Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

FEMINISME: FOKUS WANITA YANG BERKEMBANG PADA MASALAH KESETARAAN

21 May 2013 - dalam Teoriteori Hubungan Internasional Oleh fyustiazari-fisip12

Dalam ilmu Hubungan Internasional, tidak hanya dipelajari mengenai perspektif-perspektif mainstream HI saja, namun perspektif lain yang bukan merupakan asli HI juga dipelajari. Seperi perspektif feminisme yang akan menjadi pembahasan pada paper kali ini. Jika mendengar kata feminisme, hal yang pertama kali terbesit di pikiran kita sudah dapat dipastikan adalah wanita atau perempuan. Karena perempuan selalu berkaitan erat dengan apa-apa yang disebut dengan feminim. Jauh daripada itu, sebenarnya feminisme berkembang menjadi pembahasan mengenai gender dan kesetaraan. Sebelum melangkah lebih jauh, perlu digarisbawahi mengenai perbedaan istilah gender dan jenis kelamin. Jika jenis kelamin merupakan sesuatu yang biologis dan tidak dapat diperdebatkan lagi, gender merupakan sesuatu yang bersifat sosial yang tidak tampak. Seseorang yang secara fisik laki-laki bisa saja memiliki feminitas begitu juga sebaliknya. Lalu apa kaitan gender dan HI?

            Feminisme berkembang pada tahun 1990an, meskipun sebenarnya kemunculannya berakar pada sepuluh tahun sebelumnya, yaitu pada tahun 1980an. Pada awalnya, feminisme berfokus pada pembahasan-pembahasan yang identik dengan perempuan. Berawal dari pendapat bahwa studi HI adalah studi-studi tentang perang, yang pada hakikatnya perang merupakan permainan laki-laki (Wardhani 2013), kaum feminis memberikan anggapan bahwa perempuan juga dapat memberikan kontribusi dalam global politik. Kaum feminis percaya bahwa perempuan memiliki peran yang besar dalam sejarah dan perpolitikan dan dapat mempengaruhi kebijakan mengenai perdamaian. Contohnya saja protes dari para ibu di Uni Soviet yang anaknya gugur dalam perang. Para ibu tersebut kecewa bahwa anak-anak mereka harus mati sia-sia dalam perang, sehingga mereka melakukan protes untuk menghentikan perang. Tindakan tersebut ternyata menuai hasil dan akhirnya diputuskanlah untuk mengakhiri perang. Hal tersebut menunjukkan bahwa perempuan juga dapat berperan dalam pembuatan keputusan atau dalam kasus tersebut, bisa saja perempuan membawa perdamaian dunia. Namun tidak hanya perdamaian dunia saja, perempuan bisa juga menjadi pelaku kekerasan dunia, misalnya terorisme. Karena itu, perempuan tidak bisa begitu saja dianggap sebagai objek yang lemah dan tidak berdaya dengan kontribusinya terhadap kestabilan dunia.

            Perhatian kaum feminis juga terarah pada pembatasan peran perempuan dalam parleman. Banyak negara yang memberikan batasan jumlah bagi perempuan untuk duduk di kursi parlemen. Pembatasan tersebut, menurut kaum feminis sudah merupakan bentuk underestimate terhadap kemampuan perempuan. Padahal perempuan tidak selalu lemah, perempuan juga bisa melakukan hal-hal yang dilakukan oleh laki-laki. Kesempatan untuk berpartisipasi dalam ruang publik merupakan kunci atau hal utama dalam meningkatkan status perempuan (Steans & Pettiford 2009). Perempuan yang berpartisipasi dalam ruang-ruang publik seperti parlemen tentunya akan dianggap memiliki kemampuan yang lebih. Namun memberikan batasan bagi perempuan dalam perlemen nampaknya dapat dilihat sebagai meremehkan bahwa perempuan yang memiliki kemampuan tidak banyak.

            Pada awal pemikiran mengenai perempuan, feminisme berkembang mengenai masalah-masalah penyetaraan tidak hanya tentang perempuan tetapi juga menanamkan tentang gender dalam tatanan internasional (Steans & Pettiford 2009). Artinya mereka menginginkan adanya kesetaraan dalam dunia internasional. Seharusnya bukan hanya membahas tentang perang-perang saja sebagai fokus utama HI, tetapi juga tentang permasalahan yang timbul akibat perang tersebut, misalnya mengenai kemiskinan yang timbul setelah perang. Selama ini dalam HI hanya dibahas mengenai negara dan perang, jarang sekali mengenai manusia sebagai penerima akibat perang. Padahal masalah yang besar justru timbul setelah perang dan masalah-masalah tersebut melibatkan manusia. Karena itu feminisme mengharapkan manusia juga lebih diperhatikan dalam studi HI. Fokus HI hanya pada state sebagai penerima akibat perang, seperti misalnya kerugian Uni Soviet akibat perang dingin. Fokus HI belum mengarah pada manusia. Padahal manusia juga penting untuk diperhatikan. Karenanya, kaum feminis menginginkan adanya kesetaraan yang demikian, bahwa masalah-masalah fokus manusia juga penting untuk diperhatikan dalam studi HI.

            Feminisme memberikan kontribusi bagi studi HI yang antara lain adalah secara ontologi, aksiologi, dan epistimologi (Dugis 2013). Secara ontologi, feminisme mendorong kita untuk mengetahui apakah subjek-subjek studi HI masih relevan? Dengan kata lain, feminisme dapat memperluas konten HI yang tadinya hanya terfokus mengenai pembahasan tentang negara, menjadi pembahasan tentang manusia juga. Secara aksiologi, feminisme menjadikan utilitas dari HI menjadi semakin nyata. Kegunaan studi HI menjadi bukan hanya meneliti perang tetapi jauh daripada itu. Secara epistimologi, feminisme memperkaya cara pandang dari studi HI. Artinya jika studi HI awalnya hanya melihat mengenai perang-perang, yang merupakan tindakan maskulin, dengan feminisme akan dilihat juga mengenai bagaimana mengatasi akibat dari perang-perang tersebut.

            Dengan demikian, feminisme dapat memberikan kontribusi yang positif bagi studi HI. Bahwa sifat-sifat feminisme dapat memperbaiki apa-apa yang ditimbulkan dari sifat-sifat maskulin. Jika diumpamakan, seperti ini, jika sifat-sifat maskulin menimbulkan perang dan kehancuran dimana-mana, dengan feminisme yang cenderung melihat lebih jauh, maka kerusakan-kerusakan tersebut juga akan diperhatikan bahkan juga akan dibereskan. Feminisme dapat dikatakan mengajarkan kita untuk berpikir lebih jauh. Bukan hanya tentang perempuan tetapi juga tentang hal-hal disekitarnya yang juga harus dianggap sama pentingnya.

 

Referensi:

Dugis, Visensino. 2013. “Feminism”, dalam Kuliah Teori-teori Hubungan Internasional. Fisip Universitas Airlangga. Kamis, 16 Mei 2013.

Steans, Jill dan Lloyd Pettiford. 2009. “Feminsm”, dalam International Relations:Perspective And Themes, translated by Deasy Silvya Sari. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Wardhani, Baiq L. S. 2013. “Gender and Feminism”, dalam Kuliah Teori- teori Hubungan Internasional. Fisip Universitas Airlangga. Kamis, 16 Mei 2013.



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.767.939