Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

Dinamika Hubungan Internasional Sebelum dan Selama Era Modern

13 November 2012 - dalam Pengantar Hubungan Internasional Oleh fyustiazari-fisip12

Kelompok 11:

  1. Rinthania                                          071211231007 
  2. Fiqarrahmadani Yustiazari          071211231017
  3. Galang Ksatria Bella                       071211231023
  4. Ana Maratuthoharoh                       071211232009

Hubungan internasional jika dilihat melalui sejarahnya, mengalami dinamika hingga saat ini. Dimulai dari masa ke masa, hubungan internasional mengalami dinamika atau pergerakan sesuai dengan perkembangan zaman. Pergerakan ini bahkan dimulai sebelum terjadinya perjanjian Westphalia, yaitu sebelum era modern. Bagaimana dinamika hubungan internasional sebelum dan selama era modern?

            Meski bukan benar-benar disebut sebagai sebuah hubungan internasional yang dikenal oleh banyak khalayak, hubungan internasional sebenarnya sudah terjadi pada abad kuno, tepatnya pada zaman Yunani kuno. Pada saat itu hubungan internasional adalah hanya sebatas hubungan interstate. Jika hubungan internasional merupakan hubungan antarnegara yang mencakup berbagai aspek, hubungan interstate memiliki cakupan yang sangat sempit. Hubungan interstate hanya sebatas mengenal hubungan mengenai aspek-aspek kenegaraan saja. Karena itu hubungan interstate tidak dapat dikatakan sebagai sebuah hubungan internasional yang sebenarnya.

            Pada masa Yunani Kuno, dikenal sistem negara-kota atau city-state misalnya yang terkenal yaitu Athena. Negara-kota tersebut kemudian membentuk sistem negara pertama dalam sejarah negara-negara barat. Yunani Kuno sendiri tidak menyebut dirinya sendiri merupakan sebuah negara. Mereka menyebut diri mereka adalah Hellenes. Karena mereka tidak mengenal konstitusi serta hukum-hukum yang mengatur hak dan kewajiban negaranya terhadap negara-negara lain. Seiring berjalannya waktu, imperialis Macedonia berhasil menguasai Yunani Kuno dengan menjadikannya budak kekaisaran Romawi.

            Setelah Yunani runtuh, pada abad pertengahan, Romawi menguasai Eropa. Romawi merealisasikan kekuasaannya dengan menggunakan sistem gereja. Kekuasaan raja tidak berarti apa-apa. Gereja merupakan pemegang kekuasaan utama dan satu-satunya. Paham-paham yang dianggap tidak sesuai dengan paham gereja dan tidak mendukung kepentingan gereja akan ditolak bahkan dikenai sanksi yang tegas dan kejam. Sehingga zaman ini disebut dengan Dark Age atau masa kegelapan.

            Setelah F. Bacon berhasil meruntuhkan paham gereja, Renaissance lahir. Renaissance memiliki arti “terlahir kembali”. Artinya Eropa telah terbebas dari masa kegelapan. Nilai-nilai humanisme mulai diterapkan kembali. Renaissance merupakan pemikiran yang bersifat nyata dan menganggap manusia sebagai pencipta dunia, fokus pada nilai-nilai kebendaan, serta fokus pada dunia. Renissance menimbulkan kebebasan individu yang menyebabkan terjadinya penjelajahan samudera.

            Renaissance lahir di Italia dan Eropa Barat. Italia saat itu dalam kondisi politik yang kacau. Banyak partai politik memberontak, permusuhan terjadi dimana-mana. Perpolitikan semakin penuh dengan intrik yang ditandai dengan negara-kota yang tidak bisa mempertahankan kekuasaannya sehingga saling menjajah. Kemudian Muncul model baru diplomasi yaitu dengan menempatkan para duta besar di luar negeri.

            Sementara di Eropa Barat, berkembang birokrasi baru yang menjembatani hubungan antara pemerintah dan rakyatnya. Manusia dan kekuasaannya bukanlah segalanya, melainkan kepentingan bersama adalah hal yang perlu diperjuangkan. Kemudian feodalisme dan superioritas berkembang dengan pesat. Ekspansi-ekspansi terhadap negara lain mulai dilakukan.

            Pada zaman ini tepatnya pada tahun 1918 sampai dengan 1948 meletuslah perang 30 tahun. Perang ini disebabkan oleh kebingungan rakyat yang harus tunduk pada gereja atau pada raja karena rakyat merasa bahwa raja dan gereja memiliki kekuasaan yang sama-sama kuatnya. Berakhirnya perang ini kemudian menjadi awal terjadinya era modern yang ditandai dengan perjanjian Westphalia yang dirumuskan pada tahu 1648. Dalam perjanjian Westphalia dikatakan bahwa dalam pemerintahan, rakyat dibawahi langsung oleh pemegang kekuasaan yaitu raja. Bisa dikatakan bahwa perjanjian Westphalia ini menggeser kekuasaan gereja dan meninggikan kembali posisi raja sebagai penguasa. Sejak adanya perjanjian Westphalia, rakyat kemudian hanya tunduk pada raja. Raja-raja bahkan menentang kaisar dan para paus. Di sinilah awal mula era modern serta negara-negara modern muncul.

            Perjanjian Westphalia kemudian membawa Eropa melepaskan diri dari politik religius dan kristiani. Bangsa Eropa kemudian mengenal sistem negara. Terdapat batas-batas wilayah territorial negara secara jelas. Dengan dimulainya sistem negara modern, maka para pemimpin ingin memperluas pengaruhnya ke negara-negara lain sehingga mereka melakukan hubungan interstate dengan negara-negara lain. Hal ini menyebabka negara-negara di Eropa tidak puas jika hanya menguasai negara-negara sesama benua Eropa. Mereka kemudian  ingin memperluas pengaruhnya ke negara-negara di benua lain di dunia ini. Pemutakhiran senjata kemudian bisa menyebabkan terjadinya peperangan.

Dimulainya sistem negara pada era modern kemudian juga memperkenalkan sebuah sistem yaitu kedaulatan. Setiap negara memiliki kedaulatan masing-masing yang digunakan untuk menjalankan pemerintahan dan sebagai sumber-sumber hukum negara sehingga pelaksanaan negara menjadi lebih modern dari sebelumnya yang hanya mengandalkan sistem gereja saja.

Kedaulatan menurut Jean Bodin didefinisikan sebagai kekuasaan yang absolut dan abadi dalam sebuah persemakmuran. Terdapat tiga postulat mengenai kedaulatan. Yang pertama adalah kedaulatan tidak benar-benar berhubungan dengan keadaan individu, melainkan negara. Yang kedua kedaulatan adalah abadi. Tetap berada di tangan persemakmuran. Tidak terpengaruh oleh datang dan perginya individu. Yang ketiga menyebutkan bahwa kedaulatan adalah mutlak.

Setiap negara mengadopsi kedaulatan yang berbeda-beda. Dalam sistem dikenal istilah sovereignty dan suzerainty. Sovereignty adalah kedaulatan dimana suatu negara memegang kendali penuh atas negaranya sendiri dan mampu mengambil keputusan terhadap kelangsungan negaranya. Sementara Suzerainty merupakan keadaan dimana suatu negara tidak dapat mengambil tindakan atau keputusan mengenai urusan  politik negaranya sendiri karena adanya kekuasaan negara lain yang lebih besar.

Hal selanjutnya yang tidak  dapat diabaikan adalah mengenai partisipasi masyarakat. Partisipasi dapat diartikan sebagai sebuah kegiatan yang melibattkan anggota masyarakat dengan cara memberikan dukungan baik dari segi tenaga, pikiran,  maupun materi bahkan tanggung jawabnya terhadap setiap keputusan yang telah diambil demi tercapainya tujuan yang telah ditentukan bersama. Menurut Conyers (1991) terdapat tiga alasan pentingnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan, yaitu partisipasi masyarakat merupakan suatu alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan dan sikap masyarakat setempat, yang tanpa kehadirannya program pembangunan dan proyek akan gagal. Kedua, masyarakat mempercayai program pembagunan jika dilibatkan dalam proses persiapan dan perencanaannya, karena masyarakat lebih mengetahui seluk beluk proyek dan merasa memiliki proyek tersebut. Ketiga, partisipasi merupakan hak demokrasi masyarakat dalam keterlibatannya di pembangunan. Dengan demikian, diharapkan pemberdayaan yang maksimal dari pihak masyarakat maupun aparat negara guna mencapai kemajuan sebuah negara yang mampu bergerak secara independen sesuai alur yang telah ditetapkan oleh negara masing-masing.

Dinamika hubungan internasional tentunya akan selalu mengalami perkembangan dari masa ke masa. Renaissance merupakan salah satu hal yang paling berpengaruh pada dinamika hubungan internasional khususnya pada perubahan menuju era modern dimana sistem negara mulai dikenal. Dengan dikenalnya sistem negara, para penguasa semakin ingin memperluas wilayah dengan melakukan hubungan dengan negara-negara lainnya. Hal itu menyebabkan perang dunia tidak berhenti pada PD I saja, Perang Dunia II meletus yang diikuti dengan perang dingin. Dinamika hubungan internasional kemudian ikut menjadi penggerak dalam hubungan-hubungan antarnegara tersebut.  Dengan perkembangan dunia yang semakin pesat sekarang ini apalagi, hubungan internasional lalu menjadi hal yang sangat penting digunakan pada saat ini.

 

 

REFERENSI

Goldstein, Joshua S. (2005) International Relations, Pearson/Longman, [pp. 24-54].


Knutsen, Torbjorn L. (1997) A History of International Relations Theory, Manchester University Press, [pp. 11-114]


Jackson, Robert H., (2001) “The Evolution of International Society,” in Baylis, John & Smith, Steve (eds.), The Globalization of World Politics, 2nd edition, Oxford University Press, pp. 35-50



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.737.986