Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

Perspektif Realis dalam Hubungan Internasional

17 March 2013 - dalam Teoriteori Hubungan Internasional Oleh fyustiazari-fisip12

Dalam pengantar Ilmu Hubungan Internasional telah dikenal beberapa kaum besar yang mendasari lahirnya teori-teori yang dipakai untuk studi Hubungan Internasional. Salah satu perspektif paling terkenal adalah perspektif realis. Kaum realis banyak memberikan pandangan-pandangan yang sederhana yang kemudian banyak dipakai sebagai pedoman studi Hubungan Internasional. Bagaimana sebenarnya fenomena hubungan internasional dibahas dalam pendekatan realis?

            Seperti yang sudah dijelaskan pada paragraf sebelumnya, pendekatan realis merupakan salah satu pendekatan dalam hubungan internasional yang palin terkenal, paling banyak dipakai, dan paling sederhana. Kaum realis mengungkapkan pemikiran-pemikirannya yang memang banyak berdasarkan kenyataan yang terjadi di dunia sekarang ini sehingga lebih mudah dipahami dan diterima oleh banyak kalangan penstudi HI.

            Mendengar kata “realisme” bagi penstudi HI memunculkan hal-hal penting yang mendasari teori ini yaitu bawa pendekatan realis tidak jauh-jauh dari kata-kata anarki, konflik, dan watak manusia yang egois. Menurut pendekatan realis, aktor hubungan internasional yang paling berperan adalah negara. Keadaan dimana tidak ada kekuasaan tertinggi di atas negara disebut sebagai anarki. Prinsip anarki ini dipegang teguh oleh kaum realis sehingga mereka berpendapat bahwa yang paling menentukan posisi negara di ranah dunia internasional adalah negara itu sendiri. Bagaimana negara dapat memaksimalkan power yang dimilikinya untuk mencapai kepentingan nasional negara tersebut akan menentukan pertahanan negara tersebut di dalam sistem internasional. Konsep seperti yang telah dijelaskan di atas tentu sudah tidak asing bagi para pelajar yang telah atau sedang belaja tentang Hubungan Internasional.

            Morgenthau (dalam Burchil & Linklater 1996, 100-103), mengungkapkan enam prinsip-prinsip yang dipegang berdasarkan pendekatan realis berkaitan dengan fenomena hubungan internasional. Pendapat-pendapat tersebut antara lain adalah:

  1. Politik ditentukan oleh hukum-hukum obyektif berdasarkan yang berakar pada kodrat manusia.
  2. Kunci untuk memahami politik internasional adalah mendefinisikan konsep konsep kepentingan dalam kaitannya dengan kekuasaan.
  3. Bentuk dan sifat kekuasaan negara berbeda-beda dalam waktu, tempat, dan konteks, tetapi konsep kepentingan masih tetap sama.
  4. Prinsip-prinsip moral universal tidak menuntun sikap negara, meski sikap negara jelas akan memiliki implikasi moral dan etika.
  5. Tidak ada serangkaian prinsip-prinsip yang disetujui secara universal
  6. Secara intelektual, bidang politik itu otonom dari setiap bidang perhatian manusia lainnya, entah bidang-bidang yang lain tersebut bersifat legal, moral, atau ekonomi.

Penulis ingin menjelaskan masing-masing poin dari masing-masing prinsip yang dikemukakan Morgenthau di atas. Pada prinsip nomor satu, yaitu mengenai hubungan antara politik dan kodrat manusia. Politik di sini adalah tentu saja politik internasional. Kodrat manusia seperti apakah yang kemudian dapat mempengaruhi politik internasional? Kaum realis memberikan pandangan pesimisnya terhadap manusia. Menurut pendekatan realis, manusia merupakan “makhluk buas politik” yang bersifat egois. Dengan sifat egois manusia tersebut, manusia memiliki kecenderungan untuk menguasai satu sama lain. Hal inilah yang kemudian dianggap sebagai pemicu konflik dalam politik internasional atau sistem internasional. Bisa diambil contoh ketika pasca Perang Dunia II, muncul dua kekuatan besar yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Kedua negara telah muncul menjadi kekuatan yang besar lebih besar daripada negara-negara lain, namun itu tidak membuat mereka puas, kedua negara tersebut akhirnya terlibat perang dingin hingga akhirnya memunculkan Amerika Serikat sebagai negara adidaya.

Selanjutnya mengenai poin kedua dan ketiga yang sebenarnya saling berkaitan, mengenai hubungan antara power dan kepentingan nasional. Poin kedua menjelaskan bahwa kepentingan nasional dari tiap-tiap negara dapat dicapai melalui modal yang dimiliki. Modal tersebut adalah power atau kekuatan dari negara tersebut. Bagaimana suatu negara menggunakan modal itu sebaik-baiknya menjadi hal yang kemudian dapat sangat menentukan. Diperjelas pada poin ketiga bahwa kekuatan yang dimiliki oleh suatu negara berbeda-beda, namun konsep kepentingan itu tetap sama. Dengan kapasitas angkatan bersenjata yang berbeda, misalnya, Indonesia dan Malaysia memiliki kebutuhan survival  yang sama di dunia internasional. Kembali lagi seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa kemampuan untuk memaksimalkan kapasitas kekuatan yang dimiliki menjadi sangat berpengaruh.

Morgenthau menjelaskan juga pada prinsip keempat dan kelim bahwa untuk mencapai tujuannya dalam praktik hubungan internasional, moral merupakan hal yang tidak diperhitungkan. Negara memang pihak yang dianggap paling penting dalam sistem internasional bagi kaum realis, namun keadaan yang terjadi di dalam negara itu sendiri dianggap tidak penting. Keadaan di dalam suatu negara tertentu misalnya kerusakan lingkungan, krisis pangan, krisis energi, dan lain-lain akan menjadi penting apabila hal-hal yang telah disebutkan di atas akan mempengaruhi, baik menguntungkan atau merugikan terhadap sistem internasional. Hal yang telah dijelaskan di atas menunjukkan bahwa nilai-nilai moral menjadi dinomorsekiankan atau bahkan tidak diperhatikan dalam praktik hubungan internasional. Bagaimana mengoptimalkan power suatu negara untuk mencapai kepentingan nasional merupakan suatu hal yang lebih penting bahkan jika harus mengabaikan nilai-nilai moral.

Hal-hal esensial yang sebenarnya menjadi fokus utama dan esensial dari pendekatan realis adalah mengenai konsep statisme, survival atau pertahanan, dan self help. Statisme merupakan konsep mengenai negara sebagai aktor utama dalam hubungan internasional dan yang paling menentukan nasib negara itu sendiri. Negara, sebagai aktor utama, harus mengusahakan agar negara tersebut bertahan dalam sistem internasional yang memiliki potensi konflik, dengan cara terus menambah kekuasaannya serta terus mengembangkan dan menggunakan potensi yang telah dimilikinya dengan sebaik-baiknya. Negara pada dasarnya melakukan upaya-upaya dalam sistem intenasional adalah untuk membantu dirinya sendiri (self help) untuk terus bertahan dengan kekuatan yang dimilikinya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pendekatan realis ini melihat kenyataan yang ada bahwa memang negara-negara satu sama lain pada dasarnya ingin terus bertahan dalam sistem internasional. Dengan segala kekuatan yang dimiliki, keinginan untuk saling menguasai selalu ada.

 

Reference:

Burchill, Scott &Andrew Linklater. 1996. Theories of International Relations. New York: ST Martin’s Press, INC.



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.738.657