Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

Neorealis dan Neoliberalis: Kerjasama dalam Anarki

24 March 2013 - dalam Teoriteori Hubungan Internasional Oleh fyustiazari-fisip12

Fiqarrahmadani Yustiazari

A – 071211231017

            Waktu berjalan, dunia “bergerak maju” dalam satu garis waktu dan tentunya mengalami perubahan. Dunia yang mengalami perubahan ini menimbulkan majunya pemikiran dibandingkan dengan pemikiran sebelumnya. Realisme, yang “laris” ketika pada zaman itu keadaannya memang relevan, dianggap mampu menjelaskan berbagai fenomena yang terjadi pada saat itu. Diikuti dengan pemikiran kritis kaum liberalis yang mencoba mengoreksi beberapa poin inti dari kaum realis. Namun pada dasarnya fenomena hubungan internasional yang cakupannya luas tidak dapat dipahami dengan teori itu saja. Atas dasar mengikuti perkembangan dunia, muncul beberapa pendekatan-pendekatan baru yang lahir atas pendekatan sebelumnya, yaitu neorealisme dan neoliberalisme.

            Neorealisme dan neoliberalisme dapat dikatakan sebagai “anak-anak” dari pendekatan realis dan liberalis. Kedua pendekatan baru itu merupakan pengembangan pemikiran tentang hubungan internasional yang masih berlandaskan pada pendekatan sebelumnya. Beberapa asumsi dari pendekatan lanjutan ini masih bisa dikatakan sama, namun ada penambahan-penambahan yang masih memiliki ciri khas tersendiri. Seperti misalnya perbandingan antara pendekatan realis dan neorealis. Kedua pendekatan ini memiliki konsep sama, yaitu konsep power. Apa yang kemudian membedakan konsep power dalam realis dan neorealis. Pendekatan realis melihat power adalah soal kekuatan militer saja, tetapi lebih dari itu menurut Waltz (dalam Lamy 2001, 185) neorealis melihat power merupakan gabungan kekuatan-kekuatan yang dimiliki oleh suatu negara dan power tersebut menentukan posisi negara tersebut di dunia.

            Lamy (2001) menungkapkan asumsi-asumsi dasar mengenai neorealisme yang mengandung konsep-konsep yaitu anarki, self-interest, dan kemungkinan untuk melakukan kerja sama. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, bagaimana bisa kerja sama itu mungkin untuk dilakukan dengan situasi anarki? Sebelumnya, hal yang berbeda dapat dilihat bahwa pendekatan neorealis sudah tidak membahas sifat-sifat dasar manusia sebagai “binatang buas politik” lagi, yang menjadi poin penting yang dilihat neorealis adalah bahwa sistemlah yang mengatur pola perilaku manusia. Pada pendekatan realis juga telah dijelaskan mengenai sistem anarki bahwa negara merupakan aktor yang paling utama dalam hubungan internasional. Pendekatan neorealis ini kemudian berkembang dan menyatakan bahwa meski negara merupakan satu-satunya aktor utama dalam hubungan internasional, namun negara-negara di dunia ini hidup dalam dunia internasional sehingga untuk mencapai kepentingannya demi bertahan (survival) di dunia internasional maka diperlukan sikap kooperatif juga. Sikap kooperatif ini nantinya akan membentuk kerja sama antar negara-negara. Bagaimana konsep power kemudian dikaitkan dengan kemungkinan kerja sama ini?

            Neorealis memang masih bisa “membuka” pikirannya tentang kerja sama dengan negara-negara lainnya, namun kerja sama yang dilakukan adalah berdasarkan dari power suatu negara. Hal ini kemudian membentuk suatu kekuasaan negara-negara hegemon terhadap negara-negara yang lebih lemah. Neorealis meyakini bahwa negara merupakan aktor yang rasional, yaitu ingin mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin dan meminimalkan kerugian, karena itu strategi untuk memaksimalkan power negara tersebut menjadi sangat penting. Jadi di sini pendekatan neorealis berdasarkan konsep-konsep dasar yang diungkapkan Waltz, “membuka” pemikirannya untuk suatu negara itu meski anarki, namun masih memungkinkan adanya kerja sama.

            Pendekatan lawan dari neorealis yang muncul dengan kritik-kritiknya adalah pendekatan neoliberalis yang merupakan lanjutan dari pendekatan liberalis. Lamy (2001) juga mengungkapkan beberapa pernyataan terkait dengan asumsi-asumsi dasar neoliberalisme. Asumsi-asumsi dasar itu memuat konsep-konsep diantaranya adalah kerja sama, institusi, serta rezim. Neoliberalis pun – sama seperti neorealis – menyatakan bahwa negara memang aktor utama dalam hubungan internasional, namun aktor-aktor lain juga penting keberadaannya. Sebenarnya, neolibealis mengakui adanya kondisi anarki dalam hubungan internasional, namun neoliberalis menyatakan pula bahwa negara-negara itu penting untuk melakukan kerja sama dengan negara lainnya, dan juga meyakini bahwa adanya institusi dan organisasi selain negara itu menjadi penting.

            Neoliberalis disini menemukan bahwa dengan pentingnya kerja sama itu dibutuhkan suatu wadah atau fasilitas yang dapat menampung atau memaksimalkan keuntungan untuk negara-negara yang berkepentingan, karena itulah kemudian ada yang dinamakan rezim dan institusi internasional. Bagi neoliberalis, institusi dan rezim dibuat adalah untuk memberikan keuntungan yang maksimal kepada negara-negara yang bekerja sama untuk mencapai kepentingan mereka. Neoliberalis menawarkan konsep bahwa negara-negara akan mau menyerahkan loyalitasnya ketika institusi atau rezim tersebut memberikan keuntungan yang mutualisme bagi mereka (Lamy 2001, 190). Dengan pernyataan tersebut makan dapat dilihat di sini bahwa neorealis mempecayai bahwa kerja sama itu ditentukan oleh institusi atau rezim bukan oleh aktor karena aktor bisa saja menghancurkan apa yang menjadi tujuan awalnya ketika ia melanggar aturan dan berbuat curang dalam institusi tersebut.

            Dari sedikit penjelasan di atas, penulis menyimpulkan bahwa ada pembaharuan dari teori-teori sebelumnya yang menghasilkan teori neorealis dan neoliberalis yang kemudian bisa dibilang lebih sesuai dengan keadaan dunia sekarang ini. Neorealis yang menganggap bahwa kerja sama masih mungkin terjadi – meski tidak terlalu penting – dalam kondisi anarki yang diyakininya, dilihat sebagai pemikiran yang lebih sesuai karena dalam dunia internasional negara-negara itu tidak hidup sendiri melainkan berdampingan dengan negara lain untuk mencapai tujuannya. Sementara konsepsi neoliberalis yang menganggap penting efisiensi insitusi dalam kerja sama juga dapat dilihat sebagai yang sesuai dengan dunia sekarang ini karena institusi membantu negara untuk memaksimalkan keuntungan.

Pada intinya opini penulis mengenai neorealis dan neoliberal adalah bahwa kerja sama memang sangat diperlukan dalam praktik hubungan internasional dan memang benar adanya bahwa negara merupakan aktor utama dalam hubungan internasional yaitu sebagai yang mengambil keputusan. Negara itu sendiri yang akan mengambil langkah apakah akan ikut dalam institusi atau tidak dan negara itu sendiri yang menentukan bagaimana ia akan memaksimalkan keuntungannya dalam institusi tersebut.

 

Referensi:

Lamy, Steven L. 2001. “Contemporary Mainstream Approaches: Neo-realism and

         Neo-liberalism”, in John Baylis and Steve Smith (eds.) The Globalization of

        World Politics 2nd Edition. Oxford: Oxford University Press, pp. 182-199.



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.761.849