Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

Marxisme dan Strukturalisme: Sistem Internasional Terstruktur, Menguntungkan atau Merugikan?

02 April 2013 - dalam Teoriteori Hubungan Internasional Oleh fyustiazari-fisip12

Selain memiliki teori-teori asli seperti realisme dan liberalisme, dalam mempelajari Hubungan Internasional juga terdapat teori-teori “adopsi” seperti pendekatan marxisme yang sebenarnya milik sosiologi. Pendekatan marxisme tidak membicarakan tentang Hubungan Internasional secara langsung. Pendekatan ini sebenarnya membicarakan tentang adanya kelas-kelas sosial dalam masyarakat. Untuk menjadi “adopsi” teori Hubungan Internasional, pendekatan marxisme ini disempurnakan dengan adanya pendekatan strukturalisme.

            Sebelum membahas tentang bagaimana Hubungan Internasional dilihat dari pendekatan marxisme dan strukturalisme sampai seluk beluknya, mari kita memahami bagaimana marxisme lahir dan melihat tentang kelas-kelas sosial yang terjadi dalam masyarakat. Teori marxisme ini lahir atas dasar pemikiran Karl Marx. Hidup dalam kondisi dimana ia melihat adanya dominasi kaum borjuis (pemilik modal) dalam mengeksploitasi kaum proletar (buruh), Karl Marx kemudian mengemukakan ketidaksetujuannya terhadap kapitalisme tersebut. Karl Marx menganggap bahwa kaum borjuis berlaku tidak adil karena memeras tenaga para buruh tanpa imbalan yang sesuai dengan tenaga yang dikeluarkan, anggapan Karl Marz ini kemudian menjadi satu dasar pemikiran marxisme (Wardhani 2013).

            Kata kunci dari pendekatan marxisme adalah kapitalisme dan eksploitasi. Karl Marx melihat adanya kelas-kelas dalam masyarakat dengan cara yang terlalu ekstrim. Anggapan bahwa kaum borjuis selalu berusaha mencari kekayaan untuk dirinya sendiri dengan memeras kaum buruh menjadi pemikiran yang utopis oleh kaum marxis. Pendekatan ini percaya bahwa pengeksploitasian kaum borjuis terhadap kaum proletar tidak hanya terjadi pada zaman dahulu saja, melainkan terjadi secara terus-menerus namun namanya saja yang berganti. Dari kapitalisme muncul imperilaisme hingga masa sekarang ini disebut sebagai globalisasi (Wardhani 2013). Belanda mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia pada masa perang dahulu, pada globalisasi sekarang, negara-negara lain juga sebenarnya masih “mengeksploitasi” tenaga masyarakat Indonesia. Sebagai bentuknya adalah adanya TKI (Tenaga Kerja Indonesia) sebagai buruh dan pembantu di negara lain. Itu hanya merupakan salah satu contoh bentuk eksploitasi.

            Inti dari pemikiran Karl Marx tentang kelas-kelas adalah keinginan Karl Marx untuk kesetaraan (equality) masyarakat. Marxisme menginginkan adanya kesetaraan sehingga timbul keadilan bagi seluruh masyarakat. Namun pandangan ini mendapatkan koreksi dalam pengaplikasiannya dalam sistem internasional oleh pendekatan strukturalisme. Pendekatan strukturalisme merupakan turunan dari pendekatan marxisme. Strukturalisme dan marxisme sama-sama menolak pendekatan realisme dan liberalisme karena bagi mereka realisme dan liberalisme mendukung adanya inequality. Meski begitu strukturalisme tidak terlalu ekstrem dalam memandang adanya kelas-kelas sosial, bahkan tidak ada yang namanya borjuis dan proletar dalam kamus mereka.

            Strukturalisme melihat kelas-kelas sosial yang teraplikasi dalam sistem internasional memang sudah seharusnya terjadi dan memang dibutuhkan dalam berjalannya sistem internasional. Dalam pendekatan struktualisme ada yang dinamakan world-system theory dan dependency theory yang merupakan perwujudan pengaplikasian teori strukturalisme dalam Hubungan Internasional. Dalam World-system sendiri terdapat dua tipe yaitu: (1) Negara imperium dunia, yaitu berbentuk institusi, seperti IMF; dan (2) World-economics, yaitu mekanisme instuti bentukan negara imperium dunia.

World-system theory juga membagi negara-negara dibagi atas tiga pelapisan, yaitu: (1) Core state, adalah negara-negara kaya yang memiliki banyak modal. Negara-negara kaya inilah yang mengeksploitasi tenaga dari negara-negara lainnya. Contohnya adalah Amerika Serikat. (2) Peripheral state, adalah negara-negara miskin yang biasa dikenal dengan negara dunia ketiga. Negara peripheral ini biasanya sumber daya alamnya dan sumber daya manusianya dieksploitasi oleh negara core atau negara kaya. Contohnya adalah Indonesia (3) Semi-peripheral state, merupakan negara yang belum bisa dikatakan kaya karena memang belum kaya namun bukan negara miskin juga. Contoh negara semi-peripheral adalah Malaysia. Malaysia “mengimpor” tenaga kerja dari Indonesia namun ia tidak sekaya itu hingga dapat menjadi core state.

            Tiga pelapisan yang sudah dijelaskan di atas menurut pendekatan strukturalisme saling berhubungan. Negara kaya pasti membutuhkan negara miskin begitupun sebaliknya. Negara kaya yang memiliki modal mempergunakan modalnya untuk produksi, namun darimana negara mendapatkan sumber daya manusia untuk menjalankan produksinya. Di sinilah peranan negara peripheral untuk negara core. Negara peripheral juga tentunya mendapatkan imbalan dan keuntungan tertentu dengan bekerja untuk produksi negara core. Memang ada kesan eksploitasi, namun semua itu memang sudah seharusnya, karena negara-negara di dunia ini memang saling membutuhkan.

            Bentuk kedua dari pendekatan strukturalisme adalah dependency theory. Teori ini berhubungan dengan teori sebelumnya, menyatakan bahwa negara maju memang membutuhkan negara berkembang seperti yang seudah dijelaskan sebelumnya. Basis dari politik internasional memang seperti itu adanya. Hal ini menunjukkan bahwa politik luar negeri negara-negara kaya adalah untuk memelihara ketidak setaraan atau inequality karena sesungguhnya dalam menjalankan sistem internasional, ketidaksetaraan adalah hal yang dibutuhkan demi memenuhi kebutuhan-kebutuhan tiap-tiap negara. Pendekatan marxisme juga mendapatkan kritik dari Holsti yang merupakan orang realis. Holsti menganggap pendekatan marxisme ini terlalu domestik dan dianggap belum tentu benar karena munculnya pendekatan ini adalah ketika masa damai dan tidak ada peperangan. Karena itu juga, Holsti menganggap bahwa pendekatan marxisme ini tidak dapat menjelaskan tentang perang.

            Melihat keadaan dunia yang sekarang ini, memang tidak mudah jika negara-negara di dunia ini tidak saling bergantung satu sama lain. Pasti ada eksploitasi sumber daya oleh negara kaya kepada negara miskin, namun mungkin kaum marxis melihat eksploitasi secara berlebihan. Padahal jika dilihat kenyataannya, eksploitasi bertujuan untuk saling memenuhi kebutuhan. Ada hubungan timbal balik dalam praktik eksploitasi tersebut sehingga kebutuhan setiap negara bisa terpenuhi. Karena pada dasarnya memang negara sudah terstruktur sedemikian rupa.

 

Referensi:

Buecker, Regina. 2003. “Karl Marx's Conception of International Relations”, dalam Glendon Journal of International Studies. hal 49-58.

Wardhani, Baiq Lekar Sinayang. 2013. “Marxisme and Structuralism in International Relations”, dalam Kuliah Teori-teori Hubungan Internasional. Universitas Airlangga 28 Maret 2013.

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.761.806