasi yang akan datang juga menempati bumi yang semakin tua ini. Karena itu penting kiranya, menurut environmentalis, untuk memikirkan dan mengupayakan kelestarian alam dan lingkungan untuk generasi masa depan yang akan datang.

            Politik hijau memberikan penolakan kepada antroposentris, yaitu fokus kajian yang hanya ditekankan pada manusia. Tentu saja, jika berbicara mengenai politik hijau, fokusnya pasti adalah ekosentrisme yaitu penekanan kajian yang dilihat dari sudut pandang lingkungan. Politik hijau memisahkan antroposentris demgan ekosentris. Terdapat empat karakteristik mengenai ekosentrisme, yaitu: (1) ekosentrisme mengidentifikasikan semua kepentingan manusia terhadap dunia bukan manusia; (2) ekosentrisme mengidentifikasikan masyarakat bukan manusia; (3) ekosentrisme mengidentifikasikan kepentingan generasi masa depan masa depan manusia dan bukan manusia; dan (4) ekosentrisme menerapkan suatu perspektif holistik dan buka atomistik – yaitu dengan menilai populasi, spesies, ekosistem, dan lingkungan alam seperti keseluruhan seperti halnya organisme individu (Burchill dan Linklater 1996, 339).

Artinya, ekosentrisme bisa dikatakan sebagai pandangan yang berusaha untuk tidak hanya melihat kepentingan manusia sebagai satu-satunya makhluk yang tinggal dan bebas menggunakan sumber-sumber di alam semesta ini. Ekosentrisme juga melihat kepentingan makhluk-makhluk lain di dalamnya dan ingin menciptakan kesemimbangan diantara kesemuanya. Menciptakan keseimbangan di antara seluruh makhluk hidup dapat dilakukan dengan tidak hanya menggunakan lingkungan dengan sebebas-bebasnya, tetapi juga menjaga agar alam dan lingkungan tetap lestari sehingga kepentingan makhluk lain selain manusia juga tidak terganggu.

Upaya untuk melindungi dan menjaga kelestarian lingkungan yang dalam hal ini tidak hanya dalam cakupan regional saja, melainkan cakupan global, tentu tidak mudah jika tidak di dukung oleh banyak pihak. Goodin beragumen bahwa karena banyak permasalahan lingkungan berlingkup transnasional atau bahkan global, maka diperlukan kerjasama global untuk mengatasi permasalahan ini (Burchill dan Linklater 1996, 346). Namun mengenai ini memang tidak bisa dikatakan sebagai permasalahan yang mudah. Sulit mewujudkan kerjasama antarnegara dengan memfokuskan pada permasalahan lingkungan. Hal ini dikarenakan adanya kepentingan-kepentingan negara yang berbeda-beda dan terkadang sulit untuk mengorbankan kepentingan setiap negara tersebut demi mengurus masalah lingkungan saja.

Jika dilihat, memang sudah banyak rezim-rezim internasional yang berfokus pada permasalahan lingkungan, namun apakah semuanya sukses? Hal tersebut tidak dapat dipastikan. Seperti yang terjadi pada Protokol Kyoto. Protokol Kyoto adalah rezim yang berfokus pada perdangan emisi karbon demi kelestarian lingkungan juga. Protokok Kyoto tidak dapat dikatakan berhasil karena dukungan dari negara-negara dapat dikatakan lemah. Amerika Serikat tidak mau meratifikasi Protokol Kyoto karena akan merugikan industrinya. Hal ini menunjukkan bahwa kepentingan negara sendirilah yang dapat menghambat upaya kerja sama untuk memelihara lingkungan. Karena itu teori politik hijau nampaknya merupakan teori dalam HI yang paling stagnan, karena bentuk nyatanya sampai saat ini bisa dibilang hanya seruan-seruan saja dengan kurangnya aksi nyata.

Selain kritik terhadap upaya nyata yang kurang oleh para pemikir teori politik hijau, pemikiran environmentalis dalam teori politik hijau yang memisahkan antroposentris dengan ekosentris ternyata menuai kritik. Bisakah antroposentris dan ekosentris dipisahkan? (Wardhani 2013). Selama ini kegiatan manusia selalu harus melibatkan lingkungan karenanya segala bentuk kegiatan manusia tidak dapat dipisahkan dari eksploitasi lingkungan.

Dengan demikian kekhawatiran akan kerusakan lingkungan telah menimbulkan pemikiran baru yang dapat dimasukkan pula dalam kajian HI. Mesti terkesan stagnan dalam upaya nyatanya, namun setidaknya teori politik hijau ini memberikan kontribusi bagi studi HI terutama mengenai masalah lingkungan. Teori politik hijau memberikan wawasan baru bagi kajian HI untuk tidak selalu membahas mengenai konflik dan perang. Selain itu untuk melakukan interaksi antarnegara, dibutuhkan ruang yaitu lingkungan, karena itu lingkungan juga perlu dilestarikan.

 

Referensi:

Burchill, Scott dan Andrew Linklater. 1996. Theories of International Relations. New York: ST Martin’s Press.

Jackson, Robert dan Georg Sorensen. 2009. “Masyarakat Internasional”, dalam Pengantar Studi Hubungan Internasional. (diterjemahkan oleh: Dadan Suryadipura). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Wardhani, Baiq Leqar Sinayang. 2013. “Kritik terhadap Teori Politik Hijau”, dalam Kuliah Teori-Teori Hubungan Internasional. Fisip Universitas Airlangga. Kamis, 23 Mei 2013.



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.761.847