Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

Kekuatan Nasional dalam Hubungan Internasional

12 October 2012 - dalam Pengantar Hubungan Internasional Oleh fyustiazari-fisip12

Melakukan hubungan internasional untuk mempertahankan kepentingan nasional memerlukan banyak modal. Mustahil suatu negara dapat bertahan di dunia internasional, apalagi dengan globalisasi yang berkembang dengan pesat seperti sekarang ini, tanpa adanya modal yang harus terus dikembangkan. Modal tiap negara untuk melakukan hubungan internasional demi kelangsungan negara adalah yang disebut sebagai suatu national power atau kekuatan nasional. Kekuatan nasional tidak dapat dipungkiri merupakan hal yang penting yang dimiliki tiap-tiap negara untuk melakukan praktik hubungan internasional.

            Power adalah konsep yang sulit dipahami. Perannya sangat memusat pada hubungan internasional bahwa pemahaman dari power sangat kritis untuk pelajar dari subyek ini. Power didefiniskan sebagai kapasitas suatu aktor untuk mempengaruhi dan memaksa aktor-aktor lainnya, sehingga membolehkan adanya kontrol dari aktor tersebut. Power dianggap sebagai payung konsep yang menunjukkan segala sesuatu yang bisa menentukan dan memelihara kekuasaan aktor A terhadap aktor B.

            Power dibagi menjadi dua yaitu soft power dan hard powerSoft power adalah kapasitas untuk mempengaruhi aktor lain untuk melakukan sesuatu melalui pengaruh. daya tarik dari ideologi, kebudayaan, martabat, atau kesuksesan suatu negara mungkin membuat negara tersebut menjadi panutan dimana yang lain mau menjadi pengikutnya (Joseph S. Nye, 1990). Hard power adalah kemampuan suatu negara untuk memaksa kehendaknya pada aktor lain melalui kekuatan militer atau ekonominya, atau kombinasi keduanya.

Dalam pendekatan elemen, kekuatan nasional dapat digambarkan kekuasaan sebagai milik atau milik negara. Konsep kekuatan nasional dapat dimaknai sebagai suatu kekuatan yang mendukung suatu negara mendapatkan pengakuan status di mata internasional. Dalam hal ini konsep kekuatan nasional identik dengan kata “pengaruh”. Pengaruh suatu negara bisa dibilang sangat penting untuk menentukan kekuatan dari negara tersebut. Power merupakan perpaduan antara pengaruh persuasif dan kekuatan koersif (Perwita, 2005: 13). Kekuatan koersif pun mendukung diakuinya kekuatan suatu negara. Yang dimaksud dengan kekuatan koersif disini merupakan bidang militer yang dimiliki oleh tiap-tiap negara. Kekuatan militer pada hubungan internasional di masa lalu merupakan penentu kekuatan nasional yang sangat besar pengaruhnya. Namun tidak untuk hubungan internasional di era global seperti sekarang ini.

            Konsep kekuatan nasional berkembang seiring dengan perubahan dunia yang berkembang pesat. Kekuatan militer bukan satu-satunya hal pendukung utama kekuatan yang dimiliki oleh suatu negara. Suzzane Nossel yang merupakan perwakilan Amerika pun mengatakan demikian. Bahwa kekuatan militer bukan satu-satunya kekuatan utama. Kekuatan-kekuatan yang dilihat dari aspek lain seperti diplomasi internasional dan pengenalan nilai Amerika pun sama pentingnya (Nossel, 2004: 132).

            Seperti yang banyak dilihat di dunia sekarang ini. Negara-negara di dunia sedang berlomba-lomba untuk memperlihatkan kekuasaannya. Bukan dengan perang nuklir atau gencatan senjata seperti dulu. Namun dengan menonjolkan keunggulan masing-masing negara dari berbagai aspek. Tidak hanya militer, tetapi juga dari aspek ekonomi, politik, dan sosial budaya. Dari bidang ekonomi bisa dilihat dari adanya perdagangan internasional. Perdagangan internasional mempertlihatkan kepada kita bahwa betapa kekuatan ekonomi sekarang ini begitu penting untuk mengukur kekuatan suatu negara. Amerika yang memiliki kekuatan ekonomi yang sangat besar dapat mendapatkan status yang tinggi pula di mata internasional.

            Dari aspek penguasaan teknologi pun kekuatan nasional dapat diukur. Misalnya Jepang yang memiliki penguasaan teknologi yang baik serta dikenal sebagai pemilik teknologi mutakhir dunia. Jepang menonjolkan kekuatan nasionalnya di aspek penguasaan teknologi sehingga Jepang mendapatkan pengakuan dunia atas aspek penguasaan teknologinya. Dari kedua contoh yang sudah dijelaskan tersebut, maka sudah diberikan sedikit gambaran tentang bagaimana kekuatan militer kini tidak lagi menjadi aspek utama dalam menentukan kekuatan suatu negara.

            Dalam era global seperti sekarang ini, ternyata bukan hanya itu yang mempengaruhi kekuatan suatu negara. Sumber-sumber yang tidak nyata seperti bargaining position dan unsur kebudayaan diyakini pula dapat mempengaruhi kekuatan suatu negara yang memiliki sumber daya terbatas (Perwita, 2005: 14). Kemampuan suatu negara untuk melakukan kerjasama dan negosiasi dengan negara lain untuk memenuhi kebutuhannya pun turut menjadi aspek penting dalam kekuatan nasional. Suatu negara yang sumber dayanya terbatas tentu tidak dapat memenuhi semua kebutuhan negaranya sendiri, diperlukan kekuatan strategi yang bagus untuk melakukan kerjasama dan negosiasi dengan negara lain sehingga kepentingannya tercapai. Hal ini dapat membuat suatu negara menambah kekuatannya. Terdapat empat metode dasar terbuka agar suatu bangsa dapat mengajak bangsa lain untuk melakukan keinginannya. Empat metode dasar terbuka tersebut adalah : persuasion, rewards, punishment, dan force.

Persuasion adalah cara mengajak negara lain dengan bujukan yang halus (termasuk dalam soft power) dan memberikan prospek – prospek yang baik agar suatu negara mau bekerja sama. Dalam teori liberal, persuasion lebih di tekankan pada saham sebagai sarana perebutan kekuasaan. Sedangkan pada neorealist, lebih ditekankan sebagai swadaya dimana persuasion digunakan untuk menyampaikan maksud dari diri sendiri kepada orang lain. Dalam hal ini cheap talk sering digunakan untuk bernegosiasi. Contoh : kasus nuklir yang melibatkan AS, India dan Pakistan

Rewards adalah cara mengajak negara lain dengan memberikan penghargaan kepada negara lain agar suatu negara mau bekerja sama. Hadiah atau penghargaan yang diberikan kepada suatu negara dalam sebuah perjanjian dapat berupa apapun, misalnya saja dalam bidang militer, ekonomi ataupun budaya. Contoh :  AS dan Meksiko tentang kebijakan perdagangan terbuka. Rewards juga termasuk dalam soft power.

Punishment adalah cara yang dilakukan suatu negara dengan mengancam memberikan hukuman kepada negara lain yang tidak mau mengikuti keinginan suatu negara. Hukuman yang dimaksud disini dapat benar – benar dilakukan atau hanya berupa ancaman.  Contoh : invasi Soviet dari hungary in1956 dan Cekoslovakia pada tahun 1968.

Force adalah cara yang paling akhir dengan memaksa negara lain dengan tindakan – tindakan, agar negara lain mau bekerja sama dengan suatu negara. Cara ini akan digunakan suatu negara jika cara – cara sebelumnya tidak dapat digunakan. Perwujudan cara ini biasanya diwujudkan dengan perang. Contoh : Ceko menyerah pada tuntutan Jerman setelah pakta munich tahun 1938. Force dan Punishment termasuk dalam hard power.

            Kekuatan dalam suatu negara bersifat dinamis (Perwita, 2005: 14). Kekuatan dalam suatu negara dapat mengalami pasang surut sesuai dengan keadaan dan perkembangan negara tersebut. Seperti yang dialami Indonesia bertahun-tahun yang. Indonesia mengalami penurunan dalam bidang pendidikan. Dahulu, pelajar-pelajar dari Malaysia datang ke Indonesia untuk belajar, namun sekarang keadaan berbalik. Pelajar dari Indonesia datang ke Malaysia untuk belajar. Hal ini membuktikan bahwa tidak selamanya kekuatan nasional dari suatu negara mengalami pasang. Bisa saja kekuatan tersebut mengalami surut sesuai dengan keadaan dan perkembangan negara tersebut.

            Dengan demikian, national power atau kekuatan nasional merupakan modal utama dalam suatu negara untuk mencapai kepentingan negaranya sebagai upaya untuk bertahan dan tetap mendapatkan status di mata dunia. Dengan kekuatan yang sudah dimiliki, misalnya sumber daya yang melimpah, tiap-tiap negara seharusnya terus mengembangkan kekuatan negaranya tersebut. Pengembangan kekuatan nasional yang sudah ada dapat dilakukan dengan menggunakan soft power yaitu kemampuan untuk bekerja sama dan melakukan negosiasi dengan negara lainnya. Dengan itu maka kekuatan negara akan semakin berkembang.

 

Readings:

Baldwin, David A.. 2002. Power and International Relation, in Walter Carlsnaes, Thomas Risse, Beth Simmons [eds.] Handbook of International Relations, SAGE.

Bueno de Mesquita, Bruce. 2003. Principles of International Politics, People’s Power, Preference, and Perception. QC Press.

Henderson, Conway. 1998. International Relations, Conflict and Cooperation at The Turn of 21st Century . Mc-Graw Hill International Editios.

Nossel, Suzane. 2004. Smart Power Foreign Affairs.

Perwita, Anak Agung Banyu and Yanyan Mochammad Yani. 2011. Pengantar Hubungan Internasional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.751.167