Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

Konstelasi Sistem Internasional, Aktor, dan Isu pada Perang Dunia, Perang Dingin, hingga post 9/11 dalam Konteks dan Relevansi terhadap studi HI

20 November 2012 - dalam Pengantar Hubungan Internasional Oleh fyustiazari-fisip12

Perang dingin yang terjadi setelah perang dunia akibat keinginan memperluas kekuasaan oleh Amerika Serikat dan Uni Soviet berakhir dengan kemenangan Amerika Serikat sebagai negara superpower. Dengan berakhirnya perang dingin, maka ada suatu masa yang disebut dengan masa pasca perang dingin. Di sini Amerika Serikat sebagai pemenang memegang peranan sebagai actor utama.  Para ahli mengungkapkan pendapatnya terhadap sistem internasional yang muncul setelah perang dingin berakhir.

Era baru dalam studi Hubungan Internasional dimulai saat Perang Dunia 1 hingga tragedi 9/11. Sejarah dimulai dari Perang Dunia 1 (1914-1918) yang melibatkan sebagian besar negara Eropa. Kemudian perang ini menjalar ke daerah sekitarnya. Sebelum Perang Dunia 1 meletus, sebagian negara-negara di Eropa sebelumnya telah mengalami perselisihan. Perselisihan tersebut dilatarbelakangi oleh beberapa faktor, yakni pertentangan antarnegara di Eropa −Jerman versus Perancis, Inggris, Rusia dan Rusia versus Austria−, munculnya sistem aliansi politik −Triple Alliance (Jerman, Austria-Hungaria, dan Italia) dan Triple Entente (Perancis, Inggris, dan Rusia)−, perlombaan persenjataan, pengaruh Darwinisme Sosial, dan krisis Juli 1914 –krisis rempah-rempah dan tembakau di kota Bremen dan Hamburg, Jerman. 

Faktor-faktor di atas merupakan sebab umum meletusnya perang ini. Sedangkan sebab khususnya adalah karena penembakan Pangeran Austria, Franz Ferdinand beserta istrinya oleh seorang nasionalis Serbia, Gavrilo Princip, di Sarajevo. Setelah penembakan ini, Austria mengeluarkan ultimatum kepada Serbia dan disusul dengan pernyataan perang pada 28 Juli 1914. Serangan Austria terhadap Serbia ini, dianggap sebagai awal Perang Dunia I. Pada 1 Agustus 1914, Jerman mengumumkan perang terhadap Rusia dan Perancis. Pernyataan perang ini disusul dengan penyerbuan Belgia dengan tujuan menduduki Paris secepatnya, lalu memusatkan kekuatan untuk menghancurkan Rusia. Namun, pada 4 Agustus 1914, Inggris terjun membantu Belgia dan Perancis.

Aktor-aktor yang terlibat dalam perang ini antara lain Blok Sentral yang diketuai oleh Jerman melawan Blok Sekutu yang diketuai oleh Perancis. Pada 1917, Amerika Serikat bergabung dengan Blok Sekutu dan mengambil alih kepemimpinan Perancis. Blok Sentral yang diketuai Jerman terdiri dari Austria, Turki, dan Bulgaria. Adapun anggota Blok Sekutu yang dipimpin oleh Amerika Serikat berjumlah 23 negara, yang terdiri dari Perancis, Inggris, Serbia, Belgia, Rumania, Portugal, Jepang dan negara-negara Eropa Barat lainnya. Setelah berlangsung kurang lebih empat tahun, peperangan ini akhirnya dimenangkan oleh Blok Sekutu.

Perjanjian Damai Versailles (1919), yang secara resmi mengakhiri PD I antara Sekutu dan Jerman. Setelah enam bulan negosiasi melalui Konferensi Perdamaian Paris, perjanjian ini akhirnya diratifikasi pada tanggal 28 Juni 1919 di Compiègne Forest, Versailles, Paris. Perjanjian ini mengakibatkan Jerman kehilangan wilayah jajahannya dan angkatan bersenjatanya menjadi berkurang. Selain itu, Jerman harus memberikan kompensasi terhadap negara-negara Sekutu atas kerusakan perang. PD 1 juga menimbulkan korban jiwa dan kerugian finansial yang tidak sedikit.

Pengalaman pahit pada PD 1 membuat Woodrow Wilson –Presiden Amerika saat itu− mengembangkan gagasan untuk menciptakan perdamaian dunia lewat pendirian Liga Bangsa-Bangsa. Sejatinya, gagasan ini telah gagal sejak AS sendiri menyatakan menolak untuk bergabung dengan LBB. Jerman dan Rusia pun menolak untuk bergabung. Setelah LBB didirikan, nyatanya kehadirannya tidak mampu dipertahankan. LBB mendapat pukulan keras dengan bermunculannya paham fasisme di Italia yang dipelopori Mussolini, Nazi di Jerman oleh Hitler, dan fasisme militer di Jepang oleh Tenno Meiji. Ketiga paham di atas melatarbelakangi meletusnya PD II. Hal ini diperparah ketika Hitler menghancurkan Perjanjian Versailles dan mulai membangun kembali kebesaran Jerman dengan mengembangkan industri senjata.

PD II dimulai saat Jerman menyerang Polandia. Dalam menghadapi Jerman, Polandia dibantu Inggris dan Perancis. Di lain pihak, Jepang membom pangkalan Angkatan Laut AS, Pearl Harbour. Hal ini memancing kemarahan AS dan membuatnya terlibat peperangan menghadapi aliansi Jerman, Italia, dan Jepang (Blok Poros). Perang Blok Poros melawan Blok Sekutu merebak di hampir sebagian besar penjuru dunia (Asia, Eropa, dan Afrika). Perang ini semakin berkecamuk, terbukti dengan dikuasainya Berlin oleh Uni Soviet dan pemboman 2 kota di Jepang –Nagasaki dan Hiroshima− oleh AS yang menyebabkan Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Perang ini akhirnya dimenangkan oleh pihak Sekutu.

Sebelum PD II, predikat negara adikuasa disandang oleh Inggris. Namun, setelah PD II berakhir, Inggris mulai luntur pengaruhnya dan digantikan oleh 2 negara adikuasa baru, yakni AS dan Uni Soviet. Kedua negara ini memiliki ideologi yang berlainan, AS dengan liberalismenya dan Uni Soviet dengan paham komunisnya. Kedua negara ini selalu bersitegang dan berkompetisi dalam bidang politik dan militer. Dunia pun terbagi menjadi 2 kutub, yakni kutub Barat dan kutub Timur. Masing-masing dari negara ini berusaha menggalang dukungan dari negara lain. AS membentuk Blok Barat –beranggotakan negara Eropa Barat− dan Uni Soviet membentuk Blok Timur –beranggotakan negara Eropa Timur dan negara komunis lainnya−. Ketegangan kedua blok inilah yang menyulut Perang Dingin (1947-1991).

Saat Perang Dingin, dominasi dan intervensi AS dan Uni Soviet terhadap negara sekutunya sangat besar, sehingga dapat dikatakan bahwa hubungan internasional pada saat itu sangat dipengaruhi oleh kepentingan kedua negara tersebut. Hampir semua langkah diplomatik dipengaruhi oleh tema-tema ideologis yang kemudian dilengkapi dengan perangkat militer. Pertentangan sistem hidup komunis dan liberal ini sangat intensif, sehingga pada akhirnya perlombaan senjata tak dapat dihindarkan lagi. Hal itulah yang menjadi jalan terakhir untuk menyelamatkan ideologi negara masing-masing.

Setelah Perang Dingin berakhir, isu-isu hubungan internasional mengalami pergeseran, tidak hanya berfokus pada kepentingan nasional saja, melainkan berfokus juga terhadap tata kelola hubungan antarnegara. Dapat dikatakan bahwa isu-isu yang bertema ideologis mengalami penurunan. Isu-isu yang lebih mutakhir setelah Perang Dingin ini antara lain usaha untuk memelihara persatuan dan kesatuan bangsa dalam menghadapi dinamika internasional yang kurang jelas, keamanan regional, ekonomi-politik internasional, dan hak asasi manusia.

Isu yang lain adalah tentang terorisme. Terorisme adalah gerakan destruktif yang mengancam stabilitas domestik maupun internasional. Salah satu fenomena terkenal sepanjang era modern adalah tragedi 11 September 2001. Tragedi 11 September adalah tragedi ditabraknya Menara Kembar WTC dan Pentagon di AS oleh teroris Al Qaeda dengan menggunakan empat pesawat penumpang komersial. Tragedi ini menewaskan lebih dari 3000 orang dan menyebabkan duka cita mendalam bagi warga AS. Setelah serangan ini, AS yang didukung oleh Piagam NATO, memimpin sebuah koalisi ad hoc untuk memerangi organisasi teroris dengan jangkauan global. Banyak negara yang menangkap teroris dan sekutunya dengan cara mengultimatum pembekuan aset. AS juga menginvasi Afghanistan untuk menggulingkan rezim Taliban, yang dicurigai menyediakan tempat berlindung untuk Osama bin Laden dan organisasi Al-Qaeda. Afghanistan juga dicurigai sebagai basis pelatihan dan kampanye teror global melawan Amerika Serikat dan sekutu.

Implikasi dari tragedi ini adalah teroris menjadi musuh utama dunia. Semua negara mengerahkan segenap kemampuannya demi melindungi keamanan negaranya dan berupaya berperan aktif untuk memerangi aksi terorisme. Kerjasama antarnegara pun ditingkatkan demi meminimalisasi ruang gerak teroris. Perang global melawan terorisme memang masih jauh dari kata selesai, karena teroris-teroris di dunia saling berkoneksi dan akan selalu melakukan kaderisasi. Tetapi, alangkah baiknya jika upaya-upaya memerangi terorisme ini terus digalakkan dan dikembangkan, karena masalah terorisme ini adalah tanggung jawab dunia internasional.

Noam Chomsky dalam analisisnya menyebutkan bahwa karakteristik sistem internasional pasca 1989 mungkin berubah dari penampilan luar, namun dalam esensinya hanya mengalami perubahan kecil. Sistem internasional masih membedakan antara negara yang kuat dan kaya dan negara yang sangat bergantung kepada negara Dunia Ketiga (Cox, 2001: 117). Amerika Serikat sebagai pemenang dari perang dingin kemudian menjadi negara superpower yang memiliki kekuatan yang sangat besar serta merupakan negara yang kaya, sehingga negara-negara lain kemudian sangat bergantung kepada power Amerika Serikat tersebut.

Pada masa perang dingin sistem internasionalnya yaitu bipolar, yaitu terdapat dua negara superpower yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet, yang menurut John Mearsheime merupakan sistem yang dapat menciptakan keteraturan selama pasca PD II. Sistem Internasional biopolar kemudian berubah menjadi sistem multipolar yang mendominasi sistem internasional pasca perang dingin (Jackson & Georg Sorensen, 2009:117).

Isu-isu yang terjadi pasca perang dingin terjadi di berbagai aspek diantaranya ekonomi, politik, dan masalah-masalah kemanusiaan. Seperti konflik yang memecah Yugoslavia dan kematian ribuan orang. Munculnya kapitalisme sebagai salah satu sistem dunia menentukan bagaimana nilai-nilai humanitas menjadi baik atau buruk. Dengan berakhirnya perang dingin dan kolapsnya USSR, fokus negara dalam ekonomi dunia global adalah tentang bagaimana cara mereka bertahan. Ini berdampak besar terhadap perilaku manusia sehari-hari dan bagaimana mereka hidup sehingga timbulah ‘kebudayaan’. Dengan keadaan ekonomi dunia global yang semakin berkembang, cara mereka bekerja pun menjadi berubah. Mereka kemudian bekerja dengan lebih keras karena jika perusahaan mereka tidak dapat bersaing di persaingan ekonomi dunia global yang baru maka perusahaan mereka bisa saja akan hancur (Cox, 2001: 119).

Dengan demikian disini dapat dilihat bahwa isu-isu pasca perang dingin timbul seiring dengan berkembangnya globalisasi. Permasalahan-permasalahan tentang ekonomi, politik, dan kemanusiaan menjadi semakin kompleks. Relevansinya terhadap kajian HI adalah bahwa bagaimana interaksi antarnegara dibahas dalam kajian HI. Baik tentang masalah-masalah yang timbul maupun bagaimana menjalin kerjasama dengan negara lain. Meski secara fisik terlihat bahwa negara-negara di dunia ini tidak melakukan perang , namun secara laten perang masih terjadi antara negara-negara di dunia ini. Keamanan internasional menjadi semakin kompleks bahkan. Karena itu kajian HI memberikan kajian tentang batasan-batasan bagaimana negara memiliki hak dan kewajiban terhadap negara lain dengan aturan-aturan yang jelas.

 

Referensi:

Cox, Michael (2001) “International History”, in Baylis, John & Smith, Steve (eds.), The Golabalization of World Politics, 2nd edition, Oxford University Press, pp.111-140.

Jackson, Robert H. & Georg Sorensen. 2009. Introduction to International Relations. Canada: Oxford University Press.

Knutsen, Torbjorn L. (1997) A History of International Relations Theory, Manchester University Press, [pp. 202-258].

Scott, Len (2001) “International History 1945-1990” in Baylis, John & Smith, Steve (eds.), The Globalization of World Politics, 2nd edition, Oxford University Press, pp. 74-91.

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.737.984