Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

Di Balik Perubahan Sikap Turki terhadap Pergerakan Kelompok Ekstrimis ISIS di Suriah

24 November 2015 - dalam Umum Oleh fyustiazari-fisip12

Pendahuluan

Negara-negara di kawasan Timur Tengah, sebagaimana di kawasan lainnya, juga mengalami dinamika yang menyebabkan perubahan politik baik secara domestik maupun secara internasional yang berkaitan dengan politik luar negeri terhadap negara lain. Dinamika yang ada ini tentunya dapat disebabkan karena berbagai kondisi yang dihadapi oleh negara-negara Timur Tengah tersebut. Salah satu negara yang mengalami isu perubahan adalah Turki. Turki mengalami dinamika khususnya dalam hal perubahan politik luar negeri atau sikapnya dalam menghadapi suatu fenomena terorisme yang mencuat dalam kawasan Timur Tengah. Kelompok ekstrimis menjadi salah satu dari bagian perhatian negara Timur Tengah, seperti Turki. Kemunculan ISIS yang cukup membuat sebagian besar masyarakat internasional geram tentunya juga menjadi salah satu hal yang diperhatikan oleh Turki. Namun demikian, pada awalnya sikap Turki terhadap ISIS tidak sejalan dengan banyak negara lainnya, bahkan dengan AS.

Turki dicurigai merupakan salah satu pendukung pergerakan ISIS. Sikap Turki yang bertolak belakang dengan usaha-usaha pencehagan pergerakan ISIS ini ditandai dengan dukungan Turki secara finansial dan persenjataan militer pada pergerakan ISIS (Korkmaz dan Rydqvist, 2015), khususnya di Suriah. Turki menuai banyak kontroversi ketika mengambil sikap yang mendukung ISIS tersebut. Namun, pada pertengahan tahun 2015 ini, Turki menunjukkan tanda-tanda perubahan sikapnya terhadap pergerakan ISIS. Hal ini ditunjukkan dengan penyerangan yang dilakukan oleh Turki kepada ISIS di Suriah. Perubahan ini tentunya menimbulkan banyak pertanyaan karena perubahan sikap yang dilakukan oleh Turki ini dirasa cukup drastis mengingat sebelumnya Turki tampak sangat memberikan dukungan kepada ISIS di Suriah. Tulisan kali ini akan membahas mengenai perubahan sikap Turki terhadap pergerakan ISIS yang pada awalnya memberikan dukungan kemudian pada akhirnya ternyata melakukan penyerangan. Pada bagian awal tulisan ini akan dijelaskan mengenai sikap suportif Turki terhadap ISIS dan perubahan sikapnya pada tahun 2015 ini. Selanjutnya akan dijelaskan mengenai alasan-alasan dan kondisi yang memungkinkan Turki melakukan perubahan sikap tersebut.

 

Bentuk-bentuk Dukungan Turki terhadap Pergerakan ISIS

            Banyak kecurigaan yang telah muncul terkait dengan sikap-sikap Turki yang terkesan memberikan dukungan kepada pergerakan ISIS. Kecurigaan tersebut bukan tanpa adanya bukti-bukti yang kuat tentang aktivitas Turki yang mengindikasikan dukungannya terhadap ISIS tersebut. Sampai dengan tahun 2013, Turki memang memberikan akses yang terbuka bagi siapa saja yang melawan pemerintahan Bassar Al-Assad di Suriah, termasuk kelompok-kelompok bahkan selevel Al-Qaeda. Pada awalnya, Turki hanya memberikan akses untuk ISIS untuk keluar dan masuk Suriah melalui wilayah Turki (BPC, 2015: 12). Namun kemudian indikasi dukungan Turki untuk ISIS tidak hanya sebatas hal tersebut karena dukungan finansial dan militer ternyata juga mulai ditemukan dilakukan oleh Turki (Korkmaz dan Rydqvist, 2015). Pada tahun 2014, truk milik MIT Turki ditemukan keluar dan masuk wilayah perang dengan mendistribusikan senjata. Bantuan ini dipercaya oleh partai AKP di Turki sebagai bentuk usaha untuk menghalangi serangan dan kerusuhan yang terjadi di Suriah agar tidak meluas sampai keluar perbatasan dan masuk ke wilayah Turki (BPC, 2015: 12).

Mengapa Turki pada awalnya menunjukkan sikap yang tidak kooperatif dalam membendung ISIS? Zenonas Tziarraz (2015) mencoba untuk memetakan beberapa alasan di balik sikap Turki yang bertolak belakang dengan AS tersebut. Alasan utama mengapa Turki mengambil sikap bertolak belakang dengan menghindari konfrontasi langsung adalah karena Turki ingin mempertahankan stabilitas dan keamanan domestik. Namun kemudian lebih dari itu, Turki juga memiliki berbagai alasan lainnya. Hal ini berkaitan dengan penolakan berbagai pihak domestik seperti partai-partai politik, kelompok bisnis, serta opini publik yang menolak Turki terlibat dalam perang. Terdapat juga alasan politis yang mendasari sikap Turki ini, yakni berkaitan dengan partai yang berkuasa di Turki pada saat itu, yaitu AKP untuk melakukan tindakan yang sebisa mungkin tidak membahayakan posisinya pada pemilihan umum selanjutnya dengan menghentikan kelompok Kurdi dalam usaha-usahanya untuk mendapatkan porsi kekuasaan.

Selain itu, dengan mendukung ISIS yang pada dasarnya melawan kelompok mayoritas Kurdi di Suriah, maka Turki dapat sekaligus melakukan perlawanan secara tidak langsung dengan kelompok Kurdi sebagai kelompok oposisi pemerintah berkuasa di Turki, mengingat mayoritas warga Turki berada di kota Kobani yang terletak di perbatasan Turki dan Suriah. Permasalahan tentang Kurdi memang telah menjadi permasalahan paling sulit untuk diatasi bahkan sejak pemerintahan-pemerintahan terdahulu (Zurcher, 2003: 434). Meski begitu, Turki belum menanggalkan aspek represi dalam penangannya sehingga konflik terus saja terjadi. Karena itu kemudian, Turki mulai melakukan beberapa dukungan untuk mendukung pergerakan ISIS melawan Suriah dan khususnya kelompok Kurdi. Meski berbagai dukungan tersebut banyak menuai protes, terutama dari kelompok Kurdi (Tziarraz, 2015), Turki tetap saja melaksanakan dukungan tersebut dengan berbagai pertimbangan tersebut.

Bipartisan Policy Center (2015: 12-5) merangkum beberapa bentuk dukungan Turki kepada ISIS. Beberapa bentuk dukungan tersebut diantaranya adalah pertama pemberian bantuan senjata militer dari Turki kepada ISIS. Pada Januari 2014, truk-truk MIT yang membawa senjata untuk ISIS dihentikan oleh Suriah, namun kemudian pemimpin Turki, Erdogan, mengatakan bahwa truk-truk tersebut membawa “bantuan”. Kedua, Turki juga memberikan perawatan rumah sakit bagi para kelompok ekstrimis yang terluka ketika berperang di Suriah (Inbar, 2015). Sebagian besar dari mereka dipercaya adalah anggota anggota ISIS, bahkan pemimpin ISIS, Emrah C., juga menerima perawatan di rumah sakit Turki. Ketiga, adanya rekrutmen yang menyebabkan banyak warga Turki yang turut bergabung dengan keanggotaan ISIS tersebut. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh Turki tersebut kemudian menjadi semacam bukti dukungan Turki terhadap pergerakan ISIS di Suriah.

Turki telah melakukan berbagai hal yang dapat mendukung pergerakan ISIS dan hal ini kemudian banyak menjadi kontroversi dalam lingkungan internasional yang pada dasarnya menolak adanya pemberontakan kelompok-kelompok ekstrimis yang mengacu pada tindakan terorisme. Dan hal yang lebih parah lagi adalah, Turki dirasa memainkan dua peran dalam sikapnya terkait dengan ISIS. Di satu sisi, Turki seolah-olah ikut bekerja sama dengan AS untuk menolak pemberontakan ISIS, tetapi pada kenyataannya Turki melaksanakan banyak hal yang membuktikan adanya dukungan terhadap ISIS (Inbar, 2005). Aksi dukungan terhadap ISIS ini juga ditunjukkan dengan penolakan Turki menandatangani perjanjian dengan AS dan sepuluh negara Arab untuk melawan ISIS pada tahun 2014 (BPC, 2015) meskipun kemudian Turki menunjukkan adanya perubahan sikapnya terhadap ISIS pada tahun 2015 saat ini.

 

Perubahan Sikap Turki terhadap ISIS

            Perubahan sikap Turki yang paling jelas terlihat ditandai dengan adanya serangan Turki kepada kelompok ISIS di Suriah pada pertengahan tahun 2015. Dilansir oleh huffingtonpost.com pada Agustus 2015 yang lalu, aksi tersebut kemudian juga dipertegas dengan pernyataan Turki yang akhirnya bergabung dengan pasukan U.S.-led untuk melawan pergerakan ISIS. Dengan aksi tersebut maka terlihat bahwa sikap Turki terhadap ISIS dapat dikatakan berubah dari yang sebelumnya memberikan banyak dukungan terhadap kelompok ISIS di Suriah. Namun sebelum serangan tersebut dilakukan, Turki telah menunjukkan tanda-tanda perubahan orientasi sikapnya terhadap ISIS bahkan sejak awal tahun 2015 ini. Pada tanggal 21 sampai dengan 22 Februari 2015, Turki mengevakuasi makam Suleyman Shah karena ISIS telah mulai mengekspansi operasinya ke wilayah Turki. Makam Suleyman Shah merupakan simbol penting negara yang sangat dijaga aspek historisnya. Selain itu makam tersebut juga menjadi simbol kedaulatan Negara Turki sehingga ketika ada yang mengancam kedaulatannya. Dengan tanda-tanda perubahan orientasi kebijakan tersebut maka kemudian telah dapat terlihat bahwa Turki mulai khawatir dan menyadari bahwa ISIS merupakan organisasi yang ternyata akan membahayakan Turki (BPC, 2015: 16).

 

Di Balik Perubahan Sikap Turki

            Perubahan sikap Turki terhadap ISIS ini memang dirasa cukup drastis dibandingkan dengan berbagai dukungan yang telah dilancarkan oleh Turki kepada ISIS, termasuk dukungan dana dan juga militer bagi kelompok ISIS yang melakukan perlawanan. Tentu memakan biaya yang besar ketika Turki memberikan semua dukungan tersebut kepada ISIS. Harapan Turki bahwa ISIS dapat membantu Turki untuk mencapai keinginannya tentunya sama besar dengan banyaknya biaya yang telah dikeluarkan oleh Turki dalam mendukung ISIS tersebut. Namun nampaknya harapan tersebut kemudian tidak sesuai dengan kenyataan yang ditunjukkan oleh ISIS melalui sikap-sikapnya. Bukannya membantu Turki (khususnya AKP) dalam mencapai kepentingannya, ISIS dirasa justru telah mengecewakan Turki yang telah menaruh harapan yang besar kepada ISIS.

            Perubahan sikap Turki ini tentunya tidak dilakukan begitu saja tanpa adanya alasan yang jelas dari pihak Turki itu sendiri. Alasan paling terlihat dari perubahan sikap Turki yang beralih dari memberikan dukungan menjadi melakukan perlawanan melalui serangannya adalah karena Turki ingin membalas perlakuan kelompok ISIS kepada Turki. Hal ini mengingat serangan Turki atas ISIS dilakukan setelah kelompok ISIS, pada bulan Juli yang lalu, meletakkan bom bunuh diri di wilayah Suruc yang menewaskan sedikitnya 33 orang dan melakukan penyerangan terhadap tentara Turki yang sedang bertugas pada wilayah tersebut sehingga menyebabkan satu orang tentara tewas (The World Post, 2015). Sikap Turki yang akhirnya menunjukkan tanda-tanda kerja sama dalam melakukan perlawnan kepada ISIS ini dipercaya kuat kaitannya dengan alasan keamanan tersebut. Namun kemudian, terdapat kondisi lain yang menyebabkan adanya kecurigaan atas kemungkinan alasan lain yang melatarbelakangi Turki melakukan perubahan sikapnya dalam menghadapi pergerakan ISIS tersebut. Sebagaimana yang dikatakan oleh Natalie Martin, seorang dosen Politik dan Hubungan Internasional di Universitas Nottingham Trent bahwa banyak orang yang percaya bahwa motif Turki melakukan serangan kepada kelompok ISIS bukan murni hanya karena motif perlawanan terhadap jihad radikal yang dilakukan oleh ISIS, melainkan ada motif lain yang berkaitan dengan menghentikan kelompok Kurdi untuk mendapatkan otonomi di wilayah Turki itu sendiri (The Independent, 2015).

            Dalam melihat hal ini, penulis mencoba menggunakan pendekatan rasional aktor yang memungkinkan kondisi-kondisi tertentu kemudian menjadi alasan di balik perubahan sikap aktor, dalam hal ini negara, dalam menghadapi suatu fenomena tertentu. Pada dasarnya, pendekatan rasional aktor ini kemudian menjelaskan bahwa aktor memiliki kebebasan untuk kemudian melakukan aksi-aksi yang berkaitan dengan pencapaian tujuan yang telah ditentukan secara hati-hati melalui proses-proses yang telah dilalui secara rasional (Drake, 2002 dalam Mesquita, n.d.: 2). Tujuan aktor dalam melakukan aksi bisa bermacam-macam, seperti tujuan-tujuan kesejahteraan, mempertahankan kekuasaan, memperoleh kekuasaan, dan berbagai tujuan lainnya (Mesquita, n.d.: 4). Tujuan tersebut tentunya telah ditentukan sejak awal oleh aktor yang bermain di dalamnya baik itu negara, individu, partai yang berkuasa, dan sebagainya. Dalam kasus Turki ini, dapat dilihat bahwa Turki memiliki tujuan yang sejak awal jelas, bahwa Turki ingin mengatasi kelompok oposisinya, yakni kelompok Kurdi yang meminta porsi kekuasaan di negara Turki. Turki tidak menginginkan adanya otonomi bagi kelompok Kurdi karena itu kemudian Turki memberlakukan banyak aksi untuk melakukan perlawanan untuk menghentikan kelompok Kurdi yang ingin mendapatkan porsi kekuasaan dan otonomi di wilayah Turki.

            Sejak awal, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Turki memberikan dukungan kepada ISIS karena pada dasarnya ISIS memberikan perlawanan kepada kelompok Kurdi. Keberadaan ISIS ini tentu saja menguntungkan Turki yang sehingga Turki menolak untuk membantu kelompok Kurdi di wilayah Kobani dalam usaha-usahanya melakukan perlawanan dan penghentian pergerakan ISIS itu sendiri. Namun hal ini kemudian tidak berhasil karena ternyata ISIS tidak mampu menghentikan kelompok Kurdi dalam usahanya untuk mendapatkan porsi kekuasaan di Turki (Tziarraz, 2015). Ketidakberhasilan Turki, di bawah kekuasaan partai AKP dalam menghentikan Kurdi diperparah dengan tidak tercapainya suara mayoritas untuk AKP dalam pemilihan umum pada bulan Juni 2015 secara mengejutkan. Gennarelli (2015) menyebutkan bahwa pada tanggal 7 Juni 2015 yang lalu, hasil pemilihan umum yang diselenggarakan oleh Turki menunjukkan bahwa AKP telah kehilangan suara mayoritas yang selalu didapatkannya selama 13 tahun terakhir dari masyarakat Turki. AKP tetap memperoleh suara tertinggi, yakni 41% dalam pemilihan umum untuk parlemen ini, namun suara tersebut tidak cukup untuk kemudian membentuk sebuah pemerintahan. AKP tetap menjadi partai dengan suara tertinggi namun tidak mendapatkan mayoritas semula seperti yang selama 13 tahun terakhir didapatkannya.

            Sementara itu, hal yang lebih mengejutkan adalah eksistensi parta HDP yang merupakan parta kelompok minoritas Kurdi kemudian mendapatkan suara sebanyak 13% yang berarti partai tersebut dapat berpartisipasi dalam parlemen yang membutuhkan 10% suara untuk mendapatkan representasi pada parlemen (Gennarelli, 2015). Partai HDP dengan anggota kelompok Kurdi ini berambisi untuk menjatuhkan pemerintahan Erdogan dan AKP. Dengan keinginan kuat tersebut kemudian pendukung HDP mampu membuat HDP mendapatkan kursi di parlemen Turki itu sendiri. Hal tersebut kemudian menjadi pukulan tersendiri untuk AKP yang memiliki ambisi untuk terus berkuasa di Turki. Dan hal tersebut menandakan bahwa usaha AKP, termasuk memberikan dukungan kepada ISIS untuk menghentikan kelompok Kurdi, ternyata dirasa tidak berhasil dan tidak membuahkan kepercayaan dari masyarakat untuk kembali memilih AKP untuk menjadi partai yang terus berkuasa dalam pemerintahan Turki. Dengan kata lain, AKP menganggap bahwa ISIS gagal menghentikan kelompok Kurdi dan itu artinya usaha AKP memberikan dukungan kepada ISIS tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan AKP kepada ISIS. HDP tidak dapat dihentikan, sebagai gantinya HDP justru mendapatkan dukungan dari masyarakat untuk turut duduk di kursi parlemen.

            Sesuai dengan pendekatan rasional aktor, ketika satu cara ternyata tidak membuat aktor mencapai kepentingannya, maka aktor akan bebas melakukan aksi lainnya untuk dapat tetap mencapai kepentingan awalnya. Daripada melihat bahwa keterlibatan HDP dalam parlemen dapat berpengaruh dalam perubahan sikap Turki terhadap ISIS ini, penulis lebih menyoroti adanya alasan lain di balik perubahan sikap Turki tersebut, mengingat porsi kursi HDP di parlemen juga kemudian kecil bila dibandingkan dengan AKP yang menerima suara terbanyak. Penulis menyoroti bahwa kepentingan Turki di bawah pemerintahan Erdogan dan AKP sejak awal adalah menghentikan kelompok Kurdi dan membuat AKP tetap menjadi partai yang berkuasa. Ketika ISIS telah dianggap tidak lagi relevan menjadi alat Turki dalam mencapai kepentingannya, maka Turki akhirnya mengubah sikapnya dengan melakukan penyerangan terhadap kelompok ISIS di Suriah dan menciptakan instabilitas yang dicurigai juga turut memberikan ancaman kepada keselamatan kelompok Kurdi di wilayah tersebut. Dengan aksi “perlawanan terhadap jihad radikal” tersebut, pemerintah Erdogan dan AKP diharapkan mendapatkan dukungan dari masyarakat. Sehingga dukungan tersebut kemudian dapat membuat AKP kembali mendapatkan suara mayoritas pada pemilihan umum yang selanjutnya.

 

Kesimpulan

            Menarik membicarakan mengenai perubahan-perubahan yang terjadi di Timur Tengah karena memang kawasan tersebut merupakan suatau kawasan yang cukup banyak mengalami gejolak. Perubahan yang ditunjukkan oleh Turki pun sangat menarik untuk dibahas. Turki selama ini merupakan aliansi AS sekaligus anggota NATO yang tentu saja memiliki hubungan yang baik dengan negara-negara barat. Namun kemudian sikap Turki pada awalnya tidak mencerminkan sebagai negara aliansi AS (Inbar, 2015). Hal ini ditunjukkan dengan sikap Turki terhadap ISIS yang bertolak belakang dengan ambisi AS untuk sebisa mungkin membendung pergerakan dan aksi terorisme di muka bumi ini. Secara mengejutkan dan kontroversial, Turki didapati memberikan dukungan terhadap aksi dan pergerakan ISIS. Tidak hanya memberikan dukungan secara moril saja, namun Turki telah mengambil langkah yang jauh dengan memberikan dukungan fisik berupa bantuan dana dan persenjataan bahkan perawatan medis bagi anggota ISIS yang berperang. Melalui dukungan tersebut, Turki bukan tidak mengharapkan apa-apa. Sejalan dengan banyaknya biaya yang telah dikeluarkan serta banyaknya kontroversi yang telah diterima, Turki mengharapkan hal yang besar dari ISIS. Harapan tersebut tidak lain berkaitan dengan penghentian kelompok Kurdi sebagai kelompok oposisi agar tidak terus mendesak porsi kekuasaan dan otonomi di wilayah Turki itu sendiri.

            Turki di bawah kepemimpinan partai AKP ingin terus melanggengkan kekuasaannya dengan menghentikan kelompok minoritas, Kurdi. Namun ternyata hal tersebut menunjukkan hal yang sebaliknya. Dengan usaha Turki mempersenjatai ISIS, ternyata masyarakat tidak lantas memberikan kepercayaan dan legitimasinya kepada Turki dan AKP. Hal ini dibuktikan dengan tidak tercapainya suara mayoritas untuk AKP pada pemilihan umum parlemen pada tanggap 7 Juni 2015 yang lalu. Di samping itu, HDP, partai kelompok Kurdi justru akhirnya berhasil memperoleh suara yang melampaui 10% untuk dapat duduk di kursi parlemen. Hal ini tentu mengejutkan bagi AKP dan membuat AKP kemudian mulai menganggap bahwa ISIS tidak lagi relevan digunakan sebagai alat untuk mencapai kepentingannya sehingga Turki mulai mengubah sikapnya dengan melakukan penyerangan kepada ISIS di Suriah. Alasan Turki tidak sesederhana sebagai bentuk serangan balasan atas bom bunuh diri yang dijatuhkan ISIS di wilayah Suruc, namun lebih dari itu Turki memiliki alasan politik tersendiri yang berkaitan dengan kondisi yang dihadapinya. Turki di bawah AKP sesungguhnya tetap ingin mencapai tujuan awalnya, yakni menghentikan kelompok Kurdi dan mempertahankan kekuasaan AKP di pemerintahan Turki. Hal inilah yang kemudian dipercaya juga menjadi alasan kuat di balik perubahan sikap Turki terhadap pergerakan ISIS. Penulis berpendapat bahwa perubahan orientasi sikap Turki tidak dapat secara sederhana merupakan hasil dari pertimbangan alasan-alasan keamanan dan stabilitas saja, melainkan tentunya penting juga dilihat dalam sudut pandang lain yang ternyata juga sesuai dengan kondisi yang dihadapi oleh Turki. Hal ini mengingat bahwa kondisi yang terjadi adalah adanya keterkaitan antara Turki, kelompok Kurdi, dan ISIS itu sendiri.

 

Referensi:

Bipartisan Policy Center. 2015. “Turkey: An Increasingly Undependable Ally”, dalam BPC National Security Program Report. BPC.

Gennarelli, Alessandra. 2015. Edorgan’s AKP Loses Majority while HDP Win’s Representation on Turkish Elections” [online], dalam https://www.centerforsecuritypolicy.org/2015/06/08/erdogans-akp-loses-majority-while-hdp-wins-representation-in-turkish-elections/. [diakses 19 Oktober 2015].

Inbar, Efraim. 2015. “Turkey – America’s Unacknowledge Problem”, dalam BESA Center Perspective Paper. BESA.

Korkmaz, Kaan dan John Rydqvist. 2015. “Turkish Getup? Ankara’s Syria Policy Dilemma”, dalam Asia Security Briefing. FOI.

Mesquita, Bruce Bueno. n.d. “Foreign Policy Analysis and Rational Choice Model”. Stanford University.

The World Post. 2015. “Turkey Joins US-led Coalition Airstrikes Against ISIS in Syria”, [online], dalam http://www.huffingtonpost.com/entry/turkey-coalition-airstrikes-isis_55e1b2a2e4b0b7a963393423. [diakses 19 Oktober 2015].

Tziarraz, Zenonas. 2015. “Shifting The Balance Against ISIS” [online], dalam http://da.unic.ac.cy/wp-content/uploads/2015/07/Shifting-the-Balance-against-ISIS.pdf. [diakses 19 Oktober 2015].

Zurcher, Erik J. 2003. Sejarah Modern Turki. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.761.855