Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

Permintaan Terhadap Rezim Internasional

02 April 2013 - dalam Rezim Internasional Oleh fyustiazari-fisip12

Pada pembahasan sebelum-sebelumnya, banyak dibicarakan mengenai hegemonic stability dalam rezim internasional. Berkaitan dengan itu, dibicarakan juga mengenai supply atau penyediaan barang-barang kebutuhan oleh negara hegemon kepada negara-negara lain yang lebih “miskin”. Pada paper kali ini, kita akan melihat rezim internasional dari sisi yang berbeda. Akan dibahas mengenai demand atau permintaan terhadap suatu rezim internasional. Bagaimana permintaan dalam rezim internasional terjadi, apa saja faktor yang mempengaruhinya, serta pengaruhnya terhadap supply.

            Pada waktu yang sudah-sudah, rezim dan kerja sama internasional selalu dipandang berkaitan dengan teori hegemonic stability yaitu mengenai peran negara hegemon terhadap jalannya suatu rezim, baik sebagai penentu aturan rezim maupun sebagai distributor kebutuhan negara-negara dunia ketiga. Namun Keohane menganggap bahwa teori tersebut mengalami kegagalan ketika teori tersebut tidak mampu menjelaskan bagaimana perubahan dalam rezim internasional serta perubahan kekuatan atau power. Karena itu Keohane (1982) menawarkan suatu penjelasan tentang supply-demand yang terjadi di dalam rezim internasional. Supply tidak akan terjadi tanpa adanya demand dan yang mempengaruhi penawaran dari suatu negara untuk mengadakan kerja sama dengan negara lain adalah permintaan atas suatu “kasus” yang harus diselesaikan secara bersama-sama.

            Dengan gagalnya teori hegemonic stability yang dikemukakan Keohane tersebut, penulis setuju bahwa rezim internasional sangat bermanfaat bagi negara untuk mencapai kepentingannya. Lalu bagaimana permintaan terhadap suatu rezim dapat terjadi? Melalui konsep constraint-choice yang diungkapkan oleh Keohane, yaitu bahwa negara-negara cenderung melakukan pilihan paksaan itulah yang membuat negara-negara akhirnya memilih untuk menggunakan rezim sebagai fasilitas kerja samanya. Rezim merupakan alat yang memberikan fasilitas kepada negara untuk “menyamakan” kepentingan. Bukan berarti rezim itu terbentuk atas dasar kepentingan negara yang sama. “Menyamakan” disini bisa dikatakan sebagai upaya untuk menyadari kebaikan bersama negara-negara yang sepakat untuk mengadakan kerjasama dalam rezim internasional. Dengan berbeda-bedanya kepentingan dan power yang dimiliki masing-masing negara, adanya kesepakatan dengan negara yang lainnya akan membantu menjembatani kepentingan-kepentingan tersebut sehingga proses pencapaiannya juga akan menjadi lebih efisien dan menekan biaya yang besar.

            Keohane dalam artikelnya menjelaskan bahwa terjadinya “supply-demand” dalam rezim internasional berjalan secara seimbang. Kebutuhan-kebutuhan negara untuk memenuhi kepentingannya melalui kerja sama akan mempengaruhi tingkat permintaan tehadap rezim itu sendiri. Dengan demikian jika dibalik, eksistensi suatu rezim juga dipengaruhi oleh banyak-sedikitnya permintaan terhadap suatu rezim. Ketika biaya yang digunakan untuk mencapai kepentingan itu besar, seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, negara akan menekan biaya dengan melakukan kesepakatan sehingga permintaan akan rezim akan terjadi.

            Informasi tidak dapat dipisahkan dari rezim. Dalam rezim tersedia informasi untuk menghindari terjadinya kecurangan yang dilakukan oleh negara-negara yang tegabung di dalamnya. Tidak hanya mengenai keadaan pemerintah negara lain dan posisinya dalam negosiasi, tetapi juga informasi mengenai evaluasi internal, niat, dan intensitas kepentingan, serta juga mengenai ketesediaan negara-negara yang tergabung untuk mematuhi aturan suatu rezim (Keohane 345-346). Selain itu komunikasi dan keterbukaan antar para peserta rezim juga diperlukan untuk menjaga efektivitas jalannya suatu rezim internasional dan menumbuhkan suatu kepercayaan.

            Melalui beberapa penjelasan di atas, penulis menyimpulkan bahwa penawaran yang terjadi dalam rezim internasional tidak lepas dari peran permintaan negara-negara yang berkepentingan. Jadi “supply-demand” disini bersifat saling seimbang dan saling melengkapi. Rezim internasional bukan hanya soal hegemonic stability melainkan juga mengenai bagaimana fungsinya dalam memfasilitasi kepentingan antar  negara-negara. Berkaitan dengan itu, permintaan yang dilakukan oleh negara-negara berkepentingan juga sama pentingnya dalam mempengaruhi eksistensi suatu rezim.

 

Referensi:

Keohane, Robert O. (1982). “The Demand for International Regimes”. Dalam Stephen D. Krasner (ed.), International Regimes, Hal. 325-355.. Cambridge University Press.

Keohane, Robert O. (2005). “Theories of the International Regimes”. Dalam Robert O. Keohane, After Hegemony Cooperation and Discord in The World Political Economy, Hal. 49-134. New Jersey.

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.761.805