Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

TUMBUH DAN RUNTUHNYA REZIM

18 May 2013 - dalam Rezim Internasional Oleh fyustiazari-fisip12

Rezim Internasional selalu dimaknai sebagai suatu kerja sama yang merepresentasikan mengenai isu-isu tertentu. Berbicara tentang rezim, erat kaitannya dengan kepentingan-kepentingan negara yang tersalurkan melalui rezim tersebut mengenai isu-isu spesifik tertentu. Rezim merupakan suatu bentuk institusi sosial karena tentunya ada interaksi antara aktor-aktor yang tegabung di dalamya dalam menggabungkan kepentingan-kepentingan mereka tersebut. Sebagai institusi sosial, rezim mengandung pola-pola perilaku dari negara-negara yang terlibat tersebut dalam cakupan isu yang diharapkan tercapai tersebut (Young, 1982: 277). Karenanya, rezim merupakan sebuah human artifacts yang tidak dapat terlepas dari perilaku individual atau kelompok manusia di dalamnya (Youn, 1982: 279). Aturan-aturan yang ada dalam rezim mempengaruhi perilaku negara, sebaliknya perilaku negara-negara memberikan dampak dalam kelangsungan rezim itu sendiri.

            Perilaku negara-negara yang ingin menginginkan adanya penggabungan kepentingan, biasanya akan mempengaruhi pembentukan rezim. Biasanya pembentukan rezim dilakukan melalui konvensi antar negara-negara yang berkepentingan (Young, 1982: 281). Rezim tidak bisa dengan sendirinya terbentuk jika tidak ada kepentingan yang akan diselesaikan di dalamnya. Untuk membentuk suatu rezim, terdapat tiga macam order menurut Oran R. Young (1982), yaitu spontaneous order, negotiation order, dan imposed order. Dalam order spontan, rezim terbentuk bukan melalui rancangan secara sadar. Pembentukan rezim dengan cara ini lebih cenderung melalui koordinasi spontan dan tidak sadar dari negara-negara sampai terbentuklah rezim itu sendiri. Agak sulit memahami pembentukan rezim dengan cara ini. Karena nampaknya aktor akan lebih mementingkan kepentingannya sendiri karena . pengorganisasiannya hanya dilakukan dengan cara yang spontan.

            Cara lain pembentukan rezim bisa dengan negotiation order. Dengan negosiasi, berbeda dengan cara sebelumnya yang sudah dijelaskan di atas, aktor-aktor yang terlibat dalam pembentukan rezim internasional melakukan perjanjian dengan sadar. Terdapat perjanjian-perjanjian tertentu, seperti melakukan legislative bargaining sebelum membentuk rezim itu sendiri. Cara ini sepertinya merupakan cara yang paling common digunakan. Karena dalam hubungan internasional, kata-kata yang akrab di telinga adalah salah satunya negosiasi. Rezim yang komprehensif biasanya lahir dari negosiasi yang matang (Young, 1982: 283). Karena itu negosiasi mungkin bisa menjadi cara yang tepat sebagai awal kekuatan suatu rezim.

            Katagori ketiga pembentukan suatu rezim adalah imposed order yang seringkali banyak melibatkan negara-negara hegemon yang mendistribusikan powernya. Imposed order melibatkan aktor-aktor dominan yang berhasil mengendalikan konformitas negara-negara yang berkepentingan untuk bergabung dalam suatu rezim. Rezim yang menjadi bentukan dari imposed order bisa dikatakan sebagai suatu rezim “paksaan” yang kemudian menjadi pemerintah global seperti IMF, WTO, juga World Bank yang cenderung mengandung aturan-aturan bagi negara-negara berkembang. Ini bisa saja efektif karena adanya negara hegemon dalam memegang kendali aturan dalam suatu rezim dapat membuat rezim tersebut bertahan. Tentu saja dengan memberikan timbal balik bagi negara-negara pegikut yang bersangkutan.

            Faktor-faktor internal yang ada dalam suatu rezim bisa menjadi pendorong kelangsungan positif maupun negatifnya. Transformasi rezim baik positif maupun negatif bisa dilihat melalui prinsip limitasi empirik maupun masalah konseptual (Young, 1982: 293). Dalam prinsip empiris, ketidakpuasan terhadap distribusi power dari negara hegemon akan mempengaruhi kelangsungan suatu rezim. Seperti contohnya saat ini banyak negara yang menolak hegemoni AS dalam mengatur moneter dunia (Young,1982: 293). Sementara itu masalah konseptual juga mempengaruhi kelangsungan suatu rezim internasional. Masalah konseptual melihat permasalahannya adalah adanya lack konsesus untuk memahami dan menghargai definisi power.

            Semua pengidentifikasian masalah-masalah yang mempengaruhi kelangsungan berjalannya suatu rezim, pada dasarnya merupakan perilaku individu atau kelompok manusia yang terlibat. Pola perilaku tersebut seperti ketidakpatuhan dengan sendirinya akan membuat rezim tersebut menjadi hancur, karena perilaku-perilaku yang demikian berarti telah melanggar kompromi dan konvensi yang telah disepakati sebelumnya.

 

Referensi:

Young, Oran R. 1982. “Regime Dynamics: The Rise and Fall of International Regimes”,

            dalam International Organization, Vol. 6, No. 2, hal. 277-297.



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.751.144