Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

Globalisasi dan Mobilitas Masyarakat: Krisis Migrasi dan Mencuatnya Isu Brain Drain

16 May 2014 - dalam Globalisasi Strategi Oleh fyustiazari-fisip12

Tidak dapat dipungkiri, perkembangan dunia dalam hal teknologi telah membawa banyak perubahan dan kemudahan bagi manusia untuk melakukan berbagai kegiatan. Memang benar rasanya apabila dikatakan bahwa globalisasi telah menyamarkan batas-batas negara. Bagaimana tidak? Teknologi transportasi telah membuat manusia semakin mudah melakukan mobilitas bahkan keluar dari negara asalnya dan masuk ke negara lain yang benar-benar asing sekalipun. Hal ini menyebabkan semakin tingginya angka migrasi sejak tahun 1990an dan mengalami peningkatan secara drastis kembali pada tahun 2005. Data menunjukkan bahwa angka migrasi telah mengalami pertumbuhan yang drastis sejak tahun 1990an dibandikan dengan pada tahun 1960 sampai dengan 1980an yang hanya mengalami kenaikan dalam jumlah yang kecil saja. Pada tahun 1960 hanya sekitar 75 juta penduduk yang bermigrasi. Angka ini semakin mengalami kenaikan hingga pada tahun 2005 jumlah penduduk yang bermigrasi adalah sebanyak 190 juta penduduk (Docquert dan Rapoport 2011, 2). Hal ini kemudian menunjukkan bahwa mobilitas penduduk semakin tinggi bersamaan dengan semakin cepatnya arus globalisasi sehingga kemudahan yang telah ditimbulkan oleh globalisasi meningkatkan jumlah migrasi di dunia ini.

Bagi sebagian orang kemudahan akses untuk melakukan mobilitas mungkin terbilang menguntungkan. Orang bisa pergi dari negara satu ke negara lainnya dengan cepat dan sekarang ini semakin murah. Selain itu meningkatnya integrasi regional juga menyebabkan nantinya akan memungkinkan dan mudah bagi banyak orang untuk mencari pekerjaan ke negara-negara lainnya. Namun apakah benar hal tersebut selalu menguntungkan terutama bagi negara? Kenyataannya, kemudahan mobilitas manusia yang telah menyebabkan semakin maraknya migrasi ini, juga menyebabkan berbagai permasalahan, diantaranya adalah munculnya isu-isu brain-drain dan bahkan isu-isu imigran gelap dan perdagangan manusia. Lagi-lagi globalisasi menunjukkan kedua wajah tersebut, positif dan negatif. Pada paper kali ini, penulis ingin menjelaskan mengenai permasalahan migrasi berdasarkan artikel yang ditulis oleh Nicholas Van Hear yang berjudul “Migrants and Hosts, Transnational and Stayers” yang banyak menjelaskan tentang krisis migrasi yang nantinya akan mengarah juga pada permasalahan brain-drain. Penulis juga akan memberikan pendukung dari literatur lain serta bukti berupa contoh kasus mengenai permasalahan brain-drain tersebut.

Van Hear (1998) menjelaskan ada tiga titik awal mobilitas penduduk sejak tahun 1990an, yaitu CIS, negara-negara pecahan Yugoslavia, dan Afrika Tengah. Titik tersebut kemudian menyebar ke negara-negara Asia Tengah seperti Kazakhstan, Uzbekistan, dan Tajikistan yang merupakan negara-negara pecahan dari Uni Soviet. Migrasi yang dilakukan dari wilayah-wilayah tersebut dapat dikatakan merupakan migrasi dengan skala besar. Migrasi yang dilakukan oleh penduduk tersebut juga disebabkan oleh tidak menentunya kondisi domestik negara asalnya. Migrasi biasanya dilakukan oleh penduduk dari negara berkembang ke negara-negara maju. Dari sini dapat diambil dampak positif dari migrasi. Pada dasarnya, negara berkembang memiliki jumlah tenaga kerja yang berlebih, dengan jumlah tenaga kerja yang berlebih itu kemudian ada migrasi tenaga kerja ke luar negeri untuk mencari pekerjaan karena di dalam negeri kesempatan kerja pun minim. Migrasi tersebut kemudian dapat menambah devisa negara (Van Hear 1998, 250).

Namun dampak positif tersebut seolah hanyalah merupakan efek samping positif dari terjadinya migrasi. Menurut Van Hear (1998, 234) kebanyakan migrasi yang dilakukan oleh penduduk tersebut tidak disertai oleh kepemilikan modal dan koneksi yang baik dengan negara tujuan sehingga tujuan migrasi mereka tidak dapat tercapai pada akhirnya. Padahal penduduk melakukan migrasi adalah untuk mencari kehidupan yang lebih layak serta kesejahteraan, namun yang terjadi justru sebaliknya. Sulitnya akses fasilitas umum di negara tujuan dan sulitnya adaptasi menyebabkan penduduk justru mengalami kesulitan hidup di negara tujuan tersebut. Keadaan ini mungkin akan semakin parah ketika para migran tidak memiliki skill yang baik sehingga tidak mendapatkan pekerjaan yang layak di negara tujuan.

Lebih jauh lagi, Van Hear (1998, 81) menjelaskan mengenai krisis migrasi yang disebabkan karena terhambatnya proses pemulangan para migran kembali ke asalnya. Lebih lanjut, hal ini kemudian menimbulkan mencuatnya permasalahan yang disebut sebagai brain-drain. Peristiwa brain-drain ini terjadi ketika penduduk enggan kembali ke negara asalnya sehingga negara asal kekurangan sumber daya manusia yang kompeten. Menurut Van Hear (1998, 241) hal ini terjadi karena disparitas ekonomi, politik, dan keamanan di negara asal dan negara tujuan. Artinya, enggannya penduduk kembali ke negara asalnya biasanya dipengaruhi karena kondisi dalam negeri di negara asal tidak stabil, misalnya terjadi peperangan, kondisi ekonomi yang buruk, serta tidak adanya kesejahteraan. Untuk membuktikan hal tersebut Van Hear (1998) memberikan contoh yaitu tentang penduduk Palestina yang enggan kembali ke Palestina karena kondisi di Palestina relatif tidak aman dengan kondisi konflik internal yang sedemikian rupa tersebut.

Bukan hanya di Palestina, negara-negara Sub-Sahara Afrika juga mengalami peristiwa brain-drain khususnya pada sektor kesehatan. Studi menunjukkan bahwa pada tahun 2003, sebanyak 600 dokter keluar dari Zambia untuk mendapatkan pelatihan di negara yang lebih maju dan hanya sekitar 50 dokter yang tinggal (Crush 2006, 5). Hal ini menyebabkan kelangkaan sumber daya dokter yang kemudian berdampak pada menurunnya kualitas kesehatan di Zambia. Hengkangnya dokter-dokter tersebut dari Zambia disebabkan karena keinginan mereka untuk pindah ke negara di sekitar Zambia yang lebih maju seperti Afrika Selatan, Namibia, dan Bostwana. Bahkan perpindahan dokter tersebut juga mulai meluas ke luar benua Afrika seperti Australia dan New Zealand (Crush 2006, 6). Hal tersebut telah jelas membuktikan bahwa drain-brain memang sangat merugikan negara karena sumber daya potensial semakin hari semakin berkurang dan mengindikasikan kelangkaan sumber daya manusia.

Van Hear (1998, 255) selanjutnya juga menjelaskan bahwa maraknya migrasi juga menciptakan kondisi masyarakat menjadi masyarakat yang kosmopolit. Kosmopolitan tersebut ditandai dengan semakin terbukanya masyarakat terhadap perbedaan sehingga dalam masyarakat terdapat toleransi yang tinggi antarsesama. Hal ini nampaknya akan mendorong terjadinya integrasi masyarakat karena dengan semakin tingginya toleransi, maka identitas akan semakin melebur. Dengan meleburnya identitas tersebut maka dapat dikatakan bahwa proses integrasi masyarakat juga akan semakin terdorong.

Dengan demikian, maraknya migrasi yang telah ditimbulkan karena berbagai kemudahan tekonologi karena arus globalisasi yang semakin deras telah membawa dampak positif dan dampak negatif sejalan dengan dua wajah globalisasi itu sendiri. Di satu sisi pengiriman tenaga kerja ke negara lain akan berdampak positif terhadap penerimaan devisa yang semakin bertambah melalui remitan. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut nyatanya juga menyebabkan terjadinya brain drain yang merugikan suatu negara. Penulis setuju bahwa memang disparitas ekonomi dan politik berpengaruh dalam keengganan penduduk kembali ke negara asalnya. Keadaan yang serba tidak aman dan tidak menjamin di negara asal jelas akan membuat penduduk ingin bermigrasi ke negara lain yang menjanjikan. Celakanya, hal ini kemudian berpotensi menyebabkan kelangkaan sumber daya alam. Perpindahan penduduk juga biasanya dilakukan dari negara maju ke negara berkembang. Ketika penduduk enggan kembali ke negara asalnya yang merupakan negara berkembang, maka negara maju akan semakin maju dengan banyaknya sumber daya manusia potensial yang bekerja di negaranya, di sisi lain negara berkembang akan semakin tertinggal karena sumber daya manusia potensialnya semakin berkurang. Hal ini juga berkaitan dengan kosmopolitanisme yang diungkapkan oleh Van Hear yang disebabkan karena maraknya migrasi. Penulis juga setuju bahwa migrasi telah membuat masyarakat semakin menjadi kosmopolit, dan hal ini akan menyebabkan semakin maraknya peristiwa brain-drain karena ketika toleransi masyarakat terhadap perbedaan semakin tinggi, maka akan semakin mudah identitas masyarakat melebur sehingga perasaan diterima di negara tujuan tersebut kemudian dapat menyebabkan keengganan kembali ke negara asal. Jika dibiarkan, negara-negara berkembang akan semakin kehilangan sumber daya manusia potensialnya.

 

Referensi:

Crush, Jonathan. 2006. “The Brain Drain of Health Professionals from Sub-Saharan Arica to Canada”, dalam African Migration and Development. Canada: Idasa.

Docquier F. dan Hilel Rapoport. 2011. “Globalization, Brain Drain and Development”, dalam IZA Discussion Paper. IZA.

Van Hear, Nicholas. 1998. “Migrants and Hosts, Transnational and Stayers”, dalam New Diasporas: the Mass Exodus, Dispersal and Regrouping of Migrant Communities. London: UCL Press

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.738.008