Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

Perubahan Dunia akibat Globalisasi dan Berkembangnya Internasionalisme menjadi Solidaritas Global

08 June 2014 - dalam Globalisasi Strategi Oleh fyustiazari-fisip12

Globalisasi, yang notabene telah membawa banyak perubahan besar telah menimbulkan banyak perubahan di dunia ini. Berkembangnya perubahan tersebut yang kemudian mengarah pada perubahan kebanyakan kehidupan masyarakat pula kemudian menimbulkan terjadinya banyak gejolak di berbagai belahan dunia ini yang diakibatkan karena terjadinya banyak gerakan sosial oleh masyarakat. Pada era globalisasi saat ini, gerakan-gerakan sosial yang dilakukan dalam rangka menunjukkan respon terhadap globalisasi baik positif maupun negatif, dilakukan lebih dari gerakan-gerakan sosial yang bersifat lokal saja, tetapi dilakukan lebih dari sekedar secara lokal (Waterman 2001, 199). James Dunn sempat mengungkapkan bahwa internasionalisme merupakan sebuah unimaginable community. Namun, Peter Waterman menyanggah anggapan tersebut dengan asumsinya bahwa dengan adanya sikap masyarakat yang melakukan berbagai gerakan-gerakan sosial secara internasional itu kemudian membuat internasionalisme menjadi semakin nyata dan dapat dibayangkan. Gerakan-gerakan sosial tersebut lebih lanjut lagi kemudian menimbulkan terjadinya solidaritas sosial masyarakat. Tulisan kali ini akan menjelaskan argumen Peter Waterman mengenai hubungan globalisasi dengan terbentuknya gerakan-gerakan sosial yang merupakan respon masyarakat dalam era globalisasi saat ini, serta menjelaskan bagaimana solidaritas dapat terbentuk melalui gerakan-gerakan tersebut, dalam tulisannya yang berjudul Globalization, Civil Society, and Solidarity. Tulisan ini sekaligus memberikan bukti-bukti lain untuk memperkuat argumen yang diberikan oleh Waterman dengan contoh kasus yang relevan sehingga nantinya akan terbukti bahwa pada era globalisasi saat ini, masyarakat memang memiliki suatu solidaritas yang kompleks sebagai akibat dari respon mereka terhadap perkembangan globalisasi dewasa ini.

Peter Waterman (2001: 199) menjelaskan bahwa internasionalisme dan internasionalisasi lama masih dipandang berdasarkan pendekatan liberal dan marxsis dan masih menyertakan universalisme secara parsial dan partikular yang kemudian memunculkan westernisasi. Internasionalisme dan internasionalisasi lama ini juga masih memandang universalisme secara parsial sehingga solidaritas tidak muncul secara penuh melainkan hanya sebagian saja karena masih memarginalisasikan struktur sosial dan gerakan sosial tertentu. Hal tersebut dianggap Waterman tidak lagi relevan dengan kondisi dunia saat ini karena pandangan liberal dan marxis masih menganggap batas wilayah menjadi sangat penting, dimana negara-bangsa masih mengikat hak dan komunitas berdasarkan batas teritorial dan akan menggunakan kekerasan untuk melawan musuh internal maupun eksternal (Waterman 2001, 200). Padahal yang terjadi pada era globalisasi saat ini adalah semakin meleburnya batas-batas negara yang menyebabkan komunitas dapat terbentuk di luar batas suatu negara.

Melalui pendekatan critical globalization-nya, Waterman (2001, 201) mengatakan bahwa era kontemporer saat ini adalah high or radical modernity, yaitu keadaan yang lebih jauh daripada complex high-risk globalized information capitalism. Artinya, globalisasi saat ini didefinisikan secara lebih kompleks yang di dalamnya terdapat aspek-aspek seperti pasar, industrialisasi, militer, teknologi, informasi, dan lain-lain. Era kontemporer yang kompleks ini kemudian menimbulkan beberapa perubahan, seperti misalnya perubahan faktor produksi dalam industri yang menimbulkan terjadinya reduksi besar-besaran terhadap permintaan tenaga kerja yang disebabkan karena meningkatnya teknologi yang telah semakin signifikan menggantikan peran manusia (Waterman 2001, 106). Kemudian, pada era globalisasi saat ini terdapat desentralisir kekuatan kapitalis, yang berarti kekuatan internasional saat ini tidak lagi dapat diukur hanya berdasarkan dengan teritori saja (Waterman 2001, 207). Hal ini kemudian menimbulkan kekuatan supranasional, misalnya NGO. Selain itu, globalisasi juga telah membuat perubahan terhadap pemahaman mengenai time dan space saat ini. Saat ini terdapat perubahan intensitas hubungan antara time dan space (Waterman 2001, 209). Hal ini juga diungkapkan oleh Antony Giddens (1990) bahwa pada era globalisasi saat ini, time dan space sedang mengalami proses pemisahan. Giddens juga mengatakan bahwa globalizing dimensions of interactions create ‘stretched’ relationships between ‘local’ and ‘distant’ media forms”. Artinya, atas pengaruh dari era berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, kejadian lokal dipengaruhi oleh kejadian yang terjadi jauh dari kejadian lokal tersebut terjadi dan sebaliknya.

Perubahan-perubahan yang terjadi pada era globalisasi tersebut kemudian juga menimbulkan berbagai gerakan sosial tertentu. Waterman (2001, 211) mengungkapkan terdapat tiga bentuk ideal dalam merespon berkembangnya globalisasi dan globalisme saat ini. Respon tersebut adalah (1) perayaan atau celebration yang berarti menerima perkembangan globalisasi yang dilakukan dengan menunjukkan sikap konsumtif; (2) penolakan atau rejection yang berarti melakukan penolakan terhadap perkembangan globalisasi yang kemudian memunculkan kelompok-kelompok fundamentalis; (3) critique/surpassal. Melalui berbagai respon tersebut, kemudian menimbulkan gerakan sosial. Dan karena perubahan desentralisasi kekuatan kapitalis, peran NGO menjadi semakin signifikan dalam gerakan-gerakan sosial tersebut. Globalisasi menimbulkan gerakan sosial autoritarian yang seperti yang telah dijelaskan sebelumnya telah menimbulkan kelompok-kelompok fundamentalis yang melakukan gerakan sosial karena respon penolakan mereka, misalnya berdasarkan alasan agama dan ideologi (Waterman 2001, 211).  Kasus terorisme 9/11 merupakan salah satu bentuk gerakan sosial yang menolak perkembangan globalisasi yang bahkan sampai sekarang masih menjadi isu di seluruh dunia.

Terdapat kasus unik lainnya mengenai gerakan sosial yang menolak adanya kapitalisme. Di Iran terdapat gerakan wanita yang kemudian membawa banyak perubahan pada nasib masyarakat wanita di Iran. Penetrasi Eropa pada saat itu menyebabkan Iran kemudian menjadi terkontaminasi oleh kebudayaan Eropa. Hal tersebut kemudian dianggap sebagai suatu bentuk kapitalisme yang kemudian coba untuk dilawan oleh para golongan wanita terpelajar di Iran. Gerakan yang dilakukan pada saat itu terlihat ketika para wanita tersebut misalnya melakukan kegiatan-kegiatan seperti memboikot barang-barang luar negeri, terlibata dalam kegiatan underground, serta berusaha untuk menghancurkan Bank Rusia untuk kemudian dapat membangun Bank Nasional sendiri (Mahdi 2004, 428). Hal ini kemudian menunjukkan bahwa terdapat resistensi dari kaum wanita di Iran terhadap kapitalisme yang ada di Iran. Gerakan semacam ini dapat dilihat kemudian menimbulkan solidaritas, yaitu solidaritas kaum wanita Iran dalam melakukan perlawanan terhadap kapitalisme yang berkembang di Iran pada saat itu.

Peter Waterman (2001, 235) mengungkapkan bahwa solidaritas dalam era globalisasi ini merupakan sebuah hal yang kompleks dalam suatu kerangka globalitas yang kompleks pula. Waterman (2001, 235) juga menjelaskan beberapa asumsi tentang solidaritas, yaitu bahwa solidaritas diasumsikan sebagai: (1) solidaritas diinformasikan dan diartikulasikan secara positif dengan persamaan, kebebasan, perdamaian, toleransi dan emansipatori; (2) hubungan antarmanusia yang terhubung melalui berbagai macam media, seperti pasar, negara, dan organisasi yang hirarkis atau birokratis; dan (3) proses negosiasi perbedaan atau pembentukan identitas dari pemikiran yang tradisional menjadi solidaritas sebagai sebuah komunitas. Lebih lanjut lagi, Waterman menjelaskan mengenai pengertian solidaritas internasional yang diartikan dalam sebuah akronim, yakni ISCRAR sehingga nantinya akan dipahami solidaritas seperti apa yang dimaksud Waterman dalam tulisannya ini.

Peter Waterman (2001, 235) menjelaskan bahwa ISCRAR diantaranya berisi komponen-komponen atau dimensi yang menentukan solidaritas itu sendiri, yaitu: Identity, biasanya menjelaskan atau mengidentifikasi kelas atau ketegori yang memposisikan dirinya sebagai oposisi suatu kekuatan kapitalis atau imperialis. Misalnya, identitas komunitas wanita di Iran seperti yang dijelaskan pada kasus sebelumnya. Substitution, biasanya merupakan tindakan atau aksi yang dilakukan untuk memperjuangkan inekualitas atau ketidaksetaraan. Complementarity, yaitu pertukaran barang-barang pendukung untuk melengkapi gerakan sosial yang digunakan oleh suatu solidaritas tertentu. Reciprocity, menunjukkan bahwa komunitas dapat saling melindungi hak satu sama lain dan saling mendukung satu sama lain antar sesama anggota. Affinity, menunjukkan kesamaan spirit pada sebuah ikatan solidaritas. Artinya, meski tidak pernah saling bertemu, namun kesamaan spirit dan ideologi dapat memperkuat solidaritas. Restitution, menunjukkan solidaritas yang datang berdasarkan masa lalu. Dari penjelasan di atas, jelas bahwa solidaritas yang dimaksud oleh Waterman adalah solidaritas komunitas yang muncul secara internasional bahkan global ketika fenomena globalisasi dianggap mengancam

Dengan demikian, globalisasi yang telah membawa banyak perubahan ini kemudian telah memberikan perubahan bagi apa yang disebut sebagai internasionalime. Pada awalnya memang internasionalisme masih dianggap sebagai sesuatu yang hanya bersifat parsial saja dan tidak terbayangkan karena gerakan sosial pun juga belum marak. Namun, sekarang ini, melalui perubahan-perubahan yang dibawa oleh globalisasi yang menimbulkan berbagai gerakan sosial dalam skala internasional kemudian menyebabkan internasionalisme menjadi semakin nyata. Penulis setuju dengan pendapat Waterman bahwa perubahan yang ditimbulkan oleh perkembangan globalisasi telah memunculkan adanya gerakan sosial yang telah menyebabkan timbulnya solidaritas masyarakat. Karena dengan terdapat gerakan-gerakan sosial yang muncul akibat penolakan terhadap globalisasi tersebut, kelompok-kelompok sosial tersebut kemudian memiliki suatu identitas baru dan suatu tujuan khusus yakni melakukan penolakan terhadap suatu kekuasaan yang ada. Begitulah resistensi sosial dipahami dalam era globalisasi saat ini. Dengan keadaan yang demikian, maka mungkin penyebaran ideologi akan menjadi sulit karena solidaritas masyarakat telah terbentuk sedemikian rupa sehingga dengan indentitas yang dimiliki, komunitas tersebut kemudian akan melakukan perlawanan. Terbukti dengan kasus Iran yang telah disebutkan sebelumnya  bahwa wanita Iran menolak masuknya cara-cara Eropa dengan berbagai pemberontakan. Internasionalisme telah kemudian berkembang menjadi solidaritas global ketika globalisasi itu sendiri membuat perubahan-perubahan yang tidak diinginkan oleh sebagian orang.

 

Referensi:

Giddens, Anthony. (1990). The Consequences of Modernity. California: Stanford university Press.

Mahdi, Ali Akbar. 2004. “The Iranian Women’s Movement: A Century Long Struggle”, dalam The Muslim World. Ohio: Ohio Wesleyan University.

Waterman, Peter. 2001. “Conclusion: Globalization, Civil Society, Solidarity”, dalam Globalization, Social Movements and the New Internationalisms. London: Continuum. 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.751.204