Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

Isu Demografi di Asia Timur: Rendahnya Rasio Kelahiran, Kelangkaan SDM, hingga Defisit Fiskal

08 June 2014 - dalam MBP Asia Timur Oleh fyustiazari-fisip12

Permasalahan mengenai penduduk seringkali melanda berbagai negara. Bukan hanya negara dengan pertumbuhan penduduk yang terlampau pesat, tetapi juga bagi negara yang memiliki pertumbuhan penduduk yang lambat karena terlalu rendahnya angka kelahiran. Kebijakan mengenai stabilitas demografi tentu termasuk agenda penting dalam rumusan kebijakan pemerintah karena stabilitas demografi dapat mempengaruhi kelangsungan kehidupan suatu negara. Permasalahan mengenai demografi juga dialami oleh negara-negara di Asia Timur. Tren terbaru dari permasalahan demografi yang dihadapi oleh negara-negara Asia Timur adalah permasalahan demografi mengenai grey population yang lambat laun tentu akan menjadi semakin serius karena mempengaruhi pertumbuhan ekonomi masing-masing negara. Dengan jumlah populasi yang sedikit, Jepang dan Korea Selatan sudah tentu mengalami permasalahan ini. Tidak hanya kedua negara tersebut saja, bahkan Cina, yang memiliki penduduk terpadat di dunia pun juga terancam harus menghadapi permasalahan demografi yang justru ditimbulkan dari kebijakan one child policy. Seperti apa permasalahan demografi yang ada di Asia Timur? Dan bagaimana pengaruhnya terhadap kelangsungan kehidupan masing-masing negara yang juga terkait dengan kelangsungan pertumbuhan ekonominya? Pada tulisan kali ini akan dibahas mengenai permasalahan demografi di Asia Timur yang seringkali akan sangat dikhawatirkan berdampak pada kelangkaan SDM serta melambatnya pertumbuhan ekonomi di masing-masing negara Asia Timur yang notabene merupakan negara yang maju dalam bidang ekonomi tersebut.

            Pada tahun 1930an hingga 1940an, Cina mengalami permasalahan demografi yang cukup serius yang disebabkan karena terlalu besarnya rasio fertilitas dan rasio mortalitas di Cina. Pada tahun 1930 hingga 1940an, angka harapan hidup masyarakat Cina sangat rendah, yaitu hanya dibawah 35 tahun saja, selain itu rasio fertilitas di Cina terbilang tinggi pada tahun 1940an, yaitu sebanyak 5 sampai 6 anak dalam tiap-tiap keluarga (Zhao 2011, 286). Artinya, ketika angka harapan hidup rendah, keluarga di Cina cenderung berpikir untuk memiliki lebih banyak anak. Misalnya, ketika masyarakat Cina kebanyakan hanya dapat bertahan hidup hingga remaja saja, maka kebanyakan keluarga tentu akan kehilangan penerus mereka. Karena itu, agar keluarga tetap memiliki penerus, maka keluarga tersebut cenderung berpikir untuk memiliki banyak keturunan agar ketika salah seorang anaknya meninggal sebelum mencapai pernikahan, anak lainnya masih dapat meneruskan keluarga. Hal ini tentu saja berdampak pada ledakan jumlah penduduk yang juga akan berdampak pada lambatnya pertumbuhan ekonomi karena wanita harus menghabiskan usia produktifnya untuk mengandung, melahirkan, dan merawat bayi mereka (Zhao 2011, 286).

            Cina masih mengalami permasalahan mengenai tingginya rasio fertilitas di Cina masih berlangsung hingga tahun 1960an yang ditandai dengan pertumbuhan penduduk yang semakin besar yaitu dari 850 juta jiwa menjadi mencapai 1 milyar juta jiwa lebih (Zhao 2011, 289). Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah Cina kemudian mengeluarkan kebijakan one child policy untuk kemudian menekan pertumbuhan penduduk masyarakat Cina. Kebijakan tersebut terbilang berhasil dalam mengurangi rasio fertilitas masyarakat Cina. Terbukti, pada tahun 1980an, rasio fertilitas Cina yang tadinya 6 turun menjadi 2,5 pada tahun 1980an. Angka tersebut kembali mengalami penurunan pada tahun 2000an, yakni hanya sebanyak kurang dari 1,6 saja (Zhao 2011, 289). Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah Cina menyebabkan penurunan rasio fertilitas yang berkelanjutan yang dapat dikatakan akan terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Keberhasilan penurunan rasio fertilitas ini juga didorong oleh pertumbuhan ekonomi Cina. Dengan semakin terbukanya ekonomi Cina pada tahun 1990an, yang membuka banyak kesempatan pekerjaan dan kenaikan pendapatan, maka penduduk usia produktif menunda pernikahan serta menunda kehamilan. Penduduk usia produktif yang biasanya rata-rata menikah pada usia 22 tahun menjadi rata-rata menikah pada usia 24 tahun (Feng 2005, 5). Dengan begitu, rasio fertilitas akan menjadi semakin menurun. Dalam jangka panjang, hal tersebut tentu akan menjadi permasalahan demografi baru. Terlebih lagi ketika Cina menjadi negara industri yang termasuk besar di dunia dan pertumbuhan ekonominya mengalami peningkatan.

            Kebijakan one child policy bahkan dikatakan sebagai kebijakan pemerintah yang paling ekstrim dalam hal pengendalian pertumbuhan penduduk dengan mencegah kelahiran karena kebijakan ini berdampak hingga maraknya praktik aborsi di Cina (Feng 2005, 2). Masalah demografi utama yang kemudian muncul atas pemberlakuan one child policy yang dinilai terlalu ekstrim ini adalah peningkatan pertumbuhan penduduk usia tua, terutama pada masyarakat kota besar. Terbukti dengan data yang menunjukkan bahwa penduduk salah satu kota besar di Cina, yaitu Shanghai, yang berusia 65 tahun ke atas dapat mencapai 23,4% dari keseluruhan penduduk Shanghai pada tahun 2011 yang sekaligus menyumbang 16% dari keseluruhan populasi Cina (Du dan Wang 2011, 303). Angka tersebut tentu tidak sedikit terlebih lagi melihat kenyataan yang terjadi sebelumnya adalah terjadinya penurunan secara terus menerus dalam rasio fertilitas di Cina yang tentunya akan semakin mendorong peningkatan pertumbuhan penduduk usia tua di Cina. Diperkirakan pada tahun 2050 mendatang, prosentase penduduk usia tua di Cina akan mencapai angka 35% dari total populasi Cina jika kelahiran bayi terus ditekan melalui kebijakan one child policy (Feng 2005, 4).

            Tidak hanya Cina yang mengalami permasalahan tersebut. Negara-negara Asia Timur umumnya juga mengalami permasalahan grey population ini, dimana jumlah penduduk usia tua terus mengalami peningkatan hingga jumlahnya bisa jadi melampaui penduduk usia produktif. Jepang mengalami penurunan kelahiran yang berkelanjutan sejak tahun 1970an yang hingga mengakibatkan kurangnya tenaga kerja pada tahun 1990an akibat berkurangnya penduduk usia produktif. Padahal pada tahun 1942, penduduk Jepang rata-rata adalah penduduk usia muda dengan usia 22 tahun (Hewitt 2003, 4). Jepang merupakan negara dengan angka harapan hidup yang tinggi, hingga mencapai 85 tahun. Dengan kenyataan tersebut, maka tidak dapat dipungkiri bahwa memang Jepang memiliki banyak sekali penduduk usia tua. Hingga tahun 2000an, penduduk Jepang yang berusia 25 sampai 44 tahun berkurang hingga 7% (Hewitt 2003, 6). Jika angka tersebut terus mengalami penurunan, maka tentunya Jepang akan semakin kekurangan penduduk usia produktif yang mampu menopang perekonomian negara dengan kegiatan yang produktif. Sejak semakin menurunnya rasio fertilitas di Jepang, bahkan diperkirakan bahwa pada tahun 3000 mendatang, penduduk Jepang hanya akan berjumlah sekitar 500 jiwa saja akibat penurunan yang terus menerus dari jumlah penduduk Jepang sekarang ini, yakni sekitar 127 juta jiwa (Hewitt 2003, 5).

            Selain Jepang dan Cina, Korea Selatan juga mengalami permasalahan demografi berupa grey population. Penurunan rasio fertilitas di Korea Selatan juga terjadi berkelanjutan sejak tahun 1970an. Pada tahun 1960an, penduduk Korea Selatan mengalami over populasi. Karena itulah kemudian pemerintah Korea Selatan di bawah kepemimpinan Presiden Park Chung Hee membuat kebijakan pengontrolan terhadap jumlah penduduk. Kebijakan ini dilakukan secara bertahap. Pada tahun 1968 diberlakukan kebijakan three child, selanjutnya, pada tahun 1971, kebijakan ditingkatkan dengan memberlakukan two child policy, dan yang terakhir pada tahun 1980an diberlakukan one or two child policy dengan slogan “even one child are a lot” (Howe et al 2007, 8) yang kemudian mendorong penurunan rasio fertilitas secara terus menerus. Hingga pada tahun 2006, rasio fertilitas di Korea Selatan bahkan hanya 1,1 yang sekaligus menjadi yang terendah di dunia. Jika di Cina diperkirakan penduduk usia tua akan mencapai 35% pada tahun 2050, di Korea Selatan pada tahun yang sama, penduduk usia tua akan meningkat hingga mencapai 38% dari total populasi Korea Selatan yang artinya dua diantara lima penduduk adalah penduduk usia tua (Howe et al 2007, 9). Kondisi yang demikian tentu sangat mengkhawatirkan karena jika penduduk usia tua semakin banyak dengan tidak diikuti dengan kelahiran yang banyak pula, maka penduduk usia tua tentu akan melampaui jumlah penduduk usia muda yang berarti menambah beban penduduk usia muda yang produktif.

            Permasalahan demografi mengenai grey population tentu akan sangat berdampak pada pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia Timur. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, di Jepang telah terjadi kelangkaan sumber daya manusia produktif yang dapat menopang perekonomian Jepang. Padahal sumber daya manusia merupakan hal yang penting dalam kegiatan produksi. Selain itu, penduduk usia tua juga menambah tingkat ketergantungan ekonomi negara-negara Asia Timur. Semakin tinggi jumlah penduduk usia tua maka akan semakin tinggi pula tingkat ketergantungan ekonomi penduduk usia tua tersebut. Di Cina, diperkirakan rasio ketergantungan akan terus meningkat dari 48 saat ini hingga mencapai 71 pada tahun 2050 mendatang (Zhao 2011, 300). Artinya, beban yang diemban oleh penduduk usia produktif dalam menopang perekonomian negara semakin besar, namun yang menjadi masalah adalah penduduk usia produktif pun semakin lama semakin berkurang yang kemudian menyebabkan menurunnya output ekonomi (Campbell 2007, 11). Hal ini mendorong peningkatan terjadinya imigrasi karena kebutuhan tenaga kerja usia produktif. Selain itu, penduduk usia tua cenderung memiliki pengeluaran yang lebih besar untuk masalah kesehatan. Hal ini kemudian berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi (Du dan Wang 2011, 312) karena kebutuhan atas jaminan kesehatan penduduk usia tua akan menyebabkan biaya kesehatan yang dikeluarkan negara akan semakin membengkak yang lebih lanjut lagi akan menyebabkan defisit fiskal yang serius (Campbell 2007, 11).

            Dengan demikian, permasalahan mengenai demografi seringkali menjadi sesuatu yang dilematis negara-negara Asia Timur secara umum mengalami permasalahan demografi yang tidak sederhana. Sebelum tahun 1970an, negara-negara Asia Timur harus dipusingkan dengan terlalu banyaknya populasi yang membuat pemerintah harus menerapkan kebijakan pengontrolan kelahiran bayi. Memang, kebijakan tersebut terbukti dapat mengatasi terlalu banyaknya populasi pada masing-masing negara, namun hal tersebut tidak lantas berhasil sepenuhnya karena ternyata kebijakan yang dipatuhi oleh penduduknya dan didorong dengan industrialisasi yang pesat, justru menyebabkan penurunan kelahiran bayi semakin menurun dari tahun ke tahun hingga menyebabkan terjadinya permasalahan grey population. Permasalahan yang dihadapi oleh negara Asia Timur saat ini adalah kurangnya tenaga kerja dan tingginya ketergantungan ekonomi oleh penduduk usia tua yang notabene tidak produktif lagi. Lebih lanjut lagi, pertumbuhan ekonomi yang melambat mungkin akan dialami juga oleh negara Asia Timur karena jika rasio kelahiran yang semakin lama semakin menunjukkan penurunan, penduduk usia produktif yang semakin lama semakin berkurang akan semakin kesulitan menghasilkan output ekonomi yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi.

 

Referensi:

Du, Yang dan Melyan Wang. 2011.“Population Ageing, Domestic Consumption and Future Economic Growth in China”, dalam Ligang Song & Jane Gooley (eds). Rising China: Global Challenges and Opportunities. Canberra: ANU E Press.

Campbell, J. C. 2007. “Population Aging: Hardly Japan’s Biggest Problem”, dalam The Demographic Dilemma: Japan’s Aging Society. Woodrow Wilson International Center.

Feng, Wang. 2005. “Can China Afford to Continue Its One-Child Policy?”, dalam Asia Pacific Issues. East-West Center.

Hewitt, Paul S. 2007. “The Gray Roots of Japan’s Crisis”, dalam The Demographic Dilemma: Japan’s Aging Society. Woodrow Wilson International Center.

Howe, Neil, et al. 2007. The Aging of Korea: Demographics and Retirement Policy in the Land of the Morning Calm. Washington: CSIS.

Zhao, Zhongwei. 2011. “China’s Demographic Challenges from a Global Perspective”, dalam Ligang Song & Jane Gooley (eds). Rising China: Global Challenges and Opportunities. Canberra: ANU E Press.

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.761.772