Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

BUDAYA INDONESIA DAN PENGARUHNYA TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN STRATEGIS

21 May 2013 - dalam Studi Strategis Indonesia Oleh fyustiazari-fisip12

Bangsa Indonesia merupakan bangsa unik yang memiliki ciri khas yang bisa dikatakan mudah untuk ditandai. Berbagai suku bangsa mewarnai keanekaragaman bangsa Indonesia. Tidak hanya suku bangsa tetapi juga keberagaman agama dan ras. Selain keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia, satu ciri khas bangsa Indonesia yang sangat kentara adalah sikap saling memiliki dan kebersamaan yang kental terasa. Lihat saja banyaknya paguyuban-paguyuban orang Indonesia bahkan ketika mereka berada di luar negeri. Hal tersebut menunjukkan adanya rasa saling memiliki yang kuat dalam diri bangsa Indonesia.

            Bangsa Indonesia sejak dulu dikenal sebagai bangsa yang memegang adat istiadatnya. Kebiasaan-kebiasaan lama yang dahulu dilakukan oleh nenek moyang kita, sampai sekarang banyak yang masih digunakan sebagai adat khas dari suku tertentu. Hal tersebutlah juga yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Seperti yang diungkapkan oleh Abdurrahman Wahid (1981) bahwa yang “paling Indonesia di antara semua nilai yang diikuti oleh warga bangsa ini adalah pencarian tak berkesudahan akan sebuah perubahan sosial tanpa memutuskan sama sekali ikatan dengan masa lampau. Melalui pernyataan tersebut dihayati makna bahwa meskipun dunia ini dinamis dan terus berubah, meski orang-orang Indonesia juga ikut mencari perubahan sosial tersebut mengikuti perkembangan zaman, tetapi adat istiadat tetap dijunjung. Seperti budaya gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Pada masa lampau memang masih dapat dikatakan demikian, hal tersebut sangat kental terasa. Namun apakah hal tersebut masih dapat bertahan sampai sekarang? Ini merupakan sebuah persoalan mendasar yang dialami oleh bangsa Indonesia pada saat ini yang sedang tergerus globalisasi.

            Gotong royong ditunjukkan para founding fathers kita dalam proses pembuatan Pancasila. Seperti yang sudah diketahui, Islam merupakan agama yang dipeluk oleh mayoritas orang Indonesia. Namun meski Islam merupakan agama mayoritas, namun founding fathers Indonesia dengan dukungan rakyat, setuju bahwa Republik Indonesia seharusnya tidak menjadi theocratic state (Wahid, 2001). Artinya Indonesia merupakan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam tetapi juga bersikap demokratis bahwa kebebasan untuk memeluk agama dan menjalankan perintah agama masing-masing dilindungi. Karena itu Sila pertama Pancasila yang pada awalnya identik dan hanya tertuju bagi kaum Muslim, diubah sehingga mewakili karakteristik bangsa Indonesia yang identik dengan keberagaman tidak hanya kultur, tetapi juga agama. Hal ini menunjukkan bahwa budaya di Indonesia mempengaruhi pengambilan keputusan yang sebisa mungkin tidak merugikan pihak tertentu.

            Melihat keberagaman dan sifat gotong royong bangsa Indonesia, Hatta juga mencoba menggagas tentang sistem ekonomi Indonesia, yaitu sistem ekonomi yang kooperatif. Munculah koperasi yang prinsip-prinsipnya adalah didasari atas sikap kekeluargaan dan gotong royong. Hatta menginginkan adanya ekonomi nasional yang kooperatif di Indonesia, melihat bangsa Indonesia yang memiliki rasa gotong royong. Dalam UUD RI Pasal 38 dinyatakan bagaimana sistem ekonomi Indonesia. Sistem ekonomi nasional Indonesia haruslah kooperatif dan menjamin kesejahteraan rakyat (Higgins, 1958). Hatta menginginkan adanya kesejahteraan rakyat dengan munculnya koperasi yang berbasis gotong royong dan kekeluargaan tersebut. Namun nampaknya penerapan koperasi juga mulai luntur pada era sekarang ini.

            Budaya dan nilai yang terdapat di Indonesia banyak mempengaruhi pengambilan keputusan oleh pemerintah negara Indonesia. Gotong royong yang menjadi ciri khas kepribadian Indonesia juga tercermin dalam perumusan Pancasila yang tidak hanya melihat satu sisi mayoritas bangsa Indonesia, tetapi juga memikirkan tentang persatuan bangsa Indonesia. Gotong royong juga menimbulkan pemikiran tentang koperasi yang bermaksud untuk mensejahterakan rakyat Indonesia itu sendiri. Pemikiran founding fathers Indonesia dalam mengambil keputusan yang bertujuan untuk kebaikan bangsa Indonesia sendiri seharusnya bisa terus dikembangkan sehingga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju, karena kebijakan-kebijakan tersebut sudah sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia sendiri.

 

Referensi:

Wahid, Abdurrahman. 1981. “Nilai-nilai Indonesia: Apakah Keberadaannya Kini?” Prisma, no. 11,

Th. X, hal. 3-8.

Wahid, Abdurrahman K. H. 2001. “Indonesia’s Mild Secularism”, SAIS review, Vol. XXI, Np.2, hal. 25-28.

Higgins, Benjamin. 1958. “Hatta and Co-operatives, The Middle Way for Indonesia”, Annals of the American Academy of Political and Social Science, Vol. 318,

            Sia and Future World Leadership, hal. 49-57.



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.751.147