Fiqarrahmadani Yustiazari

a piece of my IR life

Globalisasi Ekonomi dan Sistem Kapitalis Dunia: Fordisme Global, Perkembangan Negara Dunia Ketiga, serta Prospek Perburuhan

09 May 2014 - dalam Globalisasi Strategi Oleh fyustiazari-fisip12

Globalisasi, yang dikenal sebagai fenomena tak terkendali, telah menyebabkan banyak terjadinya interdependensi ekonomi antara negara-negara di dunia ini. Globalisasi telah mempromosikan neoliberalisme yang membawa nilai-nilai kebebasan dan dukungan terhadap interdependensi ekonomi yang tinggi antar negara-negara sehingga akan membentuk suatu ekonomi global yang terintegrasi. Tidak dapat dipungkiri memang, sekarang ini urusan penting negara-negara di dunia ini adalah mengenai persoalan ekonomi. Tidak ada negara yang tidak ingin mengalami kemajuan ekonomi. Semua negara pasti ingin mengalami kemajuan ekonomi yang pesat. Dengan adanya globalisasi, kemudian, terjadi ketergantungan-ketergantungan antarnegara di dunia ini satu sama lain. Tidak hanya negara maju dengan negara maju saja, atau negara berkembang dengan negara berkembang saja, melainkan antarnegara maju dan berkembang pun terdapat ketergantungan ekonomi yang dapat dikatakan kuat demi memenuhi kepentingan ekonominya.

            Jika dilihat dari pendekatan marxisme, interaksi negara-negara yang sedemikian rupa, kemudian menimbulkan adanya interaksi yang serupa dengan interaksi antara kaum borjuis dan kaum proletar. Untuk melakukan hubungan ketergantungan ekonomi, tentu hubungan atau interaksi yang dilakukan oleh negara-negara di dunia ini terbilang asimetris sehingga terjadi kesenjangan. Dalam pendekatan marxisme, istilah akumulasi bermakna pada pengekspasian diri untuk memperluas modalnya (Hoogvelt 1997, 45). Artinya, negara-negara maju yang di sini berperan sebagai negara borjuis sebagai pemilik modal yang besar, tentu melakukan akumulasi untuk memperluas modalnya tersebut sehingga dapat diperoleh keuntungan yang maksimal dari usaha ekspansi diri tersebut. Sasaran ekspansi diri tersebut kemudian adalah negara-negara dunia ketiga.

Pada paper kali ini, akan dibahas mengenai meningkatnya sistem kapitalis dunia yang didukung dengan adanya globalisasi. Merujuk pada tulisan Ankie Hoogvelt yang berjudul “Crisis and Restructuring: The New International Division of Labor”, penulis ingin menunjukkan tentang bagaimana globalisasi mengubah bentuk kapitalisme sejauh ini. Bagaimana negara maju (core) melakukan ekspansi diri juga akan dijelaskan lebih lanjut. Disertai dengan dukungan dari literatur lainnya, penulis, melalui tulisan ini ingin memberikan bukti-bukti terkait dengan persoalan berkembangnya sistem kapitalisme dunia yang semakin mengukuhkan posisi negara core karena globalisasi juga bagaimana prospek perburuhan sebagai akibat dari semakin pesatnya globalisasi dan semakin maraknya kebutuhan akan relokasi industri untuk produksi masal yang kemudian berimplikasi pada upah yang diterima oleh para buruh.

Untuk menunjukkan bagaimana peran dan pengaruh globalisasi terhadap sistem kapitalisme global, Ankie Hoogvelt (1997) mengidentifikasikan dua fase menonjol dalam mulai terinterdependensinya ekonomi. Kedua fase tersebut adalah fase neokolonialme pertama (1950-1970) dan fase neokolonialisme kedua yang dimulai sejak tahun 1970an hingga sekarang. Pada fase pertama neokolonialisme, terdapat suatu istilah yang disebut sebagai model fordis, yang menandakan bahwa suatu produksi di suatu negara mengalami produksi masal yang diikuti dengan peningkatan upah pekerja (Hoogvelt 1997, 45). Produksi masal tentu membutuhkan jumlah pekerja yang juga sangat banyak. Dengan naiknya upah pekerja dan jumlah pekerja yang sedemikian banyaknya, maka negara tidak akan mendapatkan keuntungan yang cukup banyak, bahkan akan mengalami kerugian karena biaya produksinya besar untuk menbayar upah pekerja. Padahal, negara core ingin memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya.

Untuk merespon keadaan yang demikian, maka negara core kemudian mencoba untuk memberlakukan strategi ekspansi diri yang dilakukan dengan merelokasi industri ke negara periphery (Hoogvelt 1997, 46). Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan tenaga kerja dengan upah yang lebih murah sehingga dapat menekan biaya produksi agar produksi masal dapat berjalan dengan lebih lancar. Hal yang dilakukan oleh negara core adalah membangun perusahaannya di negara periphery dan memberikan tugas-tugas sederhana kepada buruh-buruh yang kurang memiliki keterampilan. Sumber daya yang kurang memiliki keterampilan, tentu hanya menerima upah yang sangat kecil, sehingga bisa dikatakan bahwa nasib pekerja tidak akan banyak berubah. Selanjutnya akan terjadi transfer teknologi untuk meningkatkan teknik produksi yang dilakukan oleh para pekerja dari negara periphery (Hoogvelt 1997, 47). Dapat dilihat, melalui relokasi industri yang dilakukan oleh negara core, negara periphery mengalami proses industrialiasasi yang kemudian menjadikan mereka sebagai negara-negara industri baru. Dengan begitu, produksi dan konsumsi dari negara periphery juga bisa dikatakan mengalami peningkatan. Meski begitu, industrialisasi periphery tidak melakukan proses produksi pada keseluruhan, melainkan hanya sebagian saja (Hoogvelt 1997, 47). Hal ini menunjukkan bahwa proses transfer teknologi yang dilakukan oleh negara core tidak benar-benar sepenuhnya sehingga penguasaan teknologi oleh SDM negara periphery juga tidak dalam keseluruhan.

Selanjutnya, pada fase kedua neokolonialisme, negara-negara periphery telah mengalami nasionalisasi ekonomi. Pada fase ini, negara-negara periphery telah mengalami sebuah semangat nasionalisme sehingga untuk melakukan relokasi industri kemudian menjadi sulit bagi negara-negara core. Namun, hal ini tidak membuat negara core diam saja. Negara core tetap ingin melakukan ekspansi diri dengan menarik perhatian negara periphery kembali dengan cara memberikan hutang luar negeri yang dikenal juga sebagai foreign direct investment (FDI). Tawaran FDI tersebut kemudian terlihat menarih bagi negara periphery yang masih sangat jauh dari kata “maju” sehingga bantuan tersebut diterima dan negara core dapat mendirikan perusahaannya di negara periphery tersebut dengan alih-alih memberikan bantuan berupa FDI. Pada tahun 1970, FDI untuk negara periphery meningkat. Namun hal tersebut justru menyebabkan tejadinya krisis hutang pada tahun 1980 (Hoogvelt 1997, 50).

Kebutuhan akan mendapatkan keuntungan yang besar tidak akan menghentikan negara core untuk tetap mengukuhkan posisinya di mata dunia. Berbagai usaha untuk melakukan relokasi industri dan outsourcing demi mendapatakan pekerja dengan upah yang murah sehingga biaya produksi bisa ditekan, semakin marah dilakukan. Di satu sisi ini, hal ini mungkin menjadikan negara periphery menjadi negara yang mulai mengenal proses industrialisasi dan juga menerima transfer teknologi. Namun, tidak semua negara mengalaminya, seperti yang dikatakan oleh Hoogvelt sebelumnya bahwa transfer teknologi dan peningkatan kemampuan tidak dapat dialami secara keseluruhan. Pernyataan ini pun didukung oleh data yang disajikan oleh Julius Horvath dan Richard Grabowski (1999) bahwa tidak semua negara akan mengalami dampak positif dari integrasi dan interdependensi ekonomi. Beberapa negara justru akan mengalami penurunan pendapatan yang diakibatkan dari usaha ekspansi diri dari negara core. Horvath dan Grabowski (1999) juga menyebutkan beberapa negara yang mengalami dampak negatif yang kemudian dapat berimbas lebih negatif lagi kepada output perkembangannya adalah Malaysia, Indonesia, Botswana, Burkina Faso, and Mauritius.

Keuntungan suatu negara datang bersamaan dengan kerugian negara lainnya (Hoogvelt 1997, 60). Penulis sependapat dengan Hoogvelt mengenai bagaimana globalisasi telah mengubah sistem kapitalisme dunia saat ini. Mulai dari pengeksploitasian sumber daya alam dari negara core ke negara periphery, pengeksploitasian sumber daya manusia melalui relokasi industri, hingga bantuan hutang luar negeri. Kesemuanya itu, menurut penulis memang masih ada nilai-nilai imperialisme yang terkandung di dalam kapitalisme negara core saat ini. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Hoogvelt (1997, 48) bahwa fase neokolonialisme dapat dikatakan merupakan bentuk ekspansi geografis dengan model kapitalis. Penguasaan geografis yang dilakukan pada era globalisasi sekarang ini dapat dikatakan dilakukan melalui perluasan modal dengan cara membangun perusahaan di negara-negara yang memungkinkan negara core mengeluarkan biaya seminimal mungkin untuk mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin.

Dengan keadaan sedemikian rupa, tentu prospek perburuhan menjadi buruk. Nasib buruk akan tetap buruk, terutama di buruh di negara dunia ketiga. Negara core semacam membentuk para pekerja di perusahaan mereka yang direlokasi di negara periphery hanyalah sebagai seorang buruh yang diberi upah minim. Dengan pekerjaan yang begitu berat, upah yang diterima oleh buruh terutama yang berada di negara berkembang, tidak juga mengalami peningkatan. Kesenjangan dan kemiskinan masih banyak dijumpai. Bahkan dua milyar penduduk di dunia ini, masih berpenghasilan hanya sekitar 2$ per hari (Harvey 2007). Lagipula buruh juga mengalami ketidakpastian nasib yang dialami karena akibat reshuffle industri oleh negara-negara core (Hoogvelt 1997). Negara core tentu akan terus mencari negara dengan biaya produksi yang murah untuk terus merelokasi perusahaannya sehingga membuat buruh tidak mendapatkan kepastian akan pekerjaannya sendiri. Dengan keadaan seperti itu, muncul banyak sekali organisasi buruh internasional yang menuntut kesejahteraan meski nyatanya hal tersebut tidak nampak dampaknya secara signifikan. Hingga saat ini, negara core masih menjadi borjuis yang dengan bantuannya yang disebut sebagai investasi itu, berusaha untuk melakukan ekspansi diri untuk mendapatkan buruh-buruh murah dari para negara proletar untuk memperoleh keuntungan yang maksimal. Globalisasi memang dapat dikatakan telah mengukuhkan posisi negara core dalam sistem kapitalisme dunia.

 

REFERENSI:

Harvey, David. 2007. “Neoliberalism on Trial”, dalam A Brief History of Neoliberalism, Oxford: Oxford University Press.

Hoogvelt, Angkie. 1997. “Crisis and Restructuring: the New International Division of Labour”, dalam Globalization and the Postcolonial World: the New Political Economy of Development, Baltimore: the John Hopkins University Press.

Horvath, Julius dan Richard Grabowski. 1999. “Core and Periphery in The World of Economy”, dalam International Economic Journal. Vol. 3, no. 4, spring 1999, pp. 35-51.

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Lets have talk on Twitter!

My Treasured Life

    Instagram

Pengunjung

    1.751.195