Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

Geopolitik Masa Kini: Perubahan dan Munculnya Pemikiran Baru tentang Geopolitik

23 May 2014 - dalam Geopolitik dan Geostrategi Oleh fyustiazari-fisip12

Perkembangan dunia tidak dapat dipungkiri turut memberikan arah perubahan terhadap pemikian terhadap geopolitik. Secara tradisional, mungkin banyak orang memiliki pemahaman bahwa geopolitik merupakan pengaruh kondisi geografis terhadap pengambilan kebijakan suatu negara. Jika dirujuk pada teori-teori geopolitik tradisional seperti yang diungkapkan oleh Mackinder dan Haushofer, memang benar bahwa geopolitik sangat erat kaitannya dengan geografi secara fisik sehingga membuat banyak orang berpikir bahwa geopolitik adalah pengaruh dari kondisi geografis dalam pembuatan kebijakan. Namun, jika melihat kondisi yang sekarang ini, geopolitik telah berkembang lebih dari itu. Karena tidak ada lagi penguasaan wilayah atau ekspansi, geopolitik nampaknya menjadi kurang identik dengan geografis. Geopolitik sesungguhnya lebih dari pengertian yang dipahami secara tradisional tersebtut. Menurut Colin Flint (2006), geopolitik merupakan bagian dari human geography, yang tidak hanya tentang kondisi geografi saja karena human geography yang dimaksud adalah kondisi dunia secara keseluruhan dalam berbagai aspek, bukan hanya geografi. Kondisi tersebut nantinya digunakan untuk membuat kebijakan yang bukan hanya kebijakan politik saja, tetapi juga kebijakan dalam bebagai aspek, misalnya ekonomi, dan berbagai aspek lainnya.

Perubahan dunia yang menyebabkan perubahan pada pemahaman geopolitik ini telah menyebabkan banyak pemikiran kritis lahir dalam melihat bagaimana geopolitik saat ini dilaksanakan. Ada berbagai pendekatan yang digunakan untuk melihat geopolitik saat ini, yaitu pendekatan neoliberal, pendekatan kritis, dan pendekatan posmodern. Ketiga pendekatan tersebut melihat geopolitik secara berbeda-beda. Pada paper kali ini, akan dibahas mengenai bagaimana ketika pendekatan tersebut melihat geopolitik saat ini. Ketika pendekatan tersebut memberikan arah untuk memandang geopolitik secara berbeda sesuai dengan perkembangan zaman yang ada saat ini.

Dimulai dengan geopolitik neoliberalisme. Geopolitik neoliberal ini nampaknya sangat cocok digunakan untuk menggambarkan kondisi geopolitik di era new world order. Geopolitik neoliberal ini sangat identik dengan hal-hal seperti pasar bebas, keterbukaan, dan integrasi ekonomi yang kemudian mengarah pada uniteralisme Amerika (Roberts et al 2003, 886). Berdasarkan pemikiran geopolitik neoliberal, konsep geopolitik sederhana telah terbilang kuno dan tidak dapat menjelaskan perkembangan dunia yang semakin pesat saat ini. Sekarang ini, tidak lagi ditemukan adanya ekspansi secara fisik oleh negara-negara besar dan aspek politik menjadi lebih lemah daripada sekarang. Hal ini disebabkan karena menurut geopolitik neoliberal, geopolitik telah beralih kepada geoekonomi, ditandai dengan semakin terbukanya pasar yang pada era globalisasi sekarang ini dianggap sangat umum terjadi yang menyebabkan persaingan dalam memperkaya diri menjadi semakin marak (Roberts et al 2003, 888).

Peralihan dari geopolitik ke geoekonomi juga ditandai dengan adanya integrasi ekonomi banyak dilakukan oleh negara-negara, misalnya dengan membentuk kerja sama ekonomi regional seperti NAFTA serta munculnya organisasi-organisasi non-negara yang mendukung integrasi ekonomi global, seperti IMF, World Bank, dan WTO (Gill 1995, dalam Kuus 2009, 3). Hal tersebut menunjukkan bahwa sekarang ini interaksi negara telah bergeser menjadi geoekonomi dimana ekonomi sangat penting dalam perkembangan dunia yang pesat saat ini. Semakin menjadi pentingnya aspek ekonomi pada perkembangan dunia saat ini, menyebabkan banyak sekali konflik di dunia ini yang dilatarbelakangi oleh aspek ekonomi. Sejak abad ke-20, perang dan konflik yang terjadi, didasari karena kepentingan ekonomi, seperti misalnya perang Iraq yang ditengarai disebabkan karena Amerika Serikat sebenarnya ingin menguasai minyak di Iraq (Roberts et al 2003, 889).  Dapat dilihat kemudian, bahwa ekonomi menjadi begitu penting hingga dapat menimbulkan konflik karena keinginan atau bahkan obsesi negara untuk semakin memperkaya diri.

Selanjutnya adalah geopolitik kritis yang identik dengan kritik-kritik yang ditujukan kepada penerapan geopolitik tradisional yang sarat dengan ekspansi wilayah dan perang. Istilah geopolitik kritis pada awalnya diungkapkan pada Simon Dalby pada tahun 1990 dan menjadi semakin berkembang hingga saat ini (Kuus 2009, 5). Sejak dulu, geopolitik sangat identik dengan bagaimana Eropa berambisi untuk menguasai dunia (Heffernan 2000). Memang, dapat dilihat bahwa geopolitik, terutama geopolitik tradisional memang identik dengan kepentingan dan ambisi Eropa, yang notabene merupakan negara besar pada waktu itu. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya teori geopolitik tradisional yang lahir seperti yang telah dijelaskan pada awal tulisan ini. Hal tersebutlah kemudian yang dikritik oleh geopolitik kritis. Pemikiran geopolitik tradisional yang demikian tidaklah cocok untuk perkembangan dunia saat ini.

Geopolitik kritis juga mengkritik tentang dominasi negara-negara besar terhadap negara-negara yang lebih kecil. Menurut pandangan geopolitik kritis, sekarang ini kekuatan superpower, yang telah banyak menguasai negara-negara yang lebih lemah selama lebih dari empat puluh tahun, telah berakhir (Dodds et al 2012, 6). Selama berpuluh-puluh tahun sudah, negara-negara besar telah menindas negara yang lebih lemah demi menguntungkan dirinya sendiri. Negara besar tersebut menjanjikan pembangunan kepada negara yang dijajah, namun sebenarnya hal tersebut sangat merugikan bagi negara-negara yang lebih kecil. Kekhawatiran yang ditunjukkan oleh geopolitik kritis ini sebenarnya adalah kekhawatiran terhadap kekuasaan atau kekuatan tertentu yang dapat berdampak kepada kerugian negara tertentu (Dodds et al 2002, 7). Geopolitik kritis sebenarnya hadir untuk menyadarkan negara-negara kecil atau negara-negara berkembang bahwa kekuatan superpower telah merugikan mereka (Sulistyo 2014) dan sekarang kekuatan superpower tersebut telah berakhir sehingga seharusnya negara-negara berkembang dapat berdiri dan bangkit untuk dapat lebih maju lagi tanpa intervensi negara-negara yang telah lebih besar.

Selanjutnya, ada pemikiran geopolitik yang bisa dikatakan melebihi geopolitik modern, yaitu geopolitik posmodern yang pada intinya pemikirannya menunjukkan bahwa dunia ini telah berkembang lebih dari menjadi dunia yang modern. Pada era yang melebihi modern pun, geopolitik masih tetap berlaku dalam membingkai politik dunia (Agnew 1998, 6). Geopolitik memang tidak hilang, melainkan berubah seiring dengan perubahan dan perkembangan dunia pula. Geopolitik postmodern ini kemudian mencoba menjelaskan perubahan geopolitik ke arah yang melebihi modern. Pada geopolitik postmodern ini, dijelaskan bahwa space menjadi semakin membingungkan, begitu juga dengan time.

Geopolitik posmodern ini ditandai dengan berakhirnya dunia modern yang juga ditandai dengan menurunnya hegemoni Amerika Serikat terhadap dunia ini dan hal ini diakibatkan oleh munculnya fenomena globalisasi yang tak terkendali (O Thuatail 1998, 23). Berakhirnya era modern juga ditandai dengan keadaan ekonomi yang semakin dinamis dan terdeteritorialisasi, tidak lagi statis (Kofman dan Young 1996, dalam O Thuatail 1998, 24). Batas-batas ekonomi menjadi semakin tidak jelas, dibuktikan dengan maraknya investasi transnasional yang dilakukan oleh hampir semua negara untuk meningkatkan kapasitas ekonominya. Perubahan yang dijelaskan oleh geopolitik posmodern juga terjadi pada revolusi teknologi (O Thuatail 1998, 24). Pada era sekarang ini, teknolgi menjadi semakin canggih. Baik itu teknologi informasi, komunikasi, maupun teknologi transportasi. Teknologi informasi dan komunikasi menyebabkan arus informasi semakin mudah dan cepat diakses melalui jaringan internet dan komputer, serta komunikasi, meski dilakukan antarnegara, menjadi sangat mungkin terjadi, bahkan menjadi begitu mudah. Akibatnya, banyak sekali kejahatan cyber yang sekarang ini menjadi ancaman bagi seluruh dunia berkaitan dengan peretasan informasi-informasi penting negara yang bisa sangat membahayakan. Perkembangan teknologi transportasi kemudian juga membuat pergerakan manusia semakin mudah yang menyebabkan semakin banyaknya arus migrasi dari satu negara ke negara lainnya. Dapat dilihat bahwa revolusi teknologi menjadikan dunia semakin memampat dan space menjadi semakin kabur dan membingungkan.

Lahirnya posmodernisme dalam geopolitik ini kemudian juga identik dengan lahirnya jaringan-jaringan global yang kemudian menciptakan sebuah “kehidupan global” (O Thuatail 1998, 24). Jaringan-jaringan global tersebut kemudian menciptakan adanya struktur sosial masyarakat yang baru yang bernama masyarakat global, juga menyebabkan munculnya new geo-graphic sebagai kiasan dari posmodernitas (Castells 1996, dalam O Thuatail 1998, 25). Artinya, geografi sekarang ini sudah tidak lagi berbentuk fisik seperti pada geopolitik modern yang cenderung memandang geografi dan batas-batas negara secara jelas. Jaringan global dan semakin derasnya arus informasi dan komunikasi, menyebabkan terciptanya jaringan masyarakat baru, yaitu masyarakat global yang tidak teridentifikasi berdasarkan tempat tinggal secara fisiknya, karena batas-batas dan juga space pada posmodernitas juga semakin tidak jelas. Geopolitik posmodernitas ini kemudian dapat dilihat sangat identik dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat bahkan hingga menciptakan sebuah kondisi geografis yang baru dan mengubah tatanan masyarakat melalui jaringan global. Peran manusia juga semakin tergantikan oleh mesin, ditandai dengan penemuan robot atau mesin-mesin yang dapat memudahkan kehidupan manusia.

Geopolitik telah mengalami perubahan seiringin dengan perubahan dunia pula. Perubahan tersebut menyebabkan banyaknya pendekatan-pendekatan yang kemudian menjadikan perubahan geopolitik tersebut dapat dijelaskan dan dipahami lebih lanjut. Geopolitik neoliberalisme menjelaskan bagaimana geoekonomi sekarang telah mendominasi kebijakan yang dibuat oleh negara-negara di dunia ini, mengikuti perkembangan dunia yang semakin kompetitif ini. Geopolitik kritis mencoba mengkritisi geopolitik klasik yang terlalu memusatkan penjelasannya kepada ambisi negara-negara besar seperti Eropa, padahal hal tersebut tidak lagi relevan pada dunia yang sekarang ini karena negara dunia menjadi lebih multipolar dan negara berkembang juga mulai menunjukkan kekuatannya. Terakhir, geopolitik posmodern menjelaskan bagaimana revolusi teknologi yang ditimbulkan oleh globalisasi menjadikan signifikasi peran manusia semakin melemah, bahkan munculnya jaringan global menciptakan kondisi geografis baru yang juga menyebabkan berubahnya struktur masyarakat tradisional yang ditandai dengan munculnya masyarakat global. Melalui fenomena tersebut kemudian dapat dipahami bahwa space menjadi semakin tidak jelas.

Dengan demikian, meski zaman telah berubah dan mengalami perkembangan yang sangat pesat, geopolitik tidak kemudian hilang, melainkan mengalami perubahan yang dapat dilihat dari banyaknya pemikiran-pemikiran baru yang lahir demi dapat menjelaskan dan memahami geopolitik secara lebih lanjut meski dalam kondisi dunia yang benar-benar baru sekalipun. Pada masa yang akan datang, dunia mungkin akan mengalami perkembangan yang lebih maju lagi. Demikian juga dengan pemikiran dan pendekatan mengenai geopolitik, yang juga akan mengalami perubahan dan perkembangan mengikuti perkembangan dan perubahan dunia di masa yang akan datang.

 

Referensi:

Agnew, J. 1998. Geopolitics: Re-Visioning World Politics. London: Routledge.

Dodds, Klaus, et al. 2012. “Introduction: Geopolitics and Its Critics”, dalam The Ashgate Research Companion of Critical Geopolitics. pp. 1-14.

Flint, Collin. 2006. Introduction of Geopolitics. London: Routledge.

Heffernan, M. 2000. “Fin de Siècle, Fin du Monde: On the Origins of European Geopolitics”, dalam D. Klaus dan D. Atkinson (eds.) Geopolitical Traditions: A Century of Geopolitical Thought. London: Routledge.

Kuus, Merje. 2009. “Critical Geopolitics”, dalam Social Sciences and Humanities Research Council of Canada.

O Thuatail, G. 1998. “Postmodern Geopolitics? The Modern Geopolitical Imagination and Beyond”, dalam Rethinking Geopolitics. London: Routledge.

Roberts, Susan, et al. 2003. “Neoliberal Geopolitics”, dalam Editorial Board of Antipode. Oxford: Blackwell Publishing.

Sulistyo, Djoko. 2014. “Critical Geopolitics”, dalam Kuliah Geopolitik dan Geostrategi. Departemen Hubungan Internasional Fisip Universitas Airlangga, Kamis, 10 April 2014.

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.761.770