Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

Rezim Internasional: Kemungkinan Kerja Sama Tanpa Negara Hegemon

27 March 2013 - dalam Rezim Internasional Oleh fyustiazari-fisip12

Negara mana yang tidak ingin memperoleh keuntungan maksimal? Tentu semua negara ingin mendapatkan keuntungan-keuntungan yang maksimal dalam mencapai kepentingan nasionalnya dalam rangka bertahan di dunia internasional. Rezim internasional, sepeti yang sudah-sudah, menambah pengetahuan kita tentang bagaimana negara-negara beinteraksi untuk mencapai tujuannya dengan membentuk kerja sama. Lebih jauh lagi, dalam paper kali ini akan dibahas mengenai beberapa pemikiran-pemikiran yang terkait dengan pemanfaatan rezim itu sendiri yaitu terutama bagaimana nagara-negara (terutama) yang berkuasa memberikan peranannya terhadap rezim dalam mencapai keuntungan bagi negaranya.

            Sebelumnya, mari melihat beberapa pemikiran yang nantinya akan berkaitan dengan itu semua. Mengenai pandangan neoliberalis, dan realis terkait tentang rezim internasional dan konsep peran negara dalam rezim internasional. (Hasenclever et al. 2000) dalam tulisannya mengungkapkan bahwa neoliberalisme menekankan bahwa peran rezim adalah untuk membantu negara menyadari adanya kepentingan bersama (common interest). Dengan begitu mereka melihat negara sebagai aktor nasional yang egois dengan hanya memikirkan keuntungan (absolut) mereka sendiri. Melalui penjelasan tersebut dapat ditangkap makna bahwa neoliberalisme percaya bahwa rezim adalah fasilitas yang membantu negara-negara untuk secara lebih efisien mencapai kepentingannya, namun negara pasti berorientasi pada keuntungan mereka sendiri sehingga negara-negara itu cenderung untuk melakukan strategi-strategi dalam mengambil manfaat dari rezim itu sendiri.

            Sementara neoliberalisme berpendapat seperti demikian, realisme memusatkan perhatian mereka soal hegemoni dan konsep power. Bagi realis, distribusi power mempengaruhi efektivitas dari suatu rezim (Hansenclever et al. 2000). Di sini mereka mempercayai adanya sistem hegemonic stability bahwa negara-negara yang hegemon memiliki peran yang dominan dalam rezim bukan hanya dalam menentukan aturan main dan jalannya rezim, melainkan  juga berperan dalam penyediaan kebutuhan negara-negara yang lebih lemah kekuasaannya. Dari penjelasan ini diperoleh jawaban tentang bagaimana peran negara-negara hegemon dalam menawarkan suatu kerja sama (dalam rezim).

            Negara hegemon sangat mempengaruhi jalannya suatu rezim, seperti yang diungkapkan Keohane (2005) dalam tulisannya bahwa aktor akan menyediakan sesuatu untuk aktor-aktor lain demi kebaikannya sendiri. Melalui kalimat tersebut dapat diinterpretasikan bahwa negara yang hegemon itu menawarkan untuk melakukan kerja sama dengan negara lain dengan misi untuk mencapai kepentingan bersama. Namun tentu saja setiap negara menginginkan keuntungan yang maksimal. Negara hegemon, dengan menyediakan kebutuhan negara lain yang lebih lemah sebenarnya juga dalam rangka mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Negara hegemon juga berperan untuk menentukan aturan main suatu kerja sama, karena itu eksistensi negara hegemon dalam suatu kerja sama – termasuk dalam rezim – diperlukan agar kerja sama berjalan lebih efisien. Dengan begitu negara hegemon tentu akan mendapatkan keuntungan yang lebih.

            Bentuk kekuasaan negara hegemon ini dapat dilihat dari pasca Perang Dunia II muncul dua kekuatan besar yaitu AS dan Uni Soviet. AS yang muncul sebagai pemenangnya dan menjadi negara adidaya dunia akhirnya memiliki kekuasaan yang sangat besar untuk melakukan pengendalian ke negara-negara lainnya. Kerja sama yang dilakukan pasca perang adalah kerja sama ekonomi. Keohane (2005) memaparkan bahwa kaum liberalis menganggap kerja sama internasional pasca perang adalah karena kepentingan interdependensi ekonomi. Kaum liberalis mempercayai bahwa permasalahan-permasalahan ekonomi yang timbul ketika PD. AS sebagai negara yang memiliki kekuatan “lebih” dalam bidang ekonomi tidak hanya mengatur negara lainnya tetapi juga memberikan supply.

Keohane (2005) juga mengungkapkan beberapa permasalahan yang diselesaikan melalui rezim pascaperang adalah: (1) Stabilitas moneter internasional. AS berperan dalam memberlakukan likuiditas yang cukup dan tidak terlalu banyak sehingga dapat terjadi stabilitas (2) Penyediaan pasar terbuka bagi barang. AS berperan dalam mengurangi tarif. (3) Akses minyak dengan harga yang stabil. AS menyediakan minyak kepada Eropa dan Jepang dari perusahaan minyak yang dikuasai AS.

Pada beberapa penjelasan di atas dapat dilihat bagaimana pengaruh negara hegemoni dalam penyelesaian masalah dalam kerja sama. Namun, meski negara hegemoni berperan besar dalam kerja sama, tanpa negara hegemon pun negara-negara dapat membuat kerja sama yaitu dengan rezim internasional. Sesuai dengan fungsi rezim yang membantu jalannya kerja sama, negara-negara tanpa negara hegemoni pun dapat melakukan kerja sama yang efisien melalui rezim.

 

Referensi:

Keohane, Robert O, (2005) “Hegemonic Cooperation in the Postwar Era”, in Robert O.

       Keohane. After Hegemony Cooperation and Discord in The World Political Economy.

       New Jersey. pp. 135-181.
Andreas Hasenclever, Peter Mayer, Volker Rittberger, 2000, “Integrating Theories of International   

      Regimes”, Review of International Studies, Vol. 26, No. 1 (Jan., 2000), pp. 3-33. 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.751.142