Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

Sistem Hegemoni dan Peran Amerika sebagai Hegemoni Dunia

10 January 2015 - dalam Umum Oleh fyustiazari-fisip12

Perkembangan dunia yang telah melahirkan berbagai macam international order hingga saat ini kemudian telah membuktikan bahwa pasti terdapat adanya sistem hegemoni yang memainkan peran. Adanya sistem hegemoni dalam sistem internasional ini sendiri tentunya memiliki fungsi-fungsi yang bertujuan untuk menciptakan suatu keadaan sistem internasional yang stabil. Hal ini disebabkan karena dengan adanya sistem hegemoni pada suatu kondisi sistem internasional tertentu, artinya terdapat suatu kekuatan yang mumpuni dan tentunya memiliki kapasitas untuk menjaga stabilitas dunia termasuk stabilitas dalam bidang perdamaian dan keamanan internasional. Pada sistem internasional yang sedang berlangsung saat ini, Amerika Serikat merupakan negara yang memiliki peranan penting dalam mengisi peran dalam sistem hegemoni dunia. Amerika Serikat dapat dilihat telah memainkan peranannya sebagai hegemon dengan menjadi aktor yang seringkali terlibat dalam berbagai fenomena. Pada tulisan kali ini, akan dijelaskan mengenai pengertian tentang sistem hegemoni serta akan dibahas juga mengenai peran Amerika Serikat sebagai aktor hegemon yang kini disebut-sebut sedang mengalami penurunan, khususnya dalam sistem hegemoni dalam lingkup global.

 

Definisi dan Nature Sistem Hegemoni

            Banyak pendapat yang mencoba mendefinisikan tentang sistem hegemoni itu sendiri. Salah satunya adalah Gramsci (dalam Litowiz, 2000: 518) menggambarkan sistem hegemoni sebagai suatu keadaan dimana terdapat adanya suatu kelompok yang menonjol atau tersupremasi bukan hanya dalam kekuatan fisik saja tetapi juga melalui pengakuan pihak-pihak lainnya bahwa suatu kelompok atau entitas tertentu tersebut memang memiliki kapasitas yang mendominasi. Artinya di sini, Gramsci mencoba menjelaskan bahwa kepemilikan kekuatan-kekuatan fisik seperti kapasitas ekonomi yang kuat, keadaan geografi, serta kepemilikan militer yang kuat memang merupakan suat kriteria yang harus dipenuhi oleh para negara hegemon (Beyer, 2012: 34). Namun pengakuan dari negara-negara lain yang mengukuhkan eksistensi suatu entitas sebagai negara hegemoni haruslah ada untuk kemudian dapat menjadi hegemoni yang sesungguhnya. Misalnya saja, Amerika Serikat sebagai negara yang secara ekonomi dan militer kuat, serta memiliki letak geografis yang strategis (Beyer, 2012: 35). Hal ini juga didukung oleh sebagian besar negara yang mengakui eksistensi Amerika Serikat sebagai negara hegemon sehingga Amerika Serikat sampai saat ini masih menjadi hegemon dunia.

            Sistem hegemoni sangat erat kaitannya dengan adanya international order yang seringkali dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Apa kemudian kaitannya? Interntional order itu sendiri dipahami sebagai suatu keadaan yang berisi aktivitas-aktivitas individu dan kelompok dalam mencapai tujuan mereka (Bull dalam Mastanduno, 2003: 142). Aktivitas tersebut kemudian melahirkan peran-peran entitas tertentu dalam mencapai tujuan tertentu tersebut. Dalam sistem hegemoni artinya ada aktor dengan kapasitas ekonomi, politik, dan militer yang cukup kuat yang kemudian menjadi aktor dengan kekuatan paling dominan di antara negara-negara lainnya. Hal tersebut lah kemudian yang melahirkan adanya sistem hegemoni yang kemudian melahirkan adanya aktor hegemon seperti Amerika Serikat dalam sistem internasional sekarang ini.

Dominasi yang timbul dari kekuatan aktor hegemon tersebut kemudian menciptakan suatu kemampuan untuk mengontrol jalannya sistem internasional (Mastanduno, 2003: 145). Artinya, kebijakan yang dikeluarkan oleh aktor hegemon dalam interaksinya di dalam sistem internasional kemudian menjadi sangat penting untuk diperhatikan karena tentu hal tersebut akan berimplikasi terhadap adanya perubahan terhadap sistem internasional itu sendiri. Dengan begitu, sistem hegemoni juga sangat berkaitan dengan unipolaritas, dimana polar dari negara-negara di dunia ini adalah kepada negara hegemon yang berkuasa. Dengan adanya kapasitas yang demikian, tentunya hubungan yang terjadi dalam interaksi internasional yang ada tentunya bersifat asimetris. Negara hegemon tentunya akan selalu lebih menonjol dan mendominasi interaksi tersebut. Pada intinya, sistem hegemoni merupakan keadaan dimana negara dengan kapasitas kuat mendistribusikan dominasinya dalam mengontrol sistem internasional yang ada. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam sistem internasional yang sekarang ini juga masih ditemukan adanya sistem hegemoni.

 

Peran Amerika Serikat sebagai Negara Hegemon

            Pada sistem internasional saat ini, Amerika Serikat dapat dilihat masih menjadi kekuatan yang dominan sebagai penggerak sistem hegemoni. Pencapaian Amerika Serikat dalam memperoleh peran sebagai negara hegemon dalam bidang ekonomi, politik, dan militer ini tidak dapat dilepaskan dari apa yang telah dilakukan oleh Amerika Serikat di dalam keterlibatannya dalam sistem internasional bahkan sejak Perang Dunia I dan II. Amerika Serikat menjadi aktor yang berperan dalam usaha penyelesaian konflik dalam kedua perang tersebut melalui pembuatan perjanjian-perjanjian dengan negara-negara yang terlibat. Tidak hanya itu, pembentukan Liga Bangsa Bangsa oleh Woodrow Wilson sebagai suatu institusi perdamaian tidak dapat dihilangkan dari sejarah upaya Amerika Serikat sebagai negara hegemon dalam penyelesaian konflik dan perwujudan perdamaian dan keamanan dunia.

            Selanjutnya, Perang Dingin juga menjadi momentum dimana Amerika Serikat berusaha membendung pengaruh komunisme Uni Soviet supaya kemudian tidak menyebar ke seluruh dunia. Kedua kekuatan ini menjadi hegemoni dalam sistem internasional yang sedemikian rupa yang dicerminkan dalam usaha keduanya dalam mempertahankan stabilitas keamanan kala itu dengan menggunakan strategi deterrence. Berakhirnya Perang Dingin yang ditandai dengan runtuhnya Uni Soviet kemudian membuat sistem internasional yang unipolar dengan sistem hegemoni yang dipimpin oleh Amerika Serikat sebagai pemenang Perang Dingin. Dengan munculnya Amerika Serikat sebagai negara hegemon dalam sistem internasional saat ini, peranan Amerika Serikat dalam menjaga perdamaian dan keamanan internasional pun tidak berhenti. Dapat dilihat sejak tragedi 9/11, Amerika Serikat kemudian memfokuskan perhatiannya kepada kebijakan War of Terrorism. Hal ini kemudian dikatakan oleh John B. Ikenberry (2002: 49) sebagai kebijakan besar pertama oleh Amerika Serikat sejak kemenangannya di Perang Dingin.

            Ikenberry (2002) kemudian menyebutkan tujuh elemen strategi Amerika Serikat dalam usaha-usahanya memerangi terorisme dalam rangka mewujudkan keamanan dunia. Ketujuh elemen tersebut adalah: (1) menciptakan kondisi sistem internasional yang unipolar dengan Amerika Serikat sebagai kutub; (2) menjadikan terorisme sebagai bukan hanya musuh bagi Amerika Serikat, tetapi juga sebagai musuh universal yang harus dilawan oleh semua negara; (3) menerapkan strategi ofensif, yakni dengan menyerang secara keseluruhan karena strategi deterrence dianggap oleh Amerika Serikat sebagai strategi yang telah using; (4) penyerangan terhadap negara-negara yang terindikasi melahirkan terorisme karena adanya ketidakjelasan mengenai identitas para teroris itu sendiri; (5) distribusi kekuatan secara lebih intensif dalam pengendalian perjanjian internasional yang ada untuk mereduksi ancaman; (6) pemantapan kebutuhan Amerika Serikat dalam melakukan penanganan terhadap terorisme secara langsung. Hal ini kemudian membuat negara-negara besar lainnya menganggap bahwa yang diinginkan oleh Amerika Serikat hanyalah mempertahankan hegemoninya. Terakhir (7) Amerika Serikat dituntut mulai menaruh perhatian lebih pada stabilitas internasional. Strategi yang dilakukan oleh Amerika Serikat tersebut kemudian menunjukkan bahwa peran Amerika Serikat dan keterlibatannya dalam sistem internasional saat ini masih sangatlah besar sebagai negara hegemon. Namun, kemudian banyak spekulasi yang mengatakan bahwa posisi Amerika Serikat sebagai negara hegemon saat ini telah mulai tergeser.

            Kebijakan Amerika Serikat yang terlihat cenderung konservatif itu kemudian menimbulkan kecurigaan dan berbagai kontradiksi dari berbagai banyak pihak. Amerika Serikat yang memerangi terorisme dengan melakukan strategi ofensif terhadap negara-negara Islam tersebut kemudian dianggap hanya berusaha mewujudkan kepentingannya akan minyak yang ada di kawasan Timur Tengah tersebut. Karena itu kemudian Amerika Serikat kini sedang mengalami krisis legitimasi yang berbuntut pada anggapan masyarakat internasional atas tergesernya peran Amerika Serikat sebagai negara hegemon (Ferguson, 2004: 34; Kagan, 2004: 63). Momentum ketika Amerika Serikat memutuskan untuk melakukan penyerangan terhadap Irak pada tahun 2003 telah menyebabkan pandangan dan ekspektasi masyarakat internasional terhadap Amerika Serikat menjadi bergeser. Ada ketidaksepakatan antara Amerika Serikat dan negara-negara Eropa mengenai ancaman yang ditimbulkan dari Saddam Hussein mengenai terorisme (Kagan, 2004: 65). Amerika Serikat menganggap Saddam Husein sebagai ancaman, sementara bagi Eropa hal tersebut bukan merupakan ancaman. Ketidaksepakatan tersebut menyebabkan Amerika Serikat mengalami krisis legitimasi dari Eropa yang menjadikan posisi Amerika Serikat sebagai negara hegemon diragukan.

            Selain krisis legitimasi, Amerika Serikat juga dikatakan oleh Ferguson (2004) mengalami defisit lain yang menyebabkan peranannya menjadi tergeser. Pertama, Amerika Serikat mengalami defisit ekonomi karena Amerika Serikat saat ini harus membiayai konsumsi sektor privat maupun publik membengkak. Kedua, karena banyaknya pasukan yang telah dikirimkan untuk intervensi ke Irak dan Afghanistan, Amerika Serikat juga kemudian mengalami defisit militer yang disebabkan karena kurangnya pasukan militer itu sendiri. Kemudian, yang paling penting adalah Amerika Serikat juga mengalami attention deficit dari masyarakat internasional. Padahal, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pengakuan dari negara-negara lain merupakan hal yang penting untuk dapat tetap menjalankan perannya sebagai negara hegemon. Ketiga defisit inilah ditambah dengan krisis legitimasi oleh negara-negara Eropa yang kemudian menumbuhkan anggapan bahwa Amerika Serikat telah mulai tergeser dari posisinya sebagai negara hegemon.

 

Kesimpulan dan Opini

            Sistem internasional tertentu menciptakan sebuah sistem hegemoni tertentu pula. Interaksi yang dilakukan oleh negara-negara dalam sistem internasional yang telah terjadi selama ini menciptakan peran-peran tersendiri bagi masing-masing aktor. Dari interaksi tersebut tentu ada aktor yang menonjol dengan peran yang mendominasi. Karena itu munculah negara hegemon yang seringkali dianggap sebagai “polisi dunia” yang dalam melaksanakan fungsinya, seringkali terlibat dalam berbagai kasus dan konflik. Sistem hegemoni identik dengan adanya dominasi dan unipolarisme. Hal ini tentu penting dalam kelangsungan berjalannya sistem internasional yang stabil karena dengan adanya sistem hegemoni, ada satu kekuatan yang mampu mengontrol sistem internasional itu sendiri. Namun untuk menjadikan hegemon dalam suatu sistem, bukan hanya kapasitas fisik saja yang diperlukan, tetapi juga pengakuan dari pihak-pihak lain yang didominasi.

            Amerika Serikat merupakan contoh negara hegemon yang telah kita kenal umumnya sejak Perang Dingin berakhir. Dunia mulai menjadi unipolar dengan Amerika Serikat sebagai polar utamanya. Memang, Amerika Serikat memiliki kapasitas yang mumpuni sebagai negara hegemon. Namun, dewasa ini, peran Amerika Serikat mulai diragukan dan pengakuan negara lain mulai lemah. Lantas, apakah hal tersebut menyebabkan peran Amerika Serikat terancam berakhir dalam sistem internasional saat ini? Jika dilihat secara empiris saat ini, Amerika Serikat masih belum dapat tergeser dari peranannya sebagai negara hegemon. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa secara ideologi dan pengaruh, ideologi Amerika Serikat masih diterima oleh sebagian besar masyarakat internasional. Sulit untuk menggantikan ideologi Amerika Serikat yang telah banyak tertanam. Cina merupakan salah satu negara yang digadang-gadang sebagai pengganti Amerika Serikat sebagai negara hegemon. Namun, ideologi Cina masih belum dapat diterima sehingga tentu akan sulit menggeser Amerika Serikat. Selain itu, secara kekuasaan dan kemampuannya dalam mengontrol sistem internasional, Amerika Serikat juga masih terbilang kuat. Hal ini dibuktikan dengan masih signifikannya perang Amerika Serikat dalam menguasai IMF dan banyak institusi lainnya. Dengan begitu, daripada menghilangkan hegemoni Amerika Serikat di dunia ini, nampaknya lebih baik Amerika Serikat masih diakui sebagai hegemoni karena hegemoni itu sendiri memang penting untuk menjaga stabilitas dunia, khususnya dalam hal ini secara global.

 

Referensi:

Beyer, Anna Cornelia. 2012. “Hegemony and Power in the Global War on Terrorism”, dalam Power in the 21st Century. Berlin: Springer-Verlag.

Fergusson, Niall. 2004, “A World Without Power”, dalam Foreign Affairs July-August pp. 32-39.

Ikenberry, G. John, 2002. “America’s Imperial Ambition”, dalam Foreign Affairs Vol. 81,             No. 5, pp. 44-60.

Kagan, Robert. 2004. “America’s  Crisis of Legitimacy”, dalam Foreign Affairs, Volume 83, No. 2, pp. 65-87.

Litowitz, Douglas, 2000. “Gramscy, Hegemony, and the Law”, Brigham Young University Law Review, Vol. 2000 Issue 2, p515.

Mastanduno, Michael. 2003 “Chapter 4: Incomplete Hegemony: The United States and    Security Order in Asia”. pp. 141-169

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.761.794