Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

The Great Debate - Positivism vs Postmodernism

14 December 2012 - dalam Pengantar Hubungan Internasional Oleh fyustiazari-fisip12

Dalam perjalanan sejarahnya, seperti yang sudah kita ketahui, hubungan internasional mengalami beberapa kali perdebatan yang sebenarnya pada hakikatnya adalah untuk menentukan apa dan bagaimana studi hubungan internasional itu sendiri. Kita telah mengenal perdebatan-perdebatan besar yang terjadi selama era-era perang. Perdebatan-perdebatan besar tersebut ternyata berlanjut hingga masa sekarang ini yang pada dasarnya sedang menuju perkembangan ke era global. Perdebatan besar yang terjadi hingga masa sekarang ini adalah perdebatan yang terjadi antara kaum positivis dan posmodern.

            Perdebatan besar ini pada hakikatnya adalah mengenai metodologi dalam studi HI. Dalam sebuah perdebatan tentu saja terdapat berbedaan paham atau pandangan antara kedua belah pihak. Kaum positivis dengan tokohnya yaitu August Comte, yang sebelumnya juga pernah mengalami perdebatan besar dengan kaum tradisionalis memiliki asumsi bahwa dalam pemahaman terhadap hubungan internasional dan pengkajian masalah-masalah di dalamnya dibutuhkan referensi empiris dan diperlukan dukungan dari data-data yang akurat. Metodologi yang dilakukan oleh kaum positivis adalah berupa metodologi kuantitatif yang pada hakikatnya adalah berupa teknik pengumpulan data dan pengukuran serta penetapan prosentase yang tepat dalam pengujian sejarah (Jackson & Sorensen, 1999). Mereka beranggapan bahwa kebiasaan-kebiasaan yang diulang-ulang saja tidak dapat menentukan kebenaran suatu sejarah. Pemikiran secara empirik dan rasional merupakan metodologi yang digunakan dalam membuktikan suatu kebenaran.

            Sementara kaum positivis beranggapan obyektif mengenai metodologi studi HI, kaum postmodern, dengan teoritisinya yang bernama Richard Ashley, berpikiran sebaliknya. Mereka memiliki praduga tersendiri tentang kebenaran dan menjadikan mereka adalah kaum yang dekonstruktivis yaitu membongkar elemen-elemen yang berubah-ubah dalam naratif termasuk metanaratif (Jackson & Sorensen, 1999). Kaum posmodern berasumsi bawa hubungan internasional bukanlah sesuatu yang dapat dilihat secara ilmiah, melainkan merupakan studi yang bersifat sosial yang akan terus berkembang seiring dengan perkembangan manusia dan perkembangan dunia. Mereka menolak asumsi bahwa kebenaran dalam hal ini mengenai studi HI dapat dianalisis secara ilmiah karena manusia mengalami kemajuan yang universal. Kaum posmodern tidak melihat ada kebenaran yang mutlak dalam studi HI. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, hal ini disebabkan karena menurut kaum posmodern, ilmu Hubungan Internasional bukan merupakan ilmu pasti, sifatnya dinamis dan akan mengalami perubahan seiring dengan perkembangan dunia dan manusia.

            Perdebatan-perdebatan besar yang mewarnai hubungan internasional pada hakikatnya lahir dari pemikiran kritis dari para teoritisi yang melihat hubungan internasional dengan mengaitkannya dengan gejala-gejala internasional yang terjadi pada perkembangan dunia yang juga semakin cepat ini. Perdebatan-perdebatan yang terjadi tentunya melahirkan teori-teori penting dalam hubungan internasional. Teori-teori baru bisa saja bermunculan darimana saja asal dapat dipertanggung jawabkan. Dari beberapa perspektif itulah kemudian kita dapat melihat atau setidaknya memiliki gambaran tentang bagaimana kita melihat hubungan internasional sebagai sebuah studi.

 

Referensi:

Jackson, Robert & Georg Sorensen. 1999. Introduction of International Relations. New York: Oxford University Press.

 



Read More | Respon : 1 komentar

1 Komentar

eres

pada : 18 January 2013


"bagus...bagus..artikel2 yang menarik..!"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.758.924