Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

Muslim di Eropa: Melihat Celah dan Prospek Integrasi Muslim di Eropa

10 January 2015 - dalam Umum Oleh fyustiazari-fisip12

oleh:

Fiqarrahmadani Yustiazari


Kemudahan teknologi transportasi dan informasi telah membawa dampak baik maupun buruk bagi perkembangan dunia khususnya Eropa di era kontemporer saat ini. Dunia yang semakin menjadi kurang jelas batasnya, menyebabkan kemudahan manusia untuk berpindah dari negara satu ke negara lainnya bahkan ke benua satu dengan benua lainnya. Hal ini dimanfaatkan oleh Eropa untuk kemudian mengimplementasikan kebijakan migrasi untuk memperoleh tenaga kerja sebagai respon atas permasalahan demografi, yakni grey population yang semakin kompleks. Peluang bagi masyarakat dari belahan dunia lain untuk memasuki Eropa semakin besar dengan kebijakan membuka kesempatan migrasi tersebut. Berbagai masyarakat di seluruh penjuru dunia mulai berbondong-bondong melakukan migrasi ke Eropa dengan alasan ingin mencari kehidupan yang lebih baik. Ditambah lagi Eropa menyediakan sistem kesejahteraan masyarakat yang dapat membuat siapa saja tertarik untuk datang sehingga semakin banyak imigran yang ingin tinggal di Eropa.

Kaum Muslim merupakan salah satu imigran yang tiap tahunnya mengalami peningkatan jumlah di Eropa. Muslim yang tinggal di Eropa yang berasal dari Asia, Afrika, Balkan, Turki, dan berbagai area lain kemudian hingga kini telah menjadi kelompok minoritas yang besar di Eropa (Archick et al, 2011). Belum lagi ketika kelompok Muslim tersebut kemudian melahirkan generasi-generasi kedua bahkan ketiga, tentu kelompok minoritas Muslim di Eropa akan kian banyak. Melihat keadaan tersebut, Muslim tentu akan turut mempengaruhi masa depan Eropa. Isu mengenai integrasi Muslim dalam masyarakat Eropa masih menjadi perdebatan mengingat banyak tantangan dan juga prospek yang bermunculan. Pada era kontemporer saat ini, studi tentang Islam di Eropa menjadi kajian yang menarik untuk diteliti. Hal ini berkaitan dengan bagaimana ternyata Muslim juga turut mempengaruhi masa depan Eropa serta berkaitan dengan ancaman yang dibawa oleh para kaum muslim itu sendiri (Wharton, n.d.: 5) melalui kegiatan-kegiatan yang dinilai ekstrim yang juga mengingatkan kita pada peristiwa 9/11 beberapa tahun silam. Karena itu, pada tulisan kali ini akan dibahas mengenai Islam dan Eropa khususnya mengenai celah serta prospek terintegrasinya Islam di benua Eropa. Mengingat banyaknya tantangan yang mungkin masih dan akan terus terjadi di masa depan, prospek integrasi Muslim di Eropa kemudian menjadi suatu hal menarik yang patut untuk diperdebatkan.

 Persebaran dan Asal Migran Muslim di Eropa

Migran Muslim di Eropa tersebar di berabagai wilayah. Jumlah populasi Muslim yang tersebar di negara-negara di Eropa biasanya berkisar kira-kira 0 sampai dengan 8% dari total populasi masing-masing negara yang tersebar antara lain di Prancis, Jerman, Italia, Inggris, Swedia, Belgia, Denmark, Belanda, Spanyol, Irlandia, Finlandia, Norwegia, Luksemburg, Portugal, Swiss, Austria, dan berbagai negara Eropa lainnya (Archick et al, 2011). Dari persebaran migran Muslim di Eropa dapat dilihat bahwa penduduk Muslim terbanyak berada pada wilayah Prancis, yakin mencapai 7,5% dari total penduduknya. Setelahnya diikuti dengan Swiss dan Belanda yang masing-masing penduduk Muslimnya berjumlah 5,7% dan 5,5% dari total penduduk masing-masing negara. Jumlah tersebut diperkirakan oleh Pew Research Center pada tahun 2011 akan terus mengalami peningkatan pada tahun-tahun berikutnya yang disebabkan oleh meningkatnya migrasi Muslim dari daerah di sekitar Eropa juga meningkatnya rasio fertilitas penduduk Muslim tersebut sehingga akan melahirkan generasi kedua bahkan ketiga (Archick et al, 2011).

Migran Muslim biasanya datang ke Eropa dari berbagai wilayah di sekitarnya seperti Timur Tengah dan Asia Selatan. Penyumbang migran Muslim terbesar ke Eropa adalah Turki (Peach, 2007: 11). Hal ini dapat disebabkan karena kedekatan wilayah Turki dengan Eropa, bahkan sebagian wilayah Turki adalah termasuk dalam wilayah Eropa itu sendiri. Hal ini tentu saja menyebabkan migran Muslim dari Turki terbilang yang paling besar. Beberapa negara lain yang menjadi penyumbang migran Muslim adalah negara-negara Asia Selatan seperti Pakistan, Bangladesh, India, dan Afganistan (Peach, 2007: 12). Hal ini mampu menjelaskan bahwa kemudian negara-negara bekas jajahan ternyata memiliki ikatan atau link yang memicu mereka untuk mengirimkan banyak migran Muslim ke wilayah Eropa. Seperti migran dari negara-negara Asia Selatan sebanyak 88% terkonsentrasi di Inggis karena merupakan bekas jajahan (Peach, 2007: 12). Serta penduduk dari Maroco dan Aljazair yang banyak tinggal di Prancis yang merupakan bekas penjajahnya (Archick et al, 2011).

Peningkatan Jumlah Migran Muslim di Eropa

Jumlah migran Muslim yang masuk ke Eropa dapat dibilang mengalami peningkatan yang cukup pesat. Pergerakan Muslim memasuki Eropa dalam skala yang besar telah dimulai sejak beberapa dekade yang lalu (Grant dan Reynolds, 2007: 5) dan sejak saat itu, arus pergerakan Muslim ke Eropa semakin cepat yang didukung dengan perkembangan teknologi transportasi dan berkembangnya isu grey population di Eropa yang menyebabkan pemerintah Eropa harus membuka diri untuk migran agar kebutuhan akan tenaga kerja dapat terpenuhi. Arus migrasi yang semakin cepat menyebabkan migran Muslim pun terus mengalami peningkatan jumlah dari tahun ke tahun. Diestimasikan bahwa dengan kira-kira 500 juta jiwa penduduk Muslim yang tersebar di seluruh penjuru dunia ini, 15 juta dari 20 juta jiwa tinggal di belahan dunia bagian barat, yakin termasuk di Eropa (Archick et al, 2011).

Secara umum, pada tahun 1950an, data menyebutkan bahwa migran Muslim di Eropa hanyalah sekitar kurang dari 300.000 jiwa saja (Peach, 2007: 31). Jumlah ini ternyata terus mengalami peningkatan, yakni pada tahun 1990 meningkat hingga hampir mencapai 10 juta jiwa dan terus meningkat hingga mencapai 17 juta jiwa di Eropa Barat pada tahun 2010 silam (Mandavile, 2010: 5). Hal ini tentu menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan yang signifikan atas jumlah migran Muslim di negara-negara Eropa. Peningkatan yang signifikan terjadi pada tahin 1990 ke tahun 2000an, yang ditandai dengan adanya peningkatan dua kali lipat atau lima puluh persen migran di beberapa negara di Eropa. Dengan peningkatan yang terjadi terus menerus seperti ini dan dengan kebutuhan akan tenaga kerja yang semakin meningkat karena isu demografi yang berkembang sehingga membuat pemerintah Eropa harus menerima banyak migran, maka diperkirakan bahwa jumlah penduduk Muslim akan mengalami peningkatan hingga mengambil seperlima bagian dari total keseluruhan penduduk Eropa itu sendiri pada tahun 2050 mendatang (Grant dan Reynolds, 2007: 5). Hal ini tentu akan membawa beberapa pengaruh tersendiri bagi masa depan Eropa. 

Tantangan Bagi Muslim di Eropa

 Pemerintah dan Penduduk Muslim di Eropa

Di era kontemporer saat ini, dengan semakin banyaknya penduduk Muslim yang masuk ke Eropa tentu menambah tantangan bagi pemerintah di Eropa untuk mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang terkait dengan pluralisme agama di Eropa itu sendiri. Mencuatnya isu-isu mengenai Islam khususnya di Eropa memberikan tambahan pekerjaan bagi pemerintah Eropa untuk membuat kebijakan yang tentunya mengandung prinsip-prinsip ekualitas, anti diskriminasi, serta kebijakan pembebasan memeluk agama (Sivestri, n.d.: 46). Masuknya migran Muslim ke Eropa tidak hanya menambah permasalahan tentang keberagaman yang dapat memicu konflik antar agama, tetapi Muslim yang telah banyak menjadi penduduk Eropa juga turut mempengaruhi pola demokrasi dan mempengaruhi sikap pemerintah dalam membuat kebijakan yang memenuhi prinsip-prinsip yang telah disebutkan sebelumnya. Pemerintah tentunya dituntut untuk mengimplementasikan kebijakan tanpa membuat kelompok Muslim yang memang merupakan kelompok minoritas dalam jumlah besar di Eropa merasa terdiskriminasi.

Dalam mengimplementasikan kebijakan terhadap para penduduk Muslim yang ada di Eropa, pemerintah mendirikan sebuah dewan konsultatif Muslim (Silvestri, n.d.: 47) sebagai bentuk kepedulian pemerintah Eropa terhadap aspirasi Muslim di Eropa. Fungsi dari dewan konsultatif Muslim ini adalah sebagai perantara atau bisa disebut juga juru bicara resmi dari kelompok muslim yang dapat terhubung dengan pemerintahan resmi negara. Selain itu, dewan ini juga dapat terhubung dengan masyarakat sipil yang beragama lain selain Islam (Silvestri, n.d.: 47). Dengan menyediakan wadah untuk berdialog tersebut, pemerintah mengharapkan adanya hubungan yang jauh dari konflik antara kelompok-kelompok yang memiliki perbedaan signifikan dalam hal agama dan kepercayaan. Di satu sisi, memang di sini terlihat bahwa pemerintah negara-negara di Eropa berusaha tidak meminggirkan kelompok minoritas, yakni Islam, mempromosikan kebijakan-kebijakan dengan prinsip ekualitas, serta menerapkan kebebasan memeluk agama. Namun, di sisi lain ternyata pemerintah Eropa masih berhubungan erat dengan gereja dan masih ditemukan adanya pola hubungan yang erat antara negara dan gereja sehingga gereja dapat menikmati keistimewaan-keistimewaan tertentu (Silvestri, n.d.: 47).

Selain itu, kebijakan pemerintah yang menyediakan dewan untuk berdialog dengan perwakilan resmi negara dan masyarakat sipil lainnya, justru menyebabkan kelompok Muslim ternyata tidak memiliki akses langsung untuk berinteraksi dengan masyarakat Eropa itu sendiri (Silvestri, n.d.: 47). Hal ini justru akan menyebabkan masyarakat Muslim di Eropa merasa terdiskriminasi. Sesungguhnya pemerintah perlu untuk meningkatkan akses bagi masyarakat Muslim untuk dapat berinteraksi langsung dalam kebudayaan dan masyarakat Eropa dibandingkan dengan menyediakan lembaga resmi yang justru membuat masyarakat Muslim merasa terpinggirkan. Namun, di samping itu pemerintah juga menerapkan kebijakan memberikan status legal kepada masyarakat Muslim dengan memperbolehkan masyarakat Muslim untuk berorganisasi, mendirikan simbol-simbol Islam, misalnya masjid dan lembaga Islam seperti sekolah Islam dengan memenuhi peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah tiap-tiap negara Eropa (EUMC, 2006: 9).

Perbedaan Presepsi tentang Integrasi

Bukan hal mudah bagi migran Muslim yang merupakan kelompok minoritas di Eropa untuk menjadi satu dengan penduduk asli Eropa yang rata-rata memeluk agama Kristen yang memang merupakan agama mayoritas di Eropa itu sendiri. Seringkali terjadi banyak perbedaan presepsi dan bahkan terjadi clash di antara keduanya. Hal ini tentu disebabkan karena kekuatan kedua agama tersebut dalam merespon kekuatan masing-masing di Eropa (Kretz, 2010: 17). Perbedaan mendasar antara keduanya juga terletak tentu saja pada perbedaan kebiasaan dan kebudayaan. Sementara itu, keduanya juga memiliki presepsi yang berbeda dalam menilai sebuah integrasi itu sendiri.

Thomas D. Grant dan Michael A. Reynolds (2007) melakukan survey untuk mengetahui bagaimana interpretasi para Muslim terhadap integrasi itu sendiri. Menurut para informan Muslim tersebut, integrasi adalah mendapatkan akses yang sama dengan penduduk asli Eropa dalam hal pendidikan, kesehatan, serta ekonomi di Eropa. Kemudahan yang sama atas akses-akses yang telah disebutkan di atas menurut migran Muslim tidak perlu disertai dengan asimilasi yang kuat oleh penduduk Muslim ke dalam penduduk asli Eropa yang jelas memiliki kebudayaan yang cenderung jauh berbeda. Interpretasi ini ternyata berbeda dengan interpretasi para penduduk asli yang rata-rata beragama Kristiani. Penduduk Kristiani di Eropa menilai bahwa integrasi tentu disertai dengan proses asimilasi dan akulturasi yang kuat dan ekuivalen dengan penduduk asli Eropa. Penguasaan bahasa saja tidak cukup untuk dapat kemudian berintegasi dengan penduduk asli. Artinya, untuk dapat berintegrasi dengan penduduk asli, tentu migran dan penduduk Muslim perlu untuk “menjadi penduduk Eropa” itu sendiri. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri untuk berintegrasi bagi migran dan penduduk Muslim di Eropa.

Isu Penggunaan Jilbab di Prancis

Isu-isu mengenai wanita Muslim di Eropa juga telah menjadi isu yang seringkali dibahas dalam permasalahan integrasi penduduk Muslim di Eropa. Salah satu isu yang seringkali ditarik ke permukaan adalah isu mengenai penggunaan jilbab bagi wanita Muslim di Eropa, khususnya di Prancis. Kretz (2010: 50-4) menyebutkan ada tiga periode perdebatan mengenai isu penggunaan jilbab di Prancis sejak tahun 1980an hingga 2000an. Kontroversi mengenai penggunaan jilbab ini seringkali terjadi karena para wanita muslim di Prancis tidak bersedia melepaskan jilbab mereka yang memang digunakan sebagai simbol ketaatan terhadap agama Islam tersebut. Padahal kaum non-Muslim di Eropa menilai bahwa penggunaan jilbab adalah simbol subordinasi dan dapat memicu adanya propaganda (EUMC, 2006: 10). Pada awal kontroversi ini pada tahun 1989, pemerintah Prancis memilih untuk membuat kebijakan untuk memperbolehkan wanita Muslim di Prancis menggunakan jilbab, termasuk di sekolah asalkan penggunaan jilbab tersebut tidak mengganggu kegiatan belajar dan mengajar di sekolah. Mengganggu kegiatan belajar mengajar yang dimaksudkan di sini adalah bahwa penggunaan jilbab ke sekolah diharapkan untuk tidak memicu adanya propaganda yang dapat mengganggu kegiatan mengajar (Kretz, 2010: 50).

Solusi yang diberikan oleh pemerintah Prancis dalam menanggapi isu penggunaan jilbab oleh para wanita Muslim Prancis ini ternyata tidak serta merta membuat kontroversi tentang jilbab berakhir begit saja. Pada tahun 1993 hingga 1994, kontroversi kembali mencuat di Prancis dengan sebab yang kira-kira sama yakni penolakan pelepasan jilbab ketika siswi sedang dalam pelajaran olahraga. Hal ini memicu para guru kemudian merespon dengan menolak pengizinan penggunaan jilbab di sekolah karena hal tersebut kemudian ternyata mengganggu proses pembelajaran. Banyak yang menolak ketika ada penjelasan bahwa jilbab merupakan simbol identitas bagi seluruh wanita Muslim karena hal tersebut dianggap akan mengganggu nilai universalisme di Prancis (Kretz, 2010: 53). Dalam menanggapi permasalahan tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prancis kemudian melarang penggunaan jilbab ke sekolah pada tahun 1994. (Kretz, 2010: 54).

Kontroversi terus berlanjut. Memasuki tahun 2000an, ketika seorang gadis menggunakan jilbab di area sekolah di kota Lyon, pemerintah merasa perlu melakukan sesuatu dengan membuat kebijakan yang seharusnya dapat menghilangkan masalah-masalah Muslim di Prancis itu sendiri. Pelanggaran aturan yang dilakukan oleh gadis tersebut dengan memakai jilbab di area sekolah kemudian memunculkan presepsi dalam diri masyarakat Prancis bahwa wanita Muslim yang bersikeras memunculkan identitas Islam dengan menggunakan simbol-simbol agama seperti jilbab akan berpotensi menjadi Islam fundamentalis yang selama ini tentu saja ditakuti tidak hanya oleh masyarakat Prancis, tetapi juga masyarakat Eropa lainnya. Presepsi ini kemudian memunculkan ide dari masyarakat untuk mendukung larangan penuh penggunaan jilbab bagi wanita Muslim di Prancis. Bahkan, sebuah poling di Prancis mendapatkan data bahwa 49% masyarakat menyetujui adanya larangan penuh penggunaan jilbab bagi wanita Muslim (Kretz, 2010: 54). Isu penggunaan jilbab dan keberadaan wanita Muslim di Eropa, khususnya di Prancis ini ternyata menjadi topik menarik dalam pembahasan mengenai integrasi di Eropa. Kebiajakan pemerintah yang melarang penggunaan simbol-simbol agama seperti jilbab di Eropa juga merupakan tantangan tersendiri bagi Muslim, terutama wanita Muslim di Eropa untuk dapat membaur dengan masyarakat asli Eropa.

Dugaan Terorisme, Isu Diskriminasi, dan Anti-Muslimisme    

Peristiwa terorisme yang terjadi sejak penyerangan WTC oleh sekelompok teroris di Amerika Serikat tidak hanya menimbulkan kekhawatiran bagi pihak Amerika Serikat saja. Seluruh dunia memiliki musuh bersama, yakni teroris yang tidak jelas identitasnya tersebut. Eropa pun memiliki kewaspadaan yang sama besarnya atas munculnya terorisme di tatanan internasional saat ini. Celakanya, kelompok terorisme seringkali diidentikkan dengan golongan Islam radikal. Padahal, migran Muslim ke Eropa terus mengalami peningkatan sejak kedatangannya beberapa dekade yang lalu. Hal ini tentu menjadi kewaspadaan tersendiri bagi pemerintah dan para akademisi Eropa terhadap kelompok Muslim yang jumlahnya semakin mengalami peningkatan tiap tahunnya (Wharton, n.d.: 1). Sejak aksi terorisme yang terjadi pada tahun 2001 silam ditambah lagi dengan peristiwa pemboman London pada tahun 2005, media terus memuat pemberitaan yang membuat Muslim seakan-akan merupakan pihak yang patut dicurigai dan diwaspadai atas berbagai kejadian yang telah disebutkan di atas (Shadid dan Koningsveld, 2002: 174). Hal ini membawa akibat bagi masyarakat Muslim di Eropa yang seringkali dianggap membawa “ancaman Islam” bagi negara barat, termasuk Eropa.

Penyerangan 9/11 merupakan penyerangan yang diduga dilakukan oleh para migran Muslim yang ada di Amerika Serikat. Dengan banyaknya migran yang semakin memenuhi Eropa pada era kontemporer saat ini, Amerika Serikat menganggap bahwa ancaman akan terorisme telah berpindah ke Eropa. Dengan kata lain Eropa kemudian telah menjadi home grown bagi teroris yang seringkali diidentikkan dengan Muslim tersebut (Angenendt, 2007: 45). Di satu sisi, hal ini meningkatkan presepsi yang muncul dari Amerika Serikat bahwa Eropa perlu mengintegrasikan masyarakat Muslim dalam masyarakat Eropa itu sendiri agar kemudian hal tersebut dapat membendung ancaman terorisme karena adanya rasa kepemilikan dari masyarakat Muslim itu sendiri terhadap Eropa (Angenendt, 2007: 45). Namun, di sisi lain yang paling mencolok adalah adanya presepsi negatif atas keberadaan Muslim di Eropa itu sendiri yakni dengan meningkatnya kewaspadaan terhadap ancaman Islam yang dianggap banyak muncul dari hal-hal misalnya keluarga Muslim fundamentalis yang melaharikan banyak generasi muda fundamentalis yang ditandai dengan sekolah-sekolah Islam, penggunaan atribut agama Islam yang berlebihan, dan sebagainya (Shadid dan Koningsveld, 2002: 175).

Poling nasional di Eropa telah banyak membuktikan bahwa masyarakat Eropa asli masih memandang Muslim dengan presepsi yang negatif yang berkaitan dengan isu-isu terorisme yang banyak mencuat. Poling nasional baik internasional memperoleh fakta bahwa 50% masyarakat Eropa, khususnya Eropa Barat memandang bahwa penduduk Muslim tinggal dengan banyak kecurigaan di sekitarnya karena menurut Pew Research Center pada tahun 2005, kelompok Muslim di Eropa juga masih hidup dengan caranya sendiri dan tetap mempertahankan keunikan dan perbedaan mereka dengan masyarakat asli Eropa (EUMC, 2006: 10). Dengan banyaknya presepsi buruk tentang Muslim di Eropa tersebut kemudian muncul isu diskriminasi terhadap penduduk Muslim di Eropa itu sendiri. Kewaspadaan dunia barat, termasuk Eropa terhadap Muslim telah membawa sikap-sikap rasis dan xenophobia yang berlebihan dan memunculkan suatu golongan yang disebut dengan anti-Muslimisme, yakni terminologi yang diungkapkan sebagai bentuk tentangan bagi sekelompok Muslim dengan ideologi yang keruh (Halliday, 1995: 113 dalam Shadid dan Koningsveld, 2002: 175). Salah satu bentuk dari anti-Muslimisme adalah bentuk anti-Muslimisme populis yang rata-rata mendominasi sebagian besar dunia. Bentuk populis ini kemudian menjadi sebuah sikap anti-imigran khususnya di Eropa Barat yang menolak keberadaan migran Muslim di Eropa yang berpotensi membawa ideologi keruh yang fundamental sehingga dirasa berbahaya bagi keamanan Eropa sendiri. Sentimen-sentimen yang muncul atas sikap ini biasanya berupa penolakan terhadap penggunaan atribut Islam seperti jilbab, penolakan pembangunan sekolah-sekolah Islam dan masjid, serta berbagai penolakan lainnya yang biasanya dilakukan oleh partai sayap kanan (Shadid dan Koningsveld, 2002: 176). Sikap-sikap dan isu diskriminasi inilah yang sampai sekarang masih menjadi tantangan besar bagi kehidupan penduduk Muslim di Eropa.

 

 Prospek Integrasi Muslim di Eropa

 Pentingnya Pergerakan Roda Ekonomi bagi Eropa

Meningkatnya arus migrasi ke Eropa terutama meningkatnya jumlah migran dan penduduk Muslim di Eropa memang banyak mengundang kontroversi dan perdebatan dari pemerintahan maupun akademisi. Banyak tantangan yang dihadapi oleh penduduk Muslim di Eropa terutama sebagai respon atas bahaya terorisme yang pada era kontemporer saat ini banyak disorot oleh media. Namun, masih ada prospek bagi penduduk Muslim di Eropa untuk dapat terintegrasi dengan masyarakat Eropa meski memang prospek tersebut relatif kecil. Prospek integrasi penduduk Muslim di Eropa dapat dilihat dari cara ekonomi (Grant dan Reynolds, 2007: 10). Eropa membutuhkan tenaga kerja untuk tetap menjalankan industrinya. Karena itu penting bagi Eropa untuk memperlakukan migran, terutama migran Muslim dengan baik dan penting juga bagi pemerintah Eropa untuk secara aktif mengintegrasi penduduk Muslim agar kemudian kebutuhan akan tenaga kerja dapat terpenuhi dan roda perekonomian di Eropa dapat terus berputar. Muslim di Eropa juga dapat memperluas pola pikir mengenai perkawinan (Grant dan Reynolds, 2007: 11) sehingga hal ini akan meningkatkan fertilitas di Eropa dan dapat melahikan generasi-generasi baru di Eropa untuk kepentingan pembangunan di Eropa sendiri. Karena itu, kebijakan win-win solution antar pemerintah Eropa dengan masyarakat Muslim dapat dibangun (Grant dan Reynolds, 2007: 12).

Kebutuhan Eropa atas Keamanan

Terorisme merupakan salah satu isu yang menyebabkan banyak tantangan menghadang kehidupan penduduk dan migran Muslim di Eropa. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya kewaspadaan Eropa terhadap migran dan penduduk Muslim yang dinilai telah mengarahkan ancaman akan terorisme berpindah ke Eropa. Namun, munculnya kewaspadaan akan terorisme ini juga ternyata membawa prospek tersendiri terhadap integrasi Muslim di Eropa meski kenyataannya hingga saat ini yang menonjol adalah masih melulu isu diskriminasi. Seorang ahli dari Amerika Serikat pernah menyarankan kepada Eropa untuk lebih aktif mengintegrasikan migran dan penduduk Muslim di Eropa ke dalam masyarakat Eropa sehingga kemudian para Muslim tersebut merasa dihargai dan ancaman mengenai terorisme itu sendiri menjadi berkurang sedikit demi sedikit (Angenendt, 2007: 145). Dengan kata lain, dari pada mengisolasi dan mendiskriminasi penduduk dan migran Muslim dalam berkehidupan di Eropa, pemerintah Eropa seharusnya menampung kepentingan Muslim itu sendiri dan lebih aktif mengusahakan integrasi untuk merangkul penduduk asli Eropa dan kelompok Muslim bersama-sama. Hal ini dapat menjadi sebuah prospek baik bagi integrasi Muslim di Eropa meski pada kenyataannya hal ini tentu sulit dilakukan.

 

Simpulan dan Opini

Peningkatan arus migrasi ke Eropa ternyata telah membawa dampak yakni meningkatnya jumlah migran Muslim ke Eropa. Migran Muslim tersebut kemudian tidak hanya berhenti pada satu generasi saja. Karena tingkat fertilitasnya yang cenderung tinggi, para migran Muslim kemudian melahirkan beberapa generasi di bawahnya, generasi kedua hingga bahkan generasi ketiga. Tidak jarang juga para migran Muslim tersebut kemudian memutuskan untuk menetap dan menjadi warga negara di bebagai negara di Eropa. Fenomena ini menjadi isu kontemporer Eropa yang banyak menjadi perhatian berbagai kalangan mulai dari pemerintah hingga akademisi. Berkaitan dengan persoalan mengenai integrasi, semakin banyaknya kelompok Muslim yang bedatangan ke Eropa menjadi tantangan tersendiri baik bagi negara-negara tujuan migrasi di Eropa maupun bagi para migran Muslim yang seringkali terbentur dengan isu-isu diskriminasi yang menghambat proses integrasi migran dan penduduk Muslim ke dalam penduduk asli Eropa itu sendiri.

Jika melihat dari fenomena empiris yang ada dan berdasarkan beberapa literatur yang telah melakukan studi dan survey mengenai integrasi Muslim di Eropa, memang ada prospek integrasi Muslim di Eropa itu sendiri, namun prospek tersebut masih terbilang sangat kecil jika dilihat dari banyak tantangan yang ada saat ini. Pemerintah Eropa memang telah berusaha untuk memasukkan unsur-unsur ekualitas dan non-diskriminasi dalam kebijakannya terhadap penduduk Muslim di Eropa, mengingat memang migran begitu penting untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan akan tenaga kerja. Di samping itu, pemerintah juga sesungguhnya telah didorong untuk merangkul kalangan Muslim dengan lebih aktif dalam mengupayakan integrasi, agar kemudian bahaya terorisme dapat diminimalisasi. Namun, hal ini tidak sebanding dengan besarnya tantangan bagi masyarakat Muslim dan Eropa itu sendiri. Bagi Eropa, tantangan yang muncul adalah dari presepsi masyarakat Muslim itu sendiri tentang identitasnya serta mengenai integrasi.

Masyarakat Muslim seringkali tetap bersikukuh dalam mempertahankan identitasnya yang unik di tengah berbagai protes dan larangan. Hal ini tentu menjadikan proses integrasi menjadi sulit. Selain itu, munculnya kaum anti-Muslimisme juga menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat Muslim di Eropa untuk dapat terintegrasi. Dengan demikian, prospek integrasi Muslim di Eropa menurut penulis sendiri, jika dilihat dari kenyataan yang ada, masih terbilang sangat minim. Prospek yang ada menjadi sangat kabur jika dibandingkan dengan banyaknya tantangan yang muncul dan yang sampai sekarang masih terjadi dan menjadi isu yang hangat dibicarakan.

 

Referensi:

_________. 2006. Muslim in Europe: Discrimination and Islamphobia. EUMC.

Angenendt, Steffen. 2007. “Muslim, Integration, and Security in Europe”, dalam Muslim Integration: Chalenging Conventional Wisdom in Europe and The United States. CSIS.

Archick, Kristin, et al. 2011. “Muslim in Europe: Promoting Integration and Countering Extrimist”, dalam CRS Report of Congress. CRS.

Grant, Thomas D. dan Michael A. Reynolds. 2007. “The Future of Europe and its Muslim: Four Scenarios”.

Kretz, Lauren Ashley. 2010. “Integration and Muslim Indenty in Europe”, tesis dipresentasikan di Sam Nunn School of International Affairs, Institut Teknologi Georgia.

Mandaville, Peter. 2010. Muslim Network and Movement in Western Europe. PEW Research Center.

Peach, Ceri. 2007. “Muslim Population in Europe: A Brief Overview of Demographic Trends and Socioeconomic Integration, with Particular Reference to Britain”, dalam Muslim Integration: Chalenging Conventional Wisdom in Europe and The United States. CSIS.

Shadid, W. dan P. S. van Koningsveld. 2002. “The Negative Image of Islam and Muslims in the West: Causes and Solutions” dalam Shadid, W. dan P.S.van Koningsveld (eds.) Religious Freedom and the Neutrality of the State: The Position of Islam in the European Union. Leuven, Peeters, hal.174-196.

Silvestri, Sara. n.d. “Public policies towards Muslims and the institutionalization of ‘Moderate Islam’ in Europe”, hal. 45-57.

Wharton, Barrie. n.d. “The integration of Islam in the European Union; Prospects and Challenges”. University of Limerick.



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.738.001