Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

The Future of International Relations

14 December 2012 - dalam Pengantar Hubungan Internasional Oleh fyustiazari-fisip12

Sudah banyak sekali dibahas dalam sejarah bahwa Studi Hubungan Internasional melalui perdebatan-perdebatan besarnya, mengalami banyak perkembangan. Dunia yang berkembang menjadi dasar berkembangnya Studi Hubungan Internasional yang pada hakikatnya selalu perlu dikembangkan sesuai dengan perkembangan dunia. Pertanyaan yang banyak muncul kemudian adalah: bagaimana masa depan Hubungan Internasional? Melihat kenyataan yang ada bahwa dunia sedang mengalami globalisasi dan perkembangan yang sangat pesat.

            Menurut Guzzini (1992), Hubungan Internasional, telah bertahan dari banyak sekali krisis yang tidak pernah selesai (Leander, 1997: 174). Memang tidak dapat dipungkiri lagi bahwa perkembangan dunia yang begitu pesat membawa dampak krisis dan membuat Hubungan Internasional mengalami perdebatan berkali-kali karenanya Studi Hubungan Internasional juga perlu direkontruksi menghadapi perkembangan zaman ini. Menurut Onuf (1989) rekontruksi Hubungan Internasional mensyaratkan bahwa disiplin tersebut harus dilepas dari tuntutan saat ini namun bukan berarti menyerah pada Hubungan Internasional (Wind, 1997: 255).

            Globalisasi, sebagai fenomena yang paling menandai adanya perkembangan dunia ini dengan cepat, telah sedikit-banyak mengubah pemikiran tentang Studi Hubungan Internasional. Batas-batas negara yang seolah melebur membuat kebudayaan manusia juga berubah dan dunia mengarah kepada liberalisme yang membuat apa-apa menjadi semakin bebas. Fenomena globalisasi yang pada hakikatnya telah berdampak pada seluruh aspek kehidupan seperti ekonomi, politik, dan sosial budaya, menimbulkan masalah-masalah yang juga luar biasa kompleksnya. Tidak hanya masalah perang antarnegara tetapi juga masalah-masalah mengenai praktek ekonomi, kesehatan internasional, bahkan budaya juga akhirnya menjadi kajian dalam Studi Hubungan Internasional di masa sekarang ini.

            Beberapa hal menyebabkan Studi Hubungan Internasional perlu di rekonstruksi untuk saat ini dan masa depan. Globalisasi salah satunya berdampak pada perilaku masyarakat dan sistem pemerintahan suatu negara. Adanya globalisasi menghasilkan perubahan sistem pemerintahan yang otoriter menjadi lebih demokratis. Peran rakyat juga diperlukan untuk menjalankan pemerintahan. Rakyat menjadi lebih kritis dalam partisipasi demokratis. Krisis pada legitimasi kekuasaan juga berdampak kepada sistem internasional. Peran Studi Hubungan Internasional untuk memecahkan masalah ini adalah penting (Leander, 1997: 155).

Studi Hubungan Internasional kaitannya dengan permasalahan globalisasi bukan melulu mengenai hubungan antarnegara, tetapi juga mengenai bagaimana bertahan pada dampak globalisasi tersebut dan mencari cara untuk mengurangi dampak globalisasi dalam hal ini adalah krisis legitimasi. Karena itu mempelajari Hubungan Internasional berarti juga mempelajari politi. Pengetahuan akan politik mutlak sangat penting untuk kajian Hubungan Internasional.

Klaim bahwa negara bukan lagi satu-satunya aktor utama dalam hubungan internasional masih kontroversial, namun asumsi bahwa negara (terutama dalam era global seperti ini) berperan kecil tetapi memiliki dominasi yang sangat besar kemudian menjadi sesuatu yang patut diperdebatkan (Leander 1997, 170). Dalam era global saat ini, meski banyak multinational coorperation yang bermunculan sebagai aktor hubungan internasional dengan kekuatan yang besar, namun peran negara dirasa juga masih mendominasi dalam praktik interaksi antarnegara. Dapat dikatakan bahwa Studi Hubungan Internasional di masa depan masih akan melibatkan negara sebagai aktor utama dalam hubungan internasional.

            Permasalahan peran state sebagai salah satu aktor hubungan internasional bukan hanya satu-satunya masalah yang nantinya akan muncul pada praktik interaksi antarnegara di masa depan. Semakin bebasnya segala aspek kehidupan di dunia ini akan menimbulkan masalah yang kian kompleks. Kemudian pemahaman dan analisis masalah internasional saja tidak cukup untuk menghadapi perubahan dunia yang demikian cepat. Walker menyarankan adanya dekonstruksi Studi Hubungan Internasional secara strategis, artinya Studi Hubungan Internasional tidak melulu dikaji menurut pandangan realisme dan neorealisme (Hansen, 1997: 340). Negara memang masih berperan penting dalam hubungan internasional, namun ada baiknya melakukan pemikiran kritis dan strategis untuk tidak selalu melihat pandangan kaum realis yang percaya pada adanya sistem anarki.

            Terorisme dan konflik masih akan menjadi kajian penting dalam Studi Hubungan Internasional. Persaingan yang begitu bebas bukan tidak mungkin akan menimbulkan konflik antar negara-negara sebagai aktor dari hubungan internasional. Karena itu salah satu hal yang masih harus terus dikaji dalam Studi Hubungan Internasional adalah keteraturan dan keamanan internasional (Neumann, 1997: 394). Keamanan dunia merupakan aspek yang sangat vital dalam praktik interaksi antarnegara terutama dalam persaingan yang semakin bebas ini.

Perdamaian dunia bagaimanapun merupakan hal yang selalu didambakan oleh masyarakat internasional. Hubungan Internasional kini bukanlah menjadi istilah yang tabu lagi dalam kancah pendidikan dunia. Secara awam banyak yang melihat prospek pembelajaran HI sangat jelas, kajiannya mengenai politik, sistem hubungan dunia internasional, konflik internasional, dll. Namun kenyataannya dalam kubu internal hubungan internasional sendiri mencatat banyak perdebatan yang kemudian memperkaya berbagai perspektif dan paradigma dalam kelimuan HI itu sendiri. Seperti The Great Debates yang terjadi antara realisme vs liberalisme, tradisionalis vs behavioralis, hingga positivisme vs pospositivisme.

Dari satu contoh ini saja dapat mewakili sebuah pertanyaan bagaimana pelajar harus mempelajari sebuah ilmu yang masih dalam perdebatan. Padahal di sisi lain, berbagai fenomena dalam hubungan internasional mau tidak mau menuntut kita untuk mengkajinya secara lebih jauh, memberikan perspektif, menjelaskan berbagai fenomena tersebut, sampai harus memberikan solusinya.

            Hal ini didukung pula dengan berbagai argumen yang berpendapat bahwasannya studi Hubungan Internasional tidak mempunyai standar atau pakem yang jelas untuk digunakan sebagai sebuah pegangan atau dengan kata lain hubungan internasional tidak memiliki dasar ilmiah yang jelas dimana terkadang satu istilah mengenai nationalism saja tidak memiliki definisi tunggal. Bahkan scholars pun diberi kebebasan untuk mendefinisikan istilah-istilah yang menjadi kajian dalam hubungan internasional sendiri tergantung dari perspektif mana kita memandangnya. Alhasil, muncullah istilah disabling discpline untuk ilmu Hubungan Internasional.

            Selain itu, banyaknya teoris dan ilmuan Hi yang berasal dari Eropa mengakibatkan HI cenderung berkiblat pada penstudi Eropa. Bahkan kebanyakan acuan/pedoman historis inipun akan diambilkan dari berbagai fenomena yang terjadi di Eropa atau hal ini sering disebut sebagai Eropa sentris.

Hal ini dapat di buktikan dalam buku “A Disabling Discipline” : In large part, the story of international relations has been told as the internationalization of a system of thought and practice that arose within Europe , the Foundational event being Westphalia. (Darby, Phillip. 2008 : 95 ). Masyarakat dunia menganggap HI berdiri sendiri dan mengesampingkan aspek historis dan hanya berfokus pada hubungan antar negara, konflik, dan berbagai permasalahan di dalamnya. Sedangkan seperti yang dikemukakan berbagai teori dan paradigma telah ditawarkan dalam studi HI, dan fokus kajiannya pun kini semakin meluas mencakup isu-isu lingkungan, Hak Asasi Manusia, gender, ekonomi, dan sebagainya. Hal ini pula yang semakin menguatkan ketidakjelasan dan kekaburan akan keilmuan Hubungan Internasional. Maka dapat dikatakan dengan mempelajari ilmu Hubungan Internasional sama dengan mempelajari berbagai teori dari ilmu lain yang dikemas dalam sebuah bentuk disiplin ilmu dan hal inilah yang menjadi sangat menarik dalam studi Ilmu Hubungan Internasional.

 

 

Referensi:

Darby, Phillip (2008) “A Disabling Discipline?” in Reus-Smit, Christian & Snidal, Duncan (eds.), The Oxford Handbook of International Relations, Oxford University Press, pp. 94-108.

Leander, Anna. (1997) “Bertrand Bardie: cultural diversity changing international relations?” in Neumann, Iver B. & Ole Waever (eds.,) The Future of International Relations, Rouledge

Wind, Marlene. (1997) “Nicholas G. Onuf: the rules of anarcy,” in Neumann, Iver B. & Ole Waever (eds.,) The Future of International Relations, Rouledge.

Hansen, Lene. (1997) “R.B.J. Walker and International Relations: deconstructing a discipline,” The Future of International Relations, Rouledge

Neumann, Iver B. & Ole Waever (eds.,) . ( 1997 ) The Future of International Relations, Rouledge.

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.751.172