Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

Aktor dalam Hubungan Internasional dan Peranannya

28 September 2012 - dalam Pengantar Hubungan Internasional Oleh fyustiazari-fisip12

Dalam esensi hubungan internasional telah dikenal beberapa esensi yaitu aktor, power, dan tujuan hubungan internasional itu sendiri. Aktor merupakan salah satu esensi yang penting dalam hubungan internasional. Aktor merupakan pelaku-pelaku dalam pelaksanaan hubungan internasional. Ada dua jenis aktor yang di kenal yaitu state actor dan non-state actor. State actor atau negara jelas memiliki peran yang paling penting dalam hubungan internasional, namun dalam prakteknya, peran non-state actor akan mempengaruhi peran negara dalam hubungan internasional karena peranan kedua aktor tersebut sangat terkait.
State Actor dan Peranannya
    State adalah suatu tempat yang didiami oleh populasi dan berada di bawah kekuasaan dan pengaturan pemerintah. Dengan demikian state actor dapat diartikan sebagai negara sebagai pelaku hubungan internasional. Negara merupakan aktor yang paling penting dalam hubungan internasional karena dalam hubungan internasional yang melakukan interaksi antarnegara tentu saja adalah negara itu sendiri. Sebenarnya state actor merujuk pada keputusan pemerintah. Di dalam suatu negara sebagai aktor dalam hubungan internasional, terdapat pihak-pihak yang menjadi “pengemudi”, yaitu pemerintah. Pemerintah di sini berperan sebagai pengambil kebijakan dan pelaku diplomasi yang diatas namakan atas suatu negara.
    Pemerintah, dalam bidang hubungan internasional khususnya presiden dan menteri luar negeri, berwenang untuk menjadi “pengemudi” dalam negara yang menjadi aktor dalam hubungan internasional. Usaha diplomasi dari menteri luar negeri serta kebijakan dari presiden tentu menjadi peran utama yang diemban untuk menjalankan negara dalam suatu hubungan internasional. Kebijakan pemerintah tersebut akhirnya diatasnamakan sebagai negara. Pemerintah bisa dikatakan sebagai aktor-aktor individu yang keputusan-keputusan dan perannya dianggap mewakili suatu negara. Pemerintah memiliki kekuatan yang besar dalam suatu negara sehingga dapat dikenal dengan istilah “state leader”.
    Dalam state actor pula ada berbagai macam karakteristik seperti yang pertama kekuasaan militer dimana hal ini juga dapat mempengaruhi suatu negara karena apabila suatu negara tidak mempunyai kekuatan militer maka negara tersebut tidak dapat melindungi negaranya sendiri. Kedua adalah perbedaan ideologi dalam suatu negara pasca terjadinya perang dingin yang sudah mereda dapat juga mempengaruhi hubungan internasional. Ketiga adalah populasi, dalam suatu negara pertumbuhan penduduk juga dapat mempengaruhi kesejahteraan negara itu sendiri. Keanekaragaman penduduk suatu negara dapat menciptakan berbagai macam sosial budaya seperti agama, bahasa dan menciptakan etnik grup yang berpengaruh pada hubungan internasional juga.
    Peran dari state leader sebagai aktor hubungan internasional dalam suatu negara sangat berdampak pada power atau kekuatan dari negara seperti yang telah dijelaskan tersebut di atas. Bukan hanya kekuatan militer, tetapi juga kekuatan-kekuatan lain seperti ekonomi, politik, dan sosial budaya. Apabila para state leader melakukan perannya dengan baik, kekuatan negara akan menjadi semakin besar pula.
Nonstate Actor
Dalam hubungan internasional bukan hanya ada state actor, non state actor juga mempunyai peranan yang tak kalah penting. Negara memang memiliki kekuasaan penuh, namun keputusan negara tidak akan berjalan lancar apabila tanpa mendapat dukungan dari masyarakat organisasi pemerintahan dan sebagainya. Kerjasama pada dasarnya tidak dilakukakan antar organisasi di dalam negeri saja melainkan kerjasama antar organisasi internasional pun akan turut membantu stabilitas suatu Negara. Kerjasama internasional akan sangat membantu apabila setiap negara yang berperan sebagai anggota turut menjaga dan melaksanakan ketentuan – ketentuan yang telah ditetapkan dalam kerjasama tersebut.
Organisasi internasional sebenarnya sudah ada sejak lama. Organisasi tersebut diantaranya IGOs, NGOs dan MNCs. Organisasi – organisasi ini memiliki satu tujuan yang sama yakni bekerja sama untuk mencari penyelesaian dari sebuah masalah dan memberikan manfaat fungsi bagi para anggotanya serta berkeyakinan bahwa kerjasama akan menjadi suatu kebiasaan. Setelah perang dunia kedua usai, negara – negara yang ingin bekerjasama meningkat pesat. Hal ini sangat bertolak belakang dengan kondisi sebelum perang dunia kedua berakhir.
Intergovernmental Organization (IGO) adalah organisasi internasional yang terdiri dari dua negara atau lebih  dalam bentuk public atau privat. IGOs bertugas untuk melancarkan komunikasi dan kerjasama antar anggotanya. Contoh IGOs adalah NATO, UN, IMF, WHO. Sedangkan NGOs dianggap sebagai organisasi intersosial yang membantu negara untuk mencapai persetujuan dari masalah-masalah politik internasional. NGOs juga bekerja dan berkolaborasi dengan banyak IGOs (Minix, 1998: 143).  anggota – anggota Nongovernmental Organizaation (NGO) adalah kelompok masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat. Organisasi – organisasi ini memiliki peran sebagai mediator dan fasilitator dalam diskusi – diskusi sebagai wujud institusionalisme antara partisipan aktif, menyediakan peralatan komunikasi yang memadai antar pemerintah negara dan berfungsi menarik partisipan dalam system politik internasional. Kemudian terdapat MNCs (Multinational Corporations) yang merupakan organisasi yang fokus pada bidang perekonomian. Multinational Corporations adalah organisasi bisnis yang memperluas kepemilikan, manajemen, produksi, dan aktivitas penjualan ke beberapa negara. Organisasi ini sangat mempengaruhi stabilitas perekonomian dunia. Perdagangan antar negara dan bisnis antar negara merupakan cakupan kewenangan MNCs. Kantor pusat MNC dan sekelompok anak perusahaan menjalankan usaha-usaha di negara-negara yang disebut Home Countries. Selain organisasi-organisasi yang telah disebutkan di atas, terdapat pula nonstate actor lain yang ikut berperan dalam hubungan internasional.
Kelompok etnis adalah organisasi yang anggotanya berasal dari etnis yang sama, biasanya mereka berjuang untuk mewujudkan suatu negara merdeka untuk etnis mereka atau untuk memerdekakan orang-orang dari etnis yang sama namun belum merdeka. Mereka biasanya menggunakan cara-cara damai melalui diplomasi, namun juga terkadang melalui kekerasan. Selain itu terdapat juga gerakan agama, yaitu kelompok yang memiliki kepentingan atas nama suatu agama, untuk menyebarluaskan ajaran agama mereka. Biasanya mereka melakukannya dengan cara damai, namun tak sedikit pula yang melakukannya dengan paksaan dan kekerasan. Kemudian ada Teroris internasional yang merupakan kelompok yang ingin mewujudkan kepentingan mereka dengan mengatasnamakan negara. Teroris internasional biasanya mencakup kelompok ata wilayah dari berbagai negara. Sebagian dari mereka juga menginginkan terpisah untuk membentuk sebuah negara sendiri. Jadi pada hakikatnya, tujuan dari teroris internasional adalah untuk kepentingan politik.
Nonstate actor lain yang juga berperandalam hubungan internasional yaitu Individu. Individu adalah seseorang yang mempengaruhi kejadian-kejadian internasional. Mereka biasanya mengatasnamakan negara untuk mencapai kepentingan pribadi mereka, dengan menjadi agen-agen rahasia atau pejuang-pejuang kemerdekaan.
Peran dari tiap-tiap aktor hubungan internasional sangat berkaitan erat. Meski negara merupakan aktor utama dalam hubungan internasional, namun negara tidak bisa dikatakan sebagai satu-satunya aktor. Peran state leader dalam mengambil kebijakan atas nama negara dapat juga dipengaruhi oleh peran dan tingkah laku dari nonstate actor. Dengan demikian peran-peran dari para aktor yang sangat berkaitan tersebut sangat menentukan bagaimana posisi dan kekuatan suatu negara.

Referensi:
1.    Minix, Dean A. & Hawley Sandra M.. 1998. Global Politics. Beverly: Wadsworth.
2.     Henderson, Conway W.. 1998. International Relations, Conflict and Cooperation at the Turn of 21st Century. Megraw Hill International Edition.
3.    Herz, John., (1999) “The Territorial State Revisited: Reflections on The Future of The Nation State,” in Williams, Phil & Goldstein, Donald M., & Shafritz, Jay M., (eds.,) (1999) Classic Readings of Internasional Relations, second edition, Harcourt Brace Collage Publishing.
4.    Perwita, Anak Agung Banyu dan Yanyan Mochammad Yani. 2011. Pengantar Hubungan Internasional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.738.632