Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

GLOBALISASI KULTUR

09 April 2013 - dalam Pengantar Globalisasi Oleh fyustiazari-fisip12

Siapa yang tidak tahu shuffle, gangnam style, harlem shake, dan gaya-gaya baru yang popular melalui situs video terkenal dunia? Sebagian besar orang, terutama anak-anak muda sekarang ini pasti mengetahuinya. Atau yang lebih populer lagi ada twitter, facebook, dan media sosial lainnya yang memungkinkan kita untuk berinteraksi secara lebih mudah dengan orang-orang di seluruh dunia, siapa yang tidak mengetahuinya? Media-media tersebut telah memudahkan kita untuk memiliki banyak teman-teman baru bahkan tanpa harus mengenal secara dekat. Namun apakah sesungguhnya semua itu membuat kita kemudian benar-benar diuntungkan, atau mungkinkah ada sesuatu yang tidak kita sadari sedang tergerus sedikit demi sedikit dalam diri kita?

            Globalisasi, sebuah fenomena yang telah membawa hal-hal yang telah disebutkan di atas sebelumnya, merata ke seluruh dunia. Penciptaan media-media baru seperti telepon genggam dan sosial media membuat mobilitas manusia menjadi jauh semakin mudah. Para pemikir globalis berpendapat bahwa arus aliran penyebaran globalisasi kultur ini tidak tertandingi (Held 2003). Memang adanya teknologi informasi membuat semua orang akan menjadi semakin mudah dalam mengakses informasi-informasi dari luar dan penetrasi informasi-informasi dari luar tersebut tidak dapat dipungkiri memang tidak terhindarkan. Ada setidaknya tiga pendekatan besar yang berkaitan dengan globalisasi kultur ini.

            Pertama differentialism, yang percaya bahwa meski terjadi globalisasi, kultur tidak akan pernah menjadi seragam. Akan selalu ada perbedaan dalam hal kultur, namun perbedaan-perbedaan menjadi terkonfigurasi (Susanto 2013). Kenyataannya memang yang terjadi sekarang adalah demikian. Budaya yang dipegang orang-orang sekarang ini bukanlah budaya-budaya asli mereka, melainkan budaya modern yang sudah masuk menggeser budaya asli. Kedua hybridization, yang mengatakan bahwa justru terjadi yang dinamakan glocalisation yang menyebabkan budaya-budaya lokal yang justru memberikan inspirasi kepada global (Susanto 2013). Seperti misalnya budaya pop Korea Selatan yang sekarang menjadi tren dunia, terutama kalangan remaja. Ketiga Convegence yang percaya bahwa terjadinya globalisasi menimbulkan terjadinya homogenitas, yaitu keseragaman budaya (Susanto 2013). Dengan adanya globalisasi, timbul Mc World yang kemudian menjadikan orang memiliki budaya yang seragam saat ini, yaitu budaya serba instan.

            Bagaimana globalisasi kultur bisa berkembang dan banyak mempengaruhi kehidupan pada zaman ini? Peran media sangat besar dalam hal ini. Penyebaran budaya asing melalui televisi apalagi internet sudah tidak terelakkan lagi sangat luar biasa dampaknya. Orang awalnya hanya ingin mengetahui tentang informasi-informasi tersebut, namun kemudian semakin tertarik, dan akhirnya akan sangat menyenanginya hingga ia lupa dengan budayanya sendiri, lupa dengan budaya sendiri artinya bisa juga dibilang lupa dengan identitasnya sendiri. Namun, meski demikian pemikiran skeptis tetap percaya bahwa justru globalisasi kultur malah dapat memperkuat budaya nasional (Held 2003).

            Para pemikir skeptis berpendapat bahwa budaya nasional tidak akan dengan mudah tergerus dengan adanya globalisasi. Budaya nasional dipercaya memiliki kekuatan yang tidak ada tandingannya. Ditambah lagi dengan adanya penerapan nasionalisme yang akan membuat budaya nasional akan terus betahan meski arus globalisasi terus mengalir dengan deras. Kaum skeptis juga menambahkan bahwa adanya saluran televisi, radio, dan media masa nasional akan membantu menyiarkan budaya-budaya nasional yang harus terus dilestarikan (Held 2003). Namun pertanyaannya, apakah yang terjadi sesungguhnya memang demikian?

Jika melihat keadaan yang sebenarnya televisi, radio, dan media masa justru menjadi media yang efektif dalam penyebaran globalisasi. Seperti kaum globalis yang menyatakan bahwa televisi, radio, dan media masa nasional bisa digunakan dalam penyebaran budaya asing (Held 2003). Lihat saja sekarang saluran televisi nasional juga menyiarkan telenovela, dan sekarang ini yang sedang populer, drama Korea. Radio-radio dalam negeri juga banyak memutar lagu-lagu asing ketimbang lagu-lagu Indonesia. Bahkan media masa lokal memuat berita-berita internasional lebih banyak daripada berita-berita lokal. Hal-hal di atas menunjukkan bahwa media nasional merupakan salah satu media yang paling efektif digunakan untuk penyebaran arus globalisasi.

Apa yang kemudian bisa diambil dari penjelasan di atas? Pada zaman yang serba mudah ini, ternyata kita kehilangan sesuatu yang amat penting yaitu identitas. Krisis identitas menyerang besamaan dengan serangan arus globalisasi. Timbulnya homogenitas budaya membuat kita tidak lagi tahu siapa sebenarnya kita. Semua orang menjadi bertingkah laku sama dan identitas mereka lebur menjadi satu. Dengan dimanfaatkannya media-media nasional sebagai alat untuk menyebarkan globalisasi, media pun kehilangan identitasnya sebagai media nasional. Surat kabar milik Indonesia menjadi terlihat sepeti surat kabar asing karena dirancang khusus menggunakan bahasa Inggris dan berita yang dimuat pun kebanyakan berita internasional. Hal ini menunjukkan bahwa betapa globalisasi telah menguntungkan di satu sisi, namun apabila diperhatikan secara jeli juga membawa dampak luar biasa yaitu krisis identitas.

 

Referensi:

Held, David dan Anthony McGrew. 2003. “The Fate of National Culture”, dalam Globalization/Anti-Globalization, Oxford: Blackwell Publishing Ltd., pp. 25-37.

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.737.996