Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

Asia Timur dan Ekologi: Permasalahan Mengenai Energi, Lingkungan, dan Bencana Alam

23 May 2014 - dalam MBP Asia Timur Oleh fyustiazari-fisip12

Kegiatan manusia tentunya tidak lepas dari keterkaitannya dengan lingkungan. Keadaan lingkungan sangat berpengaruh bagi aktivitas manusia, begitu juga kegiatan manusia, yang juga sangat berpengaruh terhadap lingkungan dan kelestariannya. Sementara lingkungan dan alam terus memberikan manfaat bagi kegiatan manusia, sebaliknya, kegiatan manusia terus saja membuat lingkungan semakin mengalami kerusakan dan energi semakin terkuras. Itulah mengapa kemudian lingkungan menjadi agenda penting yang juga seringkali dibahas dalam berbagai kesempatan. Banyak negara-negara di dunia ini, yang semakin peduli dengan kerusakan lingkungan yang berdampak pada pemanasan global yang semakin menjadi isu yang penting setiap harinya juga sangat memperhatikan mengenai kelangkaan energi yang terus terkuras. Begitu juga dengan negara-negara di Asia Timur. Sebagai negara-negara yang tergolong telah terindustrialisasi, negara Asia Timur seperti Cina, Jepang, dan Korea Selatan tentu membutuhkan banyak bantuan dari lingkungan alam dan juga energi untuk dapat terus mengembangkan industrinya. Energi sangat penting bagi negara Asia Timur hingga keamanan pasokan energi selalu diperhatikan. Namun pembangunan yang baik seharusnya tentu menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan. Pada tulisan kali ini akan dijelaskan mengenai dinamika Asia Timur terkait dengan isu lingkungan mulai dari permasalahan mengenai pasokan energi sampai yang terkait isu benca alam.

            Penggunaan energi oleh negara-negara di Asia Timur memang tergolong tinggi. Terbukti dengan tingginya prosentase permintaan energi oleh negara Asia Timur terhadap negara-negara penghasil energi seperti minyak, mineral, dan batu bara (Alfadh 2013, 144). Tentu hal ini disebabkan karena kegiatan industrialisasi yang tinggi di negara-negara Asia Timur. Tingginya kegiatan industri di Asia Timur yang dibarengi dengan minimnya sumber daya alam berupa energi, menyebabkan negara-negara di Asia Timur harus banyak mengimpor energi dari negara-negara yang sumber energinya melimpah, seperti Timur Tengah. Pasokan energi yang tidak menentu tentu akan merugikan industri di negara Asia Timur. Oleh karena itu, negara-negara Asia Timur tentunya memiliki strategi masing-masing yang terkait dengan pasokan energi serta usaha-usahanya untuk menghemat pemakaian energi agar kemudian tidak berdampak buruk bagi sektor industri.

            Korea Selatan menggunakan strategi diversifikasi yaitu dengan membuat energi dengan sumber-sumber baru, seperti misalnya angin sebagai sumbernya (Poirier 2012, 14). Selain itu, untuk mengamankan pasokan energinya dari negara-negara di sekitarnya, Korea Selatan juga memiliki strategi sendiri. Untuk mendapatkan pasokan energi dari negara lain, tentu tidak semudah yang dibayangkan. Mungkin akan mudah jika Korea Selatan adalah satu-satunya negara pengimpor minyak, namun sayangnya keadaan tidak demikian. Korea Selatan juga bersaing dengan banyak negara khususnya negara-negara di regional Asia Timur sendiri, seperti Cina untuk mendapatkan pasokan minyak yang cukup. Untuk merespon keadaan yang demikian, Korea Selatan mengambil kebijakan untuk melakukan diplomasi energi. Yang dimaksud sebagai diplomasi energi adalah bahwa Korea Selatan banyak memberikan investasi atau bantuan luar negeri bagi negara-negara yang memiliki sumber daya energi yang kaya (Poirier 2012, 17). Sejauh ini, Korea Selatan telah memberikan bantuan luar negeri kepada negara-negara Afrika, seperti Nigeria salah satunya dengan proyek pembangunan infrastruktur juga dengan Uzbekistan dengan mengadakan perjanjian joint venture pada perminyakan (Poirier 2012, 18). Korea Selatan saat ini juga terus meningkatkan insentif pertukaran energi dengan basis pembangunan berkelanjutan (Poirier 2012, 19). Dengan begitu, Korea Selatan ingin bersaing dalam hal pasokan minyak dengan negara-negara Asia Timur sendiri dan tentu mengharapkan timbal balik yang sesuai dari negara-negara penerima bantuan luar negeri dan yang telah menandatangani berbagai perjanjian tersebut.

            Seperti Korea Selatan, Jepang juga turut bersaing dalam mengamankan pasokan energinya. Terlebih lagi Jepang merupakan negara OECD dengan kapasitas energi yang paling rendah diantara negara OECD lainnya (May 1998, 11) sehingga membuat Jepang membutuhkan lebih banyak energi dibandingkan dengan negara lainnya. Kebutuhan Jepang terhadap energi sangat besar, terbukti dengan dominasi permintaan energi oleh Jepang di negara-negara Asia pada beberapa dekade (Alfadh 2013, 143). Munculnya kompetitor seperti Cina dan Korea Selatan yang juga merupakan negara industri yang tentu memerlukan energi, Jepang kemudian meningkatkan keagresifannya dalam bersaing mendapatkan energi dari negara-negara yang kaya akan minyak dan energi lainnya. Selain mencoba untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak dengan terus mencari energi alternatif lain seperti  batu bara, gas alam, tenaga nuklir dan sumber energi terbarukan termasuk solar, teknologi gelombang biomas dan angin, Jepang juga mulai mencoba untuk memasuki sumber-sumber energi baru di Rusia, Asia Selatan, dan Afrika. Hal ini disebabkan karena Timur Tengah, sebagai negara pemasok minyak terbesar ke Jepang sebelumnya, sedang mengalami instabilitas domestik sehingga timbul kekhawatiran Jepang bahwa pasokan energi dari Timur Tengah ke Jepang akan mengalami gangguan.

Selain melakukan kebijakan pengamanan pasokan minyak ke luar dengan membangun kerja sama dengan negara-negara sumber minyak, Jepang juga menerapkan kebijakan pengamanan energi dari dalam. Pada tahun 2005, METI mengeluarkan kebijakan “New National Energy Strategy” yang intinya adalah berisi tentang meningkatnya intervensi pemerintah dalam pasar dalam hal kontrol pemakaian energi untuk memastikan tidak terjadi kelangkaan energi. Strategi Jepang ini sekaligus menunjukkan bahwa Jepang memadukan strategi energi dan penekanan akan kemandirian melalui kebijakan efisiensi ekonomi untuk menciptakan keamanan pasokan energi (Evans 2006, 19). Hal tersebut menunjukkan bahwa Jepang masih mengandalkan peran pemerintah bahkan dalam hal pemakaian energi untuk menjalankan industrinya.

            Selanjutnya, dengan pertumbuhan ekonominya yang pesat dan peningkatan industrialisasinya, Cina juga tentu membutuhkan energi dengan jumlah yang besar untuk dapat terus mengembangkan industrinya. Peningkatan permintaan energi batu bara oleh Cina bahkan sempat disebut-sebut sebagai penyebab kenaikan harga batu bara di dunia (Ishida 2007, 2). Karena itu, Cina juga tentu menerapkan berbagai kebijakan untuk mengamankan ketersediaan energinya. Menghadapi ketidakstabilan politik domestik Timur Tengah sebagai negara pemasok energi yang tentu akan mengganggu pasokan energi ke Cina, pemerintah Cina menerapkan kebijakan energi yang lebih berorientasi dalam kebijakan-kebijakan ke dalam negeri. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya kebijakan mengenai energi nasional yang dibuat oleh pemerintah Cina seperti kebijakan lima tahunan ke-10 dan ke-11 yang intinya adalah mempromosikan penghematan energi serta penggunaan energi yang dapat diperbarui dan energi terbarukan seperti solar (Ishida 2007, 4). Kebijakan yang diberlakukan oleh Cina dalam mengamankan ketersediaan energinya ini kemudian turut meningkatkan peran Cina dalam menjaga lingkungan dan menerapkan pembangunan berkelanjutan.

            Dalam usaha penyelamatan lingkungan, Cina turut berkontribusi dalam organisasi internasional yang berkaitan dengan lingkungan. Peningkatan kegiatan industri Cina tentu menimbulkan dampak bagi negara-negara di sekitarnya seperti pencemaran polusi dan limbah di sungai. Karena itu kemudian Cina berusaha untuk mengurangi dampak-dampak tersebut. Beberapa aktor utama yang terlibat dalam usaha pelestarian lingkungan ini adalah State Environmental Protection Administration (SEPA), pemerintah nasional, green NGO, serta individu-individu yang peduli akan isu lingkungan (Chan et al 2008, 292). Melalui aktor-aktor tersebut, Cina berusaha meningkatkan agenda negosiasinya dengan negara-negara Asia Timur, ASEAN, bahkan negara-negara Eropa dalam hal lingkungan. Bersama dengan negara Asia Timur lainnya, Cina bermaksud untuk meningkatkan kapasitas teknologi untuk mengontrol polusi untuk mematuhi dan melaksanakan apa yang telah disepakati pada Protokol Kyoto 1997 (Chan et al 2008, 298). Cina berusaha mengurangi emisi karbon dengan melakukan melakukan perdagangan kredit karbon yang kemudian hasil dari perdagangan tersebut adalah untuk pengembangan promosi sumber daya yang dapat diperbarui (Chan 2008, 299).  Pada intinya kontribusi Cina terhadap pelestarian lingkungan adalah usaha-usaha Cina mengurangi emisi karbon serta usaha penggunaan dan pengembangan sumber-sumber energi yang dapat diperbarui (Zhang 2011, 144) guna melaksanakan tujuan-tujuan pembangunan berkelanjutan.

            Seperti yang telah dikatakan pada paragraf awal, kegiatan manusia juga dipengaruhi oleh kegiatan alam dan lingkungan. Pembangunan dengan demikian juga dipengaruhi oleh kegiatan alam. Bencana alam, tidak dapat dipungkiri merupakan salah satu faktor yang mempengarui pembangunan. Jepang merupakan negara di Asia Timur yang rentan oleh bencana alam terutama bencana gempa. Tidak dapat dipungkiri hal tersebut membuat pemerintah Jepang sangat memperhatikan pencegahan dan manajemen bencana untuk tetap menjaga stabilitas negaranya. Respon Jepang terhadap bencana sangatlah masif. Manajemennya dilaksanakan secara cepat oleh tim yang dipimpin langsung oleh Perdana Menteri Jepang. Sebanyak ribuan pasukan yang terdiri dari polisi nasional, pemadam kebakaran, dan agensi manajemen bencana dikerahkan untuk usaha-usaha penyelamatan ketika terjadi bencana (Panda 2012, 62). Hal tersebut menunjukkan bahwa Jepang begitu mempedulikan tentang akibat yang ditimbulkan oleh bencana alam sehingga penyelesaiannya pun cepat. Tidak hanya ketika terjadi bencana, pemerintah Jepang juga melakukan persiapan dalam pencegahan bencana juga melakukan perbaikan kerugian setelah terjadi bencana dengan cepat sehingga kegiatan pembangunan di Jepang tidak lumpuh dalam waktu yang lama. Untuk usaha pencegahan bencana oleh Jepang di masa depan, Jepang bermaksud untuk meningkatkan kapasitas teknologi untuk usaha prediksi bencana yang lebih akurat (Panda 2012, 66).

            Dengan demikian, terlihat jelas bahwa lingkungan sangat mempengaruhi kegiatan pembangunan di berbagai negara. Ini juga berlaku bagi negara-negara Asia Timur yang rata-rata telah menjadi negara industri. Kegiatan industri membutuhkan energi dalam jumlah yang banyak bahkan dapat menyebabkan kelangkaan energi di kemudian hari. Hal ini disikapi oleh negara-negara Asia Timur dengan berbagai kebijakan, misalnya dengan menggunakan energi alternatif juga sumber-sumber energi yang dapat diperbarui untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Permasalahan mengenai baik energi maupun bencana alam sama-sama tidak dapat diabaikan. Karena kedua permasalahan lingkungan tersebut turut berkontribusi dalam mempengaruhi pembangunan dan stabilitas negara. Negara-negara Asia Timur bersamaan dengan terus meningkatkan kegiatan industrinya, juga tentunya diharapkan untuk terus meningkatkan usaha-usaha pelestarian lingkungan. Dengan kapasitas teknologi yang telah maju, sangat memungkinkan jika nantinya kontrol terhadap kerusakan lingkungan dapat semakin berkembang dan canggih sehingga bahaya pemanasan global dapat sedikit diredam.

 

Referensi:

Chan, Gerald. 2008. “China’s Environmental Governance: the domestic – international nexus”, dalam Third World Quaterly. London: Routledge.

Evans, Peter C. 2006. “Energy Security Series: Japan,” The Brookings Foreign Policy Studies. The Brookings Institution.

Ishida, Hiroyuki. 2007. “Energy Strategies in China and India”, [online] dalam eneken.ieej.or.jp/en/. Diakses pada Jumat, 16 Mei 2014.

May, Michael. 1998. “Energy and Security in East Asia”, dalam America’s Alliances with Japan and Korea in a Changing Northeast Asia. Asia Pasific Research Center.

Panda, Rajaram. 2012. “Japan’s Disaster Response Management: Lessons for the World”, dalam Journal of Defense Study, vol. 6, no.1.

Poirier, Marie-Claude. 2012. “Towards Green Korea? Assessing South Korea’s Energy Security from Diversivication to Diplomacy”, dalam South Korea Energy Security. PEAR.

Zhang, Yangsheng. 2011. “Promoting Global Carbon Equity and Low Carbon Growth”, dalam Ligang Song & Jane Gooley (eds). Rising China: Global Challenges and Opportunities. Canberra: ANU E Press.

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.761.786