Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

POSMODERNISME: PEMBEBASAN DIRI DARI PAKEM MODERNITAS

14 May 2013 - dalam Teoriteori Hubungan Internasional Oleh fyustiazari-fisip12

Kemampuan pembebasan pemikiran telah menghasilkan teori-teori baru yang terus berusaha menyempurnakan teori-teori yang telah lahir sebelumnya. Lebih dari menyempurnakan, bahkan teori-teori yang lahir sekarang bahkan melakukan dobrakan. Salah satu teori yang berkembang sejak dua dekade belakangan ini adalah posmodernisme yang lahir setelah moderenitas. Posmodernisme ini merupakan sebuah dobrakan yang mendekonstruksi modernitas yang telah ada sebelumnya. Zaman telah banyak berubah dan zaman ini bukan lagi ada dalam era modern tetapi sudah menginjak era posmodern.

            Kaum modernitas sebelumnya mengkritisi kaum pra modernitas dengan menyatakan bahwa yang dilakukan mereka tidak masuk akal karena tidak tertangkap oleh panca indra. Modernitas menganggap bahwa sesuatu yang tidak dapat ditangkap oleh panca indra adalah sesuatu yang tidak dapat dipercaya, karena itu kaum modernitas mengkritisinya dengan menyatakan bahwa seeing is believing. Hanya hal-hal yang dapat tertangkap dan dirasakan oleh panca indra. Masa-masa modernitas kemudian dirasa sudah kuno oleh kaum posmodern karena pada era modernitas ternyata tidak berhasil tercipta kemajuan dan kehidupan yang lebih baik.

Pertentangan teradap eksistensialisme dominan yang dilakukan oleh Posmodernisme terus dilakukan untuk membuat ilmuwan sadar dan melepaskan diri dari penjara konseptual yang bersumber dari modernitas itu sendiri, dimana modenisme tersebut mengatasnamakan kemajuan dan kehidupan yang lebih baik bagi ras manusia yang berlangsung secara kontinyu (Jackson dan Sorensen 2009, 303). Kaum posmodern menganggap bahwa tujuan awal era modernitas yang mengatasnamakan kemajuan kemudian tenyata tidak berhasil dan harus didekonstruksi. Karena kemajuan tidak dapat diperoleh jika terdapat pembatasan kedaulatan manusia oleh kedaulatan negara.

Posmodernisme tidak setuju dengan pengetahuan yang memiliki pakem-pakem tersendiri karena hal tesebut tidak menjamin pembebasan. Posmodernisme kemudian mendekonstruksinya dengan meninggalkan pakem-pakem modernitas tersebut. Posmodernisme ingin mendekonstruksi apa yang sudah dipahami selama ini pada masa modernitas. Seperti halnya pakem mengenai kedaulatan negara yang dapat mengatur perilaku masyarakat, posmidernisme melihat ini sebagai sesuatu yang membelenggu. Ini melanggar pakem HI yang menyatakan bahwa setiap negara memiliki kedaulatan mereka masing-masing. Posmodernisme percaya bahwa manusia memiliki kedaulatan mereka sendiri dan menurut kaum posmodern sendiri, kedaulatan yang dimiliki manusia tersebutlah yang akan menentukan kemajuan dan kehidupan yang lebih baik lagi, bukan pakem-pakem yang ada dalam era modernitas.

Posmodernisme juga memandang pengetahuan sebagai suatu hal yang subyektif. Artinya, pengetahuan bukanlah sesuatu yang tekstual yang seharusnya dipahami. Namun pengetahuan adalah sesuatu yang intertekstual, yaitu bahwa pengetahuan adalah sesuatu yang bisa dipahami dengan pemahaman yang bermacam-macam sesuai dengan subyek yang memahami pengetahuan tersebut. Cara pandang setiap orang terhadap suatu realitas tentunya berbeda-beda, karenanya posmodernisme membebaskan pengetahuan itu untuk dipahami secara beragam oleh masing-masing orang. Ini menunjukkan bahwa posmodernisme telah meninggalkan pakem-pakem yang ada.

Realitas yang dipahami secara obyektif adalah semata-mata buatan manusia untuk mengendalikan pemikiran sehingga tidak dapat menciptakan kemajuan. Ini menunjukkan bahwa posmodernisme tidak percaya pada kebenaran. Tidak ada kata kebenaran dalam kamus posmodernisme, buktinya hal-hal yang sudah dianggap benar sampai saat ini masih menuai kritik. Hal yang sudah menuai kritik tidak bisa dianggap sebagai kebenaran menurut kaum posmodern. Kebenaran hanya muncul pada diri sendiri bukan pada pengetahuan yang sudah ada. Sifat skeptis posmodernisme terhadap kebenaran ini melahirkan konsep genealogi yaitu konsep mengenai bahwa manusia bertanggung jawab atas apa yang memberikan hasil pada mereka sendiri. Konsep ini menuntut manusia untuk terus menelusuri asal-usul diri sendiri, jangan mempercayai apa yang sudah ada karena hal tersebut belum tentu benar.

Terkait dengan ketidakpercayaan posmodernisme terhadap kebenaran, Facoult (Burchill dan Linklater 1996) mengungkapkan adanya keterkaitan antara kekuatan dan pengetahuan. Pengetahuan akan terbentuk dengan adanya kekuatan, serta sebaliknya pengetahuan juga dapat membentuk suatu kekuatan. Singkatnya konsep kekuatan dalam posmodernisme diartikan sebagai pengetahuan. Hal-hal yang dianggap benar saat ini adalah pengetahuan yang dibawa oleh barat yang kemudian membengaruhi pemikiran manusia akan kebenaran tersebut. Dengan begitu barat dianggap memiliki kekuatan untuk mempengaruhi pemikiran manusia akan suatu pengetahuan. Padahal menurut posmodernisme pengetahuan barat tidak menjamin sesuatu yang selama ini dianggap benar adalah sebuah kebenaran. Karena itu posmodernisme juga percaya bahwa manusia memiliki kekuatan untuk membentuk pengetahuan mereka masing-masing sehingga tidak terpengaruh oleh pengetahuan yang sudah dianggap benar. Tuntutan atas pembebasan terhadap pengetahuan barat ini membuat posmodernisme dianggap sebagai turunan marxis. Namun posmodernisme menolak anggapan tersebut karena menurut posmodernisme mereka memiliki dalil-dalil sendiri yang berbeda dengan marxisme.

Posmodernisme ini masih dianggap sebagai teori yang kontroversial. Teori ini dianggap sebagai penjara empiris HI. Selain itu posmodernisme juga masih tidak bisa membuat konstruksi pemikirannya menjadi sesuatu yang empiris. Bahkan kaum posmodernisme sendiri masih melakukan perdebatan mengenai dari mana titik awal munculnya dan dimana titik akhir dari teori posmodernisme ini sendiri. Posmodernisme juga dianggap akan menyebabkan terjadinya penyimpangan moral dan penyimpangan politik. Dengan konsepnya yang tidak percaya pada kebenaran, kaum posmodernisme akan cenderung bertindak semaunya sehingga akan menimbulkan penyimpangan moral dan politik.

 

Referensi:

Scott Burchill & Andrew Linklater. 1996. Theories of International Realations. London: McMillan Press, Ltd.

Jackson, Robert & Georg Sorensen. 2005. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Pustaka Ilmu.

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.751.134