Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

Dinamika Cina: Posisi, Strategi Pertumbuhan, serta Potensi Kekuatannya dalam Regional dan Internasional

23 May 2014 - dalam MBP Asia Timur Oleh fyustiazari-fisip12

Siapa yang tidak mengenal Cina? Negara yang satu ini, seringkali disebut sebagai kekuatan baru besar di Asia yang akan menggantikan kuasa Amerika Serikat di seluruh dunia. Cina, dalam perkembangannya, telah menunjukkan kemampuannya untuk berkembang secara luar biasa. Cina merupakan negara yang menggolongkan dirinya sebagai negara berkembang meski kekuatan ekonominya bisa dikatakan telah kuat. Pertanyaan tentang siapa Cina seringkali sulit untuk dijawab (Henida 2014). Sulitnya memperoleh data-data tentang Cina, menyebabkan sulit juga mengidentifikasi posisi Cina baik dalam lingkup regional maupun internasional. Namun, beberapa sumber mengidentifikasi posisi Cina berdasarkan beberapa indikator, yang nanti akan dijelaskan lebih lanjut pada tulisan kali ini. Selanjutnya, pada tulisan ini juga akan dijelaskan mengenai strategi pertumbuhan Cina, juga akibat yang ditimbulkan dari pertumbuhan yang begitu pesat tersebut. Kemudian, akan dijelaskan juga mengenai potensi kekuatan Cina baik dalam lingkup regional maupun internasional pada masa yang akan datang.

            Keberadaan Cina dan perkembangannya sangat diperhitungkan dan diperhatikan oleh negara-negara lain. Dalam mengidentifikasi posisinya sendiri di Asia, pemimpin Cina ingin mempertahankan posisi Cina sebagai periphery di Asia. Hal ini bertujuan untuk memfokuskan politik domestik Cina yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas politik (Sutter 2005, 3). Dari sini dapat dilihat bahwa Cina dapat dikatakan tidak memiliki keinginan untuk tumbuh menjadi adikuasa di Asia apalagi pada lingkup yang lebih luas meski kekuatan ekonominya terbilang maju pesat. Cina lebih memfokuskan diri untuk menangani isu-isu dalam negerinya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang signifikan dan menstabilkan politik domestiknya.

Sementara itu, Alastair Iain Johnston (2003) mencoba mengidentifikasikan apakah Cina bisa dikatakan sebagai negara yang status quo atau tidak. Negara status quo merupakan negara yang mempertahankan posisi dan kekuatannya tetap seperti sekarang (Morgenthau dalam Johnston 2003, 8), juga dapat dikatakan tanpa mengubah statusnya menjadi negara adikuasa. Keterlibatan Cina dalam komunitas dan organisasi internasional mengalami perubahan sejak tahun 1997, padahal pada tahun-tahun sebelumnya, keterlibatan Cina dalam organisasi internasional jumlahnya adalah di bawah rata-rata keterlibatan negara-negara lain. Pada tahun 1977 keterlibatan Cina dalam organisasi internasional hanya berjumlah sekitar 20 keanggotaan, sedangkan pada tahun 1997, jumlah keanggotaan Cina pada organisasi internasional adalah sebesar 60 keanggotaan (Johnston 2003, 14). Hal ini menunjukkan bahwa Cina semakin terlibat dalam interaksi internasional seiring juga dengan perkembangan negaranya yang begitu pesat. Dapat dikatakan bahwa semakin berkembang Cina, maka kebutuhan akan interaksi dengan dunia internasional juga semakin menjadi penting. Meski demikian, Cina masih dianggap belum sepenuhnya menjadi partisipan konstruktif dalam komunitas internasional (Johnston 2003, 8).

Mengenai kepatuhan terhadap rezim normatif internasional, sikap Cina adalah tergantung dengan norma apa yang dimaksud. Jika itu mengenai perdagangan bebas, tentu Cina sangat mendukung perdagangan bebas serta mendukung integrasi ekonomi. Hal ini dibuktikan dengan bergabungnya Cina dengan WTO (Johnston 2003, 17). Namun, jika hal yang dibicarakan adalah mengenai ­national self-determination, bisa dikatakan bahwa Cina tidak memiliki kepatuhan yang tinggi terhadap norma ini (Johnston 2003, 18). Berkaitan dengan kasus isolasi Taiwan, tentu sudah dapat terlihat bahwa Cina tidak memiliki kepatuhan terhadap norma national self-determination. Dengan melihat sikap-sikap Cina tersebut, bahkan masih sangat sulit ditemukan jawaban dari pertanyaan siapa sebenarnya Cina. Cina semakin terintegrasi dan semakin mudah berkooperasi pada masa sekarang ini, dan bukti-bukti bahwa Cina ingin mengimbangi kekuatan unipolar Amerika Serikat dan mencoba menjadikannya multipolar, nampaknya masih samar-samar (Johnston 2003, 59). Yang jelas, Cina adalah negara yang memiliki kapasitas kuat, terutama dalam perekonomiannya dan berhasil menjadi negara yang tergolong maju meski enggan diakui oleh Cina sendiri.

Apa yang kemudian mendukung pertumbuhan ekonomi Cina yang pesat sehingga membuat kapasitasnya menjadi kuat, bahkan ketika menghadapi krisis sekalipun? Selama ini, banyak yang mungkin menganggap bahwa ekspor Cina yang tinggi merupakan faktor utama yang menyebabkan Cina memiliki ekonomi yang sangat maju, namun ternyata hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Ekspor yang tinggi memang merupakan salah satu faktor penting yang mendukung pertumbuhan ekonomi Cina, namun ekspor bukan merupakan yang utama dan satu-satunya (Orts dan Rush 2010 dalam McKay 2011, 10). Lagipula, ekspor Cina yang terlalu besar juga menyebabkan ketidakseimbangan neraca perdagangan di Cina yang menyebabkan Cina sendiri harus meningkatkan impor untuk menyeimbangkan neraca perdagangannya (Golley dan Song 2011, 2).

Salah satu rahasia keberhasilan Cina adalah dengan mengembangkan investasi infrastruktur (Schmidt dan Heilmann 2010, 4), yang juga dikatakan oleh Huw McKay (2011, 10) sebagai fixed investment yang diberlakukan pada real estate, aktivitas industri berat, serta infrastruktur yang kemudian dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi menjadi lebih kuat dalam jangka panjang. Bisnis real estate kemudian menjadi mayor dan dominan dalam makroekonomi Cina sejak tahun 1999 (Mckay 2011, 11). Pada tahun 2003, Cina berhasil segera bangkit kembali dan terlepas dari pengaruh krisis Asia. Hal ini bisa dikatakan juga disebabkan karena fixed investment yang diberlakukan oleh Cina pada sektor-sektor yang telah disebutkan sebelumnya. Cina berhasil mengontrol industri berat ketika krsis sehingga tidak menimbulkan ekspansi yang berlebihan, namun kembali memberlakukan investasi pada industri berat pada tahun 2007 (McKey 2011, 11). Cina terbukti menerapkan kebijakan investasi tersebut secara tepat waktu. Bersamaan dengan diberlakukannya investasi kembali pada sektor industri berat, sektor real estate di Cina juga mengalami perkembangan yang pesat dengan mengalami kecepatan kenaikan harga dan juga peningkatan penjualan. Hal ini kemudian dinyatakan berhasil menambah poin pertumbuhan GDP Cina sebesar 2,5% (McKay 2011, 11). Ini kemudian membuktikan bahwa bukan hanya ekspor yang tinggi saja yang menyebabkan Cina dapat menjadi negara dengan kapasitas ekonomi kuat, tetapi juga kebijakan investasinya yang strategis terbukti dapat membuat Cina dapat menjadi ekonomi dominan kembali pasca krisis.

Kapasitas ekonomi yang besar serta perkembangan ekonomi Cina yang begitu pesat berdampak positif bagi dunia internasional. Perkembangan ekonomi yang begitu pesat menyebabkan Cina kemudian semakin terintegrasi dalam pasar global. Integrasi Cina dalam pasar global tersebut kemudian menyebabkan satu per lima populasi dunia juga menjadi terintegrasi dengan pasar global. Serta menyebabkan terjadinya peningkatan dalam produksi, perdagangan, dan konsumsi yang menyebabkan meningkatnya kesejahteraan negara-negara yang turut berpartisipasi dalam integrasi pasar tersebut (Golley dan Song 2011, 1). Hal tersebut tentu merupakan dampak positif atas perkembangan ekonomi Cina yang luar biasa pesatnya. Namun, ada juga dampak negatif dari perkembangan yang pesat ini. Potensi besar yang dimiliki oleh Cina ini kemudian juga dapat mengakibatkan beberapa akibat negatif bagi negara-negara lain. Song (2010) menyebutkan beberapa dampak negatif tersebut adalah: (1) meningkatkan kompetisi atas barang murah yang ditawarkan oleh Cina; (2) Cina menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan ekonomi global; (3) meningkatnya harga komoditas energi, seperti mineral dan minyak sebagai akibat dari besarnya permintaan Cina atas minyak dan mineral untuk kepentingan industri; serta (4) meningkatkan efek rumah kaca karena meningkatnya kapasitas industri.

Dengan demikian, Cina merupakan negara yang sulit diidentifikasi posisinya. Banyak yang meramalkan bahwa Cina nantinya akan mengalahkan Amerika Serikat. Namun, data-data yang mendukung anggapan tersebut masih samar-samar sehingga masih belum dapat dikatakan bahwa anggapan tersebut adalah benar. Yang jelas, Cina merupakan negara dengan kapasitas ekonomi besar yang terus mengalami pertumbuhan yang pesat bahkan di masa yang akan datang. Untuk pertumbuhan yang lebih pesat selanjutnya, selain pada keseimbangan neraca perdagangan, fokus-fokus yang perlu diperhatikan oleh Cina adalah mengenai manufaktur dengan nilai tambah yang lebih besar, perhatian terhadap pasar domestik, ekspansi pada sektor jasa, dan perhatian terhadap perusahaan privat (Overholt 2010 dalam Golley dan Song 2011, 2).  Perkembangan ekonomi Cina berpotensi mendominasi kawasan regional bahkan hingga ke internasional karena kapasitas ekonomi Cina yang besar tersebut terbukti telah mempengaruhi kegiatan ekonomi negara-negara lainnya sehingga dapat dikatakan bahwa sedikit banyak Cina banyak berpengaruh dalam perekonomian global saat ini. Cepat atau lambat, diakui atau tidak, Cina berpotensi untuk mendominasi ekonomi setidaknya secara regional yang mungkin nanti akan berkembang secara internasional jika kapasitas ekonomi Cina semakin besar dan kebijakan yang diberlakukan mengenai keseimbangan perdagangan dan sebagainya semakin strategis.

REFERENSI:

Golley, Jean dan Ligang Song. 2011. “China’s Rise in a Changing World”, dalam Rising China Global Challenge and Opportunities. Canberra: ANU E Press.

Henida, Citra. 2014. “Taiwan: Industrialization and Cross Strait Relation”, disampaikan pada Kuliah MBP Asia Timur. Departemen Hubungan Internasional, Fisip Unair. Senin, 5 Mei 2014.

Johnston, Alastair Iain. 2003. “Is China a Status Quo Power?”, dalam International Security. Harvard College.

McKay, Huw. 2011. “China’s Turbulent Half-Decade”, dalam Rising China Global Challenge and Opportunities. Canberra: ANU E Press.

Schmidt, Dirk dan Sebastian Heilmann. 2010. “Dealing with Economic Crisis in 2008-09: The Chinese Government’s Crisis Management in Comparative Perspective”, dalam China Analysis [online], diunduh dari www.chinapolitik.de, [Rabu, 7 Mei 2014].

Sutter, Robert G. 2005. “China’s Rise in Asia: Promises, Prospects and Implications for the United States”, dalam Asia Pasific Security Studies. Asia Pacific Center of Security Studies.

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.751.197