Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

Tingkatan Analisis Individual dalam Studi Kebijakan Luar Negeri

05 October 2014 - dalam PPLN Oleh fyustiazari-fisip12

Fiqarrahmadani Yustiazari

071211231017

 

            Penentuan kebijakan luar negeri tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor tunggal saja. Banyak latar belakang mengapa pada akhirnya kebijakan kemudian terbentuk dan diimplementasikan. Salah satu latar belakang tersebut adalah pemimpin. Pemimpin merupakan individu yang seringkali bertugas untuk membuat kebijakan luar negeri dan karena itu, kebijakan luar negeri yang terbentuk kemudian dapat berbeda antara satu negara dan negara lainnya. Bahkan di negara yang sama, ketika pemimpin berganti tentu akan ditemukan perbedaan kebijakan. Mengapa kemudian hal tersebut terjadi? Seberapa penting analisis pada tingkat individu dilakukan dalam studi kebijakan luar negeri? Pada tulisan kali ini akan dibahas mengenai peringkat analisis individual sehingga nanti akan dapat dilihat sejauh mana studi kebijakan luar negeri ini melihat pengaruh individu dalam pembuatan kebijakan luar negeri.

            Peringkat analisis individual merupakan analisis dalam studi kebijakan luar negeri berdasarkan analisis mengenai karakteristik individu atau pemimpin sehingga menghasilkan suatu kebijakan tertentu (Breuning, 2007: 11). Dalam studi Hubungan Internasional, banyak pendapat mengenai kapan individu mulai diperhatikan dalam menganalisis kebijakan luar negeri. Namun, salah satu pendapat mengatakan bahwa studi kebijakan luar negeri dengan pendekatan “The Great Man” belum dikenal pada tahun 1930an. Pendekatan ini kemudian baru dikenal pada masa paska Perang Dingin yang banyak memunculkan isu baru, seperti isu-isu Irak dan Korea Utara yang kemudian membuat para analis merasa perlu melihat permasalahan tersebut dari karakteristik individual pemimpin dua negara tersebut sehingga lebih mudah dalam memahami kebijakan luar negeri (Hudson, 2014: 39).

            Menurut Breuning (2007: 12) terdapat dua fokus utama yang dapat digunakan dalam menganalisis individu, yakni fokus terhadap kepribadian individu tersebut, serta yang kedua adalah presepsi individu tersebut terhadap suatu isu. Individu memang memiliki karakteristik masing-masing sehingga kebijakan yang dibuat pun akan berbeda. Hal ini ternyata dipengaruhi oleh komponen-komponen pemikiran yang selanjutnya akan menjadi sebuah sikap. Valerie Hudson (2014: 42) kemudian mencoba menjelaskan komponen-komponen pemikiran dari pemimpin secara lebih detail, sehingga dapat tercipta suatu kebijakan luar negeri tertentu. Dalam merumuskan suatu kebijakan luar negeri, pemimpin melibatkan presepsi dan kognisi. Presepsi adalah ketika bagaimana akal memproses informasi-informasi yang masuk, sedangkan kognisi adalah pemrosesan informasi tersebut secara lebih detail (Hudson, 2014: 47). Pemimpin memiliki presepsi yang berbeda-beda terkait dengan suatu isu. Hal ini disebabkan karena mereka mempercayai hal-hal yang berbeda pula. Dalam memunculkan presepsi dan kognisi, terdapat yang disebut sebagai batasan-batasan pada benak individu yang membuat individu kemudian memiliki presepsi tertentu. Batasan-batasan tersebut bisa berupa pengetahuan, stereotip, dan prasangka yang di setiap satu individu dan individu yang lainnya memiliki tingkatan yang bebeda-beda pula (Hudson, 2014: 47). Artinya, para pemimpin tersebut tentu memiliki stereotip dan prasangka yang berbeda sehingga cara mereka dalam memandang suatu permasalahan akan berbeda pula.

            Selain itu, emosi serta keadaan tubuh juga ternyata juga memiliki peran dalam pembuatan kebijakan luar negeri. Emosi merupakan salah satu faktor penting yang dapat membentuk sikap individu karena menurut McDermott (2004: 153, dalam Hudson, 2014: 48), emosi memfasilitasi motivasi-motivasi seperti misalnya keinginan untuk mendapatkan kekuasaan, keinginan untuk mendapatkan afiliasi, dan keinginan untuk mencapai tujuan tertentu. Dan emosi juga meningkatkan keinginan individu untuk melakukan sebuah tindakan. Karena itu emosi mempengaruhi seorang pemimpin dalam tindakannya dalam kebijakan luar negeri. Selain emosi, keadaan tubuh juga mempengaruhi penyusunan kebijakan luar negeri bagi individu. Misalnya saja, ketika pemimpin tersebut sedang dalam keadaan stress, tentu kebijakan yang dibuatnya juga tidak dapat menjadi maksimal (Hudson, 2014: 51).

            Selanjutnya, seorang pemimpin dalam membentuk kebijakan, pastilah juga melihat keadaan yang dihadapi, karena itu Valerie Hudson (2014: 53) mamasukkan konteks situasional sebagai salah satu komponen pemikiran yang mempengaruhi terbentukanya kebijakan luar negeri. Individu cenderung akan melihat keadaan yang dihadapi apakah terlalu beresiko atau tidak sebelum kemudian menentukan kebijakan akhir. Pada akhirnya, memang karakteristik individu tidak dapat disamaratakan. Sikap yang pada akhirnya diambil oleh para individu sebagai pembuat kebijakan memang tercermin dari model mental yang mengandung elemen-elemen seperti kepercayaan, nilai, dan memori (Hudson, 2014: 55) yang pada setiap orang memiliki perbedaan masing-masing. Karena itulah kemudian analisis kebijakan sampai ke level individu perlu untuk dilakukan.

            Valerie Hudson (2014: 58-66) juga menjelaskan beberapa teknik dalam menganalisis karakter pemimpin dan mencari tahu bagaimana karakter tersebut dapat membentuk suatu kebijakan tertentu. Pertama, dengan cara psikobiografi. Cara psikobiografi ini berfokus pada memeriksa dan menganalisis kehidupan individu sebagai pembuat kebijakan. Melalui pemeriksaan kehidupan tersebut kemudian diharapkan akan ditemukan bagaimana emosi individu dalam pengalaman hidupnya dapat membentuk suatu motivasi dan tujuan yang jelas dalam membentuk sebuah kebijakan. Dari sini dapat dilihat bahwa dengan cara ini, analis berusaha untuk menemukan motivasi dalam perjalanan hidup individu yang diteliti. Dan ini merupakan kelebihan dari psikobiografi. Kemudian cara kedua adalah dengan cara analisis konten yang menekankan pada analisis terhadap sifat dan karakter individu. Cara ini dapat dilakukan dengan wawancara spontan. Melalui wawancara spontan tersebut akan terlihat bagaimana individu sebagai seorang pembuat kebijakan menghadapi suatu permasalahan dengan memiliki cara tertentu dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan (Hudson, 2014: 61). Dengan mengetahui cara menjawab tersebut kemudian dapat dianalisis bagaimana karakteristik individu tersebut dan pengaruhnya terhadap kebijakan yang dibuat.

            Dengan demikian, tingkat analisis individual dalam analisis kebijakan luar negeri ini dapat dikatakan merupakan tingkat analisis dalam ruang lingkup yang paling kecil, yakni individu. Fokus yang diberikan oleh analisis tingkat ini adalah bagaimana para analis memahami karakteristik pembuat kebijakan sebelum kemudian menghubungkannya dengan kebijakan luar negeri yang dibuat. Analisis kebijakan luar negeri pada level individu ini dapat dikatakan sangat penting karena kebijakan tidak terlepas dari orang yang membuatnya, sementara si pembuat kebijakan tentunya memiliki karakteristik yang berbeda-beda sehingga perlu diketahui bagaimana karakteristik yang berbeda tersebut membentuk kebijakan yang berbeda pula. Namun, praktik dari analisis kebijakan luar negeri ini juga terbilang sulit untuk dilakukan. Mengapa? Karena tentu sulit ketika kita harus dituntut benar-benar memahami karakteristik seseorang tanpa penelitian yang mendalam. Mengetahui bagaimana karakteristik individu yang sesungguhnya, berarti diperlukan ketelitian ekstra dan data yang memadahi sehingga karakteristik individu akan ditemukan secara tepat.

 

Referensi:

Breuning, Marijke. 2007. Foreign Policy Analysis: A Comparative Introduction. New York: Palgrave MacMillan.

Hudson, Valerie M. 2014. Foreign Policy Analysis, Classic and Contemporary Theory. Rowman and Littlefield.

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.761.763