Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

GEOPOLITIK INDONESIA, EROPA, DAN ASIA TIMUR

30 June 2014 - dalam Geopolitik dan Geostrategi Oleh fyustiazari-fisip12

Setiap negara memiliki keaadan domestik dan pengaruh keadaan serta ancaman eksternal dari lingkungan di sekitarnya yang berbeda-beda. Karena itulah kemudian kebijakan negara terkait geopolitik pun menjadi berbeda-beda pula. Indonesia tentu memiliki geopolitik yang sangat berbeda dengan negara-negara yang rata-rata telah mapan di Eropa maupun dengan negara-negara dengan perekonomian yang kuat di Asia Timur. Geopolitik masing-masing negara pun mengalami perubahan geopolitiknya seiring dengan perubahan time-nya. Hal ini disebabkan karena memang keempat dimensi geopolitik, yaitu time, space, people, dan struggle saling mempengaruhi sehingga geopolitik akan berubah seiring dengan perubahan era pula. Pada tulisan kali ini, akan dibahas mengenai geopolitik di berbagai negara, diantaranya adalah Indonesia, Eropa, dan Asia Timur yang nanti akan terlihat perbedaannya. Juga akan dibahas mengenai perubahan geopolitik masing-masing negara seiring dengan perkembangan era.

            Geopolitik Indonesia yang terpengaruh dari trauma atas segala penjajahan yang telah dialami selama lebih dari 350 tahun lamanya menyebabkan geopolitik Indonesia menjadi sangat berkebalikan oleh teori-teori geopolitik klasik yang menyatakan mengenai ekspansi dan penjajahan. Geopolitik Indonesia seringkali dikenal dengan sebutan Wawasan Nusantara yang menunjukkan bahwa Indonesia menerapkan kebijakan yang tidak ekspansif dengan melakukan penguasaan terhadap negara-negara lain, melainkan lebih kepada menjaga keutuhan dan kesatuan wilayah Indonesia, mengingat posisi Indonesia yang dipandang sangat strategis yang menyebabkan Indonesia menjadi negara yang dipertimbangkan baik pada masa lampau maupun masa sekarang (Friedman 2011). Implementasi geopolitik Indonesia yang berupa Wawasan Nusantara ini tercermin melalui diadakannya Deklarasi Juanda yang intinya adalah membahas mengenai penarikan batas-batas wilayah perairan Indonesia berdasarkan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) (Sakti dan Rino n.d.). Hal ini menunjukkan bahwa dengan penentuan tersebut, Indonesia ingin melindungi kesatuan wilayahnya agar kemudian wilayah Indonesia tetap utuh.

            Namun, seiring berkembangnya zaman, geopolitik Indonesia pun mengalami perkembangan, mengingat ancaman yang datang pun semakin beragam misalnya ancaman internal seperti separatisme dan ancaman eksternal yang misalnya berupa globalisasi yang menyebabkan integrasi sekarang ini telah menjadi tren. Evan A. Laksmana (2011) memberikan penjelasan mengenai kondisi geopolitik Indonesia pada saat ini. Ancaman yang datang ke Indonesia salah satunya menyangkut mengenai politik dan keamanan. Masalah-masalah keamanan dan politik di Indonesia misalnya terkait dengan gerakan separatisme yang telah menjadi ancaman sejak kasus Timor-Timur dahulu. Sekarang ini, gerakan separatisme juga terjadi di Papua dengan adanya OPM (Organisasi Papua Merdeka) dan di Aceh dengan adanya GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Gerakan separatisme ini bisa dikatakan karena masih adanya kesenjangan antara daerah satu dan daerah lain di Indonesia, mengingat Pulau Jawa masih menjadi daerah pusat yang menyebabkan pembangunan hanya terpusat di Jawa sehingga kurang merata. Menghadapi ancaman ini tentu tidak mudah. Indonesia telah memberikan otonomi khusus kepada daerah tersebut untuk menghindari gerakan separatisme supaya tidak benar-benar membuat daerah-daerah tersebut lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain itu, perlindungan wilayah maritim Indonesia yang sangat luas juga dilakukan oleh Indonesia karena wilayah maritim Indonesia yang luas seringkali menimbulkan permasalahan batas-batas wilayah yang bisa menimbulkan konflik dengan negara asing. Perlindungan wilayah maritim ini dilakukan dengan keikutsertaan Indonesia dalam UNCLOS (Laksmana 2011, 97). Dapat dilihat melalui penjelasan di atas bahwa Indonesia masih memasukkan nilai-nilai keutuhan dan kesatuan wilayah juga penduduk Negara Kesatuan Republik Indonesia.

            Ancaman yang datang dari dalam maupun dari luar wilayah Indonesia menyababkan suatu konsep strategis lahir, yaitu konsep Ketahanan Nasional. Konsep Ketahanan Nasional ini intinya adalah kebijakan Indonesia untuk memperkuat stabilitas internal di wilayah Indonesia sendiri daripada dengan bergantung kepada aliansi internasional (Laksmana 2011, 108). Selain itu juga, Indonesia sebagai salah satu negara pendiri ASEAN mengenal konsep ketahanan regional, yaitu suatu konsep mengenai menjaga dan memperkuat stabilitas keamanan regional di wilayah Asia Tenggara (Laksmana 2011, 109). Saat ini ASEAN bahkan sedang menuju sebuah komunitas regional untuk kemudian dapat memperkuat posisiya di dunia. Yang menarik adalah bahwa dengan adanya ASEAN yang akan melakukan integrasi dapat dilihat sebagai ancaman baru bagi Indonesia sehingga Ketahanan Nasional Indonesia harus terus diperkuat. Dengan demikian, ancaman bagi Indonesia yang datang dari dalam dan dari luar selalu berganti seiring dengan berkembangnya zaman. Karena itu, geopolitik Indonesia tidak dapat dilihat secara tradisional mengenai wilayah saja, tetapi lebih dari itu, bagaimana mengatasi ancaman baru yang terus datang menjadikan geopolitik Indonesia pun perlu terus dikembangkan.

            Selanjutnya akan dibahas mengenai geopolitik Eropa. Eropa dikenal sebagai negara-negara yang telah terintegrasi melalui Uni Eropa. Pembentukan Uni Eropa tersebut kemudian merupakan penanda berubahnya geopolitik di Eropa yang terlihat pada masa pasca Perang Dingin. Pada saat Perang Dingin, space di Eropa masih terbagi menjadi Eropa Timur dan Eropa Barat dengan struggle yaitu penyebaran pengaruh ideologi dari Eropa Timur dan pertahanan dari Eropa Barat. Namun kemudian pasca Perang Dingin, isu yang muncul bukanlah persoalan mengenai ideologi lagi, melainkan mengenai kesenjangan yang terjadi di antara keduanya. Perubahan geopolitik yang terjadi kemudian ditandai dengan perluasan NATO dan Uni Eropa (Sulistyo 2014). Uni Eropa mencoba mengusahakan perluasan untuk kemudian dapat merangkul negara-negara Eropa Timur agar mau menjadi anggota sehingga space yang dimiliki oleh Uni Eropa semakin luas (Isakova 2005).

Perluasan NATO dan Uni Eropa yang sekaligus mempersempit posisi Rusia ini kemudian dapat dilihat telah mengubah space dalam geopolitik Eropa dari yang sebelumnya adalah Eropa Barat dan Eropa Timur sekarang menjadi NATO dan Uni Eropa serta Rusia yang merupakan bekas Uni Soviet pada masa perang dingin. Perluasan NATO dan Uni Eropa tersebut juga merupakan usaha untuk stabilitas kawasan Eropa dan negara-negara tetangga (Mouritzen 2010, 7). Dapat dikatakan bahwa hal tersebut merupakan usaha untuk mengimbangi atau bahkan menyaingi kekuatan Rusia agar tidak mendominasi. Sementara itu, Rusia merespon dengan mendukung CIS (Commonwealth Interdependents State) dalam mengakomodasi kerja sama di antara negara-negara pecahan Uni Soviet (Isakova, 2005). Dengan perluasan NATO dan Uni Soviet dan dukungan Rusia terhadap CIS tersebut maka dapat dilihat bahwa geopolitik Eropa kini telah bergeser dari yang dahulu Eropa Barat melawan Eropa Timur, kini berubah menjadi Uni Soviet dan NATO melawan Rusia dan CIS.  

            Dapat dikatakan bahwa integrasi Uni Eropa dan perluasannya ini merupakan salah satu usaha yang dilakukan oleh negara-negara Eropa untuk membendung dominasi Rusia. Namun integrasi Eropa melalui Uni Eropa ini kemudian bukan berarti tidak menimbulkan permasalahan. Ideologi merupakan salah satu isu menonjol yang dibahas pada integrasi Eropa (Kuus 2007, 63). Dengan bergabung denga Uni Eropa, maka negara-negara yang tergabung harus menyerahkan sebagian kedaulatannya kepada Uni Eropa karena Uni Eropa telah menjadi semacam organisasi supranatural yang prinsip-prinsipnya kemudian digunakan untuk menentukan kebijakan tiap negara anggota. Hal ini kemudian menimbulkan anggapan bahwa Uni Eropa telah melunturkan tradisi dan mengikis kedaulatan masing-masing negara (Kuus 2007, 64). Permasalahan tentang kedaulatan ini kemudian terjadi pada Estonia. Permasalahan Estonia ini sebenarnya adalah mengenai minoritas dan kewarganegaraan (Kuus 2007, 70). Dalam tradisi Estonia, penyelesaian permasalahan mengenai pelestarian bangsa Estonia dilakukan berdasarkan kebijakan domestik Estonia itu sendiri. Hal ini kemudian menjadi sebuah kontradiksi dengan prinsip Uni Eropa. Permasalahan Estonia ini kemudian diperparah dengan migrasi besar-besaran dari Rusia yang semakin membuat bangsa Estonia semakin terpinggir. Kedaulatan memang menjadi permasalahan yang menonjol dalam integrasi regional, namun dengan power yang besar yang dimiliki oleh Uni Eropa tersebut pada akhirnya Estonia tetap pada prinsip-prinsip Uni Eropa. Hal ini juga disebabkan karena dengan bergabung di Uni Eropa, negara anggota mendapatkan jaminan keamanan.

            Kalau di negara-negara Eropa identik dengan regionalisme yang kental, maka hal ini tidak terjadi di kawasan Asia Timur. Karakteristik geopolitik Asia Timur sangat berbeda dengan Eropa karena di Asia Timur sangat sulit menerapkan regionalisme. Hal ini disebabkan karena terdapat sentimen historis antara negara-negara di Asia Timur karena Jepang dikhawatirkan akan menjadi negara yang agresif kembali. Selain itu, jika dilihat, negara-negara Asia Timur juga mengalami separatisme, seperti Korea Selatan dan Korea Utara serta Taiwan dan Cina. Hal tersebut mungkin juga dapat dikatakan penyebab regionalisme sulit diterapkan di kawasan Asia Timur. Geopolitik di Asia Timur lebih kepada persaingan yang terjadi di antara masing-masing negaranya. Kawasan Asia Timur merupakan kawasan dengan negara-negara yang mengalami kemajuan ekonomi yang pesat dan dinamis (Ross 1999, 81). Kompetisi negara-negara Asia Timur sebenarnya telah terlihat pada masa Perang Dingin ketika terjadi proxy war yang terjadi di antara Korea Utara dan Korea Selatan. Sampai sekarang pun negara-negara Asia Timur masih mengalami persaingan. Pertumbuhan ekonomi secara dinamis yang dialami oleh negara-negara di kawasan Asia Timur menunjukkan sebuah pergeseran geopolitik di kawasan (Bosworth 2006, 41). Kemajuan ekonomi yang dialami oleh negara Asia Timur kemudian mengubah persaingan mereka menjadi lebih kepada hal ekonomi.

            Dengan berkembangnya industrialisasi di negara-negara Asia Timur, kebutuhan akan energi pun tentu juga mengalami peningkatan. Negara-negara Asia Timur saling bersaing dalam memperoleh energi untuk dapat mengembangkan industrinya. Salah satu karakteristik dari geopolitik Asia Timur yang menonjol adalah string of pearl yang diterapkan oleh Cina dengan menekankan pada bantuan penguatan militer yang memanjang dari Laut Cina Selatan sampai ke Teluk Arab (Pehrson 2011). Daerah-daerah tersebut merupakan daerah jalur pengiriman minyak, sehingga dengan menggunakan strategi string of pearl ini, Cina ingin mengamankan jalur-jalur minyak sehingga pasokan minyak ke Cina tidak terhambat. Bukan hanyak Cina yang ingin mengamankan pasokan minyaknya. Jepang dan Korea Selatan juga ikut bersaing dalam pengamanan pasokan minyak. Misalnya, diplomasi minyak yang dilakukan oleh Jepang dan Korea Selan.  Jepang mulai mencoba untuk memasuki sumber-sumber energi baru di Rusia, Asia Selatan, dan Afrika. Sementara Korea Selatan telah memberikan bantuan luar negeri kepada negara-negara Afrika, seperti Nigeria salah satunya dengan proyek pembangunan infrastruktur juga dengan Uzbekistan dengan mengadakan perjanjian joint venture pada perminyakan (Poirier 2012, 18). Hal ini menunjukkan bahwa persaingan masih sangat terlihat pada geopolitik di Asia Timur untuk dapat menjadi satu kekuatan ekonomi besar di Asia Timur. Bagaimana dengan Korea Utara? Permasalahan tentang Korea Utara masih menjadi isu yang coba diselesaikan oleh Korea Selatan. Sementara itu terdapat hubungan antara Korea Utara dan Cina yang masih dipertahankan oleh Cina karena Cina ingin menjadikan Korea Utara sebagai buffer zone agar Korea tidak mengalami reunifikasi dan tetap seperti sekarang ini.

            Dengan demikian, geopolitik di berbagai kawasan memang tidak dapat disama ratakan. Hal ini disebabkan karena keadaan internal dan eksternal yang juga tidak seragam. Setiap negara memiliki pertimbangan tersendiri dalam menentukan kebijakan geopolitiknya. Seperti misanya Indonesia yang meningkatkan ketahanan nasional dengan memperkuat pondasi internal untuk menghadapi ancaman dari luar maupun dalam, Eropa yang identik dengan regionalismenya melalui terbentuknya Uni Eropa untuk mengimbangi kekuatan Rusia, dan Asia Timur yang penuh dengan persaingan karena pertumbuhan negara-negaranya yang dinamis. Perbedaan-perbedaan tersebut tentu sangat wajar. Selain itu, geopolitik tiap kawasan pun mengalami perubahan dari masa ke masa menyesuaikan zaman yang berkembang. Misalnya persaingan masing-masing negara Asia Timur bergeser dari persaingan ideologi pada masa Perang Dingin menjadi persaingan dalam hal memperoleh energi di zaman industrialisasi seperti sekarang ini. Geopolitik dapat dilihat menjadi sesuatu yang dinamis karena penerapannya di berbagai negara mengalami perubahan dari masa ke masa.

 

Referensi:

Bosworth, Stephen W. 2006. Dancing with the Giants: The Geopolitic of East Asia in the 21st Century, dalam Global Imbalances and the Evolving World Economy, Conference Volume.

Friedman, George (2011) “Geopolitical Journey: Indonesia’s Global Significance” [online], dalam http://www.stratfor.com [diakses pada 23 Mei 2014].

Isakova, Irina, 2005. Russians Governance in the Twenty First Century: Geo-strategy, Geopolitics and Governance. New York: Frank Cass

Kuus, Merje. 2007. “Sovereignty for Security?”. dalam Geopolitics Reframed: Security and Identity in Europe’s Eastern Enlargement. New York: Palgrave MacMillan.

Laksmana, A. Evan. 2011. “The Enduring Strategic Trinity: explaining Indonesia’s Geopolitical Architecture”, dalam Journal of the Indian Ocean Region. London: Roudledge.

Pehrson, Christopher J. 2006. String of Pearls: Meeting the challenge of china’s rising power

across the Asian littoral. Strategic Studies Institute.

Poirier, Marie-Claude. 2012. “Towards Green Korea? Assessing South Korea’s Energy Security from Diversivication to Diplomacy”, dalam South Korea Energy Security. PEAR.

Ross, Robert S. 1999. “the Geography of the Peace: East Asia in the Twenty-First Century”. International Security, Vol. 23, pp. 81-118.




Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.767.948