Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

NEOLIBERAL GLOBALISASI: PASAR BEBAS YANG BERUJUNG PRO DAN KONTRA?

10 May 2013 - dalam Pengantar Globalisasi Oleh fyustiazari-fisip12

Selama dua dekade belakangan ini, pendekatan dominan dalam kebijakan adalah neoliberal globalisasi (Pieterse, 2004: 1). Tatanan di dunia semakin tepengaruh oleh pendekatan neoliberalisme yang mengutamakan adanya kebebasan terutama dalam bidang ekonomi. Dari hal-hal kecil saja sudah dapat kita rasakan adanya neoliberalisasi globalisasi yang belakangan ini sedang melanda dunia dengan banyaknya produk-produk asing yang dapat dengan mudah mampir bahkan menjadi produk yang paling digemari dalam lokal. Sesungguhnya hal tersebut sudah merupakan dampak dari neoliberal globalisasi yang melahirkan pemerintahan “gaib” global seperti IMF dan World Bank yang mengatur perilaku negara-negara dalam sistem internasional saat ini.

            Neoliberal globalisasi memiliki tujuan tidak lain adalah untuk perkembangan ekonomi. Bagaimana mewujudkan perkembangan ekonomi tersebut menurut para kaum neoliberalis adalah dengan membebaskan pasar dan tidak membuatnya terkekang (Pieterse, 2004). Dengan terbukanya pasar akibat adanya neoliberal globalisasi, maka peran aktor non negara terutama perusahaan-perusahaan multinasional menjadi sangat besar dalam sistem internasional saat ini. Lihat saja bagaimana McDonald dengan makanan cepat sajinya menjadi sangat populer di seluruh dunia. Juga tidak dapat dipungkiri merk-merk Eropa seperti Calvin Klein atau Zara yang dengan cepat menjadi tren yang diikuti oleh banyak orang di seluruh dunia. Produk-produk tersebut kemudian dapat menggeser produk lokal yang seharusnya lebih dikembangkan.

            Pro dan kontra mencuat dari munculnya neoliberal globalisasi itu sendiri. Hal tersebut wajar terjadi karena ada orang-orang yang merasa diuntungkan serta dirugikan dalam globalisasi. Seperti John Micklethwait dan Andrian Wooldridge (2001) dalam tulisannya yang mengajak kita untuk berpikir kembali dalam menentang globalisasi. Micklethwait dan Wooldridge tidak sepenuhnya berpikir bahwa globalisasi itu buruk. Seperti pendapat mereka yang tidak setuju tentang anggapan bahwa globalisasi itu sama dengan Amerikanisasi. Memang menurut mereka bahwa globalisasi sering dikaitkan dengan hal-hal liberal seperti yang telah dijelaskan di atas, yang sering berkaitan dengan nilai-nilai fundamental Amerika. Namun menurut Micklethwait dan Wooldridge, hal-hal tersebut tidak berarti bahwa globalisasi merupakan Amerikanisasi karena liberalisasi pertama kali berkembang dari pemikir-pemikir Inggris seperti John Locke dan Adam Smith (Micklethwait dan Wooldridge, 2001: 20).

            Penilaian Micklethwait dan Wooldridge (2001: 24) tentang neoliberal globalisasi juga bisa dibilang positif. Mereka juga menolak anggapan bahwa dengan adanya neoliberal globalisasi, kekuatan hanya terkonsentrasi pada institusi yang tidak demokratis seperti WTO dan IMF. Institusi-institusi yang dianggap sebagai pemerintahan “gaib” global ini hanyalah sebuah media arbitrasi bagi pemerintahan local negara untuk menyelesaikan masalah-masalah mereka. Pemerintah nasional hanya akan berurusan dengan IMF jika ada masalah yang sangat serius yang tidak dapat diselesaikan sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa peran pemerintah nasional masih merupakan yang paling penting dalam praktik interaksi antarnegara dalam sistem internasional.

            Ketidaksetujuan Micklethwait dan Wooldridge terhadap penentangan globalisasi yang sedang marak terjadi saat ini menunjukkan bahwa mereka memberikan arus balik positif bagi globalisasi. Namun ada positif tentu ada negatif, ada pro tentu ada juga kontra. Globalisasi ternyata tidak dengan mudah dapat diterima oleh beberapa kalangan. Ada kalangan tertentu yang melakukan penentangan terhadap globalisasi. Kalangan ini tidak lain adalah kalangan anti-globalis.

            Penentangan terhadap globalisasi sebenarnya sudah dilakukan jauh sebelum era sekarang. Jika kita melihat ke belakang ada gerakan Boston Tea Party yang dilakukan Amerika pada masa penjajahan. Hal tersebut sebenarnya merupakan sebuah penolakan terhadap globalisasi. Bahkan Indonesia juga melakukan gerakan penolakan globalisasi yang dilakukan dengan Perang Diponegoro (Susanto, 2013). Gerakan-gerakan tersebut merupakan bentuk nyata penolakan globalisasi yang menolak adanya liberalisasi perdagangan.

            Gerakan anti-globalisasi tidak hanya dilakukan oleh satu organisasi saja, melainkan gerakan yang dilakukan dengan gabungan banyak organisasi-organisasi. Dengan gerakan-gerakannya, mereka peduli terhadap permasalahan-permasalahan yang ditimbulkan oleh globalisasi seperti global warming dan banyak permasalahan lainnya  (Buckman, 2004: 110-111). Globalisasi hanya menimbulkan kapitalisme yang akan merugikan kaum-kaum kelas bawah dan hanya menguntungkan kaum-kaum kelas atas pemilik modal. Adanya praktik ekonomi global yang didorong oleh kemunculam IMF, World Bank dan WTO menunjukkan bahwa kapitalisme merupakan sistem yang ada dalam sistem internasional saat ini. Organisasi-organisasi internasional tersebut bisa dikatakan sebagai kendaraan kapitalisme negara-negara hegemon untuk memperoleh kekuatan yang lebih.

            Gerakan anti-globalisasi yang terkenal di dunia internasonal adalah “Beattle of Seattle”. Gerakan ini merupakan gerakan protes yang menolak adanya perbincangan atau pembahasan tentang perdagangan terutama perdagangan bebas.Gerakan ini dipercaya tidak akan berlanjut pada gerakan-gerakan protes yang lebih jauh. Tetapi ternyata gerakan-gerakan anti-globalisasi berlanjut. Anti-globalis melanjutkan protes mereka, diantaranya melalui gerakan menentang pertemuan IMF dan World Bank di Washington pada April tahun 2000, penentangan pertemuan World Economic Forum di Melbourne pada September 2000, dan penentangan terbesar sejauh ini yang berlangsung di Geoa, Italia pada Juli 2001 yang melibatkan 200 sampai 300 ribu orang melakukan penolakan terhadap pertemuan G8 (Buckman, 2004: 115).

            Dari pemaparan penentangan-penentangan di atas, pertanyaannya adalah mengapa protes justru dilaksanakan di negara-negara maju yang pada dasarnya merupakan aktor yang memperoleh keuntungan dari globalisasi? Pertemuan-pertemauan penting selalu dilakukan di kota-kota besar di negara-negara maju, karena itu gerakan protes dilakukan di sana dimaksudkan untuk membuat protes menjadi langsung ke sasaran (Mubah, 2013). Pihak yang melakukan protes datang langsung ke lokasi pertemuan-pertemuan penting negara-negara maju. Mereka yang melakukan protes tentu saja bukan pihak yang protes langsung terhadap globalisasi, namun yang melakukan protes adalah lembaga-lebaga sosial yang mewakili protes dari kalangan bawah. Sejauh ini gerakan anti-globalis ternyata hanya menimbulkan dampak yang temporal saja (Buckman, 2004: 115).

            Neoliberal globalisasi yang meinimbulkan berkembangnya perdagangan bebas tidak bisa semulus itu diterima oleh seluruh masyarakat internasional. Ada yang berpikir lagi untuk melihat sisi baik dari neoliberal globalisasi sehingga memberikan arus balik yang positif. Namun banyak juga yang melakukan protes terhadap globalisasi karena neoliberal globalisasi kental kaitannya dengan kapitalisme sehingga merugikan kalangan bawah. Pihak-pihak kalangan bawahlah yang melakukan protes terhadap neoliberal globalisasi tersebut. Namun tidak secara langsung, protes mereka diwakili oleh lembaga-lembaga sosial anti-globalisasi meski nyatanya dampaknya hanya bersifat temporal.

 

Referensi:

Buckman, Greg. 2004. “the Anti-Globalization Movement”, dalam Globalization: Tame It or

          Scrap It?, London: Zed Book, pp. 107-121

Micklethwait, John. 2001. “the Globalization Backlash”, Foreign Policy, No. 126, pp. 16-26.

Mubah, A. Safril. 2013. “Arus Balik Globalisasi”, dalam Kuliah Pengantar Globalisasi. Fisip

            Universitas Airlangga, 2 Mei 2013.

Pieterse, Jan Nederveen. 2004. “Neoliberal Globalization”, dalam Globalization or Empire?,

            London: Routledge, pp. 1-15

Susanto, Joko. 2013. “Neoliberal Globalization”, dalam Kuliah Pengantar Globalisasi. Fisip

            Universitas Airlangga, 2 Mei 2013.

Thompson, Grahame F. 2003. “Globalisation as the Total Commersialisation of Politics?”,

            New Political Economy, Vol. 8, No. 3, pp. 401-408



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.761.840