Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

Memahami Geopolitik Kawasan Timur Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tenggara

30 June 2014 - dalam Geopolitik dan Geostrategi Oleh fyustiazari-fisip12

Di berbagai kawasan, timbul dinamika dan permasalahan yang berbeda-beda. Hal tersebut kemudian juga akan menimbulkan adanya geopolitik yang berbeda pula yang diterapkan di masing-masing kawasan. Pada tulisan kali ini, akan dibahas mengenai geopolitik kawasan Timur Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tenggara. Ketiga kawasan tersebut masing-masing memiliki permasalahan dan geopolitik yang berbeda-beda. Nantinya akan dapat dilihat bahwa di Timur Tengah akan banyak permasalahan mengenai minyak bumi dan isu-isu mengenai agama, ditambah lagi, terdapat konflik di kawasan tersebut yang tak kunjung reda antara Israel dan Palestina. Di Asia Selatan pun kemudian juga terdapat permasalahan tersendiri yang muncul dan bagaimana geopolitik di Asia Selatan kemudian muncul terkait dengan konflik India dan Pakistan terkait dengan perebutan Khasmir yang sampai sekarang tak kunjung usai. Kemudian di Asia Tenggara juga kemudian muncul permasalahan mengenai bagaimana regionalisme terbentuk di kawasan melalui ASEAN. Hal-hal tersebut akan dibahas lebih lanjut pada tulisan kali ini.

            Pertama, akan dibahas mengenai geopolitik Timur Tengah. Geopolitik Timur Tengah, seperti yang telah dikatakan sebelumnya, sangat berkaitan erat dengan geopolitik minyak. Hal ini dipengaruh karena negara-negara Timur Tengah merupakan negara-negara yang kaya akan energi minyak bumi. Seperti misalnya Irak yang merupakan negara yang kaya minyak, namun sayangnya kurang memiliki kemampuan untuk mengolah minyak tersebut yang ditandai dengan adanya perebutan sumber-sumber minyak pada level internal yang menyebabkan pada akhirnya sumber daya minyak yang melimpah tersebut kemudian tidak termanfaatkan dengan baik (Al-Khateeb 2003, 5). Dengan kekayaan energi yang melimpah di negara-negara Timur Tengah tersebut kemudian menyebabkan adanya rivalitas antara negara-negara luar kawasan untuk saling mengamankan pasokan energinya. Banyak negara yang memiliki kepentingan di kawasan Timur Tengah yang diantaranya tercermin dalam perjanjian antara Afghanistan, Pakistan, Turkmenistan, dan India, yakin A Gas Pipeline Framework Agreement 25 April 2008 di Islamabad. Perjanjian ini merupakan perjanjian pembangunan pipa yang kemudian akan digunakan untuk penyaluran energi minyak. Pipa yang telah disepakati tersebut kemudian dikonstruksi pada tahun 2010 dan pasokan gas melalui pipa tersebut akan dimulai pada tahun 2015 mendatang (Foster 2010). Selain itu juga terdapat Cina, Amerika Serikat, dan Jepang yang juga memiliki kepentingan di Timur Tengah.

Banyaknya kepentingan negara-negara luar kawasan di kawasan Timur Tengah ini kemudian juga menyebabkan negara-negara Timur Tengah tersebut menyusun geostrateginya. Misalnya, ketika Cina, Jepang, dan India sangat membutuhkan energi untuk industrialisasinya di kawasan Timur Tengah khususnya Iran, Iran kemudian menandatangani perjanjian bilateral dengan ketiga negara tersebut yang bertujuan untuk mencegah dan menghindari sanksi Amerika Serikat atas nuklir yang dikembangkan oleh Iran. Salah satu perjanjian mengenai LNG antara Teheran dengan Beijing kemudian ternyata mampu memberikan imun bagi Iran dari sanksi Dewan Keamanan PBB atas pengembangan nuklirnya (Gal 2004, 2). Hal tersebut kemudian menunjukkan bahwa Iran menggabungkan kepentingannya dan kepentingan negara-negara yang menginginkan minyak untuk mendapatkan hal-hal yang bersifat mutualisme. Dapat dilihat bahwa energi sedikit banyak telah mempengaruhi kebijakan geopolitik kawasan Timur Tengah yang kebanyakan kemudian melibatkan banyak negara luar kawasan dalam permasalahan di kawasan Timur Tengah.

Terlibatnya negara-negara luar kawasan Timur Tengah kemudian juga terjadi pada permasalahan agama yang terjadi di negara-negara Timur Tengah. Negara-negara di Timur Tengah memiliki permasalahan yang terkait dengan agama yang diakibatkan karena perbedaan aliran agama, yakni Islam aliran Sunni dan Islam aliran Syi’ah (Library of Congress 1992). Aliran Syi’ah memegang potensi munculnya Islam garis keras yang kemudian mengancam terjadinya terorisme. Peran Amerika Serikat kemudian muncul terkait dengan munculnya Islam garis keras di Timur Tengah. Peristiwa 9/11 yang sangat menggemparkan dunia itu kemudian mendapatkan respon tegas dari AS untuk memerangi terorisme yang ditengarai berasal dari gerakan Islam radikal. Lantas bagaimana respon negara-negara Timur Tengah terhadap peran AS dalam memberantas terorisme dan menyebarkan demokrasi itu? Terdapat banyak respon yang pro dan kontra terhadap keterlibatan AS ini. Misalnya Pakistan yang merupakan aliansi AS saat Perang Dingin tentu melakukan dukungan terhadap AS yang ingin memberantas jaringan Al-Qaeda. Dukungan Pakistan ini berkaitan dengan kepentingan Pakistan atas perkembangan nuklirnya, yakni diharapkan Pakistan tidak mendapatkan sangsi pengembangan nuklir jika mendukung AS (Gerecth 2008, 6). Namun terdapat juga negara-negara yang menolak demokrasi AS di kawasan Timur tengah, yakni Saudi Arabia, Suriah, dan Lebanon yang ditunjukkan dengan meningkatkan intensitas gerakan Islam radikal yang kontra terhadap demokrasi AS (Gerceth 2008, 7). Dapat dilihat bahwa isu mengenai agama, khususnya Islam radikal di Timur Tengah menjadi isu yang sangat penting, mengingat bahaya terorisme saat ini tengah dirasakan oleh seluruh dunia.

Selanjutnya, beralih ke geopolitik Asia Selatan. Berbicara mengenai Asia Selatan, tidak dapat dipisahkan dari dua negara besar yang berpengaruh di sana, yakni India dan Pakistan. Pada masa Perang Dingin, India dan Pakistan merupakan negara besar yang terpengaruh balance of power AS dan Uni Soviet (Sulistyo 2014). Hal ini ditunjukkan dengan kepentingan AS pada Asia Selatan, khususnya Pakistan dan India, pada Perang Dingin dengan menjadikan Asia Selatan sebagai buffer zone untuk membendung ideologi komunisme yang dibawa oleh Uni Soviet (Chapman 2009, 290). Tidak hanya saat Perang Dingin, India dan Pakistan bahkan sampai sekarang pun masih merupakan dua negara yang berpengaruh di kawasan Asia Selatan. Hal ini terkait dengan adanya konflik antara keduanya di daratan Khasmir yang sampai kini belum kunjung usai. Kasus Khasmir yang telah terjadi selama enam dekade lamanya ini kemudian menjadi isu menonjol yang ada di Asia Selatan. Konflik ini melibatkan dua pihak di Asia Selatan, yakni Pakistan dan India, namun konlik ini kemudian juga turut dapat mengancam stabilitas keamanan kawasan Asia Selatan dan seluruh negara yang ada di dalamnya. Hal ini terkait dengan ancaman nulir yang berasal dari Pakistan dan India yang kemudian akan mengancam keamanan seluruh regional Asia Selatan. Sejak Inia dan Pakistan menyatakan akan mengembangkan persenjataan nuklir pada tahun 1998, stabilitas kemanan Asia Selatan menjadi sangat terganggu (Shuurmans 2013, 2).  

Konflik yang terjadi di Khasmir menyebabkan banyak sekali pelanggaran HAM di, terutama yang dilakukan oleh India. Hal ini juga masih berkaitan dengan agama. Ribuan warga Muslim Khasmir bagian India mengalami kasus pelanggaran HAM. Sebanyak 50.000 hingga 80.000 warga Muslim Khasmir telah terbunuh pada duapuluh tahun terakhir, angka ini akan terus meningkat seiring dengan terus dilakukannya pelanggaran HAM di sana. Hal ini kemudian tentu membuat marah warga Muslim dari negara lain, misalnya Afghanistan sehingga akhirnya dapat memicu terjadinya terorisme (Shuurmans 2013, 3). Keadaan bisa saja diperparah dengan keterlibatan Cina yang juga ikut mengklaim sebagian wilayah Khasmir sebagai wilayahnya, mengingat Cina juga memiliki kasus pelanggaran HAM yang parah. Kasus pelanggaran HAM oleh Cina ini juga kemudian memicu terjadinya terorisme yang merupakan respon dari kasus pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Cina untuk mengklaim sebagian wilayah Khasmir. Terorisme yang telah terjadi diantaranya terjadi melalui aksi bom bunuh diri yang menewaskan 4 warga di perbatasan Cina dan Khasmir tepatnya di wilayah sebelah barat Xinjiang pada 2013 lalu yang melibatkan gerakan Islam radikal Turkmenistan (Shuurmans 2013, 4). Tidak dapat dipungkiri memang, bahwa perbatasan antara wilayah Cina dan Khasmir telah meningkatkan aktivitas terorisme dalam respon mengenai pelanggaran HAM kepada masyarakat Muslim di Khasmir (Cui 2013, dalam Shuurmans 2013, 4). Melihat penjelasan yang telah dijabarkan diatas kemudian dapat dilihat bahwa konflik daratan Khasmir kemudian memicu terjadinya isu terorisme yang juga menjadi serius dalam kaitannya dengan stabilitas keamanan regional Asia Selatan. Ditambah lagi, persaingan antara negara-negara nuklir di Asia Selatan tentu akan meningkatkan kekhawatiran negara-negara lain di sekitarnya akan terjadinya perang nuklir.

Kemudian, beralih ke pembahasan mengenai Asia Tenggara. Jika Asia Selatan cenderung memiliki ancaman ke arah perang nuklir yang dapat membahayakan seluruh negara di dalamnya, maka berbeda dengan Asia Tenggara yang sampai saat ini masih terbilang aman dan tidak berpotensi perang karena terdapat komitmen dari negara-negara di Asia Selatan itu sendiri untuk menjunjung prinsip non-intervensi melalui ASEAN. ASEAN itu sendiri terbentuk dari kesamaan sejarah negara-negara ASEAN yang pernah dijajah meski dapat dilihat bahwa negara-negara ASEAN sangat heterogen. Meski para pemimpin negara-negara pada kala itu berhasil membentuk ASEAN pada tahun 1967, namun eksistensi ASEAN masih dipertanyakan terkait dengan efektivitasnya dalam mengakomodasi kepentingan negara-negara anggotanya. Beberapa hal mempengaruhi ketidakefektivan ini, diantaranya yaitu adanya pandangan dan ekspektasi yang berbeda-beda terkait dengan keamanan regional dari masing-masing negara yang dipengaruhi oleh heterogenitas yang menjadikan negara-negara Asia Tenggara memiliki tradisi yang berbeda (Emmerson 2005, 174-5). Hal ini kemudian menjadikan arah pencapaian kemanan regional menjadi kurang jelas.

Jika berbicara mengenai ASEAN, memang terdapat pendapat baik yang skeptis maupun yang optimis mengenai organisasi regional ini. Pandangan skeptis terhadap ASEAN ini diantaranya mengatakan bahwa ASEAN merupakan organisasi imitasi yang sesungguhnya ingin meniru model Uni Eropa, namun pada kenyataannya ASEAN bahkan tidak mempu mengakomodasi kepentingan negara-negara anggotanya itu sendiri. Namun, Emmerson (2005, 186) menyangsikan pendapat dari David Martin Jones tersebut dengan mengatakan bahwa agaknya tidak seimbang jika membandingkan ASEAN dengan Uni Eropa yang memang dari latar belakang pembentukannya sendiri sudah berbeda, ASEAN dibentuk saat Perang Dingin dengan latar belakang politik sedangkan Uni Eropa berlatar belakang ekonomi dengan negara-negara yang memang sudah terbilang mapan. Skeptis lain memandang bahwa ASEAN Way yang memasukkan prinsip-prinsip non-intervensi di dalamnya melalui Treaty of Amity and Cooperation justru membuat regionalisme Asia Tenggara sulit dicapai (Jones dan Smith 2002, dalam Emmerson 2005, 176). Namun hal ini lagi-lagi disanggah oleh Emmerson (2005, 7) yang mengatakan bahwa prinsip non-intervensi tersebut merupakan tanda bahwa ASEAN mengakui dan menghargai keadaulatan negara-negara anggotanya sehingga sampai sekarang terbukti tidak ada perang fisik di kawasan ini.

ASEAN masih memiliki kesempatan untuk menunjukkan keunggulannya. Selain Emmerson yang menunjukkan sikap optimisnya dalam memandang ASEAN, Solidium (dalam Emmerson 2005, 166) juga mengatakan bahwa ASEAN merupakan organisasi regional yang memiliki peran signifikan dalam stabilitas kawasan Asia Tenggara baik pada masa lalu maupun masa sekarang ini. ASEAN dianggap mampu untuk menyesuaikan kondisi dunia sekarang ini serta usaha penyelesaian konflik berbasis perdamaian yang nantinya akan mendorong kerjasama yang lebih damai seperti yang telah direncanakan dalam Visi ASEAN 2020. Solidium juga berpendapat bahwa tidak adanya ketegangan dan potensi perang di kawasan Asia Tenggara ini juga merupakan prestasi ASEAN yang patut diberi apresiasi karena hal ini menunjukkan bahwa ASEAN masih terbilang sebagai organisasi regional yang solid. Stabilitas dan tereliminasinya potensi konflik di Asia Tenggara ini menurut Solidium merupakan hasil dari ASEAN Way yang selama ini banyak dianggap buruk oleh banyak pihak.

Tantangan geopolitik Asia Tenggara nantinya akan datang dari rencana pelaksanaan Komunitas ASEAN 2015 yang akan menjadikan negara-negara Asia Tenggara sebagai satu identitas, yakni ASEAN. Pembentukan Komunitas Ekonomi ASEAN, misalnya, akan menjadi tantangan bagi geopolitik masing-masing negara Asia Tenggara (Sulistyo 2014). Dengan terbentuknya AEC menunjukkan strategi ASEAN terkait dengan geoekonomi yakni meningkatkan kerja sama negara-negara Asia Tenggara di bidang ekonomi dan perdagangan internasional melalui usaha-usaha penghapusan hambatan baik tarif maupun non-tarif untuk kemudian mendukung terjadinya liberalisasi ekonomi di dalam regional Asia Tenggara. Untuk menghadapi tantangan tersebut kemudian dibutuhkan adanya inovasi dari negara-negara Asia Tenggara sendiri yakni dengan menerapkan geostrategi industri kreatif agar nantinya perekonomian masing-masing negara dapat saling bersaing (Sulistyo 2014).

Selain mengenai ASEAN, geopolitik Asia Tenggara juga berkaitan dengan wilayah perairan atau maritim. Wilayah perairan Asia Tenggara merupakan wilayah yang strategis, khususnya di wilayah Selat Malaka. Letak strategis Selat malaka menyebabkan banyak negara yang berkepentingan di sana untuk menggunakan Selat Malaka sebagai jalur perdagangan yang strategis dan untuk pasokan energi minyak (Sulistyo 2014). Misalnya saja Jepang yang merupakan negara industri tentu juga berkepentingan untuk pasokan energi untuk industrinya, karena itu Selat Malaka bagi Jepang merupakan wilayah yang penting sehingga Jepang harus mempertahankan kepentingannya di sana. Hal ini dilakukan Jepang dengan secara rutin mengirimkan kapal patroli Japan Coast Guard untuk berpatroli di perairan Asia Tenggara khususnya di Selat Malaka (Yudhoyono n.d, 9). Hal ini menunjukkan bahwa Selat Malaka kemudian menjadi choke point yang strategis bagi negara-negara lain di luar kawasan. Selain itu, permasalahan wilayah yang masih menjadi hal penting di Asia Tenggara adalah permasalahan mengenai Laut Cina Selatan yang melibatkan Cina dan negara Asia Tenggara, yakni Vietnam. Penyelesaian sengketa ini kemudian diselesaikan melalui ASEAN Regional Forum dengan Indonesia sebagai mediatornya. Meski demikian, Permasalahan mengenai sengketa Laut Cina Selatan tersebut belum dapat diselesaikan (Sulistyo 2014).

Dengan demikian, tiap-tiap kawasan memiliki geopolitik yang berbeda-beda yang kemudian menjadikan tiap kawasan tersebut menjadi unik. Misalnya saja dengan membicarakan Timur Tengah, yang menonjol adalah mengenai permasalahan agama dan geopolitik energi. Jika membcarakan Asia Selatan, yang kemudian menonjol adalah konflik antara Pakistan dan India yang kemudian mengancam stabilitas keamanan seluruh negara Asia Selatan. Sementara untuk Asia Tenggara, yang menarik untuk dibahas adalah mengenai regionalismenya melalui ASEAN, ditambah lagi dengan semakin dekatnya rencana menuju Komunitas ASEAN 2015 yang menuntut negara-negara Asia Tenggara memiliki geostrategi yang matang untuk kemudian dapat bersaing. Geopolitik yang muncul di masing-masing kawasan kemudian dipengaruhi dari keadaan di kawasan itu sendiri serta berbagai permasalahan yang muncul di kawasan. Seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan kondisi, dimungkinkan geopolitik di berbagai kawasan tersebut kemudian akan berubah pula.

 

REFERENSI

Al-Khatteeb, Luay J. 2013. “Natural Gas in The Republic of Iraq”, dalam Harvard University’s Belfer Center and Rice University’s Baker Institute Center for Energy Studies [online] dalam www.gulfinthemedia.com/files/article_en/675702.pdf. [diakses pada 15 Juni 2014].

Chapman, Graham P. 2009. The Geopolitics of South Asian from Early Empires to The Nuclear Age. ASHGATE e-BOOK.

Emmerson, David P. 2005.  Security, Community, and Democracy in Southeast Asia: Analyzing ASEAN, dalam Japanese Journal of Political Science 6 (2) 165–185. United Kingdom: Oxford University Press.

Foster, John. 2010. “Afghanistan, Enery Geopolitics and the TAPI Pipeline”, dalam Journal of Energy Security [online] dalam http://www.globalresearch.ca/afghanistan-energy-geopolitics-and-the-tapi-pipeline/18329 [diakses pada 15 Juni 2014].

Gal, Doron. 2004. “Global Oil Trends and Their Geopolitical Impact on the Middle East”, dalam The Balance of Israel’s National Security. IDC Herzilya.

Gerecht, Reuel Marc. 2008. “A New middle East After All”. The Weekly Standard, vol 13, no. 22, pp. 1-8.

Schuurmans, Laura. 2013. Kashmir: The Geopolitcal Implication and Its Impact to Security and Peace. Kashmir Council EU.

Sulistyo, Djoko. 2014. “Geopolitik Asia Tenggara”, dalam Kuliah Geopolitik dan Geostrategi Departemen HI Fisip Universitas Airlangga, 12 Juni 2014.

Yudhoyono, Susilo Bambang. n.d. Geopolitik Kawasan Asia Tenggara: Perspektif Maritim [online], dalam  http://binkorpspelaut.tnial.mil.id/.  [Diakses pada 15 Juni 2014].

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.767.944