Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

Ideologi yang Berkembang di Indonesia

02 April 2013 - dalam Studi Strategis Indonesia Oleh fyustiazari-fisip12

Indonesia mengalami banyak guncangan di masa lalu. Banyak faktor yang menyebabkan Indonesia menjadi tidak stabil pada masa itu. Faktor yang berasal dari dalam sendiri adalah munculnya ideologi-ideologi yang digagaskan oleh beberapa kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan tentang seperti apa bentuk Indonesia nantinya. Ada tiga ideologi besar yang berkembang di Indonesia pada saat itu. Ketiga ideologi tersebut adalah nasionalisme, yang diwakili oleh Partai Nasional Indonesia (PNI); komunisme atau marxisme, yang diwakili oleh Partai Komunis Indonesia (PKI); dan Islamisme yang diwakili oleh Masyumi dan NU. Partai-partai ini, meski saling bertentangan, ketika Demokrasi Terpimpin merupakan sebuah koalisi partai yang kemudian disebut sebagai NASAKOM (Nasionalis, Agama, Komunis).

            Gagasan nasionalis berawal dari pemikian para golongan terpelajar dan cendekiawan yang mulai berpikir kritis tentang mempersatukan bangsa Indonesia. Pada tahun 1920-an, kelompok terpelajar dan cendekiawan mulai angkat bicara tentang kemerdekaan Indonesia (Feith 1970). Pemikiran tentang kemerdekaan Indonesia ini kemudian berkembang untuk kemudian memikirkan bagaimana cara mempersatukan bangsa Indonesia. Hal inilah yang kemudian memunculkan pergerakan nasional yang dianggap bisa menyatukan bangsa Indonesia dengan segala rasa nasionalismenya. ßSementara komunis dan islamis muncul karena adanya golongan tertentu yang menginginkan bentuk Indonesia sebagai negara komunis dan negara Islam.

            Partai-partai yang bebeda aliran ini kemudian mengalami persaingan yang cukup sengit. Pada pemilihan umum terdapat empat partai yang dominan di antara yang lain-lain. Partai-partai tersebut adalah PNI, Masyumi, NU, dan PKI. Perlu diketahui perbedaan Masyumi dan NU adalah bahwa NU merupakan partai islam yang berseifat lebih tradisional. Masing-masing partai tersebut secara berurutan memperoleh suara sebagai berikut: 22,3%, 20,9%, 18,4%, dan 16,4%. Persaingan sengit ini terjadi sampai meletusnya pemberontakan yang melibatkan PKI yang menyebabkan jatuhnya banyak korban. Pada masa-masa berikutnya golongan komunis ternyata malah memainkan peranan yang penting dan bisa dikatakan berjaya jika dibandingkan dengan PNI, NU, dan partai-partai lain yang pada saat itu menjadi lumpuh.

            Selain tiga ideologi besar terkenal yang berkembang di Indonesia pada masa kemerdekaan, sebenarnya ada dua lagi aliran dalam pemikiran politik Indonesia sehingga Herbert Feith (1970) membedakan lima aliran dalam pemikiran politik Indonesia, yaitu: Nasionalisme Radikal, Tradisionalisme Jawa, Islam, Sosialisme demokatis, dan Komunisme. Dua aliran yang juga tidak kalah pentingnya adalah tradisionalisme Jawa dan sosialisme demokratis. Pada lima pembedaan ini PKI ditempatkan di urutan paling atas karena kesan kuat golongan komunis dibandingkan dengan golongan partai-partai besar lainnya. Kemudian ada sosialisme demokratis yang gagasannya dianggap kurang behasil dalam menempatkan diri dalam massa. Meski begitu sosialisme demokratis mempengaruhi pemimpin-pemimpin di partai-partai besar lain sepeti PNI.  

Islam menurut pembagian ini dibagi lagi menjadi dua kelompok yaitu Masyumi dan NU. Masyumi lebih bersifat refomis yang aktif berpolitik, namun NU NU merupakan aliran yang bersifat konservatif dan seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, bersifat lebih tradisional. Kemudian ada juga tradisionalisme Jawa yang mungkin dianggap sebagai sesuatu yang kontroversial. Tradisionalisme Jawa sedikit-banyak mempengaruhi selama periode pembicaraan melalui ide-idenya. Sementara PNI menempati terbesar di tengah-tengah perpolitikan Indonesia. Pembedaan aliran dalam pemikiran politik Indonesia yang sudah sedikit dijelaskan di atas, telah setidaknya memperbaiki dan memberikan pandangan yang lebih jelas dan lebih harmonis mengenai ideologi.

 

Referensi:

Feith, Herbert dan L. Castles. ed. 1988. "Pengantar", dalam Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965, Jakarta: LP3ES , pp. xiI-Ixvii 

Ir. Soekarno. 1964. "Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme", dalam Dibawah Bendera Revolusi, Jakarta: Departemen Penerangan , pp. 1-23 



Read More | Respon : 1 komentar

1 Komentar

fauzi sani putra

pada : 04 September 2013


"bagus
"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.738.074