Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

The Great Debates in International Relations

23 November 2012 - dalam Pengantar Hubungan Internasional Oleh fyustiazari-fisip12

Dalam perjalanannya, ilmu Hubungan Internasional disusun oleh teori-teori yang terus berkembang bahkan dengan latar belakang pemikiran yang berbeda-beda. Begitu juga dengan fenomena-fenomena hubungan internasional yang sangat beragam dan bersifat dinamis telah memunculkan gagasan-gagasan yang berasal dari sudut pandang yang berbeda dari para pemikir Hubungan Internasional. Perdebatan-perdebatan ini muncul dalam berbagai aspek pemikiran menurut perkembangan zamannya.

Perdebatan dalam Hubungan Internasional pada hakikatnya perdebatan mengenai apa, mengapa dan bagaimana gagasan mengenai fenomena hubungan internasional yang telah terjadi, sedang terjadi, atau akan terjadi di masa depan. Suatu cerita konvensional bagaimana sistem hubungan internasional telah berkembang melalui suatu seri fase: idealis, realis, behavioralis, pasca-behavioralis, pluralis, neorealis, neoliberalis, rasionalis, pasca-positivis, dan kontrkutivis. Berbagai teori ini muncul sebagai suatu sarana untuk mencari kebenaran mana yang paling relevan untuk diletakkan di urutan pertama dan The Great Debates adalah suatu istilah yang tepat untuk digunakan dalam hal ini. Jadi menurut kami, The Great Debates adalah perdebatan besar yang terjadi antara paham-paham dalam kehidupan internasional. Ada tiga perdebatan besar (great debate) sejak HI menjadi subjek akademik di akhir perang dunia hingga sekarang, dan sekarang kita sedang berada pada tahap awal perdebatan besar yang keempat (Jackson & Sorensen, 1999 : 45).

The Great Debate yang pertama yang terjadi antara periode 1920 sampai dengan 1950an melibatkan kaum-kaum dari realisme dan liberalisme yang membahas tentang substansi Hubungan Internasional dan bagaimana cara menyelesaikan peperangan dan menciptakan perdamaian. Pada saat itu perang merupakan hal yang dianggap tidak dapat dihindarkan karena sistem internasional belum tertata secara baik. Kaum realis memfokuskan pandangannya dilihat dari sudut pandang negara saja. Pendapat mereka tentang negara dan hubungannya terhadap luar negeri cenderung pesimis. Mereka berpendapat bahwa negara merupakan aktor utama dan yang paling penting dalam hubungan internasional. Terdapat sistem anarki, yaitu tidak ada kekuasaan tertinggi lagi diatas negara itu sendiri. Negara merupakan satu-satunya yang harus berkekuatan besar dan tidak boleh terlihat lemah untuk melindungi rakyatnya.

Berdasarkan pendapat dari berbagai tokoh dari kaum realis klasik, seperti Machiavelli, Thucydides, dan Hobbes dapat ditarik suatu pernyataan bahwa mereka setuju bahwa kondisi manusia cenderung tidak aman dan tidak bisa jauh dari konflik. Kondisi manusia tidak dapat terhindarkan dan tidak ada pelarian akhir karena kondisi ini memang permanen. Mereka juga menyetujui tentang adanya kumpulan pengetahuan dan kebijaksanaan untuk mengatasi masalah-masalah keamanan tersebut (Jackson & Sorensen, 1999: 99). Morgenthau, salah seorang tokoh realis terkemuka abad duapuluh mengatakan bahwa apapun tujuan akhir dari kepentingan manusia, kekuasaan merupakan tujuan terpentingnya (Jackson & Sorensen, 1999: 88). Ia juga membungkus teori HI-nya dalam “enam prinsip realisme politik”, yaitu:

-   Politik berakar dari sifat manusia yang permanen dan tidak berubah yang pada dasarnya mementingkan dirinya sendiri.

-   Politik adalah “wilayah tindakan otonom” sehingga para pemimpin negara seharusnya bersikap sesuai dengan petinjuk kebijaksanaan politik.

-   Kepentingan pribadi adalah fakta dari kondisi manusia, yaitu seluruh rakyat memiliki minat yang rendah terhada memperjuangkan keamanan dan kelangsungan hidupnya. Politik adalah arena untuk memperjuangkan kepentingan yang dapat berubah-ubah. Realisme adalah doktrin yang menjawab fakta atas doktrin dari realitas politik yang berubah.

-   Para pemimpin tidak memiliki tanggung jawab yang sama dengan rakyat atas pelaksanaan negara melainkan memiliki tanggung jawab yang besar atas perlindungan terhadap rakyat.

-   Kaum realis menentang pandangan bahwa bangsa-bangsa tertentu dapat memaksakan ideologinya terhadap bangsa lain karena akan mengganggu keamanan internasional.

-   Seni bernegara merupakan aktivitas yang sederhana dan cenderung membosankanyang menimbulkan kesadaran atas keterbatasan manusia (Jackson & Sorensen, 1999: 103).

Jadi, pandangan kaum realis adalah mengenai pemikiran pesimistis bahwa manusia atau tiap-tiap individu yang tinggal dalam suatu negara tidak dapat dikatakan selalu aman sehingga negara harus memiliki kebijaksanaan dan kekuatan yang besar serta kekuasaan untuk melindungi rakyat mereka dari ancaman bahaya luar negeri. Pemikiran ini berhasil membuat kaum realis berada di posisi yang lebih dominan pada perdebatan besar ini.

Berbeda dengan pemikiran pesimistis kaum realis, kaum liberalis memiliki pemikiran yang optimistis mengenai kelangsungan bernegara dalam konteks Hubungan Internasional. Menurut kaum liberal, negara bukan merupakan satu-satunya kekuatan tunggal dalam kehidupan politik internasional. Kaum liberal memfokuskan pandangannya bukan hanya pada negara melainkan juga pada individu-individu yang juga kompeten dalam memperoleh keuntungan untuk negara dalam praktik hubungan internasional. John Locke di abad ketujuhbelas menemukan potensi yang besar bagi kemajuan manusia dalam civil society dan perekonomian kapitalis modern, keduanya dapat berkembang dalam negara-negara yang menjamin kebebasan individu (Jackson & Sorensen, 2009: 140). Argumen kaum liberal mengenai pendangannya dibagi menjadi empat aliran berbeda, yaitu:

-   Liberalisme sosiologis: HI bukan hanya mempelajari hubungan antara pemerintah saja melainkan juga mempelajari antara individu, kelompok, dan masyarakat swasta. Hubungan antar rakyat bersifat lebih korporatif daripada hubungan antar pemerintah saja.

-   Liberalisme interdepedensi: Modernisasi meningkatkan tingkat interdepedensi di antara negara-negara. Aktor-aktor transnasional semakin penting, kekuatan militer adalah instrument instrumen yang kurang berguna.

-   Liberalisme institusional: Institusi memajukan kerja sama di antara negara-negara dan mengurangi permasalahan yang berkenaan dengan ketiadaan kepercayaan antara negara-negara dan mereka mengurangi ketakutan satu sama lain.

-   Liberalisme republikan: Negara-negara demokrasi tidak berperang satu sama lain. Hal itu disebabkan pada budaya domestiknya atas penyelesaian konflik secara damai (Jackson & Sorensen, 1999: 177).

Jadi, kaum liberalis berasumsi bahwa tidak ada sistem anarki dalam hubungan internasional. Negara bukanlah satu-satunya aktor dengan kekuatan yang paling besar yang menetukan posisinya di mata internasional. Keberadaan individu-individu serta aktor non negara lainnya juga sangat menentukan posisi negara di mata dunia internasional.

Setelah itu mucul perdebatan besar yang lainnya. Antara kaum tradisionalis dan kaum positivis. Perdebatan besar ini terjadi antara tahun 1950 sampai dengan tahun 1970an. Perdebatan ini adalah mengenai metodologi yang digunakan dalam Hubungan Internasional. Kaum tradisionalis cenderung memiliki pemikiran bahwa studi HI merupakan subjek kemanusiaan yang berdasarkan etika dan moralitas. Kebenaran merupakan sesuatu yang terdapat dalam diri manusia itu sendiri. Pendekatan yang diungkapkan kaum tradisionalis adalah bahwa dalam hubungan internasional tidak memiliki metodologi yang eksplisit. Menurut Bull, salah satu tokoh tradisionalis pendekatan histori pada studi HI berakar dalam filsafat, sejarah, dan hukum, dan dicirikan “terutama dengan mendasarkan secara eksplisit atas pelaksanaan penilaian (Jackson & Sorensen, 1999: 59). Tradisionalisme tidak mengenal perangkat penelitian yang bersifat formal serta tidak mengenal hipotesis dan pengujiannya karena kaum tradisionalis berpikir bahwa kebenaran ada dalam diri manusia itu sendiri.

Sebaliknya, kaum positivis mengenal adanya metodologi penelitian terhadap studi Hubungan Internasional. Mereka tidak setuju dengan pendapat bahwa studi HI hanya dapat dilihat dari konsep etika dan moralitas saja. Karena studi HI melibatkan nilai-nilai, sedangkan nilai-nilai tidak bisa dipelajari secara objektif. Menurut kaum positivis penekanan pengamatan dan pengalaman merupakan hal yang penting untuk menyusun karya ilmiah dalam hal ini tentang hubungan internsional. Vasquez, yang merupakan salah satu tokoh dari posivitis mengungkapkan bahwa teori yang empiris memiliki kriteria-kriteria tertentu dan tidak hanya berdasarkan kebenaran yang sudah ada. Karena kebenaran pun perlu diuji dan diverifikasi agar akurat. Perdebatan ini tidak memunculkan salah satu paham sebagai yang mendominasi.

Dengan demikian perkembangan teori-teori dalam studi HI sangat ditentukan oleh The Great Debates yang telah terjadi sepanjang sejarah bahkan hingga saat ini. Perkembangan dunia yang terus berjalan membuat teori-teori tentang studi HI semakin banyak bermunculan. Cara penerapan studi HI kemudian menjadi pembahasan yang penting seiring dengan perkembangan dunia yang akan menimbulkan masalah-masalah internasional yang semakin kompleks.

 

Referensi:

Jackson R., & Sorensen, G. (1999) Introduction to International Relations, Oxford University Press.

Goldstein, Joshua S. (2005) International Relations, Pearson/Longman [pp. 101-111].

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.761.812