Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

DEBAT BESAR GLOBALISASI

09 April 2013 - dalam Pengantar Globalisasi Oleh fyustiazari-fisip12

Ketika kita bisa ikut merasakan sensasi perilisan film-film atau lagu-lagu dari luar negeri dalam jarak waktu nol detik dengan negara-negara lainnya, dunia ini terasa menjadi tanpa batas dan memampat. Orang-orang di dunia pada umumnya merasakan terjadinya globalisasi, meski ada sebagian orang yang tidak mengerti dengan makna dari globalisasi itu sendiri. Globalisasi yang sedang kita rasakan sekarang ini ternyata tidak luput dari perdebatan-perdebatan yang terjadi di antara beberapa pemikiran. Ada tiga tesis yang mewakili terjadinya perdebatan besar mengenai globalisasi. Ketiga tesis tersebut adalah tesis hiperglobalis, skeptis, dan transformasionalis.

            Pertama penulis akan membahas tentang tesis dari hiperglobalis. Menurut hiperglobalis, globalisasi adalah akibat dari perilaku manusia dalam sistem internasional yang menyebabkan peubahan zaman pada peradaban manusia. Hiperglobalis mempercayai adanya hubungan transnasional dalam bidang ekonomi yaitu berupa produksi transnasional, perdagangan, dan pengelolaan keuangan secara transnasional. Negara-negara masing-masing memiliki kemampuan ekonomi yang berbeda-beda, karenanya hubungan transnasional ini dipercaya dapat digunakan sebagai sesuatu yang efektif dalam pemenuhan kebutuhan suatu negara. Namun diantara ketidaksaamaan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing negara, pasti ada negara yang tertinggal kemampuannya. Di sini, pemerintah yang seharusnya berperan dalam penyetaraan kemampuan tersebut. Namun pada kenyataannya kekuatan pemerintah menjadi semakin kecil dalam globalisasi menurut hiperglobalis karena hubungan transnasional itu sendiri dipengaruhi oleh perilaku masyarakat sehingga hiperglobalis juga berpendapat bahwa globalisasi memunculkan masyarakat sipil global. Oleh sebab itu globalisasi adalah pengaruh dari kegiatan manusia.

            Jika hiperglobalis bependapat bahwa globalisasi adalah apa-apa yang dipengaruhi oleh perilaku manusia sehingga menimbulkan apa yang disebut sebagai masyarakat global yang memiliki hubungan transnasional, maka tidak demikian bagi para skeptis. Para skeptis berpendapat bahwa globalisasi adalah sesuatu yang terjadi karena adanya peranan dari negara dan pasar. Pemerintah di sini menjadi peran yang kuat dalam globalisasi. David Held dkk (1999) mengungkapkan dalam tulisannya bahwasanya tesis yang diungkapkan oleh skeptis menganggap hipeglobalis itu memiliki cacat pada teorinya karena hiperglobalis menganggap remeh peran pemerintah dalam meregulasi sistem ekonomi internasional. Skeptis menilai bahwa pemerintah nasional memiliki peran yang besar dalam liberalisasi ekonomi sehingga suatu negara dapat terus menjalankan perdagangan global. Berbeda dengan hiperglobalis (yang menganggap bahwa MNC yang tidak dijalankan oleh negara memiliki motif dominan dalam globalisasi), skeptis mengungkapkan bahwa motif dari globalisasi adalah untuk mencapai kepentingan nasional. Jadi intinya, internasionalisasi dalam globalisasi tergantung oleh keputusan dan dukungan dari negara itu sendiri.

            Dari dua pendekatan mengenai globalisasi yang telah dijelaskan di atas, ada satu lagi penjelasan tentang globalisasi yang mungkin dianggap paling “netral”, yakni tesis transformasionalis. Menurut transfomasionalis, globalisasi bukanlah hal yang belum ada dalam sejarah sebelumnya. Transformasionalis ini menganggap bahwa globalisasi merupakan sesuatu yang “tidak pasti” bahkan menurut Held, dkk (1999) transformasionalis tidak dapat memastikan bagaimana masa depan globalisasi itu sendiri. Transformasionalis mempercayai bahwa globalisasi merupakan suatu tatanan baru dunia yang dipengaruhi oleh modernisasi. Adanya modernisasi menyebabkan alat-alat menjadi canggih sehingga terjadi pemampatan pada keadaan dunia. Karena itu batas-batas dunia seakan-akan hilang dengan adanya modernisasi tersebut.

            Dengan keadaan dunia yang mengalami fenomena globalisasi sekarang ini, maka pemerintah nasional menurut transformasionalis seharusnya melakukakan penyesuaian terhadap keadaan “terbaru” saat ini. Bukan melemah seperti yang dikatakan hiperglobalis atau menguat seperti yang dikatakan oleh kaum skeptis. Transformasionalis berpendapat bahwa pemerintahan nasional, dengan segala kedaulatannya masih berperan dalam kebijakan-kebijakan legal yang sesuai untuk melindungi teritorialnya juga mengingat “batas-batas negara yang mulai hilang” atas dampak globalisasi saat ini. Dengan kata lain, kekuatan pemerintahan nasional ini mengalami pengkonstruksian kembali seiing dengan perubahan keadaan dunia saat ini yang menjadi semakin kompleks demi terwujudnya interkoneksi antarnegara yang semakin baik. Jadi intinya transformasionalis menganggap bahwa globalisasi dengan segala perubahan tatanan dunia yang dibawanya menjadi suatu hal yang menyebabkan transformasi kekuatan negara serta politik dunia.

            Memang fenomena globalisasi ini merupakan fenomena yang bisa dibilang abstrak sehingga banyak pendekatan-pendekatan yang mencoba menjelaskannya dengan pemikirannya masing-masing. Penulis setuju bahwa globalisasi merupakan sesuatu yang baru yang menarik untuk dipelajari karena dampaknya yang telah mengubah tatanan dunia dengan sedemikian rupa. Fenomena pemampatan dunia sehingga ruang dan waktu tidak lagi bersesuaian menjadi hal yang baru sejak adanya internet sebagai media yang luar biasa canggih sehingga dapat membuat jarak seakan tidak berarti. Diperkirakan perdebatan tentang globalisasi ini masih akan berlanjut terkait dengan perkembangannya nanti di masa depan.

 

Referensi:

Held, David et. al. 1999. “Introduction”, dalam Global Transformations: Politics, Economics and Culture, Stanford: Stanford University Press, pp. 1-31 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.767.967