Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

Nuklir di Asia Timur: Lingkungan Keamanan Kawasan hingga Kebijakan Korea Utara

23 May 2014 - dalam MBP Asia Timur Oleh fyustiazari-fisip12

Nuklir merupakan energi yang selalu dianggap berbahaya karena memiliki potensi penghancur yang masif dan memiliki bahaya yang tinggi juga terkait dengan penyebaran radiasi. Selain dianggap berbahaya, dapat dikatakan bahwa sulit bagi suatu negara untuk mengembangkan nuklir yang identik dengan kecanggihan teknologi senjata tersebut. Tidak semua negara mampu untuk mengembangkan nuklir baik untuk senjata maupun untuk sumber energi. Negara-negara di Asia Timur seringkali disebut-sebut sebagai negara-negara yang memiliki kemampuan untuk mengembangkan nuklir. Hal ini disebabkan karena negara-negara di kawasan Asia Timur, dilihat dari kondisi domestiknya, memiliki kesempatan untuk mengembangkan nuklir. Dong Joon Jo dan Erik Gartzke (2007, 169) mengungkapkan sedikitnya tiga hal yang membuat suatu negara akan dianggap memiliki kesempatan untuk mengembangkan nuklir. Ketiga hal tersebut adalah penguasaan teknologi, peraturan tentang material nuklir, dan kapasitas ekonomi. Negara-negara di Asia Timur rata-rata setidaknya telah memiliki hal pertama dan kedua untuk dapat berkesempatan dalam pengembangan nuklir. Dengan begitu, lantas bagaimana keamanan kawasan dapat terjaga? Apakah ada perang Amerika Serikat? Bagaimana potensi perang nuklir di kawasan Asia Timur? Dan bagaimana dengan Korea Utara yang identik dengan pengembangan nuklirnya yang semakin membahayakan?

            Jika berbicara mengenai Asia Timur, akan terbesit mengenai sentimen di negara satu terhadap negara yang lainnya. Dengan sentimen tersebut dan kesempatan yang didapatkan oleh masing-masing negara untuk mengembangkan nuklir, tentu akan dapat dilihat bagaimana potensi perang nuklir di kawasan Asia Timur tersebut. Dengan kondisi Korea Utara yang sampai sekarang masih mengembangkan nuklir juga tidak dapat dipungkiri bahwa ada potensi efek domino nuklir dan potensi terjadinya perang nuklir (Roberts 2001, 50). Terbukti dengan Korea Selatan yang sempat berkeinginan untuk mengajukan pengembangan nuklir, terhitung sebanyak dua kali. Pertama, saat masa pemerintahan Presiden Nixon yang menyatakan akan mengurangi tekanan di Semenanjung Korea. Hal ini tentu meningkatkan bahaya serangan Korea Utara ke Korea Selatan. Kedua, pada saat masa pemerintahan Presiden Carter yang membuat kebijakan menarik sebanyak 32.000 pasukan AS dari Korea (Yang 2011, 22). Hal ini menunjukkan bahwa ancaman Korea Utara bisa jadi menimbulkan reaksi efek domino yang akhirnya menyebabkan perang nuklir di kawasan Asia Timur. Namun nyatanya hal tersebut belum terjadi hingga sekarang.

            Meski memiliki kesempatan untuk mengembangkan nuklir, Korea Selatan dan Jepang nyatanya tidak lantas serta merta mengembangkan nuklirnya. Hal ini lah yang dapat dikatakan menyebabkan kondisi kawasan Asia Timur masih dapat terjaga dari ancaman perang nuklir. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: mengapa Korea Selatan dan Jepang tidak lantas mengembangkan nuklirnya? Mungkin peran Amerika Serikat lah yang dapat menjawab pertanyaan tersebut. Dong Joon Jo dan Erik Gartzke (2007, 170) mengungkapkan bahwa kesadaran atau kebijakan negara untuk tidak mengembangkan nuklir dipengaruhi oleh dua diantaranya adalah keamanan internasional dan kebijakan domestik yang diterapkan pada masing-masing negara. Kedua hal tersebut mungkin cocok jika dilihat dari kondisi Korea Selatan dan Jepang dalam kebijakan mereka untuk tidak mengembangkan nuklir.

            Untuk menjaga kemanan kawasan Asia Timur, Amerika Serikat memiliki peran dengan mengadakan perjanjian dengan negara Asia Timur, khususnya Korea Selatan dan Jepang untuk tidak mengembangkan nuklir. Korea Selatan mendapatkan payung nuklir dari Amerika Serikat yang kemudian menyebabkan Korea Selatan merasa terjamin keamanannya sehingga tidak mengembangkan nuklir (Jo dan Gartzke 2007, 170). Korea Selatan mendapatkan jaminan dari Amerika Serikat dengan ditandatanganinya ROK-US Mutual Defense Agreement pada tahun 1954. Sejak itu, Korea Selatan dan Amerika Serikat menjadi partner yang dekat dan secara berkala, keduanya memperbarui jaminan keamanan tersebut. Terbukti dengan ditandatanganinya The Joint Vision of South Korea-US Alliance yang menandai hubungan yang lebih komprehensif terkait dengan kemanan internasional (Yang 2011, 17). Melalui penjelasan tersebut kemudian dapat dilihat bahwa ada peran Amerika Serikat sebagai “polisi dunia” untuk menjaga stabilitas keamanan kawasan Asia Timur dengan mencegah pengembangan nuklir di Korea Selatan.

            Kasus Jepang juga sama dengan Korea Selatan, yakni adanya peran Amerika Serikat dalam menjaga Jepang agar tidak mengembangkan nuklir. Terlibatnya Jepang dalam Nuclear Non-proliferation Treaty (NPT) membuat Jepang membatasi penggunaan energi nuklirnya. Melalui komitmennya di NPT, Jepang dilarang untuk memanufaktur, menerima, dan mengontrol secara langsung maupun tidak langsung penggunaan nuklir (Hughes 2007, 73). Berangkat dari terlibatnya Jepang dengan NPT, Jepang kemudian meningkatkan partisipasinya di dunia internasional dalam mencegah penggunaan nuklir. Terbukti ketika Jepang meningkatkan komitmennya terhadap pencegahan pengembangan nuklir pada tahun 1990an. Sejak tahun 1994, Jepang mengajukan resolusi kepada Majelis Umum PBB untuk mengeliminasi nuklir secara menyeluruh. Selanjutnya, Jepang juga meratifikasi Comprehensive Test Ban Treaty pada tahun 1997. Mulai tahun 2002, Jepang juga menyatakan posisinya terhadap pencegahan pengembangan nuklir secara tertulis (Hughes 2007, 74). Tidak hanya karena faktor kepedulian terhadap keamanan internasional dan adanya peran Amerika Serikat saja, pembatasan penggunaan nuklir di Jepang juga dipengaruhi karena konstitusi domestik Jepang sendiri mengenai militer. Pada pasal dua konstitusi Jepang dinyatakan bahwa penelitian, pengembangan, dan penggunaan energi atom harus digunakan untuk kepentingan perdamaian dan dilakukan dengan manajemen yang demokratis (Hughes 2007, 88).

            Di antara negara-negara Asia Timur yang lainnya, Korea Utara dapat dikatakan merupakan negara yang paling konsisten dalam pengembangan nuklir secara terus menerus. Hal ini sekaligus menjadi ancaman bagi negara-negara di sekitarnya. Berbagai sanksi telah diberlakukan kepada Korea Utara, namun Korea Utara tidak ambil pusing dan tetap mengembangkan nuklirnya. Meski telah mencoba melepaskan penggunaan senjata nuklir pada ketika masa percobaan administrasi Obama, Korea Utara kembali mengembangkan nuklirnya, yakni dengan melakukan pengayaan uranium dan menyatakan akan memberikan respon militer untuk blokade yang ditujukan kepada Korea Utara (Haggard dan Noland 2010, 540). Ini tentu sangat berbahaya bagi keamanan internasional, khususnya stabilitas keamanan kawasan Asia Timur. Hal ini disebabkan karena kondisi domestik Korea Utara yang telah mulai mengalami perubahan secara perlahan-lahan. Salah satunya, Korea Utara telah mulai mengembangkan perekonomiannya dengan membuka pasar (Haggard dan Noland 2010, 541). Korea Utara mulai bergantung kepada pertumbuhan ekonomi Cina yang pesat dengan melakukan kerja sama dengan Cina. Selain itu Korea Utara juga menjalin kerja sama dengan Iran, Suriah, dan Mesir (Haggard dan Noland 2010, 541). Negara-negara tersebut merupakan negara yang tidak akan memberikan sanksi kepada Korea Utara sehingga kemudian Korea Utara menetapkan kebijakan bekerja sama dengan negara-negara tersebut. Cina juga memiliki kepentingan dengan Korea Utara. Korea Utara adalah negara yang kapasitas nuklirnya besar dan baik. Cina membutuhkan Korea Utara untuk berjaga-jaga jika tiba-tiba Jepang menjadi agresif kembali dengan menerapkan “go nuclear” (Haggard dan Noland 2010, 566). Dengan begitu tercipta hubungan timbal balik antara Cina dan Korea Utara. Sanksi Cina mungkin merupakan yang paling berpengaruh bagi Korea Utara, namun karena Cina memiliki kepentingan maka tentu Cina membatasi sanksinya kepada Korea Utara.

            Dengan demikian, isu nuklir merupakan isu yang sensitif di Asia Timur. Negara-negara di Asia Timur memiliki kapasitas yang cukup untuk mengembangkan nuklir. Jika hal tersebut terjadi, maka potensi perang nuklir pasti ada. Ditambah lagi dengan keberadaan Korea Utara dengan kapasitas nuklir yang sedemikian besar tersebut, negara-negara Asia Timur pasti merasa cemas jika nantinya nuklir Korea Utara semakin berbahaya dan mengganggu stabilitas keamanan kawasan Asia Timur. Lagi-lagi peran Amerika Serikat sangat terlihat pada pencegahan penggunaan nuklir di Asia Timur. Dengan memberikan payung keamanan bagi Jepang dan Korea Selatan, Amerika Serikat mengharapkan nuklir tidak dikembangkan di kedua negara tersebut dan nyatanya memang sampai sekarang perang nuklir belum terjadi. Namun, tetap saja, aksi Korea Utara mungkin tidak tertebak dan masing-masing negara Asia Timur yang lain terutama Korea Selatan dan Jepang sesungguhnya merasa terancam oleh keberadaan nuklir Korea Utara tersebut.

 

Referensi:

Haggard, Stephan dan Marcus Noland. 2010. “Sanctioning North Korea: Political Economy of Denuclearization and Proliferation”, dalam Asian Survey. California: University of California Press.

Hughes, Llewelyn. 2007. “Why Japan Will Not Go Nuclear (Yet) International and Domestic Constraints on the Nuclearization of Japan”, dalam International Security. MIT Press.

Jo, Dong Joon dan Erik Gartzke. 2007. “Determination of Nuclear Proliferation”, dalam The Journal of Conflict Resolution. Sage Publication, inc.

Roberts, Brad. 2001. “East Asia’s Nuclear Future: A Long-Term View of Threat Reduction”, dalam IDA Paper. Defense Threat Reduction Agency.

Yang, Zie Eun. 2011. South Korea’s Nuclear Decision. Washington, DC.

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.738.010