Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

IMPERIALISME MENUJU IMPERIALISME BARU: TRANSFORMASI CARA DISTRIBUSI KEKUATAN KAPITALIS?

21 May 2013 - dalam Pengantar Globalisasi Oleh fyustiazari-fisip12

Globalisasi, jika diteliti secara mendalam sampai saat ini terlihat merupakan hasil-hasil dari pemikiran barat yang digunakan untuk memberikan keuntungan besar pada diri mereka sendiri. Jika dilihat, yang menerima keuntungan dari globalisasi sebenarnya adalah negara-negara barat yang menginginkan realisasi neoliberalisme tentang pembebasan pasar, seperti negara-negara Eropa. Dalam praktiknya sekarang ini, negara-negara barat telah memberikan distribusi kekuaran mereka bagi negara-negara subordinat sehingga dapat memberikan keuntungan bagi mereka. Sekarang ini semakin mudah untuk melakukan itu semua. Dalam globalisasi ada istilah imperialisme dan imperialisme baru. Kedua hal tersebutlah yang dilakukan oleh negara-negara barat dalam distribusi kekuatan mereka sehingga timbulah apa yang kita kenal dengan istilah globalisasi sekarang ini.
    Masa imperialisme klasik dimulai sekitar tahun 1875-1945. Selama rentang tahun tersebut berlangsung, aktor yang muncul sebagai aktor utama dalam sistem internasional adalah Eropa. Negara-negara Eropa muncul sebagai imperium yang dengan kekuatan besarnya dapat mengendalikan hampir seluruh dunia (Callinicos, 2007: 71). Eropa yang memegang kekuatan besar, pada masa imperialisme klasik berfokus pada menguasai wilayah geopolitik serta ekonomi aktor-aktor lain. Hal ini jika dilihat dari pendekatan marxisme tentu memiliki motif kapitalisme yang tinggi. Dalam masa imperialisme klasik, pengendalian sumber-sumber ekonomi oleh Eropa – terutama Inggris sebagai negara terkuat di Eropa – juga menggunakan kekuatan militer. Inggris melakukan konfrontasi kepada Jerman dan Amerika Serikat sebagai saingan ekonomi dan geopolitik (Callinicos, 2007: 71). Dilihat dari praktik-praktik distribusi kekuasaan oleh Eropa pada imperialisme klasik, maka dapat dipahami bahwa pada masa imperialisme klasik terdapat cara-cara paksaan untuk mengendalikan ekonomi. Selain itu fokusnya tidak hanya menguasai ekonomi saja tetapi juga menguasai wilayah. Masa Perang Dunia II merupakan realisasinya (Callinicos, 2007: 71).
    Setelah Perang Dunia II berakhir, munculah era dimana terdapat dua kekuatan besar yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Era ini disebut dengan Perang Dingin. Pada masa ini muncul era imperialisme baru yang disebut dengan superpower imperialism. Pada masa ini terjadi disosiasi secara parsial untuk persaingan geopolitik dan ekonomi. Masa ini juga merupakan akhir dari imperium Eropa (Callinicus, 2007: 72). Kedua negara yang berkonflik pada masa perang dingin, pada dasarnya adalah berlomba-lomba untuk mencari dukungan dari negara-negara lain. Pada intinya dua kekuatan besar pada masa Perang Dingin benar-benar kentara sehingga tidak dapat dilihat kekuatan-kekuatan lain selain itu. Dengan kata lain Amerika Serikat dan Uni Soviet pada saat itu role the world yang berakhir dengan Amerika Serikat sebagai negara super power.
    Berakhirnya Perang Dingin dengan kemenangan Amerika Serikat mungkin bisa menjadi awal fase munculnya imperialisme baru, atau mungkin tidak juga. Masa sekarang ini, bisa dibilang sebagai masa imperialisme baru dimana tidak ada lagi cara-cara kekerasan yang digunakan dalam rangka pendistribusian kekuasaan untuk mengendalikan pasar. Cara yang digunakan terasa lebih halus, bahkan lebih mudah untuk diterima. Lihat saja bagaimana Amerika Serikat mendistribusikan kekuatannya melalui IMF dan WTO (Callinicos, 2007: 72). Dengan institusi-institusi tersebut, Amerika Serikat sudah bisa mengendalikan negara-negara lain untuk berperilaku sesuai dengan rezim yang ada di dalamnya. Di masa imperialisme baru sekarang ini, bahkan mucul negara-negara imperium baru seperti Cina. Strategi yang digunakan oleh Cina adalah dengan menjual barang-barang murah sehingga dapat menarik minat konsumen. Tidak perlu melakukan invansi, konsumen dari mancanegara akan datang dengan sendirinya. Pada intinya munculnya imperialisme baru ditandai dengan cara-cara halus yaitu dengan penanaman nilai-nilai saja, tidak perlu menggunakan kekerasan karena sasaran utama adalah mindset. Dengan menguasai mindset akan semakin mudah untuk mendapatkan apa yang diinginkan dari sasaran tersebut.
    Dengan demikian, imperialisme menuju imperialisme baru jika dilihat hanyalah merupakan transformasi cara-cara distribusi kekuasaan. Jika distribusi kekuasaan pada masa imperialisme klasik lebih cenderung ke arah kekerasan dan penggunaan militer, distribusi kekuasaan pada masa imperialisme baru lebih bersifat halus. Namun dari transformasi tersebut, jika dilihat dari kacamata marxisme, bahwa masih ada motif-motif kapitalisme di dalamnya. Negara-negara kapitalis – bukan hanya AS dan negara Eropa saja – mencoba melakukan pengendalian pasar dengan mendistribusikan kekuasaannya kepada negara-negara subordinat. Masuknya pengaruh-pengaruh barat tersebutlah yang kemudian kita rasakan sebagai globalisasi.

Referensi:
Callinicos, Alex. 2007. “Globalization, Imperialism, and the Capitalism World System”, dalam David Held dan A. McGrew, Globalization Theory: Approaches and Controversies, Cambridge: Polity Press.



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.767.922