Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

STRUKTUR SOSIAL MASYARAKAT INDONESIA DAN POTENSI KONFLIK DI DALAMNYA

14 May 2013 - dalam Studi Strategis Indonesia Oleh fyustiazari-fisip12

Dalam interaksi berbangsa dan bernegara di Indonesia, masyarakatnya tentu tebagi atas lapisan-lapisan sosial tertentu. Lapisan-lapisan tersebut terbentuk dengan sendirinya dan memang sudah seharusnya ada dalam struktur sosial masyarakat. Seperti yang kita tahu, Indonesia merupakan negara dengan masyarakatnya yang heterogen sehingga muncul keberagaman dalam berbagai hal serta terjadi pelapisan sosial yang beragam. Bagaimana pelapisan sosial tersebut dan apa dampaknya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia?

            Seperti yang sudah dijelaskan pada paragraf sebelumnya, Indonesia merupakan negara yang memiliki struktur sosial masyarakat yang heterogen. Struktur masyarakat Indonesia ditandai dengan dua cirinya yang bersifat unik (Nasikun, 1995: 28). Dua jenis pelapisan masyarakat Indonesia adalah pelapisan secara horizontal dan pelapisan secara vertikal. Perbedaan horizontal ditandai dengan perbedaan ras, agama, serta adat istiadat yang ada dalam masyarakat Indonesia. Sedangkan perbedaan secara vertikal ditandai dengan adanya lapisan atas dan lapisan bawah berdasarkan tingkatan ekonomi dan tingkatan lain misalnya pekerjaan, dan sebagainya. Adanya lapisan atas dan lapisan bawah dalam masyarakat Indonesia dinilai cukup tajam dengan adanya gap yang begitu kentara antara lapisan atas dan lapisan bawah.

            Indonesia sebagai negara dengan struktur masyarakatnya yang majemuk sebagaimana yang diungkapkan oleh Furnivall (Nasikun, 1994: 29) bahwasanya Indonesia merupakan masyarakat majemuk, dimana masyarakatnya terdiri atas dua atau lebih elemen yang hidup sendiri-sendiri tanpa ada pembauran satu sama lain di dalam suatu kesatuan politik. Struktur masyarakat Indonesia yang majemuk dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang ada. Keadaan geografis yang membagi Indonesia menjadi banyak pulau menjadikan Indonesia kaya akan kelompok etnik. Ada sekitar 300 kelompok etnik di Indonesia yang tersebar dalam 6000 pulau (Hefner, 2005: 79). Letak Indonesia yang strategis juga menyebabkan beragamnya agama yang berkembang di Indonesia. Indonesia menjadi sasaran penyebaran berbagai agama besar di dunia sehingga masyarakat Indonesia memeluk agama yang beragam. Iklim juga merupakan faktor kemajemukan struktur masyarakat Indonesia. Perbedaan curah hujan menyebabkan kesuburan lahan berbeda-beda sehingga mempengaruhi tingkat ekonomi masyarakat Indonesia (Nasikun, 1995).

            Struktur majemuk masyarakat Indonesia bukan tidak mungkin jika akan menimbulkan konflik. Konflik justru berpotensi terjadi dalam kemajemukan di Indonesia. Konflik yang dapat terjadi dalam dua macam yaitu konflik yang bersifat ideologis dan konflik yang bersifat politis  (Nasikun, 1995: 63). Pada tingkat konflik ideologis, konflik terwujud dalam perbedaan presepsi dari masing masing golongan masyarakat dalam melihat dan menilai suatu hal. Seperti misalnya perbedaan pandangan umat Muslim dan umat selain Muslim menilai tentang terorisme akhir-akhir ini. Sementara dari tingkatan politis, konflik terjadi karena pertentangan dalam pembagian sumber-sumber kekuasaan. Seperti misalnya penyebaran pendidikan yang tidak merata karena masalah ekonomi.

            Meski demikian, konflik yang ada dalam struktur majemuk masyarakat Indonesia dapat diminimalisasikan dengan adanya Indonesia yang merdeka. Dengan merdekanya Indonesia, kelompok-kelompok yang tadinya hanya memiliki semangat kesukuan, kini menjadi lebih terintegrasi. Adanya toleransi antar individu dapat dilihat dari adanya loyalitas ganda (cross cutting loyalities). Loyalitas ganda adalah kesadaran individu bahwa ia bukan hanya dari suatu kelompok sosial saja. Jadi misalnya dua orang yang berbeda agama tetapi berasal dari suku yang sama, dua orang tersebut akan cenderung toleransi. Karena itu adanya loyalitas ganda tersebut dapat meminimalkan terjadinya konflik.

            Dengan demikian struktur masyarakat Indonesia dapat menimbulkan potensi terjadinya konflik. Namun, sebagai suatu anggota masyarakat yang tidak hanya hidup sendiri pasti saling membutuhkan antara setiap individu dala masyarakat tersebut. Karena itu interaksi antar individu yang saling toleransi penting adanya untuk menciptakan Indonesia yang jauh dari kata perpecahan.

 

Referensi:

Hefner, Robert W. 2005. “Social Legacies and Possible Future”, dalam John Bresnan (ed.),  

            Indonesia: The Great Transtition. Lanham: Rowman & Littlefield Publisher Inc,

            hal. 75-163.

Nasikun. 1995. “ Struktur Majemuk Masyarakat Indonesia”, dalam Sistem Sosial Indonesia.

            Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, hal. 27-50.

Nasikun. 1995. “ Struktur Majemuk Masyarakat Indonesia dalam Masalah Integrasi

    Nasional”, dalam Sistem Sosial Indonesia.  Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, hal. 61-87.

 



Read More | Respon : 1 komentar

1 Komentar

Sigrid

pada : 25 July 2013


"jelaskan mengapa perbedaan pada masyarakat yaitu secara vertikal dan horizontal itu dapat terjadi"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.764.820