Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

The Great Debates

29 November 2012 - dalam Pengantar Hubungan Internasional Oleh fyustiazari-fisip12

Fiqarrahmadani Yustiazari

A – 071211231017

            Dalam sejarahnya, studi Hubungan Internasional mengalami perbedaan dalam hal asumsi dan pemahamannya oleh para penganut berbagai macam paham. Dari berbagai sudut pandang hubungan internasional dilihat dari pemahaman yang berbeda-beda sehingga muncul banyak teori berbeda dari para ahli. Oleh sebab itu lah, meski tidak dalam satu arena debat yang formal, munculah perdebatan besar oleh beberapa ahli hubungan internasional atau yang dikenal dengan istilah The Great Debates.

            The Great Debate yang pertama berlangsung antara kaum realis dan liberalis. Perdebatan ini terjadi sekitar tahun 1920 sampai dengan 1950an. Pada perdebatan ini dibahas mengenai bagaimana seharusnya negara-negara di dunia ini melakukan interaksi dengan negara lain serta bagaimana seharusnya hubungan internasional itu sendiri berlangsung. Tentu saja terdapat perbedaan teori yang dianut oleh masing-masing kaum. Antara kaum realis dan liberalis memiliki teori mereka sendiri yang saling bertolak belakang.

            Kaum realis mengasumsikan bahwa hubungan internasional merupakan tujuan dari suatu kekuatan. Negara merupakan aktor dengan kekuatan yang utama dan paling besar sehingga harus melindungi rakyat yang tinggal di dalamnya. Para tokoh dari kaum realis seperti Morgenthau, Thucydides, dan Hobbes setuju bahwa manusia memang memiliki sifat dasar yang serakah dan ingin saling mendominasi serta menguasai. Dengan asumsi dasar tersebut, maka kaum realis berpendapat bahwa hubungan internasional dalam praktiknya yaitu interaksi antarnegara adalah mengenai konflik. Suatu permasalahan selalu akan diselesaikan dengan perang. Sedangkan berbeda dengan kaum realis, kaum liberalis melihat hubungan internasional dari sudut pandang berbeda. Hubungan internasional dilihat dalam cakupan yang lebih luas. Menurut kaum liberalis, aktor yang kuat dalam hubungan internasional bukan hanya negara saja, melainkan juga individu-individu dan kelompok-kelompok non-negara. Kaum liberalis percaya bahwa manusia mengalami perkembangan dan memiliki kemampuan untuk juga ikut berpartisipasi dalam praktik interaksi antarnegara dan ikut menenentukan negara tersebut di mata internasional. Kaum liberalis juga percaya bahwa selalu ada jalan damai untuk menyelesaikan masalah-masalah yang timbul akibat adanya interaksi antarnegara.

            Pada dasarnya, perbedaan asumsi dari kaum realis dan liberalis adalah yang pertama mengenai aktor utama yang terlibat dalam hubungan internasional. Kedua, sudut pandang mengenai apa sebenarnya konteks dari hubungan internasional itu sendiri. Dan ketiga, bagaimana seharusnya penyelesaian masalah-masalah yang timbul dari hubungan internasional. Tidak ada istilah menang dan kalah dalam The Great Debate (Dugis, 2012), namun keadaan dunia saat itu memang dirasa lebih cocok dengan pemikiran kaum realis. Karena itu kaum realis dengan asumsi-asumsinya tersebut akhirnya lebih mendominasi perdebatan ini.

            Kemudian The Great Debate yang kedua yang terjadi antara tahun 1950 sampai dengan 1970 melibatkan kaum tradisionalis dan positivis. Perdebatan ini membahas mengenai metodologi hubungan internasional. Terdapat dua pendapat saling berlawanan dari kedua belah pihak. Kaum tradisionalis berasumsi bahwa peristiwa-peristiwa hubungan internasional murni dapat dilihat dari sejarah-sejarahnya. Tanpa melakukan penelitian formal pun sudah dapat dilihat gejala hubungan internasional dari sejarah. Pendapat itu disangkal oleh kaum positivis yang beranggapan bahwa hubungan internasional memerlukan metodologi yang formal untuk melihat gejala-gejalanya.

            Dalam perdebatan ini tidak ada pihak yang mendominasi. Keduanya saling melengkapi teori masing-masing. Hubungan internasional memang berasal dari sejarah yang praktiknya sudah lama ada. Namun penelitian ilmiah tentang sejarah-sejarah tersebut juga perlu dilakukan untuk memperoleh informasi yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

            Dengan demikian, pada hakikatnya The Great Debate adalah mengenai apa dan bagaimana seharusnya hubungan internasional itu dipahami. Perdebatan-perdebatan tersebut merupakan mayor perspective studi Hubungan Internasional yang selanjutnya (Dugis, 2012). Dengan mengetahui berbagai asumsi dasar dari berbagai kaum, perspektif terhadap hubungan internasional pun akan menjadi semakin luas serta dimungkinkan akan muncul teori-teori baru yang bisa menjadi perdebatan baru terutama dalam kondisi dunia yang semakin kompleks sekarang ini.

Referensi:

Jackson R., & Sorensen, G. (1999) Introduction to International Relations, Oxford University Press.

Dugis, Visensino. 2012. The Great Debates in International Relations. Kuliah Pengantar Ilmu Hubungan Internasional Universitas Airlangga 26 November 2012.

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.767.907